
Setelah mengambil kartu uang sekolah dari adik-adik nya Stella pun pergi membayarkan uang sekolah mereka.
Sebelum ke sekolah, Stella juga pergi ke pihak bank.
Stella berhak mendapatkan tabungan itu karena memang ia lah wali yang sah untuk adik-adik nya. Selama ini paman dan bibi mengambil karena Stella tidak ada.
Stella juga melaporkan kejadian itu kepada pihak bank, dengan berbagai tahap proses demi proses, otomatis tabungan yang menuju ke rekening paman nya akan di stop dan uang yang masuk sebagian akan di bekukan.
Stella mengucapkan terimakasih kepada pihak bank karena sudah memberikan solusi yang baik.
Rekening Stella pun di daftar kan dalam wali penerimaan uang tabungan setiap bulan nya untuk kebutuhan adik-adik nya.
Setelah selesai dengan urusan bank, Stella pergi ke sekolah Amara dan Tanara. Ia membayar uang sekolah adik nya untuk beberapa bulan ke depan, ia juga membayar uang ujian Tanara.
Stella bingung, kenapa adik nya tidak memberitahu nya tentang uang ujian.
Tanara bisa ketinggalan ujian jika tidak membayar nya besok.
Setelah selesai dengan urusan nya Stella kembali pulang ke rumah.
"Stella!" teriak paman dan bibi mereka saat Stella ingin masuk ke dalam rumah. Ia tau apa tujuan Paman dan Bibi nya datang ke sini
.
"Kurang ajar kenapa kamu membekukan tabungan paman?" teriak paman nya yang tidak terima, Stella masih bersikap santai..
Tanara dan Amara keluar melihat keributan yang terjadi. Ke dua nya merasa takut dengan kehadiran Paman dan Bibi nya itu.
Stella masih bersikap santai, ia meminta adik nya untuk jangan takut.
"Kalian jangan takut, kalian tidak bersalah."
Paman yang geram ingin memukul Stella, namun dengan berani wanita itu menepis tangan paman nya.
"Jangan pernah berani menyentuh ku, atau aku akan melaporkan kalian ke kantor polisi!" mendengar ancaman dari Stella membuat nyali ke dua nya ciut.
Stella juga mengingatkan jika mereka memasang cctv di rumah, jadi bukti akan ada..Begitu juga saksi, yaitu adik adik nya..
"Jangan kurang ajar kamu sama kita ya Stella! Kenapa kamu membekukan tabungan kita? Pihak bank menghubungi kami dan mencabut hak wali kami atas kalian."
"Paman dan Bibi enggak perlu lagi jadi wali kita, udah ada aku. Aku juga sudah cukup umur untuk menjadi wali untuk adik-adik ku. Lagipula, kemana uang yang selama ini menjadi milik mereka? Kalian memakan uang anak yatim piatu. Apa kalian tidak merasa malu?"
"Jaga ucapan kamu Stella!"
"Lalu kenapa kalian datang? Semua sudah selesai, ada aku di sini..Biar aku yang menjaga adik-adik ku. Kalian tidak perlu lagi repot-repot setiap bulan mengambil uang tabungan untuk keperluan adik adik ku."
__ADS_1
"Baik, tapi kamu enggak bisa bekuin uang kami yang ada di tabungan." bentak paman nya, Stella tertawa geli.
Bisa-bisa nya mereka mengakui hak yang bukan milik mereka.
"Itu uang mama dan papa ku. Dan kalian juga telah memakan hak adik-adik ku, apa kalian pernah memberikan hak adik-adik ku? Tidak! Kalian memakan uang itu selama bertahun-tahun. Kalian mengambil dengan rutin setiap bulan nya di bank. Namun, bukan memberikan nya kepada Amara dan Tanara. Kalian justru memakan uang itu!"
Stella tidak tahan lagi, ia tidak menyangka paman dan bibi nya menjadi orang yang begitu tamak dan serakah.
Mereka masih memaksa Stella untuk membatalkan pembekuan itu. Namun Stella menolak nya, ia tau jika paman dan bibi nya tidak akan mengembalikan nya untuk Amara dan Tanara dan lebih baik uang yang sudah masuk di rekening mereka di bekukan saja.
Bibi Stella memelas, memohon berlutut di kaki Stella
Ia memohon agar Stella berbaik hati.
"Jangan lakukan ini, sayang..Sepupu mu masih sangat kecil-kecil. Mereka membutuhkan biaya untuk sekolah."
"Apa bibi tidak memikirkan adik-adik ku? Di saat bibi bisa menjadi pelindung dan pengganti ke dua orang tua kami. Bibi justru berlaku dzolim kepada adik-adik ku, anak-anak bibi masih mempunyai ibu dan ayah. Namun ke dua adik ku tidak, tapi kalian tetap tega kepada mereka!"
Stella menangis dan berteriak kepada paman dan bibi nya.
Ia begitu kecewa dengan kerabat dari ke dua orang tua nya itu.
Mengapa mereka bisa melakukan ini kepada adik-adik Stella.
Jika mereka memukul Stella, mereka bukan hanya kehilangan uang itu namun juga kehilangan kebebasan dalam menghirup udara segar di luar.
Bibi nya tau, jika Stella tidak main-main dengan ucapan nya. Ia akan menjebloskan mereka berdua ke kantor polisi.
Bibi masih saja memohon kepada Stella, namun Stella tidak akan merubah keputusan nya itu.
"Jangan pernah memaksa ku. Aku tidak akan merubah keputusan ku ini."
Bibi berpaling menuju Tanara dan Amara. Ia membujuk ke dua anak itu.
"Amara, Tanara. Kalian tau kan semenjak kepergian kakak kalian dan meninggal nya ke dua orang tua kalian, bibi dan paman yang menjaga dan merawat kalian. Apa kalian tega begini kepada Bibi dan adik-adik kalian?"
Bibi Stella mencoba mempengaruhi pikiran adik-adik nya.
Amara terdiam sejenak, namun Tanara mengatakan jika paman dan bibi nya tidak pernah menjaga mereka.
Bahkan Amara dan juga Tanara di perlakukan seperti pembantu.
Tidak boleh makan dan tidur jika tidak membereskan seluruh pekerjaan rumah, bahkan makan setelah keluarga bibi nya selesai makan..
Tanara dan Amara akan makan sisa-sisa mereka. Tanara mengingat kan bibi nya atas perbuatan yang sudah bibi nya lakukan.
__ADS_1
Stella menggeram, mendengar ucapan adik nya. Betapa menderita nya mereka, Stella pun meminta Paman dan Bibi nya untuk segera pergi sebelum kesabaran nya hilang.
Paman mengatakan ia tidak akan pergi sebelum Stella mengembalikan uang yang di bekukan nya di bank.
"Silahkan kalian menunggu di luar, aku tidak akan mengubah keputusan ku. Dan jangan pernah berpikir untuk melukai keluarga ku, karena seluruh sudut rumah ini sudah terpasang cctv dan kalian tidak lupa kantor polisi pun tak jauh dari rumah kami..Tidak membutuhkan waktu lima menit untuk kalian di tangkap oleh pak polisi!" ujar Stella seakan mengancam.
Sebenarnya itu juga tidak bersungguh-sungguh. Stella juga takut jika paman dan bibi nya melakukan hal yang nekat
Namun, ia tidak boleh menunjukkan ketakutan nya karena paman dan bibi nya akan bersikap semena-mena dan membuat kekacauan jika mengetahui sebenarnya Stella ketakutan.
Stella masuk ke dalam, menutup pintu nya dengan keras.
Amara dan Tanara memeluk kakak mereka, mereka bersyukur akhirnya Stella kembali bersama mereka. Jadi tidak ada yang bisa melukai ke dua nya.
"Kak, terimakasih sudah menjaga kami."
Stella memeluk ke dua adik nya dengan erat, ia berjanji akan selalu bersama-sama dan menemani mereka gimana pun keadaan nya.
setelah meminta kedua adiknya untuk masuk ke dalam kamar, ia tidak mau jika kedua adiknya terus merasa sedih dan dizalimi oleh paman dan juga Bibi mereka.
amarah mengingat janjinya kepada Darren, Ia pun memutuskan untuk bersiap-siap agar mereka bisa makan malam.
setelah masuk ke dalam kamarnya, ia memegang dahi nya yang terasa sangat pusing
sampai kapan ujian terus datang silih berganti terhadap keluarganya, Stella ingin semuanya cepat berakhir dan ia bersama keluarganya hidup bahagia tanpa ada gangguan dari orang-orang luar.
*****
Laras memantau keadaan cafe yang sudah lama ditinggal oleh Stella, saat Stella tidak masuk bekerja laraslah yang menggantikan dirinya untuk memantau keadaan cafe tersebut.
Laras tidak pernah keberatan untuk itu semua, itu juga merupakan kewajibannya untuk memantau dan menjaga keadaan cafe.
Cafe terus saja ramai, terkadang Laras sedikit kwalahan mengurus cafe sendirian
Memang banyak karyawan yang membantu Laras, namun masalah keuangan dan tanggungjawab cafe adalah tugas Stella dan Laras. Jika Stella tidak datang, Laras lah yang memegang semua nya.
Zidan menghubungi Laras dan bertanya apakah keadaan cafe tersebut aman terkendali, Laras memberitahu kepada bosnya itu jika ia tidak perlu khawatir karena Laras akan melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.
"Bukan begitu maksud saya saya hanya khawatir Jika kamu kewalahan jaga kafe itu sendirian."
"tidak perlu mengkhawatirkan saya tuan, saya bisa menjaga diri saya sendiri dan menjaga cafe ini dengan baik, karyawan-karyawan di sini juga sangat baik membantu dan mengerjakan segala sesuatunya dengan baik tanpa adanya kesalahan jadi saya tidak merasa terbebani oleh tugas-tugas ini."
Laras merasa gugup jika harus berhubungan dengan bosnya sendiri Ia pun sadar diri atas posisinya dan ia tidak mau terlalu dalam menyayangi atau mencintai bosnya itu.
keduanya pun memutuskan telepon satu sama lain.
__ADS_1