
Setelah selesai makan, Darren mengantarkan Amara pulang ke rumah nya.
"Aneh sekali, hanya makan saja mengapa mengajak diri ku?" tanya Amara kepada Darren. Namun, Darren tidak menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan oleh Amara.
Bukan Darren nama nya jika harus menjawab pertanyaan orang lain. Diri nya tidak suka apa yang menjadi keputusan nya di pertanyakan kembali.
Hanya Amara satu-satu yang berani mempertanyakan tindakan Darren.
Cil, jangan terlalu banyak omong! Kamu ingat dengan perjanjian kita bukan?
Amara merasa merinding mendengar ucapan Darren.
"Pria ini begitu menakutkan, mama tolong Amara." batin Amara, ia berharap jika ada malaikat yang menolong nya agar terlepas dari pria yang menakutkan itu.
Mobil Darren berhenti tepat di depan rumah Amara, Darren menyuruh Amara turun dengan nada ketus nya.
Amara langsung ke luar dari mobil, belum lagi amara masuk ke dalam rumah Darren sudah menancapkan pegal gas mobil nya menjauh dari kediaman rumah Amara.
Amara sangat kesal dia pun memberikan beberapa cavian untuk Darren. Seakan diri nya tidak berharga.
Memang nya aku wanita murahan seperti simpanan nya? Ketika dia sudah puas menikmati waktu bersama, membuang ku seperti sampah seperti ini! Dasar om gila, jika kau tidak tertarik kepada ku kenapa harus mengajakku pergi?
__ADS_1
Amara menangis, rasanya ia seperti wanita yang tidak mempunyai harga diri. Bukan karena Darren sudah menyentuh atau ia menyukai Darren.
Namun, Darren meninggalkan nya seperti itu sama dengan memperlakukan Amara seperti wanita pelacur.
Amara menghapus air mata nya, masuk ke dalam rumah. Ia tidak mau terlihat lemah di depan keluarga nya.
Terlihat yang lain masih menikmati waktu bersama di ruang keluarga, Tanara menyambut kepulangan kakak nya. Tanara merasa kesedihan yang di rasakan oleh kakak nya.
"Kak, kakak dari mana? Mengapa kakak terlihat sedih? Dan mana barang yang kakak cari untuk besok?" begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan oleh Tanara.
Amara berbohong lagi kepada adik nya, ia mengatakan sudah mencari barang itu kemana pun namun tidak ketemu makanya diri nya merasa sangat sedih. Tanara menenangkan kakak nya, meminta Amara untuk duduk.
Amara duduk di samping Stella dan juga Tanara. Tanara mengambil segelas air putih untuk kakak nya.
"Jangan sedih, nanti kakak cari untuk perlengkapan mu besok ya?"
Amara menggeleng, ia mengatakan jika Stella tidak perlu repot-repot mencari barang itu untuk nya.
"Tidak usah, karena kakak juga sedang sakit. Besok Amara akan mencari nya kembali" ujar Amara kepada Stella, Stella mengatakan jika diri nya sudah membaik
Ia sadar, tidak ada alasan untuk nya tetap sakit dan terjatuh. Anak dan ketiga adik nya membutuhkan diri nya saat ini.
__ADS_1
Stella merasa menyesal, karena ia telah mengabaikan adik dan anak nya selama beberapa hari belakangan ini.
"Kak, tolong jangan keras kepala. Aku sangat tidak ingin berdebat, aku akan masuk ke dalam kamar saja." Amara pun pergi meninggalkan semua orang yang ada di ruang keluarga.
"Kak, jangan di ambil hati ya sama sikap kak Amara, kakak memang begitu. Jika diri nya merasa sedih, ia ingin sendirian saja. Tanara tahu kok sebenernya kak Amara enggak bermaksud membuat kakak merasa tersinggung."
Tanara hanya tidak mau kedua kakak nya menjadi salah paham lagi, Stella mengatakan jika diri nya adalah kakak mereka. Stella tidak pernah keberatan atau merasa tersinggung dengan sikap adik-adik nya.
"Dek, kakak juga memahami sifat kalian berdua. Kakak juga tau jika Amara tidak akan seperti itu jika kakak ada di samping kalian di saat mama dan papa meninggal."
"Kak, sudah! Jangan terus terusan seperti itu. Biar itu menjadi kenangan lalu, Kakak Amara juga sudah melupakan itu semua."
"Iya, dek."
Rani mengatakan kepada Stella dan juga Tanara ingin masuk ke kamar terlebih dahulu, ia mengajak Zeline untuk ikut bersama nya. Zeline pun mengikuti Rani.
"Kak, hubungan Zeline dan kak Rani dekat banget ya? Bahkan ia seperti nya lebih mendengarkan ucapan kak Rani ketimbang kami."
Stella tersenyum, ia mengatakan kepada Tanara jika Rani sudah bersama nya di saat Zeline masih di dalam perut. Wajar saja, jika ke dua nya begitu dekat. Rani juga begitu tulus menyayangi dan mencintai Zeline.
"Rani sudah bersama kami saat Zeline di dalam kandungan, dan Rani juga membantu kakak mengurus Zeline jadi sangat wajar jika mereka sangat dekat."
__ADS_1