
Keesokan paginya, Stella berniat untuk menjenguk anaknya bahkan ia memasak makanan kesukaan Zeline
"Kak, wajah kakak masih sangat pucat. Kenapa kakak masak?" Rani, Amara dan juga Tanara bertanya kepada Stella. Stella mengatakan jika dirinya sudah lebih baik
"Kakak sudah lebih baik kok, kakak ingin menjenguk Zeline. Sebab itu kakak memasak makanan kesukaannya, enggak apa-apa Zeline enggak ke sini. Kakak kan bisa menjenguknya kesana!"
Dengan penuh cinta, Stella memasak makanan untuk anaknya.
Rani, Amara, dan Tanara begitu sedih melihat Stella namun mereka juga tidak bisa berbuat apapun.
"Kak, jangan begini dong. Amara dan Tanara enggak tenang tinggalin kakak seperti ini!"
"Hey, kakak enggak apa-apa. Kalian sekolah dan fokus lah dengan pelajaran,"
"Amara, Tanara. Kalian jangan khawatir, kalian pergi lah sekolah biar aku yang menjaga kak Stella! Aku akan menjaga kakak Stella dengan baik, kalian jangan khawatir!"
"Baik kak!" Ujar Amara dan Tanara secara bersamaan. Mereka pun berpamitan untuk ke sekolah "Hey, kalian sarapan lah terlebih dahulu!" Stella meminta kedua adiknya untuk sarapan "Kak, kita sarapan di sekolah aja! Tadi Amara udah menyiapkan bekal untuk kita di sekolah,"
"Hem baik lah! Kalian belajar yang benar ya?"
"Iya kak!"
Keduanya pun pergi, sebelum pergi Amara dan Tanara meminta tolong kepada Rani untuk menjaga kakak mereka. Walau mereka tahu, jika Rani akan menjaga kakaknya tanpa harus di minta
"Kak, Rani bantuin ya?"
"Tidak perlu Rani! Biar kakak saja, kamu sarapan saja saja!"
Rani pun tidak memaksa Stella, ia tidak mau semangat kakaknya memudar. Dibandingkan kemarin, kakaknya jauh lebih ceria sekarang "Kak, Rani sarapan dulu ya. Tapi saat nanti kakak pergi menemui Zeline, aku ikut ya kak?"
Stella menghentikan kegiatan masaknya "Kenapa? Kamu enggak percaya dengan kakak mu ini?"
"Bukan begitu kak, hanya saja Rani juga merindukan Zeline. Memangnya kakak saja yang merindukan Zeline!" Rani terpaksa berbohong agar kakaknya tidak marah.
"Haha, iya Rani. Maafkan kakak ya?"
Rani hanya tersenyum, setidaknya Stella mempercayai ucapannya. Memang, Rani merindukan Zeline namun ia jauh lebih khawatir jika kakaknya pergi sendirian apalagi ia tahu bagaimana sikap Xiu dan Lee kepada Stella.
Setelah Stella selesai masak, Rani dan Stella pun bersiap-siap untuk bergegas menemui Zeline
Mereka menggunakan sepeda motor, kini Rani yang membawanya karena kesehatan Stella belum stabil.
Sampai lah mereka di kediaman rumah Aska, Rani melihat begitu besarnya rumah Xiu.
"Pantas saja wanita tua itu begitu sombong, wajar saja karena ia memiliki rumah yang seperti istana begini!" Batinnya
Stella dan Rani turun dari motor, keduanya mengetuk pintu rumah Xiu.
"Cari siapa?" Tanya pelayan tersebut
__ADS_1
"Saya ingin mencari,"
Belum sempat Stella berbicara, Xiu sudah berdiri di depan pintu "Untuk apa kamu ke sini?" Tanya Xiu dingin. Ia meminta kepada pelayannya untuk segera pergi, pelayan itu pun pergi
"Untuk apa kamu ke rumah ku?"
"Saya ingin bertemu dengan anak saya Tante!"
"Enggak bisa! Lebih baik kamu pulang!"
"Tante, saya mohon. Izinkan saya bertemu dengan anak saya Zeline!"
"Diam kau! Jika aku katakan enggak bisa ya enggak bisa, sekarang kau pergi dari sini atau security yang akan mengusir mu?"
Xiu tidak membiarkan Stella bertemu dengan Zeline hal itu tentu saja membuat Rani merasa kesal. Mengapa Xiu dan Aska ingin berkuasa dengan Zeline
"Tante saya mohon, izin kan saya bertemu dengan anak saya!" Stella menangis, memohon kepada Xiu namun wanita itu tetap melarangnya, ia takut jika Stella membawa cucunya pergi dari rumahnya itu.
"Pergi kau! Kami alergi dengan orang miskin seperti mu!"
"Hey, jangan sombong anda! Kakak ku memiliki hak atas Zeline, tidak tahu diri sekali! Kau lupa jika kakak ku yang memegang hak asuh anak? Mau kalian di tuntut ke pengadilan lagi? Kami tidak akan datang ke sini jika tidak bertemu dengan Zeline. Atau kau ingin kita bertemu lagi di pengadilan?"
Mendengar itu membuat Xiu terdiam, apa yang dikatakan oleh Rani memang benar.
"Oma, siapa?" Zeline yang berlari ke depan "Mama!" Zeline langsung memeluk mamanya.
Aska dan Lee pun menyusul dan melihat kedatangan Stella. Tentu saja membuat Lee sangat kesal "Untuk apa wanita itu ke sini?" Ujarnya kepada Aska "Tentu saja untuk melihat anaknya!" Aska pun membela Stella. Bagaimana pun Stella adalah wanita yang ia cintai, tentu saja ia akan membela Stella.
"Zeline juga melindukan mama! Mama udah sehat?" Stella mengangguk, menatap anaknya dengan sendu "Kamu adalah obat mama sayang. Jadi mama pasti akan sehat jika ada kamu, apalagi kemarin kamu mengurus mama dengan baik,"
Zeline masih memeluk mamanya dengan erat, lalu melepaskannya perlahan "Mama masuk lah!"
Stella tidak menjawab juga tidak bergeming, ia menatap Aska dan Xiu "Tidak sayang, mama di luar aja sama kamu!"
"Mama ayo masuk, Oma boleh kan mamanya Zeline masuk?"
Dengan berat hati Xiu pun mengangguk dan memperbolehkannya "Iya sayang, tentu saja boleh!"
Walau sebenarnya ia tidak rela jika Stella memasuki istananya. Namun tidak mungkin ia melarang, itu pasti akan membuat Zeline merasa kesal dan marah kepadanya.
Zeline mempersilahkan mamanya untuk masuk, Stella masih menolak dengan halus "Sayang, mama di sini aja!"
Zeline pun cemberut "Mama bagaimana sih? Oma meminta mama juga masuk, kenapa mama sombong enggak mau masuk? Zeline kesal dengan mama!"
Demi anaknya Stella pun mau masuk "Sayang jangan marah dong! Baik lah, mama dan mami akan masuk!"
"Yey! Ayo Mama, ayo mami kita ke kamal Zeline!"
Zeline pun menggandeng Stella dan Rani untuk masuk, Zeline mengajak mereka ke kamarnya.
__ADS_1
Setelah memastikan Zeline, Rani dan Stella pergi ke kamar. Lee protes dan keberatan "Mami, kenapa mami membiarkan wanita itu masuk ke rumah kita? Mami tahu kan dia itu siapa?" Lee merasa kesal
"Lalu apalagi yang harus mami lakukan? Kamu tahu jika Zeline adalah cucu kesayangan mami. Mami akan melakukan apapun yang membuat dia bahagia, mami enggak bisa melarang ibunya untuk masuk itu pasti akan membuat Zeline marah. Dan Zeline bisa minta pulang bersama ibunya. Kemarin malam ia sudah marah karena Aska pulang larut malam, dan jika sekarang dia marah. Zeline pasti tidak akan mau lagi tinggal di sini, saat ini kita udah kehilangan' hak asuh Zeline. Dan hanya dirinya yang kita punya! Jika Zeline enggak nyaman di sini, kita enggak bisa memaksanya tetap di sini! Dan kalian tahu jika mami masih ingin bersama cucu mami!" Ketus Xiu.
Semenjak kedatangan Zeline, Xiu berubah dengan Lee. Ia lebih mengutamakan permintaan Zeline daripada Lee, hal itu tentu membuat Lee merasa kesal
Kehadiran Zeline membuat dirinya merasa semakin terancam
"Apa kamu mengira mami juga rela melihat wanita itu masuk ke rumah kita? Enggak! Mami enggak rela, namun mami juga enggak bisa membuat cucu mami sedih. Dia pasti sedih jika ibunya tidak di perbolehkan masuk!"
"Iya mami, Aska setuju dengan mami. Saat ini kita harus memikirkan kebahagiaan Zeline! Karena Aska takut, jika kita terlalu keras dengan Zeline nantinya Zeline akan merasa tidak nyaman dengan kita."
"Lee, apa yang suami kamu katakan itu benar sayang! Lebih baik kita mengalah saja sekarang. Biarkan saja wanita itu merasa menang, lagipula ia hanya masuk ke dalam rumah bukan ke keluarga kita!"
Walau Xiu memberikan penjelasan kepada menantunya tetap saja membuat Lee tetap tidak nyaman.
"Bagaimana pun, wanita itu harus tetap pergi! Aku enggak bisa membiarkan dia tetap di sini. Dan mengacaukan segalanya. Jika ia sering ke sini, maka Aska akan tetap mencintainya!" Batin Lee
Ia tahu, jika kehadiran Stella akan mempengaruhi perasaan Aska kepadanya.
******
"Mama, ini Kamal Zeline!"
Stella melihat kamar anaknya yang begitu lebar dan cantik, sangat berbeda jauh dengan fasilitas-fasilitas yang ia berikan
"Zeline senang di sini nak?"
"Iya mama! Zeline sangat senang, apalagi Oma dan papa sangat menyayangi Zeline, meleka membelikan semuanya untuk Zeline! Bahkan, Zeline enggak pelnah minta!"
Stella merasa gajinya berpuluh-puluh tahun pun tidak akan sanggup memberikan fasilitas yang mewah seperti yang Aska dan mamanya berikan
"Mami, mami suka enggak sama Kamal Zeline?""
Bahkan Rani pun menginginkan kamar yang seperti ini, berasa seperti ada di hotel bintang lima.
"Iya sayang, kamar kamu sangat bagus sekali di sini. Seperti hotel bintang lima,"
Zeline pun tersenyum "Nak, mama membawakan makanan kesukaan kamu,"
"Wah, makasih mama. Zeline juga Lindu makanan yang mama buat, kalena tidak ada makanan yang selezat mama buat!"
"Terimakasih banyak sayang, kamu selalu bisa membuat hati mama senang. Padahal mama tidak bisa memberikan menu yang layak untuk kamu,"
"Mama jangan ngomong sepelti itu! Zeline selalu suka dengan apapun yang mama belikan, dan mama masak! Zeline enggak peduli mau itu mahal atau tidak yang penting cinta mama yang lebih utama!"
Stella terharu mendengar ucapan anaknya, ia langsung memeluk Zeline. Namun kali ini ia tidak mau menangis di depan anaknya "Terimakasih sayang, kamu selalu mengerti mama. Mama sayang banget sama Zeline dan mama yakin suatu saat nanti kita akan bersama-sama lagi. Mama berharap, agar Zeline cepat mau kembali pulang. Mama sangat merindukan kamu sayang," ia memeluk anaknya dengan erat, Zeline pun membalas pelukan itu..
Ia sangat menyayangi mamanya, namun dirinya masih ingin berkumpul dengan papanya bukan karena harta yang papanya miliki namun karena selama ini ia sudah berpisah dengan papanya sejak kecil. Stella tahu, itu memang kesalahannya dan itu tidak bisa ia pungkiri. Andai dirinya tidak menjauhkan Zeline dari Aska selama ini, mungkin anaknya tidak akan marah dan menjauh darinya.
__ADS_1
Namun Stella akan menunggu sampai anaknya bisa memaafkan dia
"Mama jangan sedih lagi! Zeline sayang sama mama, Zeline enggak mau melihat mama sedih sepelti ini,"