
Pertengkaran antara Amara dan Rani semakin memanas, keributan yang di buat oleh kedua nya pun terdengar oleh Stella dan Tanara. Tanara menghapus air mata nya, dan melihat kekacauan yang terjadi.
"Kenapa kak?" tanya Tanara yang memegang bahu Amara.
"Bilang pada manusia tidak tahu diri ini untuk menjaga sikap nya di sini, ini bukan hutan yang bisa seenaknya berteriak!" Amara pun berlalu pergi meninggalkan Stella, Rani dan juga Tanara. Tanara menatap Stella dengan mata yang berkaca-kaca seolah memberikan isyarat kepada kakaknya. Stella pun menenangkan Tanara dan berkata semua akan baik-baik saja.
"Rani, ini bukan seperti di rumah kita dulu. Kita harus bisa menjaga sikap di sini ya?" tegur Stella dengan lembut pada Rani.
"Rumah mu ini sangat besar dan luas sekali kak. Aku mencari Zeline tapi tak menemukannya. Aku lelah sekali kak, di mana aku harus mencari Zeline."
"Kemana Zeline pergi? Bukan kah dia selalu bersama mu?" tanya Stella yang mulai panik dengan keberadaan anaknya.
"Tadi dia mengajakku ke perpustakaan untuk membaca buku. Aku kan tidak tahu daerah sini kak, jadi aku menolak nya."
"Terus, kakak biarin Zeline pergi sendirian?" tanya Tanara kepada Rani. Walau dia tidak suka dengan Rani, namun Tanara masih berbicara dengan sopan dengan yang lebih tua dari nyaa.
"Tidak! Katanya tadi dia mau ke kamar mu kak Stella, tapi sudah lama dia nggak kembali juga. Jadi, aku berencana untuk mencari kalian. Rumah ini besar sekali dan aku tidak menemukan kalian malah menemui nenek." Belum sempat Rani menyelesaikan ucapannya, Stella langsung menyela dan mengajak Rani, Tanara untuk mencari sang anak.
"Mungkin saja dia ke perpustakaan keluarga kita kak?" gumam Tanara.
"Rumah ini punya perpustakaan?"
"Iya kak, rumah kami punya perpustakaan pribadi. Karena kak Stella sangat suka membaca." jawab Tanara.
"Pantes anakmu sangat suka membaca buku, ternyata menurun dari ibu nya." ujar Rani.
"Sudah, ayo kita lihat Zeline. Daripada terus berbicara omong kosong." sindir Tanara. Stella dan Rani pun mengikuti Tanara. Benar saja, Zeline sedang duduk santai membaca buku yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Sayang." panggil Stella kepada buah hati nya, Zeline pun menoleh.
"Mama." Zeline ingin bangkit namun Stella mencegah dan menyuruh anaknya untuk tetap membaca. Stella dan Tanara pun pergi dari perpustakaan sedangkan Rani memilih untuk menemani Zeline membaca buku.
"Hey, Zeline."
"Hm." jawab santai Zeline.
"Kau ini, tau nggak? Tadi mami barusan aja bertengkar dengan nenek lampir itu." bisik Rani kepada Zeline. Namun, Zeline yang fokus membaca buku pun tak menggubris kan ucapan Rani.
"Mami, sebaiknya mami membaca buku saja. Zeline sedang nggak mau bicala tentang wanita jahat itu. Lagipula, dia tidak menyakiti mama. Jadi Zeline nggak pelduli dengan nya. Kalau dia belani ganggu mama, Balu Zeline akan beltindak." ujar Zeline yang masih fokus matanya ke buku. Rani pun ikut membaca buku dia pun menyukai pelajaran IPA.
"Ternyata belajar juga enak ya." gumam Rani.
"Benar sekali, mami. Belajal itu menyenangkan. Makanya Zeline mau segela belajal sekolah."
******
Aska memikirkan anak yang di kandung oleh Stella dulu, mungkin umur anak itu akan masuk ke sekolah TK
"Kenapa kau tega berbohong dan mengatakan jika itu adalah anakku. Apakah lelaki itu dulu tidak mau bertanggung jawab dan kau limpahkan kepada Ku? Setelah lelaki itu mau bertanggungjawab kau kabur bersama nya Stella?" ujar Aska yang merasa sangat kesal jika memikirkan wanita yang dia cinta begitu tega mengkhianati Dirinya.
Lamunan Aska tersentak, karena bunyi ponsel di hp nya. Ia melihat ponsel di layar tertera nama Lee.
"Huft!" dengan malas Aska terpaksa mengangkat telepon tunangannya itu.
"Kenapa? Aku sedang sibuk sekarang."
__ADS_1
"Hari ini kita jadikan untuk menempah cincin pernikahan?" terdengar suara wanita di seberang sana
"Kau saja ya? Sungguh hari ini jadwal ku sangat sibuk. Nanti aku telepon kembali." tanpa mendengar jawaban dari tunangan nya Aska segera mematikan ponsel nya.
"Kenapa kau selalu saja mengganggu ku?" kesal Aska. Namun, ia pun tak ada pilihan. Lee adalah wanita yang di pilihkan oleh mami nya. Jika Aska tidak setuju, mami nya akan melakukan hal yang sangat nekat.
******
Lee yang merasa kesal dengan sikap cuek Aska pun mengadukan semua itu kepada mama nya Aska. Xiu menenangkan calon menantu pilihannya
"Sayang, mungkin Aska benar-benar sibuk."
"Setiap saat dia sibuk mi, lalu kapan kami akan ke toko berlian? Menempah cincin pernikahan kami." kesal Lee yang duduk di hadapan Xiu dengan perasaan kesal.
"Sudah! Besok mami bicara sama Aska, kalian akan pergi ke toko berlian itu Lo. Tenang saja, ya?" ujar Xiu. Lee pun menatap calon ibu mertua nya dengan yakin. Lalu memeluk Xiu.
"Terimakasih, Mami. Mami memang calon mertua yang sangat baik, Lee bahagia sekali."
"Pasti dong, Sayang. Mami sangat sayang padamu, seperti mami menyayangi anak mami Aska. Lagian, kamu wanita yang sangat pantas untuk anakku. Tidak seperti wanita tidak tahu diri itu." Xiu tiba-tiba kesal karena mengingat Stella.
Malam hari nya, saat Aska pulang dengan lelah ingin masuk kamar, Mami nya pun memanggil dirinya. Aska menghentikan langkah kaki, menoleh kebelakang melihat Xiu.
"Besok kamu pergi bersama Lee untuk ke toko berlian, menempa cincin kawin kalian. Jangan menolak, dan Mami nggak mau ada alasan lagi! Sudah cukup lama kamu mengulur waktu dan mami mengerti, sekarang tidak lagi. Apa kamu paham?"
Dengan kesal Aska membuang nafas nya dengan kasar, pergi ke dalam kamar tanpa menjawab ucapan mami nya. Aska membanting pintu kamar, benar saja dugaannya jika Lee akan mengadukan hal itu kepada Mami nya. Ia menggaruk kepala yang tak gatal dengan kasar, melempar jas yang ia kenakan ke kasir sembarangan.
"Hidup ku bener-bener kacau, ini semua karena kau Stella! Aku benci kau, aku benci!" teriak Aska yang memukul tangannya ke tembok sekuat tenaga. Tangan Aska pun berdarah, tapi ia tak merasakan rasa sakit itu, hati nya jauh lebih terluka daripada pukulan karena sebuah tembok. Rahangnya mengeras.
__ADS_1
"Kau sudah bahagia tapi kenapa aku masih saja terpuruk dalam luka ini? Kau yang menyakiti ku, kenapa aku yang menderita. Apa kesalahan ku? Apa!" Mata Aska memerah penuh dengan amarah kebencian, rasanya ia ingin sekali membalas setiap rasa sakit yang ia rasakan. Dia pun bersumpah untuk menghancur kan kehidupan Stella dan keluarga nya