
Stella dan yang lainnya pun sudah sampai di rumah, Zeline berlari pergi ke kamarnya. Stella sudah memanggil dan ingin mengejar namun Laras mencegahnya
"Stella, tenang lah!"
Stella merasa frustasi, ia pun tanpa sadar membentak Laras
"Kalian tahu apa tentang aku? Semuanya udah di ambil dari aku, termaksud tubuh aku sendiri! Dua kali dalam sehari, Aska memperkosa ku. Mempermainkan diriku tanpa merasa kasihan, dan sekarang ia ingin merebut anakku?"
Laras memeluk Stella, ia mengatakan jika Laras mungkin tidak paham apa yang Stella rasakan karena ia tidak mengalaminya.
"Mungkin aku enggak bisa rasain kesakitan kamu! Kesakitan kamu karena sudah di perkosa olehnya, kesakitan kamu melewati hari-hari menjaga anak dan adik-adik mu sendiri. Tapi aku sebagai sahabat kamu dapat merasakan kesedihan kamu, apa kamu mengira aku bisa bernafas dengan lega saat melihat kamu bernafas dengan penuh sesak?" tanya Laras dengan lembut kepada Stella
"Mungkin perkenalan kita hanya sebentar, dan mungkin kamu juga enggak anggap aku sebagai sahabat kamu, Stella. Namun aku menyayangimu seperti adik aku sendiri!"
Stella menatap Laras dengan tatapan mata yang sendu, Laras langsung memeluk Stella.
"Aku dan Zidan ada disini untuk mu, jangan mengira kamu sendirian, Stella! Aku enggak akan biarin mereka seenaknya dengan kamu."
Stella semakin terisak, saat ini hanya Laras yang bisa memahami hatinya. Ia juga tidak pernah bisa mengungkapkan rasa sakitnya kepada ketiga adik-adiknya karena mereka masih sangat kecil.
__ADS_1
Stella tidak mau membebani mereka dengan masalahnya.
"Ak-aku enggak tahu harus bagaimana lagi, aku enggak siap kalau harus jauh dari Zeline. Kalian tahu itu kan? Dia hidup ku, segalanya bagiku." Stella semakin terisak.
Laras menenangkannya, ia meminta kepada Zidan untuk memberikan air putih kepada Stella.
Zidan pergi ke dapur, mengambil segelas air putih. Ia mengepalkan tangannya dengan geram.
Segera Zidan memberikan air putih itu kepada Laras
"Tolong jaga Stella sebentar, aku harus pergi. Nanti aku akan kembali."
******
Dikediaman rumah Aska, Xiu sedang bersantai tertawa dengan anaknya. Untuk pertama kalinya ia merasakan bahagia yang tidak terhingga.
Ia pun tidak sabar untuk menemui cucu semata wayangnya itu.
Suara bel pintu berbunyi, pelayan membuka pintu.
__ADS_1
"Aska keluar kamu!" teriak seorang pria memanggil nama Aska.
Xiu dan anaknya segera bangkit, dan melihat keributan di luar
Belum sempat Aska mengatakan apapun, pukulan demi pukulan mendarat di wajah Aska.
Aska mempertahankan dirinya, dengan membalas pukulan itu
"Hey, siapa kamu hentikan!" bentak Xiu. Xiu memanggil keamanan untuk melerai pertengkaran itu, Xiu merasa tidak asing melihat wajah pria yang memukul anaknya.
Pria itu adalah Zidan, sorotan mata yang begitu mengerikan di mata Zidan.
Ia ditahan oleh beberapa pengawal.
"Apa kamu gila? Datang ke rumah orang dan memukul anakku, akan ku laporkan kamu ke polisi!"
"Silahkan Tante! Silahkan laporkan saya, agar saya juga enak melaporkan anak anda ke kantor polisi karena sudah melakukan pemerkosaan kepada seorang wanita!"
Xiu terkejut bukan main mendengar pernyataan dari Zidan, Aska pun terdiam. Meminta kepada maminya untuk tidak melaporkan Zidan.
__ADS_1
Ia memahami apa yang Zidan katakan, dan ia pun menyadari jika perbuatannya tempo lalu kepada Stella itu salah. Dan dia pun bisa dipenjara karena itu.