
"Memang benar kak, tapi kan menjaga silahturahmi itu tidak salah."
"Baik lah, ini ponsel nya. Kamu bisa pakai untuk menghubungi Azriel tanya kan bagaimana kabar nya.
Stella memberikan ponsel nya kepada Rani. Dengan senang hati Rani mengambil ponsel Stella lalu menghubungi Azriel.
Assalamualaikum ~ Azriel
Walaikumsallam kak, ini Rani. Bagaimana kabar kakak? ~Rani
Alhamdulillah sehat, bagaimana kabar kalian di sana? ~Azriel
Kami sehat kak, Zeline juga sudah mulai bersekolah di sini. Dan kak Stella juga sudah bekerja ~ Rani.
Syukur lah jika begitu, lalu bagaimana kabar orang tua Stella? ~Azriel
Rani terdiam, menatap wajah Stella. Di seberang sana, Azriel memangil nama Rani yang tidak mengeluarkan suara.
Rani? Hallo? ~Azriel
Iy-Iya kak? Ke dua Orang tua nya kak Stella telah lama tiada. Sekarang, kami tinggal bersama ke dua adik nya kak Stella. ~Rani
Innalillahiwainnalillahiroziun, kakak turut berduka atas kabar itu. Maaf jika kakak membuat kalian bersedih dengan pertanyaan kakak ~Azriel
Tidak apa-apa kak, kakak juga tidak tahu dan tidak sengaja membuat kak Stella sedih. Lagipula, itu memang kebenaran nya ~Rani
Lalu, bagaimana dengan mu Rani? Apakah Rani juga bersekolah? ~Azriel.
Kakak menyuruh ku untuk sekolah, namun aku malu kak karena sudah besar. Jadi kak Stella memberikan saran agar aku homeschooling ~Rani
Itu juga ide yang sangat bagus, Stella memang luar biasa. Dan kakak berharap, Rani rajin-rajin sekolah nya jangan mengecewakan kak Stella. ~Azriel.
Iya kak, Rani janji akan belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak akan membuat kakak kecewa ~*Rani
Alhamdulillah jika Rani berfikiran seperti itu. Oh iya Rani, kita sambung nanti ya? Kakak sedang ada pekerjaan, jaga diri kalian baik-baik ya? Assalamualaikum ~Azriel
Walaikumsallam ~Rani*
Panggilan Terputus.
Rani mengembalikan ponsel Stella, padahal ia belum puas berbicara dengan Azriel namun mau bagaimana lagi Rani tidak mungkin memaksa Azriel untuk terus berbicara kepada nya.
Stella menghibur adik nya itu, dia tahu jika Rani menyukai Azriel hal itu membuat nya menjaga jarak pada Azriel agar adik nya tidak sedih
"Sudah jangan sedih, mungkin Azriel memang lagi sibuk. Makanya kakak tidak pernah menghubungi nya, Semoga nanti dia menghubungi kita kembali ya?"
Rani pun mengangguk, Zeline pun mendekati Stella dan juga Rani. Ia mengatakan jika mencari mereka berdua.
"Mama dan Mami Dali mana saja? Zeline mencali kalian. Tapi, tidak ketemu." ujar Zeline yang memasang wajah cemberut nya. Stella memberitahu anak nya jika mereka tadi dari bawah dan sedang berbincang dengan Azriel.
"Mama telpon Oom baik lagi. Zeline sangat Lindu pada nya."
"Om Azriel sedang sibuk sayang, kita tunggu saja om azriel tidak sibuk ya? Tadi om Azriel mengatakan akan menghubungi mama kembali. Jika om Azriel menghubungi mama, mama akan memberitahu kalian oke?"
"Iya mama." jawab Zeline. Rani pun mengajak Zeline untuk bermain di luar dan membiarkan mama nya kembali beristirahat.
********
Pelayan membawa Amara ke dalam kamar, namun di kamar itu tidak ada siapapun. Ia pun bertanya dan mencari di mana keberadaan orang yang di sebut Tuan itu.
Namun, pengawal yang galak itu bukan nya menjawab pertanyaan yang di berikan oleh Amara. Ia justru menyuruh Amara untuk menunggu di ruangan saja tanpa banyak bicara.
Amara pun memonyongkan mulut nya ke depan, ia sungguh tidak suka dengan pengawal yang sombong ini.
Padahal aku hanya bertanya, apa susah nya tinggal di jawab. ~batin Amara.
Bahkan, pengawal itu pun meninggalkan Amara seorang diri di dalam kamar. Amara Takut, meminta kepada pengawal untuk tetap tinggal. Namun, pengawal itu tidak mendengar kan ucapan nya dan berlalu pergi dari sana.
"Dasar sial! Jika aku tidak takut, aku juga tidak akan membutuh kan mu!" teriak Amara dengan kesal, dari awal bertemu pengawal itu sungguh menyebalkan.
Memang tidak ada yang baik dan sabar menghadapi kita kecuali ibu kita sendiri.
Amara begitu kehilangan dan merindukan sosok ibu nya.
"Mama Amara sangat rindu, ingin di peluk dan di cium oleh Mama. Tidak ada yang menyayangi Amara sekarang, semua nya memikirkan diri mereka masing-masing. Mama, Amara ingin ikut dengan mama agar Amara tidak menahan rasa sakit ini sendirian." namun seketika Amara mengingat adik nya, ia tidak mau meninggalkan adik nya sendiri. Jika dia juga pergi menyusul mama dan papa nya di surga. Bagaimana dengan adik kesayangan nya?
__ADS_1
"Mama, Amara sayang mama tapi nggak jadi mau ikut mama di surga. Kasihan adik Tanara jika Amara pergi, dia akan sama siapa? Siapa yang akan menyayangi Tanara. Tidak ada yang menyayangi Tanara seperti Amara menyayangi nya ma. Jadi, Amara tarik ucapan Amara, Amara nggak jadi ikut mama ke surga."
Amara sebenar nya anak yang baik dan juga lugu. Namun, sayang dia tidak bisa menahan amarah nya dan juga mudah terpengaruh oleh orang lain.
Buruk nya, Amara memiliki teman yang sangat tidak baik. Sehingga, Amara harus berada di posisi seperti ini.
Amara merasa sangat bosan menunggu orang yang akan ia layani.
"Menunggu nya seperti menunggu pembagian sembako saja. Sangat membosankan, tadi katanya tuan sudah berada di dalam kamar. Tapi lihat lah, aku harus menunggu lagi."
Kamar itu begitu sangat dingin di tambah Amara memakai pakaian yang transparan. Membuat kulit nya merasa dingin, dan merinding.
Amara menarik selimut menutupi tubuh nya. Ia pun mengantuk dan hampir ketiduran, namun diri nya ingat jika kedatangan nya ke sini bukan untuk tidur.
"Lama sekali, aku ingin cepat selesai dan segera membayar hutang ku pada Kimberly. Dan setelah itu, aku tidak akan melakukan hal seperti ini lagi." ucap Amara dengan suara yang sedikit mengeras
Ia merasa sangat jenuh menunggu, Amara mencari ponsel nya. Ia mengingat jika ponsel nya berada di dalam tas dan tas tersebut ada di dalam salon pribadi rumah ini.
Tidak mungkin Amara keluar lagi mengambil tas nya, bagaimana jika pengawal yang galak itu memarahi nya atau mungkin melaporkan nya kepada tuan nya itu.
Bisa-bisa, mereka mengadu kepada Kimberly dan Kimberly akan marah pada nya.
Kimberly sudah berulang kali mengingat kan Amara untuk tidak mencari masalah. Dia pun mengurungkan niat nya itu, Amara melihat sebuah majalah di atas meja.
"Daripada aku bosan, lebih baik aku membaca nya saja."
Baru Amara ingin membawa majalah tersebut, suara langkah kaki terdengar berjalan mendekati ruangan itu. Amara terdiam, ia pun takut untuk membalikan badan.
Bagaimana jika orang yang akan di layani nya itu sudah tua, apalagi pengawal tadi menyebut nya dengan Tuan saja.
Amara menelan ludah nya dengan kasar, ia memberanikan diri dengan membalik kan tubuh nya.
Mata Amara terbelalak. Orang di hadapan nya sungguh sangat tampan, walau usia nya mungkin lebih tua. Tapi seperti nya tidak terlalu tua, atau masih sebaya atau di atas umur Stella setahun atau dua tahun saja..
"Jadi ternyata ini orang nya? Bocil."
Apa katanya? Sial, dia menghina ku dan mengatakan aku bocil. Ya padahal aku memang bocil sih di bandingkan dengan nya, dia jauh lebih tua. ~batin Amara.
Namun, Amara hanya diam dan menundukkan kepala nya saja.
Amara menutup mata nya dengan tangan dan seluruh tubuh yang bergemetar.
Dia sangat malu, ingin rasa nya Amara pulang dan membatalkan ini semua. Namun, Amara kembali mengingat hutang nya kepada Kimberly.
Untuk pertama kali nya, ia memperlihatkan tubuh nya di depan pria asing. Walau ia memakai lingerie namun itu sangat terbuka, hampir seluruh tubuh nya terlihat dengan jelas.
"Siapa nama mu?" tanya pria itu dengan suara tegas nya.
Amara tak berani menjawab, ia masih takut. Dahi nya basah penuh dengan keringat, bahkan Amara tidak sanggup menginjak kan kaki dengan tegak.
"Aku bertanya, siapa nama mu!" bentak pria itu.
"Amara." jawab nya dengan cepat, pria di hadapan nya memang sangat tampan namun begitu galak dan arogan.
Pria itu menjauh kan tangan nya dari dagu Amara, ia mengatakan jika Amara takut mengapa ia mengambil pekerjaan seperti ini.
"Sudah, cepat. Perkosa saja aku om!"
Pria itu melihat ke arah Amara dengan tatapan tajam nya. Amara yang merasa takut pun menundukkan kepala nya.
Dasar bodoh, mengapa kau membangunkan singa yang tidur, Amara!
"Apa kata mu? Memperkosa? Kau yang menjual tubuh mu sendiri dan kau mengatakan aku memperkosa mu?"
"Ti-tidak, bukan begitu. Maksud ku, segera lakukan saja. Aku sudah siap." Amara tidak mau membuat pelanggan nya marah, ia pun memilih untuk merendahkan diri nya Saja agar semua nya cepat selesai.
"Ternyata ****** kecil ini begitu tidak sabar."
Mendengar ucapan yang begitu menyakitkan dari pria itu, hati Amara meringis. Namun, apa yang di katakan oleh pria itu memang lah benar. Ia memang wanita yang tidak mempunyai harga diri. Wanita murahan, yang rela di tiduri hanya karena uang.
Amara pun terdiam, menahan tangis nya.
"Jika kau memang begitu tidak sabar, baik lah. Sekarang, puas kan aku dengan cara mu!"
Amara terdiam, dia tidak tahu harus melakukan apa, karena diri nya memang tidak pernah melakukan hal seperti itu.
__ADS_1
Pria itu kembali membentak Amara dengan suara keras nya memenuhi ruangan tersebut, membuat amarah kaget. Tangan nya semakin gemetar, ia pun ketakutan..
Ingin rasa nya Amara melarikan diri atau meninggalkan dunia ini saja.
"Cepat! Bukan kah tadi kau yang tidak begitu sabar?"
"Aku tidak tahu bagaimana cara nya hiks." kini Amara tidak bisa menahan tangis nya lagi, dengan polos ia mengatakan yang sejujur nya sambil menangis.
Pria itu pun merasa iba dengan Amara. Ia menyuruh Amara untuk duduk di dekat nya.
Amara pun menuruti saja ucapan pria itu, lagipula pria itu sudah membeli tubuh nya.
"Kau seperti nya masih terlalu kecil, bahkan usia mu mungkin masih belasan."
Amara pun mengangguk, dan menjawab jika diri nya memang masih belasan tahun
"Memang, kan om sendiri yang mengatakan diri ku tadi bocil."
Pria itu heran dengan Amara, ia sangat lugu namun kenapa mau melakukan hal seperti ini, apakah Amara terpengaruh oleh pergaulan atau melakukan ini karena memang keinginan nya atau terpaksa.
"Mengapa kau melakukan ini?" tanya pria itu yang menatap tajam Amara.
"Melakukan apa? kan aku masih diam saja." jawab Amara dengan polos. Amara membuat kesabaran pria itu hampir habis.
"Kenapa kau menjual diri mu?"
Amara terdiam, ia pun menghapus air mata nya yang terus berlinang. Amara merasa diri nya begitu sangat rendah.
Hingga orang lain dengan enak menghina diri nya. Amara merasa kesal dan marah, namun ia tidak bisa melakukan apapun karena yang di katakan oleh pria itu benar.
Amara sendiri yang sudah menjual tubuh nya, hingga pria pun dengan rendah memandang nya sebelah mata. Bahkan, ia harus menerima hinaan yang menyakitkan ini.
"Aku bertanya kepada mu!"
"Karena aku ingin." jawab nya dengan singkat, Amara pun menangis senggugukan.
Kenapa ia selalu saja bertanya, seperti mencari pekerjaan saja. Pertanyaan nya sungguh membuat ku sakit. Kenapa dia tidak langsung melakukan apa yang dia mau, mengapa dia harus bertanya. Apa tujuan nya. Untuk merendah kan ku? Kini aku sudah merasa tidak memiliki harga diri lagi. Tapi, kenapa dia tidak menyudahi pertanyaan nya sih!
Amara menggerutu di dalam hati, ia merasa tertekan dengan pertanyaan yang ada. Jika tidak karena mengingat pesan dari Kimberly untuk tidak mencari masalah. Mungkin, Amara akan memaki pria ini.
Dia memang ganteng, tapi ucapan nya sungguh menyakitkan seperti emak-emak komplek saja!
Amara menatap tajam mata pria itu, pria itu yang tidak terima pun bertanya kepada Amara mengapa menatap nya seperti itu.
Dengan cepat Amara menggeleng kan kepala nya.
"Tidak! Aku hanya melihat mata om yang indah itu."
"Tapi aku tidak butuh kau lihati dan ingat, aku bukan om mu!"
"Memang bukan!"
"Katakan apa tujuan mu seperti ini?" tanya pria itu kembali. Amara memalingkan wajah nya kesembarang arah.
"Amara, jangan menguji kesabaran Ku. Aku bisa mencampakkan tubuh mu yang kurus itu ke kandang harimau di belakang mansion ku ini!"
Amara yang mendengar nya pun menangis ketakutan, ia menangis seperti anak kecil. Walau Amara memang masih sangat kecil.
"Sudah diam! Jika kau tidak diam, aku akan memanggil pengawal untuk melempar mu sekarang juga."
Amara langsung terdiam, menghapus air mata nya. Ia tidak mau mati sia-sia karena jadi santapan harimau peliharaan pria ini.
Amara yang merasa haus pun dengan berani meminta di ambilkan air minum oleh pria itu.
"Om aku haus, tenggorokan ku sangat kering."
"Lalu?"
"Ambil kan aku minum, aku haus."
Pria itu kesal karena bocah ingusan di hadapan nya berani memerintah diri nya dengan santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Namun, entah mengapa ia tidak marah. Dan menuruti permintaan Amara. Ia ke luar kamar untuk mengambil kan segelas air minum untuk Amara yang sedang menangis.
Amara sudah menghapus air mata nya, namun isakan tangis nya masih terdengar.
__ADS_1