
Lee mengingat bagaimana perlakuan keluarga nya pada nya.
Ia begitu benci dan dendam kepada keluarga nya itu, orang lain akan melihat keluarga nya itu utuh dan harmonis namun kenyataan nya jauh berbeda.
******
Stella termenung mengingat kejadian hari ini yang diri nya hadapi.
Pertama, Aska datang dengan perkataan yang begitu menyakitkan hati nya. Dan, sekarang ibu nya Aska datang menuduh diri nya.
Dia juga baru mengetahui kebenaran, jika diri nya akan menikah beberapa hari lagi.
Tandanya, Stella akan kehilangan cinta untuk selama nya.
__ADS_1
Stella histeris, hati nya begitu sedih.
Namun, ia kembali teringat kepada anak nya Zeline. Stella tidak mau kehilangan harapan.
Jika diri nya lemah, siapa yang akan berjuang untuk keluarga nya. Untuk anak dan ke tiga adik nya. Masa depan mereka ada di tangan Stella saat ini. Dia bertanggung jawab penuh atas Zeline, Rani, Amara juga Tanara.
"Kuat Stella, kamu nggak boleh lemah hanya karena ini. " Stella mencoba menyemangati diri nya sendiri.
"Dia wanita yang sangat baik, tapi kenapa Tuhan memberikan nya cobaan sebesar itu. Hati nya begitu sangat besar, di usia nya yang masih sangat muda ia mampu melewati nya."
"Sudah ku katakan kepada mu, wanita itu munafik..Dia tidak sebaik yang terlihat," ujar Rini yang tiba-tiba menghampiri Laras. Laras menoleh ke arah Rini yang tersenyum seakan begitu bahagia melihat itu semua.
"Apakah peringatan ku yang kemarin tidak berarti bagimu?" ujar Laras yang dengan tegas berkata kepada Rini, menatap teman nya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Aku di sini berbicara bukan sebagai karyawan, tapi sebagai teman mu. Jangan karena kau naik jabatan kau melupakan pertemanan kita, Laras. Kau bagaikan kacang lupa kulit nya."
"Aku tidak pernah melupakan pertemanan kita, bahkan aku tahu jika kau adalah teman ku. Tapi, jangan melupakan jika ini di daerah kerja kita. Dan seharusnya, kau tahu batasan mu."
Rini berdecak kesal, ia tak mengerti mengapa Laras begitu berubah padanya. Sangat dingin, juga angkuh.
"Dengar Rini, aku menghargai mu sebagai teman dekat ku. Tapi, aku tidak akan memberikan keringanan pada karyawan yang melewati batasan nya. Dan kau, juga harus bisa membedakan mana waktu bekerja dan bersantai. Saat di luar, aku adalah teman mu. Namun, di sini aku adalah atasan mu. Aku berharap, kau bisa bekerja dengan tugas mu dan tidak terlalu ikut campur dengan urusan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan."
"Apa kata mu? Tidak berhubungan dengan pekerjaan? Justru itu berhubungan dengan tempat bekerja kita, wanita itu sudah membuat cafe ini risuh. Pagi ini, sudah ada dua orang yang datang melabrak nya. Lalu nanti? Apakah nama cafe ini tidak akan rusak hanya karena manager cafe ini memiliki anak di luar nikah?"
"Cukup Rini! Jangan lagi menguji kesabaran ku! Lebih baik, lanjutkan pekerjaanmu."
"Iya, kau tidak perduli Karena kau bukan pemilik cafe ini. Aku yakin, setelah pak Zidan kembali dia akan segera mengusir juga memecat wanita itu. Dia sudah membuat nama cafe ini rusak. Aku yakin itu, dan setelah pak Zidan mengambil keputusan. Kau akan sadar!"
__ADS_1