
Stella pun berpamitan kepada anak dan juga adik nya.
"Sayang, mama harus pergi sekarang."
"Hati-hati mama."
"Semoga kakak di berikan kelancaran."
"Aminn, doain aja yang terbaik ya?" Stella menitipkan Zeline kepada Rani, ia pun melangkah kan kaki nya ke luar rumah.
Stella menaiki angkutan umum, karena diri nya tidak memiliki uang yang banyak untuk naik taxi atau ojek online. Ia memijit kepala nya yang terasa pusing, di mana ia akan mencari pekerjaan dengan ijazah SMA? Dirinya memang pernah berkuliah, namun tidak sampai wisuda. Stella meminta supir angkutan umum itu untuk berhenti, ia pun turun. Berjalan, dan memasuki satu demi satu toko yang ada di jalanan. Namun, tidak ada menerima diri nya karena batas karyawan yang sudah cukup.
Stella menghapus keringat di dahi nya karena terlalu lelah berjalan, hari pun begitu sangat terik panas nya. Namun, ia tidak mau kehilangan semangat demi anak dan adik-adik yang akan ia biayai.
Mata Stella tertuju pada satu kantor yang ia kenali milik siapa, itu kantor milik keluarga Aska. Ia pun kembali berjalan, menjauh dari daerah kantor tersebut. Namun, ketika ia ingin pergi, langkah kaki nya terhenti melihat seseorang yang dari kejauhan berjalan di gandeng oleh seorang wanita cantik masuk ke dalam mobil. Orang itu tidak lain adalah Aska. Stella meneteskan air mata nya, ia mengira jika Aska sudah menikah dan bahagia dengan wanita lain. Sedangkan diri nya, harus kuat bertahan hidup demi anak mereka. Stella menghapus air mata nya, belajar untuk kuat.
"Tidak! Untuk apa aku menangis, aku yang meninggalkan nya. Mungkin, jika dulu aku tidak pergi dia pasti akan tetap meninggalkan ku bahkan akan mengambil Zeline dari ku! Karena memang itu tujuan keluarga mereka." gumam Stella. Stella spontan membalik badan ketika Aska melihat ke arah nya.
******
Aska yang ingin masuk ke dalam mobil, seakan merasakan kehadiran Stella, ia pun melihat ke arah depan. Namun, tidak ada siapapun.
"Aku merasa seakan dia ada di depan Ku." ujar Aska dengan pelan.
"Baby, ada apa?" tanya Lee kepada kekasih nya tersebut, Aska hanya menggeleng lalu masuk ke dalam mobil. Hati nya merasa begitu kacau, bayangan tentang Stella kembali menghantui diri nya, Lee yang asyik berbicara panjang lebar pun tak di hiraukan oleh Aska.
__ADS_1
"Baby, aku ingin sekali menonton bioskop."
"Lee, sebaiknya lain kali saja aku begitu sangat sibuk. Atau begini, ini ambil lah kartu debit ku. Kau bisa memakai nya sepuas mu, shopping, ke salon atau yang lain-lain." Aska memberikan satu kartu debit kepada Lee, Lee pun merasa sangat senang dan bahagia. Sontak ia langsung memeluk Aska di dalam mobil
"Thankyou, Baby! Kamu memang pacar yang paling pengertian, okay! Kamu bekerja saja, aku bisa pergi menggunakan taxi." ujar Lee yang begitu senang, Aska merasa tidak nyaman di peluk oleh Lee. Namun, bagaimana pun mereka sudah tunangan demi mami Aska. Saat ini, bagi Aska. Mami nya adalah wanita yang tidak akan pernah membuat diri nya kecewa, Aska pernah terlalu percaya pada Stella. Namun, Stella menghancurkan segala kepercayaan nya dan pergi tanpa mengucapkan satu kata pun.
"Tidak, jangan naik taxi! Aku akan meminta supir kantor untuk mengantarkan mu."
"Baik lah." ujar Lee dengan penuh bahagia, Lee melepaskan pelukan nya. Aska melajukan mobil nya untuk pergi makan siang bersama Lee. Mereka pergi ke cafe kesukaan Lee. Walau Aska tidak mencintai Lee, namun ia selalu memanjakan dan menghormati Lee, bagaimana pun kodrat nya wanita harus di muliakan. Aska tidak akan menyakiti seorang wanita, dan Lee tidak bersalah dalam hal ini.
Setelah selesai makan siang, Aska kembali ke kantor. Sedangkan, Lee pergi di antar oleh supir kantor. Aska kembali ke ruangan nya, enam tahun sudah berlalu namun Aska tidak pernah bisa melupakan Stella meski hanya bayangan nya sekali pun.
Stella masuk ke dalam salah satu cafe. Berniat untuk mengantar surat lamaran di cafe tersebut.
"Stella." panggil seseorang dari belakang, Stella menoleh. Ternyata itu adalah Zidan, teman sekampus Stella dan Aska dulu. Stella tersenyum pada Zidan.
"Apa kabar Stella, sudah lama kau menghilang. Kami sudah mencari mu selama ini. Kau juga tidak menyelesaikan kuliah mu, ada apa?" Stella tersenyum kecut, ia pun tak tahu harus mengatakan apa.
"Ayo, duduk lah!" ujar Zidan yang menyambut Stella dengan ramah, ia juga menyuruh pekerja nya memberikan segelas minuman dan beberapa makanan ringan untuk Stella. Stella terkejut, ternyata cafe ini milik Zidan.
"Bagaimana kabar mu?"
"Ba-baik, Kau sendiri bagaimana Zidan?"
"Ya begini lah, cukup baik. Oh iya, aku mendengar kabar mu yang." ucapan Zidan terhenti, tak enak hati untuk melanjut kan nya. Stella menundukkan kepala, mencoba untuk tersenyum.
__ADS_1
"Iya, apa yang mereka beritakan itu benar. Aku tahu, seluruh kampus sudah mengetahui tentang ini. Makanya, aku tidak melanjutkan kembali kuliah ku."
"Dan apa ini?" mata Zidan tertuju pada sebuah amplop cokelat yang di bawa Stella, melihat penampilan Stella. Zidan tahu dengan pasti jika Stella sedang mencari pekerjaan. Namun, yang membuat Zidan bingung mengapa Stella mencari pekerjaan, Aska berasal dari keluarga yang kaya raya.
"Ak-aku tidak bersama Aska lagi." Stella pun memberitahu keadaan nya kepada Zidan. Zidan merasa begitu terkejut
"Selama ini kau membesarkan anak kalian sendiri?"
Stella mengangguk, Zidan pun menyalahkan Aska yang begitu tidak bertanggungjawab kepada Stella. Zidan sudah lama menyukai Stella saat di kampus. Namun, pada saat itu Stella sudah memiliki hubungan dengan Aska.
"Aku yang meninggalkan diri nya, ini bukan karena dia tidak bertanggungjawab." Akhirnya Stella menceritakan dengan rinci bagaimana ia meninggalkan Aska. Zidan semakin terkejut mendengar penjelasan Stella, ia tak menduga bagaimana bisa keluarga Aska yang begitu terhormat memiliki pemikiran yang sejahat itu. Makanan yang di bawakan oleh waiters pekerja Zidan pun datang, Zidan menyuruh Stella untuk minum dan makan terlebih dahulu, ia tahu Stella pasti begitu lelah berkeliling seharian mencari pekerjaan.
Stella pun meminum dan memakan hidangan yang si siapkan oleh Zidan.
"Lalu, di mana anakmu sekarang?"
"Dia ada di rumah almarhum papa dan almarhumah mama ku."
"Iya, aku juga mendengar tentang kepergian orang tua mu. Aku turut berduka atas apa yang menimpa keluarga mu,"
"Terimakasih, Zidan. Kau sangat baik."
"Stella, apakah aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Zidan, Stella pun menatap Zidan.
"Boleh."
__ADS_1
"Maaf jika aku lancang, namun apakah kau yakin jika Aska juga terlibat? Maksud ku, apakah Aska mengetahui rencana mami nya?"