
Pengawal wanita yang galak itu tidak menghiraukan ucapan Amara. Namun, beberapa pengawal menahan tawa karena keluguan Amara.
"Anak ini sangat polos, namun mengapa dia mengambil jalan yang salah?" batin salah satu pengawal, tidak ada yang berani melawan atau bersuara.
Peraturan mereka bekerja adalah tidak banyak bicara dan hanya melakukan hal yang di perintahkan saja tanpa banyak berkomentar.
"Di mana kamar nya?" tanya Amara kepada pengawal yang galak itu.
"Pakai baju di sini saja, biar kan aku yang mengantarkan mu."
"Baik lah." ucap Amara dengan kesal, wajah pengawal-pengawal itu sangat ketat tidak ada yang ramah.
Ia langsung memakai pakaian yang telah di berikan oleh pengawal, baju nya begitu sangat terbuka.
"Lebih baik aku tidak memakai baju saja. Daripada, harus memakai baju tapi tidak seperti pakai baju." keluh Amara kepada pengawal-pengawal wanita yang ada.
Namun, tidak ada yang berani menjawab ucapan Amara. Amara bagaikan bicara dengan para patung. Hal itu tentu saja membuat nya kesal, pengawal yang galak tadi mengajak Amara untuk langsung menemui tuan nya.
__ADS_1
Amara mengikuti pengawal dari belakang, mansion itu begitu sangat besar dan juga indah. Ingin rasanya Amara berkeliling sebentar melihat seisi mansion ini.
"Bu, apakah tuan tinggal sendirian?"
"HM."
"Sial! Dia begitu sangat cuek sekali, kan padahal sesama wanita. Kenapa tidak asyik sih, padahal dia juga sebaya dengan mama seperti nya."
Amara sangat merindukan mama nya, andai saja sang mama masih ada. Mungkin, Amara tidak akan mengalami hal-hal sulit seperti ini.
Ia merasa prihatin namun diri nya tidak mau ikut campur dengan masalah orang lain. Tugas nya di sini adalah bekerja dan melayani tuan dengan sepenuh hati.
"Bu, ibu tahu. Ibu itu sebaya dengan mama ku yang sudah di surga. Aku merindukan mama ku, andai saja mama ku masih ada. Mungkin, aku akan bisa memeluk mama Ku." pengawal itu menjadi tersentuh dengan ucapan Amara.
Membalikkan badan nya, lalu menatap Amara yang terdiam dan menangis.
"Hapus lah air mata anda, ingat tujuan anda ke sini untuk melayani Tuan."
__ADS_1
"Tuan?" tanya Amara, pengawal itu mengangguk. Amara pun mengingat tujuan nya ke sini untuk apa, ia lalu menghapus air mata nya.
"Iya, saya lupa. Ayo, kita bertemu dengan tuan. Maaf Bu, jika saya sudah curhat dengan ibu. Saya hanya merindukan ibu ku yang telah tiada. Dan seperti nya, ibu seumuran dengan mama saya."
Pengawal itu hanya mengangguk, mengajak Amara untuk menemui tuan.
"Siapa tuan itu? Apakah dia sangat tua? Ya Tuhan, tolongi Amara, semoga pria itu tidak terlalu tua, Amara sangat takut." batin Amara.
Pengawal itu pun merasa begitu kasihan dengan Amara, ia juga memiliki anak yang sebaya dengan Amara. Pengawal itu berdoa, agar anak nya tidak terjerumus dengan pergaulan bebas anak sekarang.
******
Stella yang baru bangun mencari keberadaan adik nya, Tanara. Ia juga ingin meminta maaf kepada Amara karena tadi sudah membentak adik nya.
Namun, ia harus melakukan itu agar Amara tidak salah dalam melangkah dan salah memilih pergaulan.
Stella sangat menyayangi adik-adik nya, ia selalu ingin yang terbaik untuk ke dua adiknya itu.
__ADS_1