
Tanara menunjukkan kamar untuk Zeline dan Rani. Kedua nya tercengang melihat suasana di kamar yang begitu sangat indah dan nyaman. Setelah menunjukkan kamar untuk kedua nya. Tanara melihat kan satu persatu ruangan di rumah mereka. Zeline dan Rani merasa takjub dengan rumah Stella yang begitu sangat megah.
"Mami, Zeline belum pelnah lihat lumah semewah ini." ucap Zeline yang memandangi sudut rumah satu persatu. Rani pun mensetujui ucapan Zeline.
"Kalian istirahat ya? Biar aku menyuruh Bibi untuk membuat kan makanan." ujar Tanara.
"Te-telimakasih, Tante." ucap Zeline yang tersenyum manis padanya. Tanara pun membalas senyuman anak dari kakak nya.
"Tante bahagia banget, Bisa ketemu kamu,"
"Zeline juga seneng ketemu sama Tante. Tapi, Zeline nggak suka sama Tante yang galak itu!" ketus nya. Tanara mengelus rambut Zeline dengan lembut. Zeline memonyong-kan mulut nya ke depan, Ia begitu sangat tidak menyukai Amara. Tanara kembali mengajak Zeline dan Rani kembali ke kamar untuk istirahat. Zeline dan Rani pun kembali ke kamar dan ber-istirahat.
********
Stella yang masih terpuruk kehilangan kedua orang tua nya pun masih menangis di bawah selimut. Dada nya masih terasa sesak. Ia mengenang masa bahagia nya bersama kedua orang tua nya.
Flashback
Stella kecil sedang bermain bersama Mama dan Papa nya, Mama Stella begitu sangat menyayangi diri nya. Begitu juga dengan sang papa, Sedari kecil kedua orang tua nya mengajari Stella belajar Agama. Bahkan, di setiap malam, kedua orang tua nya selalu mengajak Stella untuk mengaji.
"Sayang, Mama dan Papa tidak selama nya bersama kamu. Tetapi, ilmu agama ini akan menemani kamu sampai kapan pun. Sholat dan mengaji lah, Dekat kan diri pada Allah dan jauhi segala larangan Allah. Allah selalu ada di hati kita nak. Mama dan Papa tidak selama nya bisa menjaga kamu. Tetapi, Allah selalu akan melindungi mu di mana pun Stella berada."
__ADS_1
"Iya, Mama."
"Anak Papa memang pintar." rambut Stella berantakan akibat papa nya yang mengacak rambut nya.
Mama dan Papa Stella selalu mengajak diri nya bermain, Stella begitu sangat bahagia. Ketika kedua adik nya lahir, kasih sayang kedua orang tua nya tak pernah pudar untuk diri nya. Hingga akhir nya, hal bodoh yang di lakukan Stella membuat hati kedua orang tua nya terluka. Bahkan, kepergian dirinya membuat Mama dan Papa nya pergi untuk selama-lama nya.
Flashback end!
"Stella janji akan lindungi Amara dan Tanara dengan baik, Ma! Pa! Stella akan menjaga dan sayangi mereka seperti mama dan papa yang sudah merawat kami dan melindungi kami selama ini. Stella tak akan membiar kan mereka merasa kekurangan apapun. Ini janji Stella untuk kalian. Maafin Stella." gumam Stella yang semakin terisak, bernafas begitu sangat sulit untuk nya.
"Kak?" Stella terdiam, menahan tangis nya mendengar suara Tanara yang memanggil diri nya. Menghapus air mata dan membuang nafas perlahan. Stella membuka selimut nya. Tanara yang melihat wajah dan hidung sang kakak yang memerah langsung memeluk nya.
"Kakak harus kuat!" ucap Tanara. Tanara melepas kan pelukkan mereka.
"Kakak jangan menangis, yang berlalu biar lah berlalu. Saat ini, semua sudah terjadi. Mau sampai kapan kakak menyalah kan diri kakak sendiri? Tanara juga sangat terluka, bahkan kami melewat kan waktu selama lima tahun dengan tidak mudah. Tapi, percaya lah kak. Semua yang terjadi adalah yang terbaik. Allah nggak akan menguji umat di batas kemampuan kita. Kakak harus kuat ya?" Tanara kembali memeluk dan menenang kan Stella.
"Sudah kak! Jangan menangis lagi! Semua akan baik-baik saja."
Stella mengangguk, perlahan ia pun dapat mengontrol diri nya.
"Kita makan yuk kak? Bibi udah siapin makanan untuk kita." ajak Tanara, Stella pun mengikuti adik nya.
__ADS_1
Di ruang makan, Amara yang melihat Stella dan yang lain nya pun merasa kehilangan selera untuk makan. Ia pun berlalu pergi dari ruang makan. Stella mencoba menahan Amara. Namun, dengan kasar Amara menepis tangan kakak nya. Zeline dan Rani yang melihat sikap kurang ajar Amara pun kembali emosi. Dengan terang-terangan Zeline menyiram baju Amara dengan air. Stella kaget dan memarahi anak nya. Amara yang kesal pun ingin memukul Zeline. Stella dengan sigap, menahan tangan Amara.
"Jangan sekali-kali nya kamu sentuh anak kakak!"
"Kasih tau anak mu untuk tidak kurang ajar dengan ku jika nggak mau aku pukul!" bentak Amara. Zeline pun menyela ucapan Tante nya
"Kalau Tante nggak mau aku kulang ajal, Tante jugak nggak boleh gitu sama mama ku!"
Amara yang semakin kesal pun memutus kan untuk pergi dari ruang makan. Tanara mencoba menahan kakak nya. Namun, Amara mengabaikan sang adik. Ia hanya membenci Stella bukan adik nya Tanara.
"Kakak makan dulu, Jangan pergi!"
"Kakak nggak laper, nanti kakak makan ya?" jawab lembut Amara kepada Tanara. Tanara pun hanya mengiyakan ucapan kakak nya, ia tak mau jika keadaan semakin memanas.
"Bagus deh, Tante nggak ikut makan. Yang ada aku bisa basahi semua baju Tante!" ketus Zeline lagi, yang menatap Amara dengan tak suka. Bukan nya Zeline kurang ajar, dia akan menjadi jahat jika ada yang menyakiti mama nya.
"Sayang, kamu nggak boleh gitu sama Tante!" tegur Stella pada anak nya. Tanara menyuruh Zeline dan yang lain nya untuk makan. Sementara itu, Tanara mengambil kan sepiring makanan untuk di bawa ke kamar Amara.
"Tanara mau kasih ini dulu untuk kakak Amara. Dia pasti laper,"
Tanara berjalan menaiki tangga menuju kamar Amara. Di dalam kamar Amara. Tanara melihat raut wajah kakak nya yang penuh dengan kekesalan. Perlahan, Tanara mengetuk pintu lalu masuk. Amara melihat ke arah sang adik dan tersenyum. Tanara mendekati kakak nya memberikan sepiring makanan untuk Amara.
__ADS_1
"Kakak pasti lapar kan? Ini Tanara bawain untuk kakak."
"Terimakasih, Ya? Kamu memang adik kesayangan ku." Amara mengelus pipi Tanara dengan lembut, Tanara menatap kelopak mata Amara. Ia tahu, jika kakak nya Amara bukan lah orang yang jahat. Namun, rasa sakit di tinggal oleh kedua orang tua mereka membuat Amara menjadi seseorang yang sering kehilangan kendali. Lagipula, Amara hanya kasar dengan Stella. Karena, ia menganggap jika kakak nya adalah alasan kematian kedua orang tua nya. Apalagi, di masa sulit mereka kehilangan kedua orang tua. Stella malah pergi entah kemana tanpa menoleh kebelakang memikir kan mereka.