
Stella pun mengambil nafas panjang, ia berusaha mengendalikan diri nya dari kemarahan.
Sungguh, begitu kejam Paman dan Bibi nya itu. Stella tidak pernah menyangka jika mereka bisa melakukan hal segila itu.
"Kak, kita harus mengusir mereka dari sini.. Memang, mereka tidak tinggal dengan kita. Namun, mereka masih di depan. Tanara takut, takut jika mereka melakukan hal yang nekat."
Stella mengatakan kepada adik nya, jika tidak akan ada yang bisa menyakiti mereka lagi.
"Kakak di sini, kakak tidak akan membiarkan mereka menyakiti kalian. Jangan takut!"
Tanara mengangguk, ia tau jika Stella akan menjaga mereka namun tidak menjamin keselamatan mereka.
Paman dan Bibi nya bisa melakukan apapun demi mencapai tujuan mereka.
"Kak, Tanara tidak bisa merasa tidur nyenyak jika mereka ada di sini."
"Tenang lah, sayang ku."
Tiba-tiba listrik rumah mereka padam, Tanara semakin ketakutan.
Ia mengintip tetangga depan rumah nya namun listrik mereka hidup.
Ini pasti ulah Paman dan Bibi nya.
Stella mencoba untuk tenang. Rani sudah tidak tahan lagi, sifat bar-bar nya pun keluar.
Ia ingin memberikan pelajaran untuk Paman dan Bibi nya Stella namun Stella dan Tanara mencegah.
__ADS_1
"Jangan gegabah, di luar begitu gelap. Mereka bisa melakukan sesuatu yang akan membahayakan nyawa kamu dan juga kita semua."
Stella, keluar kalian! Jika kamu tidak keluar dan membatalkan pembekuan rekening kami. Maka kami akan membakar Rumah kalian!
Terdengar suara paman mereka yang berteriak
"Silahkan lakukan sesuka hati kalian. Jika kalian masih ingin menghirup udara bebas di luar!" teriak Stella dari dalam
Tanara ketakutan dari dalam, Rani mencari lilin untuk menerangi rumah mereka.
Rumah Stella cukup besar, lilin hanya ada di kamar atas.
Rani yang begitu berani naik ke atas mengambil lilin tersebut.
Tanara menangis, Stella memeluk adik nya. Ia menenangkan Tanara.
Stella memeluk tanara. Ia berjanji kepada adiknya akan segera menyelesaikan masalah yang ada.
cara mengerang kan rahang nya dengan geram, Iya pun turun dari mobil.
Amara mengikuti Darren dari belakang, ternyata mereka tidak jadi pergi untuk makan malam.
Amara tidak enak hati meninggalkan Kakak dan juga adiknya pun memutuskan untuk tidak pergi.
Darren menghidupkan saklar lampu rumah Stella.
Paman dan Bibi menatap Amara, mereka ingin menarik Amara, memberikan pelajaran kepada keponakan nya.
__ADS_1
Amara gemetar ketakutan, mata nya pun berkaca-kaca.
"Ampun, Paman. Bibi." Amara berteriak.
Stella yang mendengar jeritan adik nya pun memutuskan untuk keluar.
Stella mengingatkan kepada Tanara untuk mengunci pintu rumah mereka jangan sampai mereka keluar apapun yang terjadi di luar.
Tanara mengangguk, Stella membuka pintu. Ia langsung menutup pintu dan menyuruh Tanara mengunci pintu dari dalam.
"Lepas kan tangan nya!" sentak Darren.
Stella memeluk Amara, namun bibi masih menarik tangan Amara.
Stella kehilangan kesabaran nya, ia menolak bibi nya hingga terjatuh ke lantai.
"Sudah ku peringatkan jangan pernah menyentuh atau menganggu adik ku!"
Stella menggeram, sejak tadi ia sudah menahan kemarahan nya. Namun seperti nya paman dan bibi nya tidak mengerti.
Paman ingin memukul Stella, namun Darren menghalangi.
"Mereka bukan lawan anda. Jika ingin bertaruh, sama saya!"
Paman pun ingin memukul Darren, ke dua nya kini bertaruh.
Amara takut, jika paman nya melukai Darren.
__ADS_1
Ia tidak tau jika lelaki di hadapan nya adalah bos mafia terbesar di kota nya.