
Amara yang merasa malas pun terpaksa harus makan, agar adiknya Tanara mau makan. Baginya, kesehatan dan kebahagiaan Tanara adalah tujuan utama Amara.
"Ra, kalau kakak boleh saran. Sebaiknya kamu nggak usah kerja lagi paruh waktu, biar kakak yang mencari kerja untuk kebutuhan kalian semua." Amara tak menggubris ucapan Stella dan menikmati makanan yang ada di hadapannya.
"Ra, kakak mohon sekali ini aja." ujar Stella dengan wajah yang memelas. Amara menghentikan kegiatan makannya, ingin memaki sang kakak namun dengan sigap Tanara menggenggam tangan Amara. Amara yang menoleh ke arah sang adik pun di isyaratkan untuk tidak berdebat lagi di meja makan.
"Kak, biar kan kak Amara berfikir, kak Amara butuh waktu. Tanara harap kakak ngerti ya?" ujar Tanara kepada Stella. Stella pun mengangguk mengerti, dia juga tak ingin membuat Tanara sedih karena terus-terusan melihat perdebatan dirinya dan juga Amara.
Setelah selesai makan, Amara bangkit dari tempat duduk dan segera pergi ke kamar. Zeline yang melihat sikap menyebalkan Amara pun ingin rasanya mencakar wajah sang Tante. Begitu juga dengan Rani.
"Padahal kak Stella wanita yang sangat baik dan berhati malaikat, tapi kenapa memiliki adik seperti nenek lampir begitu." gerutu Rani yang blak-blakan di depan Tanara. Tanara merasa tidak nyaman dengan perkataan Rani yang menjelek-jelekkan Amara. Stella yang melihat perubahan wajah Tanara pun langsung menjelaskan kepada Rani jika Amara wanita dan adik yang sangat baik. Dia hanya kecewa, tapi itu hanya beberapa saat. Stella percaya jika adiknya akan berubah seperti dulu lagi, yang begitu sangat sopan dan menyayangi dirinya.
Tanara berpamitan kepada Stella untuk masuk ke dalam kamar, Rani memanggil dirinya. Namun, Tanara mengabaikan nya.
"Kenapa dia begitu? Tadi baik-baik saja, aneh sekali!"
"Rani, kakak mohon ya agar Rani jangan seperti itu lagi. Seperti Rani yang nggak suka liat kakak di jelek-jelek kan oleh orang lain. Begitu juga dengan Tanara, dia nggak akan suka melihat kakaknya Amara di kata-katai seperti itu. Rani paham kan dek?"
__ADS_1
"Tapi, Amara juga sudah bersikap tidak baik pada kakak. Kakak kan juga kakak nya dia, kenapa dia diam saja?"
"Benal itu mama! Mama jangan mau diam aja kalau Tante Amala sepelti itu. Zeline juga nggak suka!"
"Sayang, ini urusan orang dewasa. Zeline sebaiknya jangan ambil pusing dan fokus nya dengan permainan Zeline. Ya nak? Lagi pula Tante Amara kan tidak pernah kasar atau memukul Zeline"
"Iya, mama."
"Dan, kamu Rani. Usia kamu lebih dewasa dari mereka bertiga, kakak harap kamu bisa memahami kondisi ini. Kakak nggak mau kamu terlibat dengan masalah kakak dengan Amara. Jika dia bersikap kurang baik pada kakak, itu tidak sepenuh nya kesalahan dia. Kakak memang pantas mendapatkan nya karena kakak sudah meninggalkan mereka tanpa melihat ke arah mereka. Bahkan di saat tersulit, kakak nggak ada untuk mereka. Wajar jika Tanara marah atau kesal dengan kakak. Itu bentuk rasa sayangnya kepada kakak. Kecewa dengan orang yang kita sayangi itu wajar. Jika dia nggak sayang, dia nggak akan merasa sesakit ini. Kakak memahami rasa sakit yang dia alami. Kakak harap, Rani bisa lebih dewasa lagi ya dek?"
"Iya kak, Maafin Rani ya kak? Rani cuman nggak bisa ngelihat kakak sedih, kakak itu orang baik dan Rani begitu sayang sama kakak."
"Sayang dong, mana mungkin mami nggak sayang sama kesayangan ku ini. Sini peluk!" Rani memeluk Zeline dengan erat dan penuh kasih sayang.
Stella tersenyum melihat kedekatan Zeline dengan Rani. Ia berharap jika suatu hari nanti, Amara pun menyayangi Zeline dan mereka bisa main serta sedekat itu seperti kedekatan Zeline dengan Rani.
********
__ADS_1
Tanara masuk ke kamar kakaknya Amara. Tanara memegang bahu kakaknya mencoba menenangkan kemarahan sang kakak.
"Aku bisa gila jika mereka terus-terusan ada di sini, lihat lah! Dia datang bersama anak haram nya dan juga wanita jalanan itu! Siapa mereka, seenaknya datang kesini. Kenapa dia nggak pergi aja selama nya sih? Kenapa dia harus kembali?" kesal Amara yang meremas kasur miliknya.
"Kak, jangan bicara seperti itu." Tanara memeluk kakaknya dari belakang, terdengar isak kan tangis dari Tanara, Amara menoleh kebelakang melihat adik nya yang menangis terisak. Tanara memeluk adiknya dengan lembut dan penuh sayang.
"Nara kenapa menangis? Hey, sudah. Kenapa? Apa mereka berkata buruk padamu?"
Tanara menggeleng kan kepala nya. Hati nya merasa sangat sedih karena kerenggangan di antara kedua kakak nya. Dia bingung harus melakukan apa, diri nya ingin sekali melihat kedua kakak nya akur seperti dulu dan mereka bertiga saling menyayangi dan menjaga satu sama lain. Amara masih bertanya, kenapa adiknya menangis. Namun, Tanara hanya terdiam. Saat ini ia hanya ingin menangis saja, apalagi ucapan Rani yang menjelek-jelekkan Amara membuat hati nya semakin terluka.
Dia hanya orang luar, mengapa dia berani mengatakan hal buruk tentang kakak ku. Kakak ku orang yang baik, kenapa dia berkata jika kakakku seperti nenek sihir - batin Tanara.
Amara melepaskan pelukkan mereka, dan bertanya apa yang terjadi. Mengapa Tanara ke kamarnya dan menangis tersedu seperti itu.
"Katakan, apa yang terjadi!" Amara menggoncang kan tubuh adiknya.
"K-kak, Tanara ingin kakak dan kak Stella baik-baik saja seperti dulu hiks. Jangan seperti ini, Tanara menyayangi kalian berdua, jangan buat Tanara bingung harus memihak kepada siapa. Hanya kalian berdua yang Tanara pu-punya, T-tolong jan-ngan bertengkar lagi. Tanara sangat sedih melihat kalian seperti orang asing hiks, hiks." ujar Tanara yang terbata-bata. Amara menghapus air mata adiknya dan kembali memeluk sang adik.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi, Sayang. Cuman Tanara saat ini yang kakak punya, kakak bertahan hingga saat ini hanya untuk kamu! Jadi, tolong jangan buat kakak ngerasa nggak punya siapa-siapa. Kakak nggak marah kalau kamu dekat dengannya atau siapapun di rumah ini. Tapi, tolong jangan paksa kakak untuk seperti dulu lagi padanya, kakak nggak bisa Nara! Tolong kamu ngertiin kakak ya dek? Kakak juga nggak mau berdebat dengan mereka tapi lihat lah, dia tidak bisa mengajari anak dan orang jalanan itu sopan santun. Mereka selalu saja mengganggu ku, aku muak Nara. Melihat wajah nya, aku seakan berada di rasa sakit dahulu, duka nya kembali hadir. Kakak ini manusia biasa, hati kakak juga bisa hancur dan lemah. Dia udah membuat kita menderita, karena nya juga kita kehilangan mama dan papa kita kan?"