
Zeline memonyongkan mulut nya ke depan, ia merasa tidak nyaman seperti ini. Apa yang ia lakukan selalu saja di larang.
Zeline yang kesal pun hanya terdiam, ia menutup buku nya. Ia pun meminta izin kepada guru untuk ke toilet.
Setelah ke luar dari kelas, Zeline pergi ke toilet. Ia menangis di dalam toilet, rasa nya sangat tidak nyaman.
Aska yang ingin pergi, mendengar suara tangisan seorang anak perempuan, Aska pun mengikuti suara tangisan tersebut.
Suara itu berasal dari dalam toilet anak perempuan.
"Hey, siapa itu?" teriak Aska yang ingin memastikan, ia pun menghentikan panggilan nya ketika melihat seorang anak kecil yang keluar dari sana. Mata nya begitu sembab, siapa lagi jika buka Zeline.
Zeline yang tak menghiraukan Aska pun berlari menuju kursi panjang dekat taman, rasanya ia begitu malas masuk ke dala kelas. Apapun yang ia lakukan pasti selalu di larang oleh guru nya. Zeline begitu tidak nyaman dengan situasi seperti itu.
Aska mengikuti Zeline, ia melihat Zeline yang menangis tersedu di bangku panjang dekat taman. Perlahan, Aska mendekati Zeline. Ia pun memegang bahu Zeline dengan lembut, sontak membuat Zeline kaget. Zeline pun menepis tangan nya.
"Hey, anak manis. Mengapa kau menangis?" tanya Aska dengan lembut, namun Zeline tidak menjawab. Diri nya masih diam, dan tetap menangis. Aska yang melihat nya pun merasa tidak tega.
"Mari, katakan pada om. Apa yang terjadi?" tanya Aska kembali kepada Zeline. Zeline yang merasa butuh teman cerita pun, mengatakan segala nya kepada Aska apa yang terjadi di dalam kelas.
"Zeline tidak suka dengan sekolah ini. Begitu sangat menyebalkan, semua yang Zeline lakukan selalu di lalang." ujar Zeline dengan nada terisak, Aska seakan melihat masa kecil nya di dalam diri anak di depan nya itu.
"Mengapa kau menangis, kau bisa melakukan apa yang kau ingin."
__ADS_1
"Tidak! Gulu tidak pelnah membialkan ku hidup dengan damai." ujar nya dengan begitu kesal. Aska yang tak enak hati pun, mengajak Zeline untuk kembali ke kelas.
"Ayo, mari ikut dengan ku. Aku akan bicara pada guru mu dan memarahi nya agar dia bisa memahami kesukaan mu." Aska pun menghibur Zeline walau ia sendiri tidak tahu bagaimana cara nya. Mata indah Zeline terbelalak dengan sempurna di tambah dengan senyuman yang terpancar di wajah manis nya.
"Benal kah?" tanya Zeline. Aska mengangguk dan tersenyum. Zeline segera menghapus Air mata nya. Ia mempercayai Aska, padahal mereka tidak saling mengenal satu sama lain.
*****
Aska mengantar Zeline berada di dalam kelas. Guru yang mengajari Zeline pun mendekat, menegur Zeline dengan lembut.
"Sayang, mengapa kamu lama sekali?" Zeline mendongakkan wajah nya ke atas menatap Aska, ia meminta perlindungan kepada Aska seperti yang Aska katakan tadi.
Benar saja, Aska pun memarahi guru itu dan membela Zeline.
"Seharus nya anda menjadi guru memberikan kenyamanan kepada anak-anak. Bukan malah sebalik nya! Anda lihat, kelakuan anda membuat murid menjadi tidak nyaman dan menangis." tegur Aska kepada guru itu, guru tersebut pun hanya diam menunduk, ia tak berani mengeluarkan satu kata pun.
"Ingat, siapapun dia. Berikan kenyamanan kepada anak-anak. Kamu ini guru TK, bukan guru SMA. Jadi, bersikap lah dengan apa yang mereka inginkan. Di situ gunakan kesabaran kamu, bukan mereka yang mengikuti kemauan kamu tapi kamu yang mengikuti kemauan mereka. Apa kamu mengerti?" tegur Aska kepada guru Zeline.
"Mengerti, Tuan. Saya meminta maaf atas kecerobohan yang saya buat. Saya berjanji tidak akan melakukan nya lagi."
"Ini pertama dan terakhir kali nya. Murid menangis seperti ini karena merasa tidak nyaman oleh guru. Saya tidak mau kejadian ini terulang lagi. Jika kamu tidak sanggup, kamu bisa mengundurkan diri. Banyak yang ingin mengajari mereka." guru itu hanya bisa terdiam.
Aska meminta Zeline untuk masuk dan kembali belajar karena diri nya juga harus pergi menemui Stella. Aska tidak tahu, jika anak yang ada di hadapan nya yang ia bela adalah anak ia bersama Stella.
__ADS_1
"Telimakasih ya om?" ujar Zeline yang kini memasang senyuman manis kepada Aska, awal nya Zeline begitu tidak memperdulikan kehadiran Aska. Namun, sekarang, ia menghormati Aska karena bagi nya Aska adalah orang yang baik di sekolah ini yang dapat memahami keinginan nya.
Aska tersenyum dan mengangguk, ia pun meminta Zeline untuk duduk di bangku yang ia tempati. Setelah itu, Aska berlalu pergi. Sebelum pergi, Aska kembali memperingati guru itu untuk bersikap baik kepada anak-anak murid terutama kepada Zeline.
******
Stella yang baru saja sampai di kerjaan pun, duduk sebentar. Karena sepuluh menit lagi, mereka akan mengadakan briefing kepada seluruh karyawan sebelum memulai pekerjaan.
Stella meletakkan tas nya di atas meja, ia pun merasa tidak tenang. Memikirkan Zeline
"Apa ada sesuatu yang terjadi kepada anakku?" ujar nya. Pintu ruangan terbuka, Stella melihat Laras yang masuk ke dalam ruangan mendekati diri nya.
"Maaf Bu, segala nya sudah di persiapkan. Kita hanya tinggal menunggu ibu."
"Terimakasih, Laras. Saya akan segera ke sana. Maaf ya saya telat, tadi perjalanan begitu padat."
"Tidak masalah Bu, karena ibu juga manager di cafe ini. Jika ibu datang siang juga itu tidak masalah Bu, ada saya yang akan menghandle segala nya. Karena itu lah tugas saya." ucap Laras kepada Stella.
"Tidak! Saya tidak enak hati, karena saya. Kamu harus menambah pekerjaan lagi. Saya berjanji, saya tidak akan terlambat lagi."
"Bagi seorang manager, tidak ada jam terlambat Bu..Jadi, ibu tidak perlu khawatir. Karyawan juga bisa memahami apalagi ibu memiliki seorang Puteri." ucap Laras, Stella yakin jika Zidan sudah memberitahu seluruh karyawan nya untuk tidak mematokkan jam kerja kepada diri nya.
Sungguh, Stella merasa sangat tidak enak hati
__ADS_1
"Saya sama seperti kalian, kita sama-sama bekerja. Jadi, jam bekerja kita itu sama. Jam istirahat juga jam pulang bekerja. Saya tidak bisa bersikap kurang ajar kepada kalian hanya karena saya manager di sini atau teman dari bos." ucap Stella, Laras hanya tersenyum.
Ia tahu, jika atasan nya tidak akan bersikap semena-mena pada mereka. Laras juga memberitahu kepada Stella, jika hari ini Zidan tidak bisa datang ke cafe. Ia harus pergi ke luar kota untuk mengurus kerjasama kepada pihak lain