
Stella pun masuk ke dalam sekolah adik-adik nya, ia melihat begitu banyak kerumunan anak sekolah.
Stella mengingat ucapan adik nya yang mengatakan jika diri nya berada di dalam kelas paling ujung lantai atas.
Stella pun menaiki anak tangga satu persatu, ia melihat anak-anak sekolah yang memakai seragam sekolah bermain dengan teman-teman nya. Stella tersenyum, ia mengingat masa-masa indah nya saat berada di bangku SMA.
Begitu menyenangkan sekali, apalagi Stella mengingat kelakuan nakal nya bersama teman sebangku yang izin ke toilet namun ternyata jajan di dalam kantin..
Stella memandangi satu persatu murid dan suasana di sekolah itu. Sungguh, Stella merindukan masa-masa sekolah nya.
Tak terasa, stella sudah berada di lantai atas. Ia hanya tinggal berjalan melewati lorong yang begitu sepi.
"Seperti nya lantai ini jarang di gunakan, sangat sepi sekali." gumam Stella. Ia pun mencari keberadaan adik nya, terlihat Amara dan Tanara berada di dalam kelas.
Tanara menghampiri nya dan memberikan card untuk menjemput Zeline.
"Tanara, kenapa kalian di sini?"
"Iya kak, kami sedang istirahat untuk makan siang saja.."
"Kakak padahal membawakan bekal untuk kalian." raut wajah Stella berubah menjadi sedih. Tanara mengambil bekal yang di bawa oleh kakak nya. Lagipula, ia belum memakan apapun karena memikirkan kejadian tadi.
Tanara meminta kakak nya Stella untuk duduk terlebih dahulu. Tanara begitu lahap memakan bawaan bekal dari kakak nya.
Stella tersenyum, adik nya selalu saja membuat suasana menjadi baik. Tanara tidak akan membiarkan kakak-kakak nya merasa kecewa dan sedih.
"Pelan-pelan makan nya. Nanti kamu bisa tersedak." ujar Stella kepada adik nya. Ia menatap Amara yang memalingkan wajah nya ke sembarang arah.
Stella tidak ingin menegur adik nya itu dan membuat Amara menjadi kehilangan mood nya.
"Kalau begitu kakak harus pergi dulu menjemput Zeline. Pasti dia sudah menunggu kakak di sana."
"Iya kak, maafkan Tanara ya kak?"
"Tidak apa-apa Tanara, lagipula kakak kan tidak bekerja jadi kakak bisa menjemput Zeline. Sebenarnya kakak juga ingin menjemput nya namun kakak teringat card nya ada di kamu."
"Iya kak. Sekali lagi Tanara meminta maaf kepada kakak ya?"
"Jangan merasa bersalah seperti itu adikku!" Stella pun lalu pergi meninggalkan ke dua adik nya.
Setelah menghabiskan bekal yang di bawa oleh kakak nya, Tanara mengajak Amara untuk pergi dari kelas ini. Ia masih merinding mengingat kejadian tadi..
Amara mengikuti ucapan adik nya, mereka pun menuruni anak tangga menuju kelas Amara. Karena Amara tahu, jika tidak akan ada lagi orang di dalam kelas nya.
Amara begitu mengenal teman-teman sekelas nya. Mereka tidak akan betah lama-lama berada di sekolah apalagi di kelas.
Suasana kelas Amara jauh lebih baik dari kelas tadi. Kini, Tanara bernafas dengan lega.
"Dik, kenapa dari tadi Tanara kebanyakan diam. Ada apa?" akhirnya Tanara memberitahu kakak nya apa yang terjadi.
"Sebenar nya tadi saat Tanara kembali membeli makanan untuk kakak. Tanara melihat kakak duduk di kursi namun kakak diam saja. Tanara mengajak kakak bicara dan makan bersama. Namun, tiba-tiba kakak memanggil Tanara dari depan pintu kelas. Kakak mengatakan jika kakak baru Kembali dari toilet. Saat Tanara menoleh ke samping tidak ada siapapun, mungkin Tanara sedang berhalusinasi kak."
Mendengar ucapan adik nya membuat Amara merasa ngeri. Apalagi, di sekitar kelas mereka sudah tidak ada orang lain.
"Tanara kamu jangan menakut-nakuti kakak deh!"
"Ara nggak nakuti kakak! Itu memang benar kak. Tanara tidak tahu, mungkin saja Tanara berhalusinasi."
"Sudah lupakan saja, untung kamu mengajak kakak untuk pindah dan tidak menjelaskan nya di sana. Jika tidak, Kakak bisa mati berdiri ketakutan."
Tanara tertawa mendengar ucapan kakak nya, ia tahu jika Amara lebih penakut dari nya. Sebab itu, Tanara bersikap tenang dan tidak memberitahu kakak nya.
"Sudah lah kak, terpenting kita sudah tidak berada di sana lagi."
Amara melihat keadaan di bawah, sial! Dia benar-benar kesal melihat kegilaan dari Darren mengapa tidak pulang saja. Sudah sejam lebih Amara dan Tanara menunggu di kelas.
"Seperti nya dia tidak akan menyerah kak,"
"Bagaimana agar dia pergi? Kakak tahu pasti kamu sudah lelah bukan? Ini jam nya kamu istirahat tidur siang, namun karena pria tidak waras itu kita harus terjebak di sini."
Amara dengan kesal memutuskan untuk turun ke bawah dan pulang bersama adik nya.
"Kakak yakin?"
"Mau sampai kapan kita di sini saja, bagaimana jika sampai malam dia tidak pulang?"
Tanara pun menganggap ucapan kakak nya itu benar. Pria seperti itu akan melakukan segala cara. Jika dia berani datang ke sekolah dan membuat keributan tentu saja dia tidak akan menyerah menunggu sampai malam.
__ADS_1
Tanara dan Amara pun turun ke bawah, Amara sudah tidak memperdulikan lagi pria itu.
Jika Darren melihat nya, ia akan menghampiri Darren dan menampar nya!
Amara begitu sangat kesal dengan tingkah pria yang tidak waras itu, mengapa ia menganggu Amara di sekolah.
"Wanita ku telah datang." ujar Darren yang melihat Amara mendekati nya "Sudah aku katakan, kau akan datang sekuat apapun kau bersembunyi kau akan datang."
Plak!
dengan emosi Amara menampar Darren di depan banyak orang, Darren menatap Amara dengan penuh emosi.
Dia sudah menunggu wanita nya namun malah tamparan yang ia dapatkan, Amara tidak merasa takut dengan Darren walau Darren yang telah memberikan nya banyak uang.
Banyak yang terkejut dengan prilaku Amara, begitu juga dengan adik nya Tanara. Amara meminta kepada Tanara untuk menunggu di dalam mobil. Tanara menuruti permintaan kakak nya, ia tidak pernah melanggar larangan dari kakak-kakak nya itu.
Tanara masuk ke dalam mobil, walau ia begitu penasaran namun Tanara mengingat pesan dari kakak nya.
Amara menarik tangan Darren dengan kasar, membawa nya menjauh dari kerumunan orang.
Setelah mereka hanya berdua, Darren menepis tangan Tanara. Ia mendekati Tanara dengan tatapan maut nya.
"Berani nya kau!" jari telunjuk Darren berapa di kening Amara, namun Amara tidak merasa takut seperti kemarin. Ia justru menepis tangan tangan Darren dari kening nya.
"Apa yang kau mau? Mengapa kau membuat ku malu? Kenapa?"
"Memang nya apa yang aku lakukan? Aku hanya ingin menemui mu, dan kau ingat surat perjanjian Kita."
"Diam kau! Aku tidak perduli dengan perjanjian itu. Jika kau tidak menghargai privasi ku, aku tidak akan menghargai mu."
"Memang nya siapa kau yang berani menghina ku seperti ini hah! Kau menamparku di depan banyak orang."
"Memang nya kau juga siapa? Yang berani mengacau di sekolah ku? Bahkan di depan adikku!" Amara tak kalah meninggikan suara nya, ia sungguh muak dengan ini semua.
Bukan nya Amara tidak menghargai perjanjian itu, ia hanya tidak suka melihat Darren melakukan hal sesuka nya. Jika itu di luar sekolah, mungkin Amara akan menerimanya namun ini di lingkungan sekolah.
Apa yang akan ia katakan kepada teman-teman nya.
"Andai aku bisa memutar waktu, aku akan mencegah pertemuan ku dengan mu! Aku membenci mu!"
Darren yang kesal mencengkram bahu Amara dengan kasar. Amara yang merasakan sakit pun menetes kan air mata nya.
"Maafkan aku." tanpa sadar Darren meminta maaf kepada Amara. Bahkan, ia melupakan prilaku kurang ajar Amara yang sudah berani menampar nya.
Amara yang ketakutan pun pergi meninggalkan Darren. Ia begitu takut, tangan nya gemetar. Bahu nya terasa sangat sakit.
Amara tidak mau adik nya tahu, ia pun segera menghapus air mata nya dan naik ke dalam mobil.
Darren terdiam, ia memukul dinding dengan kuat! Ia sangat menyesal karena sudah menyakiti Amara, Darren tanpa sadar menyakiti Amara.
Darren sudah biasa berbuat hal itu kepada seorang wanita, namun mengapa melihat air mata Amara membuat nya menjadi merasa bersalah.
Darren pun hanya bisa menatap kepergian Amara. Ia mencaci diri nya sendiri, Darren memang pria yang tidak bisa menahan emosi nya apalagi jika ada wanita yang berani menolak nya.
******
Amara yang mengingat hal itu masih bergemetar tangan nya. Ia ingin bersikap biasa saja agar adik nya tidak merasa khawatir. Supir itu melajukan mobil nya, Amara mengira jika Darren akan mengejar diri nya dan kembali kasar padanya. Amara sangat takut, ia harus meminta perlindungan pada siapa?
Jika ke dua orang tua nya masih ada, pasti Amara akan mengadu hal ini kepada ke dua orang tua nya. Sudah pasti ia akan mendapatkan perlindungan dari mama dan papa nya. Namun, sekarang Amara harus menghadapi ini sendirian.
Darren benar-benar membuat Amara ketakutan karena sikap nya yang terlalu berlebihan.
Amara melihat ke arah belakang, Darren tidak mengejar nya sama sekali. Amara bisa merasa lega walau hanya sesaat.
Amara bernafas dengan lega. "Kak kenapa kakak tadi menampar om itu?" tanya Tanara yang membuat Amara memikirkan kejadian tadi, ia menampar Darren di hadapan banyak orang. Amara yakin, jika Darren akan membalas perbuatannya itu.
"Kakak begitu kesal dengan nya..Kakak juga tidak sengaja melakukan itu padanya. Sungguh!"
"Kasihan juga sih dia kak, kakak menampar nya di depan banyak orang. Dia pasti sangat kesal dan malu."
Amara mengingat Darren yang mencengkram bahu nya dengan erat, Amara ketakutan mengingat nya.
Bagaimana jika Darren melakukan hal yang lebih atau bahkan membunuh Amara dengan sadis?
Itu lah yang ada di pikiran Amara, Amara berfikir terlalu jauh, padahal Darren merasa menyesal karena sudah menyakiti Amara.
Amara tidak mau membahas Darren, ia meminta kepada adik nya untuk tidak membahas tentang Darren lagi.
__ADS_1
"Jangan membahas Darren lagi, kakak tidak ingin!"
"Jadi namanya Darren."
Amara mengangguk, Tanara tersenyum melihat kakak nya itu.
Mengapa kakak nya mengetahui nama pria itu dan bagaimana pria itu bisa mencari kakak nya. Tanara semakin penasaran, ia berencana akan bertanya kepada Darren saat mereka bertemu nanti.
Sesampai di rumah, Amara dan Tanara langsung turun dari dalam mobil, Amara langsung menuju kamar nya. Ia sudah memberikan pesan kepada Tanara agar tidak ada yang menganggu nya nanti.
Tanara pun mengerti perintah kakak nya."Baik kak, Tanara akan mengatakan kepada kak Stella dan yang lainnya untuk tidak mengganggu kakak."
Amara mengangguk, ia menutup pintu kamar nya.
Amata yang melihat ponsel nya berada di atas meja pun baru tersadar jika diri nya meninggal kan ponsel nya di rumah. Begitu banyak notif masuk
Ribuan pesan dan panggilan tak terjawab dari nomer yang ia tak kenal, ternyata itu adalah nomer Darren.
Pantas saja Darren sampai mencari nya ke sekolah, ternyata itu bukan sepenuh nya kesalahan Darren.
Amara semakin merasa bersalah dan juga takut. Ia sudah melanggar surat perjanjian itu. Salah satu syarat yang Amara tahu adalah ia tidak boleh mengabaikan Darren saat Darren menghubungi nya atau sekedar mengirimkan pesan.
Kini, Darren mengirim begitu banyak pesan dan panggilan masuk.
Ia sudah melanggar surat perjanjian itu bahkan Amara juga sudah mempermalukan Darren di depan banyak orang. Tentu saja, Darren tadi kesal sampai bersikap kasar pada nya.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan kepada Darren? Dia pasti sangat marah padaku. Aku juga tadi pergi saja tanpa memperdulikan nya. Ya Allah, lindungi lah hamba mu ini dari pria yang pemarah seperti nya."
Amara tidak sadar, jika sifat nya juga seperti Darren yang mudah marah.
Amara memilih mematikan ponsel nya, saat ini ia sangat ingin menenangkan pikiran nya.. Amara juga berniat meminta izin kepada pihak sekolah untuk beberapa hari libur. Dan mengatakan jika diri nya sakit dan butuh istirahat.
"Semoga pihak sekolah mengizinkan aku untuk berlibur sementara waktu. Aku ingin tenang dan menghindar dulu dari Darren. Maaf kan aku Darren, bukan aku melanggar surat perjanjian itu..Namun, aku masih takut jika harus berhadapan dengan mu. Bagaimana pun kau sudah kasar kepada ku tadi. Kau mencengkram bahu ku dengan kuat hiks" ringis Amara.
Amara membersihkan tubuh nya dahulu, kepala nya terasa sangat penat apalagi mengingat kejadian kejadian hari ini. Dan iya, di saat seperti ini masih sempat nya ada kejadian misterius yang membuat bulu kuduk nya merinding.
"Hantu mengapa kau berubah wujud seperti ku dan memperlihatkan diri mu dengan adik ku. Seharus nya kau meminta izin dulu kepada ku sebelum meniru wajah ku. Dan jangan mengganggu adikku tapi temui saja Darren agar aku tidak perlu lagi berurusan dengan nya.
ujar Amara dengan polos nya.
Entah mengapa, Amara bisa berfikiran sekonyol itu.
*******
Darren yang kembali ke kantor pun memukul tangan nya sendiri ke tembok. Hingga punggung tangan nya terluka, bagaimana bisa ia membuat wanita nya merasa ketakutan dengan sikap nya.
Dio masuk ke dalam ruangan, ia melihat Darren yang sangat kesal, Dio bertanya ada apa.
"Aku menyakiti nya. Dan dia ketakutan dengan sikap ku."
"Bukan kah, tuan sudah biasa melakukan itu kepada wanita lain."
Darren mengusap wajah nya dengan gusar, ia pun melempar Dio dengan bolpoin "Aku serius brengsek! Saat ini jadi lah teman ku bukan bawahan ku."
"Haha."
Kini Dio bisa tertawa dengan puas, Darren menatap kesal Dio. Ia meminta Dio bersikap sebagai teman bukan untuk menertawakan diri nya!
"Diam kau! Aku tidak meminta mu untuk menertawakan aku!"
"Lalu, aku harus bagaimana lagi? kau begitu sangat lucu bukan kah menyakiti wanita itu hal yang sudah biasa bagi seorang Darren?"
Yang dikatakan oleh Dio itu memang lah benar, Darren pun tidak bisa marah. "Entah mengapa, melihat Air mata nya aku merasa sangat bersalah" ujar Darren.
"Berarti air mata nya adalah kelemahan mu?"
"Bukan seperti itu juga bodoh!" sentak Darren dengan geram.
"Lalu apa?"
Darren sendiri juga tidak mengerti, Dio menatap teman nya itu "Apakah kau jatuh cinta dengan bocah itu?"
pertanyaan Dio sontak membuat Darren terkejut, tidak mungkin dia mencintai Amara bocah berusia di bawah tujuh belas tahun.
"Jangan bicara sembarangan! Aku tidak mungkin mencintai nya!"
"Lalu? Seharusnya kau bersikap biasa saja. Lagipula, ini bukan pertama kali nya kau melihat wanita menangis."
__ADS_1
Darren melihat ke sembarang arah. Ia pun tidak mengerti apa yang ia rasakan, hanya karena seorang bocah ia rela menunggu selama berjam-jam. Di permalukan di depan banyak orang, dan di tampar oleh seorang wanita.
Sial! Hal itu membuat Darren merasa kesal, namun mengingat air mata Amara tadi ia justru lebih mengkhawatirkan tentang Amara.