
Stella mencubit pipi anak nya dengan lembut, Zeline tertawa. Zeline menyuruh mama nya untuk masuk dan beristirahat. Karena besok sang mama juga harus bekerja, pasti sangat melelahkan.
"Iya, Kak. Sebaik nya kakak istirahat saja, biar Rani yang akan mengurus segala nya di rumah."
"Enggak, Dek! Kamu pasti akan lelah, lagipula. Kamu, adikku! Bukan pelayan di rumah ini, kakak nggak mau kamu lelah mengurus segala nya biar kakak saja."
"Itu tidak melelahkan kak, lagipula Rani bosan jika di rumah saja tanpa melakukan sesuatu. Dulu, kita selalu sibuk karena berjualan sekarang, Rani hanya diam di kamar. Kemarin dan sekarang, masih ada Zeline yang menemani Rani. Namun, ketika Zeline udah sekolah, Rani akan sendirian di rumah. Begitu sangat membosankan."
"Rani, kakak ingin membicarakan sesuatu padamu." Stella mengajak Zeline dan Rani untuk menuju ruang keluarga, duduk di sofa.
"Kenapa kak?"
"Rani harus jawab yang jujur ya?"
"Baik kakakku! Kakak boleh bertanya apa saja." ujar Rani yang begitu semangat, Stella bertanya kepada adik nya apakah Rani ini kembali bersekolah. Rani terdiam, sejujurnya ia ingin belajar. Kemarin, saat berada di perpustakaan keluarga Rani seakan memiliki keinginan untuk belajar. Namun, memikirkan usia nya yang sudah terlambat sekolah membuat nya dilema
"Rani nggak usah mikirin tentang umur, jika Rani nggak mau atau malu di sekolah umum kakak akan membuat Rani homeschooling bagaimana? Apakah Rani bersedia?"
"Homeschooling? Apa itu kak?"
"Homeschooling itu mami belajal di lumah, akan ada gulu yang datang setiap hali mengajali mami. Jadi, mami nggak pelu datang ke sekolah." sambung Zeline yang memberitahu Rani.
"Anak Mama memang pintar sekali." Stella membelai rambut anaknya.
"Iya dong, mama."
__ADS_1
Stella menoleh ke arah Rani, bertanya apakah Rani bersedia. Rani memikirkan tentang biaya nya, ia tak mau jika diri nya menambah beban untuk Stella. Stella sudah cukup banyak membantu diri nya selama ini.
"Kakak tahu, Rani pasti memikirkan biaya nya kan? Jangan khawatir, kakak akan berusaha yang terbaik untuk Zeline, Rani, Tanara, dan juga Amara. Kalian saat ini kehidupan kakak, jangan mengira kalian itu beban untuk kakak. Tidak sama sekali! Jadi, Rani mau ya?" Rani pun mengangguk, membuat Stella bahagia. Ia spontan memeluk Rani dan Zeline. Kebahagiaan apalagi yang ia inginkan selain kebahagiaan untuk anak dan ketiga adik nya.
"Tapi, kakak daftar kan nya bulan depan aja ya? Rani tahu kok, uang kakak tinggal menipis, jika kakak mendaftar kan Rani sekarang, kakak pasti tidak memiliki uang lagi."
Stella pun tersenyum haru, mengangguk. Rani begitu manis dan perhatian kepada nya. Stella berharap jika Amara kembali seperti dulu, agar keluarga mereka lengkap dan saling menyayangi.
**********
Keesokan hari nya, sebelum berangkat bekerja. Stella menyiapkan pakaian Zeline anak nya. Stella ingin memakaikan baju Zeline namun anak nya menolak karena merasa sudah mampu mengurus pakaian sendiri.
"Mama, Zeline udah besal. Jadi, mama jangan buat Zeline sepelti anak bayi. Nanti, Zeline malu mama." ujar Zeline dengan cerewet nya.
"Kak biarkan Zeline bersama kami. Mungkin, kak Amara nggak akan senang jika satu mobil dengan kakak tapi dia tidak akan marah jika Zeline satu mobil dengan kami. Lagipula, jika kakak mengantar Zeline terlebih dahulu,kakak bisa terlambat kerja nya."
Ucapan Tanara ada benar nya juga, kota mereka juga begitu sangat padat. Pasti akan terlambat, apalagi ini hari pertama Stella bekerja, walau cafe itu milik teman nya. Stella tidak mau melakukan hal yang tidak di siplin. Stella memberikan card izin kepada Tanara. Ia juga meminta tolong pada supir pribadi untuk menjemput Zeline jam dua belas nanti menggunakan card izin pengambilan anak. Tanara mengerti dengan perintah sang kakak. Ia pun berpamitan untuk pergi ke sekolah, Stella memberikan uang saku untuk Tanara dan juga Amara, lalu membawa kan bekal untuk ke dua adik nya.
"Sayang, Zeline jangan nakal ya nak di sekolah. Jangan merepotkan Tante kalian juga di dalam mobil, Zeline paham nak?" Zeline mengangguk, ia pun naik ke dalam mobil bersama Tanara dan juga Amara.
Setelah mobil berangkat mengantar anak-anak, Stella memberikan beberapa uang untuk pegangan Rani.
"Kakak pergi kerja dulu ya dek? Kalau Rani bosan, di dekat sini ada mall. Rani bisa pergi ke sana, jangan lupa kunci pintu ya kalau ke luar. Dan, Rani juga harus berhati-hati, karena di luar banyak orang jahat oke?"
"Iya kakak, kakak udah mengatakan ini dua puluh kali."
__ADS_1
"Kakak hanya tidak tenang meninggalkan mu sendirian di rumah."
"Kakak tenang saja, Rani akan baik-baik saja di sini. Kakak lupa jika Rani memiliki ilmu bela diri? Kakak jangan khawatir."
"Baik lah jagoan, sekarang kakak harus pergi dulu ya? Jaga diri mu baik-baik,"
Stella berjalan ke luar rumah, terlihat mobil dari jauh yang mendekati dan berhenti di depan rumah nya.
"Zidan?" ucap Stella ketika Zidan membuka pintu mobil. Zidan menggunakan baju hitam dan kacamata hitam. Rani begitu terpesona melihat ketampanan yang di miliki oleh Zidan, apalagi aroma tubuh Zidan yang begitu terasa wangi
"Pasti parfum nya mahal." batin Rani. Walau jarak mereka sedikit jauh, Rani bisa mencium aroma wangi di tubuh Zidan. Stella bertanya kepada teman nya mengapa ia kesini
"Tadi, aku ada urusan dengan teman ku. Dan pas banget lewat sini, aku lihat kau sedang berdiri makanya aku berhenti. Ayo pergi bareng, ini juga udah jam tujuh, sebentar lagi masuk. Jika kau naik angkutan umum pasti akan terlambat, dan aku tidak akan mengampuni karyawan yang suka terlambat." ledek Zidan, Stella pun tertawa, ia juga meminta maaf kepada Zidan. Bukan diri nya sengaja berangkat terlalu lama, namun ia juga harus mengurus anak nya terlebih dahulu. Zidan mempersilahkan Stella untuk masuk ke dalam mobil. Lalu ia juga masuk, dan melajukan mobil nya.
"Maaf ya, bukan aku sengaja pergi terlalu lama. Tapi, aku harus mengurus anak ku dulu, ini hari pertama Zeline masuk ke sekolah TK nya."
"Ohiya? Dia bersekolah di mana?"
"Di TK Harapan Indah."
Zidan berpikir sejenak, nama sekolah itu seakan tidak asing bagi diri nya.
"Zidan, aku ingin meminta sesuatu padamu." Zidan menoleh ke arah Stella sejenak. Lalu pandangan nya kembali lurus ke depan.
"Apa? Katakan saja, jika aku bisa. Aku akan mewujudkan nya. Tapi jika aku tidak bisa, maafkan aku ya?" canda Zidan kembali
__ADS_1