
Setelah perdebatan kecil di dalam mobil akhirnya Arka menepikan mobilnya di sebuah rumah makan lesehan.
"Sayang, kita makan di sini ya, soalnya Mas di suruh Papa buat ketemu seseorang buat menyerahkan dokumen penting di sini, seharusnya sih Ayah yang ke sini, tapi Ayah masih mengurus yang lain," ucap Arka sebelum mereka turun dari mobil.
"Itu paper bag yang di belakang baju ganti buat kamu, kamu ganti baju dulu ya di toilet," lanjutnya sembari menunjuk sebuah paper bag yang tergeletak di jog belakang.
"Oh iya kak, ayo," ajak Aulia setelah mengambil paper bag itu.
"Auli langsung ke toilet ya Ka eh Mas," ucap Aulia masih kaku menyebutkan kata Mas.
"Iya, pesen yang biasanya kan Yang?" Tanya Arka sebelum Aulia meninggalkannya.
"Iya Mas, cari yang lesehan aja ya, biar santai," jawab Aulia kemudian berlalu menuju ke toilet untuk mengganti seragamnya dengan baju yang telah dibawakan oleh sang suami.
"Eh apaan ini kenapa ada make upnya juga," ucap Aulia saat hendak mengambil dress di dalam paper bag tersebut.
"Tanya gak ya?" Gumam Aulia bertanya pada diri sendiri.
"Oh, cuma make up yang biasa aku pakai, ya udah lah pakai aja," lanjutnya kemudian bergegas mengganti seragamnya dengan dress lalu keluar menuju ke kaca yang ada di bagian toilet wanita untuk memakai make up sederhana yang sering di pakainya. Setelah selesai kemudian bergesas keluar untuk mencari sang suami.
Begitu sampai di meja lesehan yang di pilih oleh Arka, Aulia nampak ragu untuk mendekat, karena di situ bukan hanya ada Arka melainkan ada dua orang lain seorang gadis dengan seorang pria paruh baya sekitar seusia dengan Papa Tara dan Ayah Restu.
"Sayang sudah selesai, kemarilah," ucap Arka melambaikan tangannya begitu melihat Aulia yang nampak ragu untuk mendekat.
"Oh maaf Pak Danu, perkanalkan ini Aulia calon istri saya, Sayang ini Pak Danu klien perusahaan tempat Mas bekerja," ucap Arka memperkenalkan Aulia dengan pak Danu tapi tidak dengan gadis di samping pak Danu.
"Oh Nak Arka sudah bertunangan?" Tanya Pak Danu terkejut.
"Iya Pak Alhamdulillah sudah ketemu jodohnya, sebelumnya saya minta maaf karena saya mengajak calon istri saya dalam pertemuan kali ini, karena sebenarnya hari ini saya cuti untuk mengurus pernikahan saya yang hanya tinggal beberapa bulan lagi, tapi karena Pak Tara dan Pak Restu meminta saya secara langsung untuk mewakili beliau, maka dari itu saya tidak bisa menolaknya," ucap Arka sopan.
"Tidak apa-apa nak Arka, saya juga mengajak putri saya, ehm maksud hati ingin mengenalkan dengan nak Arka siapa tahu jodoh, tapi ternyata nak Arka sudah ketemu jodohnya, ha ha," ucap Pak Danu dengan tertawa kaku untuk menutupi rasa kecewanya.
"Oh iya nak Aulia perkenalkan ini putri saya Melinda, siapa tahu nanti kalian bisa jadi teman," ucap pak Danu yang sudah bisa mengendalikan rasa kecewanya.
__ADS_1
"Hai Melinda aku Aulia, senang berkenalan denganmu," ucap Aulia ramah mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan putri pak Danu.
"Hai Aulia, aku juga senang berkenalan denganmu,"ucap Melinda sembari tersenyum menerima uluran tangan Aulia.
"Oh iya Aulia, kamu sekolah di SMA Kebangsaan kan?" Tanya Melinda setelah melepaskan uluran tangannya.
"Iya Mel, kok kamu tahu?" Tanya Aulia heran.
"Wah brarti aku gak salah dong," ucap Melinda senang.
"Aku sekolah di SMA Guna Bangsa, Kamu masih inget gak waktu itu sekolah kita tanding basket terus TIM sekolah ku ada yang pinsan setelah pertandingan selesai, harusnya kamu inget soalnya seingetku kayaknya kamu juga jadi PMR waktu itu kan?" Ucap Melinda semangat tapi ragu di akhir kalimatnya.
"Maksud kamu yang pingsan Dion?" Kali ini Arka yang menjawab.
"Iya kak, waktu itu tanding sama TIM kak Arka, tapi sekolahku kalah," ucap Melinda sendu.
"Sudahlah gak usah sedih itukan cuma pertandingan persahabatan, jadi siapapun pemenangnya tetap bersahabat kan?" Ucap Arka menghibur.
"Iya kak," jawab Melinda.
"Kayaknya sih inget Mas, tapi ragu," ucap Aulia.
"Ragu kenapa?" Tanya Arka.
"Bener gak pas waktu itu Auli mau ikut nolongi di ruang UKS tapi gak boleh sama seseorang?" Ucap Aulia ragu.
"Ha ha iya bener Yang, habisnya waktu itu Mas cemburu ngeliat kamu ikut merawat Dion," ucap Arka tertawa mengingat kejadian dulu.
"Ih gak profesional banget sih kak Arka," cibir Melinda.
"Asal kakak tahu ya, kak Dion itu pacar A kuu, ups," ucap Melinda menutup mulutnya karena keceplosan di depan sang Papa.
"Maksud kamu apa Melinda Sayang?" Tanya Pak Danu penuh penekanan.
__ADS_1
"Pa, maafin Melinda," ucap melinda penuh permohonan.
"Kamu bisa jelaskan ke Papa nanti di rumah siapa itu Dion," ucap sang Papa tegas tak mau penolakan.
"Iya Pa," ucap Melinda menunduk.
"Maaf Pak Danu, kalau boleh saya ingin menyampaikan sesuatu mengenai Dion," ucap Arka ragu.
"Nak Arka mengenal Dion?" Tanya pak Danu.
"Kami pernah satu sekolah waktu SMP pak, Dion anak populer dan Cerdas bahkan nilai kami selalu bersaing, maka dari itu saya takut kalau sampai tunangan saya ini akan terpikat dengan lelaki seperti Dion,"ucap Arka membuat mimik muka marah pak Dion berubah melunak.
"Terima kasih informasinya nak Arka," ucap Pak Dion.
"Saya cuma gak mau anak saya salah pergaulan maka dari itu saya tadinya punya niat mau mengenalkan dengan nak Arka, karena saya tahu siapa nak Arka sebenarnya," lanjut pak Danu.
"Maksud pak Danu?" Tanya Arka heran.
"Saya tahu kalau nak Arka itu sebenarnya putra dari pak Tara, maka dari itu saya sangat berharap bisa berbesan dengan beliau. Tapi ternyata saya kalah start dengan pak Restu, heem, ya mungkin persahabatan orang tua kalian yang membuat kalian sering bertemu sehingga saling jatuh cinta makanya kalian sudah bertunangan bahkan hampir menikah setelah nak Aulia lulus sekolah nanti kan?" ucap Pak Danu. Sedangkan Arka, Aulia juga Melinda hanya mendengarkannya.
"Maafkan saya nak Arka, nak Aulia, saya sudah egois berniat memisahkan kalian hanya untuk memenuhi keinginan saya agar bisa mempunyai menantu seperti nak Arka, saya benar-benar dibutakan oleh nafsu semata sehingga saya melarang putri kesayangan untuk berkenalan atau bahkan jatuh cinta dengan pria lain, heh," ucap Pak Danu menyesal.
"Tidak perlu minta maaf pak, Saya mengerti maksud bapak, bapak hanya ingin yang terbaik untuk putri bapak, mungkin caranya saja yang kurang tepat," ucap Arka bijak.
"Ya benar sekali nak, cara nya benar-benar kurang tepat, bahkan hampir menjerumuskan putri sendiri untuk jadi pelakor, kamu jadi mantan calon pelakor gara-gara Papa Sayang,ha ha," ucap pak Danu demgan mentertawakan dirinya sendiri.
"Papa,"
○●●●○
Bersambung.....
⚘⚘⚘⚘⚘⚘
__ADS_1
@rahmahpratiwi85