
"Apa ngidam? Kamu hamil Sayang?" Tanya mama Rita yang kaget mendengar kata ngidam terucap dari bibir putranya.
"Bukan Auli ma yang ngidam, tapi kakak tuh yang ngidam, katanya ngidam omelet ini," jawab gadis itu dengan polosnya sambil menunjukkan omelet di tangannya, membuat kedua bola mata Arka melotot tak habis pikir dengan apa yang diucapkan sang istri akan membuatnya jadi kena omelan dari orang tuanya.
"Apa? Arka yang ngidam? Jadi bener kamu hamil Sayang?" Tanya mama Rita yang terkejut mendengar ucapan menantunya.
"Bukan gitu ma...." jawab Arka.
"Diem kamu Ar, mama gak tanya sama kamu ya!" Bentak mama Rita yang sedikit kecewa karena Arka melanggar janjinya untuk tidak membuat istrinya hamil dulu karena masih sekolah.
"Sayang, bilang sama mama ya, kamu beneran hamil?" Tanya mama Rita lembut kepada Aulia dengan memegang kedua lengan menantunya karena raut muka menantunya itu berubah jadi ketakutan setelah mendengarnya membentak Arka.
"Bukan Auli yang hamil ma, tapi kak Arka, kan kakak yang ngidam" ucapan polos Aulia membuat sang mama mengerutkan kening semakin bingung. Sementara Arka, laki-laki itu langsung tertawa begitu mendengar ucapan sang istri.
"Maksud kamu apa Sayang?" Tanya mama Rita semakin dibuat bingung. Apalagi saat bersamaan terdengar putra semata wayangnya langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Aulia. Membuatnya semakin jengkel terhadap putra satu-satunya itu.
"Tuh kan ma, apa Ar bilang? Auli gak hamil ma, Ar aja belum berani sentuh, ya paling kiss-kiss doang sih ha ha ha," ucap Arka tertawa melihat ekspresi sang mama yang kebingungan dengan ucapan Aulia sekaligus jengkel melihat respon Arka.
"Apa? Jadi selama ini belum...?" Tanya mama menggantung.
"Iya ma, Ar gak tega sama tuh," jawab Arka dengan menunjuk Aulia menggunakan dagunya yang di arahkan kepada istrinya.
"He he, sabar ya Sayang," ucap mama Rita berlalu sambil menepuk bahu Arka.
"Yaudah Sayang, biarin gak usah dituruti ya ngidamnya suami kamu, itu cuma akal-akaln dia aja," ucap mama Rita pada Aulia yang masih mematung di tempatnya seolah bingung sendiri.
"Iya ma," jawab Aulia lalu menyusul sang mertua menuju meja makan.
"Ada apa sih ma? Kok Papa dengar tadi mama marah-marah?" Tanya papa Tara yang juga baru sampai di meja makan bersama dengan kakek Wisnu.
"Gak papa kok pa, cuma jengkel aja sama anak kamu,"jawab mama Rita sambil melirik Arka yang malah terkekeh mendengar jawaban sang mama.
__ADS_1
"Oh, papa kira ada apa? Kok tadi kayak denger nyebut hamil gitu," ucap papa Tara lagi.
"Mama salah paham pa, mama kira Auli hamil gara-gara Ar ngerayu Auli buat minta omelet dengan alasan ngidam, haha," ucap Arka terkekeh lagi melihat ekspresi sang mama yang malu-malu jengkel.
"Makanya ma, lain kali dengerin dulu penjelasan Ar, jangan main ngomel aja, ha ha," lagi-lagi Arka terkekeh begitupun dengan papa Tara dan kakek Wisnu.
"Udah-udah gak usah dibahas lagi, kalau masih bahas ini gak usah sarapan ya," ancam mama Rita yang langsung bisa membungkam ketiga laki-laki yang masih terkekeh menertawakannya.
"Udah Sayang kita sarapan dulu aja, biarain mereka gak sarapan," ucap mama Rita pada Aulia.
"Tapi ma, kalau kakak gak sarapan kasihan, nanti kakak sibuk ngurusi adik kelas, terus nanti pulang sekolah masih ada rapat, kalau kakak sakit gimana?" Tanya Aulia yang gak setuju suaminya gak boleh sarapan.
"Iya maksud mama biar mereka ambil sendiri kalau mau sarapan, kan mereka masih sibuk cerita," jawab mama Rita sambil melirik suami juga putranya namun tak berani melirik kakek Wisnu.
"Oh gitu, iya ma," jawab Aulia. Entahlah kenapa gadis itu begiti pokos saat berada di sekitar orang-orang yang membuatna nyaman seperti keluarganya atau sahabatnya misal.
"Sini pi, Rita ambilin sarapan buat papi," ucap mama Rita sambil mengambil piring kakek Wisnu.
"Iya cukup, maksih ya, selamat makan," jawab kakek Wisnu kemudian memasang mode silent karena memang setiap makan bersama biasanya hanya diam dan fokus dengan makanan masing-masing.
Kemudian karena gak mau jadi istri durhaka, mama Rita oun mengambilkan sarapan buat sang suami juga. Begitupun dengan Aulia, setelah mama Rita selesai mengambil nasi. Giliran Aulia mengambilkan sarapan untuk sang suami tersayang lalu menyerahkannya sambil tersenyum manis.
Selesai dengan rutinitasnya sarapan pagi ini. Arka dan Aulia segera pamit berangkat ke sekolah. Begitu pun dengan papa Tara yang menyusul pamit untuk berangkat bekerja. Dan seperti biasa tinggallah mama Rita dan kakek Wisnu di rumah.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang lumayan padat merayap karena di jam-jam sibuk. Aulia dan Arka telah sampai di sekolah dengan selamat. Saat ini keduanya sedang bersiap hendak keluar dari mobil.
"Yang, nanti kita makannya di ruang OSIS aja ya, kamu gapapa kan?" Tanya Arka sambil menatap Aulia.
"Gapapa sih kak, tapi emang Auli gak ganggu kalau nanti Auli masuk ke ruang OSIS?" Tanya Aulia yang juga menatap Arka.
"Ya enggak lah Yang, nanti kita sekalian mau siapain yang buat rapat sama anak PMR, Kalau ada kamu kan nanti lumayan bantu buat mikir persiapannya, banyak lo Yang peralatan yang harus kalian persiapkan, kalau gak dipikirin dari sekarang bisa-bisa ada yang ketinggalan," Arka pun menjelaskan panjang lebar pada Aulia..
__ADS_1
"Iya juga ya kak, ok deh nanti Auli ke ruang OSIS,"jawab Aulia setelah mengerti.
"Oh iya Yang, jangan lupa kamu bikin pengumunan di grup PMR soal rapat nanti," ucap Arka mengingatkan.
"Oh udah kok kak, semalam Auli udah kirim, soalnya selain takut kelupaan juga kasihan kalau mendadak jadi gak bisa izin sama orang tua kalau mereka harus pulang terlambat," Jawab Aulia.
"Sip kalau gitu, kakak kok malah gak kepikiran sampai situ ya, kebiasaan sering rapat dadakan sih di OSIS, jadi kurang peka, he he, "jawaban Arka membuat kedua remaja itupun terkekeh dibuatnya.
"Ke kelas yuk," ajak Arka kemudian yang diangguki oleh Aulia. Keduanya pun berjalan beriringan menuju kelas Aulia.
"Iya emang kakak gak peka, sampai-sampai sering membuat mama khawatir,"jawab Aulia.
"Iya itu dulu, kalau sekarang kan udah engga, udah ada istri yang selalu ngingetin," ucap Arka tersenyum lembut bahkan ucapan manisnya membuat pipi sang istri merona.
"Makasih ya Sayang," lanjutnya dengan menggenggam tangan Aulia.
"Sama-sama kak, Auli juga makasih karena kakak udah bertanggung jawab penuh atas kebutuhan Auli," jawab Gadis itu dengan tersenyum lembut.
"Itu udah kewajiban kakak, jadi kamu gak perlu berterima kasih Yang, cukup temani dan do'akan kakak saja ya," sambil mengelus lembut rambut Aulia.
"Iya kak," Aulia pun mengangguk.
"Yaudah ke kelas yuk," ajak Arka kemudian yang diangguki oleh Aulia. Keduanya pun berjalan beriringan menuju ke kelas Aulia.
○●●●○
Bersambung.....
Hai hai....🙋♀️
Maaf baru bisa lanjut. Semoga suka dengan kelanjutan dari kisah Aulia & Arka. Terus kalau suka bisa kasih like, komen ataupun poin deh. Terimakasih readers🙏
__ADS_1