
"Tapi kak, kakak ingat kan, dulu Auli pernah mimpi buruk soal kakek, waktu itu lama sekali kakek gak pernah berkunjung ke rumah kita, tapi setiap Auli tanya pasti kalian bilang kalau kakek sedang sibuk, tapi kenyataannya kakek sedang sakit, dan kalian menyembunyikannya dari Auli, hik hik," jawab Aulia mengingat kejadian bertahun-tahun lalu saat dirinya masih kecil.
"Iya kakak ingat dek, tapi ini gak seperti yang kamu fikirkan dek, jadi kamu tenang dulu ya, sebentar lagi kita sampai," jawab Adrian mencoba menenangkan sang adik. Ketakutannya makin dalam saat nanti tiba di rumah dan melihat sang kakek sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Entah apa yang akan terjadi nanti. Adrian pun menghela nafas panjang mencoba menghilangkan fikiran buruknya.
"A-ada a-apa kak? A-pa ada yang kalian sem-bunyikan dari Auli kak? Hik, hik, hik" pertanyaan Aulia yang tiba-tiba, meskipun dengan suara terbata-bata membuat Arka, Adrian dan pak Tono terkejut. Dengan gelagapan mereka mencoba mencari jawaban.
"Enggak ada dek, udah kamu tenangin diri dulu ya," jawab Adrian spontan karena takut di jawab duluan oleh Arka dengan jawaban yang jujur mengenai kabar kakek yang telah meninggal.
"Apapun yang terjadi nanti, kita harus ikhlas Yang, karena semua sudah kehendak Allah," sambung Arka yang tak mau memberi harapan palsu seperti kakak iparnya.
"Sekarang kamu tenangin diri dulu, banyakin istigfar, kita pasrahkan sama Allah," lanjutnya.
"Iya kak," jawab Aulia. Kemudian gadis itu mencoba menenangkan diri dengan mengatur nafasnya, menghirup pelan-pelan lalu mengeluarkannya melalui mulut dengan pelan-pelan juga. Setelah itu tak lupa juga beristigfar berkali-kali agar terasa lebih tenang.
Setelah Aulia dapat menenangkan dirinya, suasana di mobil menjadi hening. Hingga tak lama kemudian mereka hampir sampai di jalan raya yang menuju ke komplek perumahan kediaman keluarga Wijaya.
"Loh kak, kenapa kita gak langsung ke rumah sakit aja?" Tanya Aulia saat menyadari arah perjalanan mereka.
"Kata papa kita langsung pulang ke rumah dulu aja Yang," jawab Arka.
"Oh ya udah," jawab Aulia.
"Yang," panggil Arka.
"Iya, kenapa kak?" Jawab Aulia sekaligus bertanya.
"Apapun yang terjadi, kita harus kuat ya," ucap Arka ambigu.
"Maksud kak?" Tanya Aulia yang tak mengerti maksud ucapan Arka.
"Ya maksud kakak, apapun yang akan terjadi, entah nanti atau kapanpun itu, kita harus bisa kuat dan ikhlas, apapun masalah yang akan kita alami nanti, berjanjilah kalau kita akan selalu jalani bersama ya," terang Arka.
"Iya kak, Auli janji, kita harus bisa saling mendukung dan menguatkan," jawab Aulia.
__ADS_1
"Semoga aja tak akan terjadi hal buruk pada kita kak," lanjutnya sambil tersenyum.
"Aamiin, semoga Yang," jawab Arka.
Tak terasa akhirnya mereka pun sampai di depan rumah. Saat sampai di rumah ternyata sudah banyak tetangga juga keluarga yang datang. Bahkan di depan rumah pun telah terpasang tenda juga di depan gerbang terdapat bendera duka di sebuah tongkat kecil dan di bawahnya ada tulisan rumah duka.
Saat mobil berhenti, Bunda Risa bersama dengan Ayah Restu sudah siap menunggu di depan gerbang, karena di sepanjang perjalanan kak Adria selalu mengabari kedua orang tuanya. Sehingga saat mereka tiba pun kedua orang tua itu sudah siap di depan gerbang untuk menunggu putri dan juga menantunya.
"Kak, kenapa di rumah ramai banget?"tanya Aulia yang belum melihat bendera duka yang berkibar di dekat pintu gerbang.
"Yang, ingat ya, kamu sudah janji sama kakak kita harus bisa kuat dan ikhlas," jawab Arka mengingatkan kembali ucapan dan janjo keduanya sebelum sampai di rumah.
"Kak, jangan bilang ada apa-apa sama kakek, hik hik," ucap Aulia yang langsung menangis.
"Maafin kakak Yang, kakak gak sanggup bilang sama kamu, kakak gak bisa lihat kamu seperti tadi, kakak mohon kita harus kuat Yang," ucap Arka dengam suara yang sudah parau karena menahan tangis.
"Innalillahiwainnailaihi rojiun," lirih Aulia lemah hampir tak terdengar.
"Dek, kamu gak boleh lemah, kamu harus kuat, kakek butuh do'a kamu, kakek akan sedih kalau lihat kamu lemah," ucap Arka mencoba mengingatkan sang adik.
"Sayang, kamu yang kuat ya," ucap Bunda merangkul putri kesayangannya saat Aulia turun dari mobil.
"Bun, kakek bun, hik hik, kenapa kakek ninggalin Auli bun?" Tanya Aulia.
"Sabar Sayang, kita masuk dulu ya," ajak Bunda yang diangguki oleh Aulia ditengah isakan tangisnya. Kemudian Bunda pun masuk ke dalam rumah sambil memapah Aulia dibantu oleh Adrian.
"Nak kamu yang kuat ya," ucap Ayah Restu sambil memeluk menantunya itu begitu Arka turun dari mobil di setelah Aulia.
"InsyaAllah Yah," jawab Arka.
"Ayo kita masuk dulu," ajak Ayah Restu diangguki oleh Arka.
"Apa kakek udah di bawa pulang Yah?" Tanya Arka saat keduanya berjalan memasuki rumah.
__ADS_1
"Belum nak, setelah mengurus administrasi dan lain sebagainya biasanya baru di bawa pulang, mungkin sebentar lagi," jawab Ayah Tara.
"Siapa yang ngurus di rumah sakit Yah?" Tanya Arka.
"Om Haris sama Mas Arman, tapi papa kamu masih di sana di temani om Bayu sama om Iwan, makanya Ayah yang ngurus di rumah," jawab Ayah Tara yang angguki oleh Arka.
"Ma, hik hik," panggil Aulia begitu melihat mama Rita di ruang keluarga ditemani tante Ira sama tante Ratih, sementara tante Silvy dan kak Arin di kamar tamu menemani Maura sama Aura.
"Sayang, kalian udah datang,"ucap mama Rita dengan suara parau karena kebanyakan menangis.
"Iya ma," jawab Aulia yang langsung menghambur memeluk sang mama mertua.
"Ma," panggil Arka yang juga langsung memeluk kedua wanita kesayangannya.
"Maafin Ar ya ma, kami gak ada di saat-saat terakhir kakek," ucap Arka sembari melepas pelukannya.
"Mama yang salah Ar,harusnya mama peka terhadap firasat kakek," ucap mama Rita sendu.
"Ar juga salah ma, coba Ar juga peka pasti kami gak akan pergi," jawab Arka.
"Sudah-sudah, gak ada yang salah, ini semua sudah takdir," sahut bunda Rita.
"Iya tugas kita sebagai anak dan cucu sekarang hanya bisa mendo'akan kakek," sambung Ayah Restu.
"Sebaiknya kalian minum dulu nak, ini sudah dibikinkan teh hangat sama bik Yah," ucap bunda sembari menyerahkan secangkir teh pada Aulia juga Arka.
"Makasih bun," jawab Aulia dan Arka serempak sembari menerima secangkir teh hangat itu lalu meminumnya.
○●●●○
Bersambung.....
Selamat tahun baru 🙋♀️
__ADS_1
Semoga pandemik ini segera berakhir dan kembali normal seperti sedia kala. Dan Semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Aamiin🙏