
Sementara Aulia juga Arin hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan keluarga mereka. Betapa bahagianya mereka bisa merasakan kehangatan keluarga ini.
Terkhusus Arin. Betapa bahagianya dia bisa diterima di keluarga yang berbeda derajat dari keluarganyanya. Arin yang notabennya adalah seorang yatim piatu yang dulu hanya di rawat oleh neneknya. Bahkan sejak kuliah sang nenek juga harus meninggalkannya untuk menghadap Sang pencipta. Tapi keluarga ini tetap menerimanya tanpa peduli bibit bebet bobotnya.
Malam pun semakin larut, akhirnya obrolan hangat keluarga ini terpaksa harus dihentikan karena mereka harus segera beristirahat. Mereka tak mau kalau besuk harus bangun kesiangan gara-gara malam ini begadang.
Apalagi sang kakek yang baru sembuh dan diharuskan lebih banyak istirahat dan tak boleh kelelahan harus segera beristirahat pula.
Semua pun memasuki kamar masing-masing. Temasuk ayah Restu dan bunda Risa pun memasuki kamar yang selalu dikhususkan untuknya saat menginap di kediaman Wijaya. Sedangkan Adri dan keluarga kecilnya pun tak kalah istimewa. Keduanya pun mendapatkan kamar khusus juga setiap kali menginap di sini.
Sementara sang pengantin baru yang tak lain adalah Aulia dan Arka. Keduanya juga telah berada di dalam kamarnya. Bedanya kini keduanya masih belum juga bisa memejamkan matanya. Entah apa yang sedang dipikirkan keduanya hingga tak bisa memenjamkan mata walaupun sebenarnya matanya sudah mengantuk.
"Kak" akhirnya Aulia membuka suara.
"Hmm, kenapa Yang?" Tanya Arka sambil menoleh ke arah sang istri yang tidur di sampingnya.
"Auli udah ngantuk, tapi masih belun bisa merem" adu gadis itu dengan suara manjanya.
"Kakak juga Yang" jawab arka.
"Sini" lanjutknya menepuk bahunya supaya ang istri tidur berbantalkan lengannya.
Tanpa pikir panjang Aulia segera mendekatkan diri pada sang suami lalu meletakkan kepalanya di lengan sang suami.
"Ga usah mikirin macam-macam, kita akan selalu sama-sama" ucap Arka sambil mengelus kepala sang istti dengan lembutnya. Berharap sang istri segera tertidur.
"Auli takut kak" ucapnya dengan suara bergetar menahan tangisnya.
__ADS_1
"Cup, sudah jangan nangis lagi ya, kakak sedih kalau Auli nangis" ucap Arka masih mengelus rambut sang istri. Yang mendapat anggukan kecil dari Aulia.
"Mulai sekarang jangan ada lagi yang dirahasiain dari kakak ya, apalagi soal orang yang berpotensi menghancurkan hubungan kita" nasehat Arka pada Aulia saat tiba-tiba mengingat kejadian Aulia dan Sita saat di perpustakanaan.
"Iya kak" ucap gadis itu yang sudah bisa mengontrol suaranya sudah tak begitu bergetar seperti tadi.
"Kalau ada apa-apa langsung cerita ke kakak, jangan dipendam sendiri" lanjut Arka yang lagi-lagi gadisnya hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Auli takut kak" tiba-tiba Aulia membuka suara setelah keheningan beberapa menit. Bahkan Arka sudah mencoba memejamkan matanya.
"Takut kenapa Sayang?" Tanya Arka membuka mata tagi begitu mendengar suara yang istri.
"Waktu itu di depan kelas kakak, pas ambil mau ambil rapot, Auli inget betul wajah mamanya kak Sita sinos banget saat ngeliat kami" ucap Aulia mengingat kejadian saat tak sengaja berpapasan denga Sita dan mamanya.
"Gapapa Sayang, ga usah dipikirin lagi ya, yang penting waktu itu kalian gapapa" ucap Arka mencoba menenangkan dan makin mengeratkan pelukannya.
"Tapi Auli takut banget kalau sampai papanya kak Sita keluar dari panjara lalu balas dendam kak" ucap Aulia pagi.
"Kakak justru berterima kasih karena kakek mau menceritakan ini semua ke kita Yang, jadi kita bisa jauh lebih hati-hati." Ucapnya lagi.
"Kakak juga yakin tujuan mereka bercerita juga demi kebaikan kita, agar kita bisa jaga diri dari srgala kemungkinan bukan untuk membuat kita malah takut" ucao Arka yang membuat Aulia tersadar akan hal itu.
"Iya kak, Aulia ngerti. Tapi apa kakak besuk mau bantu Auli buat tanya ke kakek buat nunjukin wajah papanya kak Sita. Biar Auli ga parnoan tiap lihat orang asing" jawab Aulia.
"Iya kakak janji, besuk kakak akan tanya kakek" jaeab Arka mengendurkan pelukannya untuk melihat wajah sang istri.
"Jadi ini yang buat Auli kepikiran? Auli takut ketemu sama papanya Sita?" Ditatapnya dalam-dalam mata sang istri untuk mencari apakah masih ada hal lain yang ditakutkan.
__ADS_1
"Iya kak, Auli takut nanti tiba-tiba ketemu papanya kak Sita atau irang suruhannya, terus tiba-tiba Auli di culik" jawab sang istri dengan polosnya.
"Itu gak akan pernah terjadi Sayang, kakak akan minta kakek buat mengirim orang buat jaga kamu, jadi kamu akan aman" ucap Arka sambil tersenyum meyakinkan sang istri.
"Sungguh kak? Tapi nanti Auli mau lihat wajah orang yang jagain Auli biar nanti ga salah minta tolong kalau ada apa-apa sama Auli" lagi-lagi ucapan polos meluncur dari bibir mungil Aulia.
"Iya Sayang, udah bobo yuk, ga malu apa kalau besuk bangun kesiangan?" Tanya Arka mengingatkan sang istri kalau memang ini sudah benar-benar larut malam. Bahkan sudah bisa dibilang dini hari karena jam sudah memunjukkan pukul 1 lebih.
"Iya kak, udah ngantuk" ucap Aulia lalu menenggelamkan wajahnya di dada sang suami mencari posisi nyaman dalam pelukan sang suami. Tak lama justru Aulia yang lebih dulu tertidur. Sehingga membuat sang suami merasa lega kemudian menyusulnya tidur juga.
Pagi hari ini pasangan pengantin yang masih bisa dibilang pengantin baru itu benar-benar bangun kesiangan. Saat sinar matahari berhasil menyelinap masuk melalui celah jendela yang tertupi gorden putih.
Cahaya itu berhasil mengganggu si pemilik kamar yang masih di alam mimpi dalam peraduannya. Perlahan Arka mengerjapkan matanya menysuaikan cahaya yang menyilaukan matanya. Setelah berhasil membuka mata dan mengumpulkan nyawanya. Laki-laki itu sontak kaget menyadari bahwa mereka telah bangun kesiangan.
Tanpa menunda lagi Arka segera membangunkan sang istri yang masih setia menyembunyikan wajahnya diketiak sang suami.
"Sayang, bangun udah siang" sambil menepuk-nepuk lengan sang istri.
"Sayaaang" bisiknya lembut di telinga sang istri.
Merasa terusik Aulia melenguh lalu menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku. Setelah berhasil membuka mata. Wajah sang suami yang tersenyum manis telah menyambutnya.
"Pagi Istriku" ucap laki-laki itu sambil tersenyum manis. Kemudian mendaratkan bibirnya di kening sang istri.
"Pagi suamiku" jawab Aulia membalas dengan senyum yang tak kalah manisnya meskipun baru bangun tidur.
Mendapat perlakuan manis dari sang suami membuat pipi gadis itu sudah merona di pagi hari seperti ini. Bahkan saat baru mulai membuka matanya mengawali hari yang indah ini.
__ADS_1
○●●●○
Bersambung.....