KOMITMEN CINTA dalam PERJODOHAN

KOMITMEN CINTA dalam PERJODOHAN
151. Kontraksi


__ADS_3

Hari , minggu, bahkan bulan pun berlalu. Kini kandungan Aulia memasuki usia 9 bulan dan tinggal menghitung hari. Maka sebentar lagi lahirlah si buah hati yang sudah dinanti natikan.


Segala keperluan sang anak pun telah disiapkan sedemikian rupa. Karena tak hanya kedua calon orang tua baru itu yang menyiapkannya. Akan tetapi baik itu kakek nenek serta om dan tante nya calon bayi itupun turut antusias mempersiapkan segalanya. Semuanya demi menyambut cucu pertama dari pihak keluarga Wijaya dan cucu kedua dari pihak Kusuma. Yang tak lain adalah cucu pertama dari putri bungsu kesayangan keluarga Kusuma.


Bahkan kebutuhan untuk persalinan nanti pun telah disiapkan di travell bag dan sudah siap di bagasi mobil Arka.


Karena ingin menjadi suami siaga, Arka sampai cuti bekerja. Dan kalaupun terpaksa ada pekerjaan yang harus ditanganinya pun hanya dikerjakan dari rumah. Tentu saja papa Tara sangat mendukung keputusan sang putra. Apalagi semua itu demi menjaga sang calon cucu pertama mereka. Yang menurut tebakan Papa Tara akan berjenis kelamin laki laki. Dan bahkan sudah digadang gadang akan membantu meneruskan usahanya kelak bersama sang Papa. Yang tak lain adalah putra semata wayangnya, Arka.


Pagi ini kedua calon orang tua itu sedang menemani Mama Rita yang sedang menyiram bunga bunga di taman belakang. Saat ini Arka, si calon papa muda itu tengah sibuk mengerjakan tugas kuliahnya. Sedangkan si calon mama muda, Aulia terlihat memandang setiap gerak gerik sang mertua dengan sekali kali bertanya tentang bunga bunga dihadapnnya itu.


"Ma, kenapa bunga yang ini cuma disiram pakai air sedikit sih? Padahal yang itu tadi Mama siram pakai air banyak, bahkan sampai daun daunnya pun basah semua," Tanya Aulia sang menarik simpati sang suami juga ikut melihat bunga yang ditunjuk sang istri. Sementara sebelum menjawab mama Rita menoleh dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Karena gak semua bunga itu sama, Sayang. Kalau yang ini memang jenis bunga yang gak bisa kena air bayak jadi cuma mama siram sedikit, itupun dibagian tanah atau akarnya aja. Karena kalau banyak nanti malah bisa bikin bunganya membusuk lalu mati. Nah, kalau yang itu semakin terkena air justru semakin tumbuh subur. Makanya bunga ini juga mama taroh di sini biar kalau hujan langsung tersiram. Sedangkan yang ini Mama taroh sini biar gak cepat mati kalau kena hujan," jawab Mama Rita sembari menunjuok ke arah bunga yang dimaksud.


"Wah susah juga ya Ma, brarti Auli harus belajar banyak ni kalau mau bantuin Mama buat urusin bunga bunga ini, kalau cuma asal bisa-bisa semua mati ditangan Auli he he, " ucap Aulia terkekeh. Apalagi sedari tadi dia banyak bertanya tanpa membantu. Ya bagaimana mau membantu kalau suami posesifnya saja duduk disamping sambil mengawasi. Walaupun sibuk dengan tugas tugas kampus di depannya.


"Gak usah mikir mau bantu ngurusin bunga bunga Mama, Sayang. Nanti kalau si baby udah lahir kamu juga udah sibuk ngurus anak sama suami kamu sendiri. Apalagi kalau nanti udah mulai kuliah lagi. Mas gak mau ya nanti Mas kamu terlantarkan, karena terlalu sibuk," sahut Arka cepat sembari mengelus perut buncit sang istri yang semakin menggemaskan di matanya. Namun, tanpa dia sadari seketika membuat Mama Rita heran dengan ucapan sang putra.


"Maksud kamu diterlantarkan apa Nak? Kamu ini ada ada aja. Besuk kalau anak kalian udah lahir tuh harusnya kamu yang lebih memperhatikan istrimu, bukannya kamu malah minta diperhatikan lebih. Kasihan dong istri kamu harus ngurusin anak, kuliah ditambah ngurusin kamu. Lalu yang mau ngurusin Aulia siapa?" Tanya Mama Rita dengan cepat.

__ADS_1


"Ya Arka lah Ma yang ngurus Auli, memang mau siapa lagi?" Sewot Arka. Sedangkan Aulia memilih diam, bingung harus bicara apa, dan hanya bisa melihat ke arah suami dan mertuanya bergantian.


"Ya kalau gitu kamu jangan merepotkan Aulia mana minta diurus segala lagi," balas Mama Rita tak kalah sewotnya.


"Apaan sih Mama, gak ngerti maksud aku sih, bukan yang mau merepotkan istri juga ma, loh kok malah kita jadi berantem gini sih Ma?" Tanya Arka tiba tiba.


"Bukan berantem tapi Mama cuma mengingatkan kamu akan tugas tugasmu sebagai seorang suami dan juga ayah," balas Mama Rita.


"Iya iya, makasih Mama udah mau ingetin. Tapi ya adakalanya Arka kan pengen diurus sama istri juga Ma,"balas Arka.


"Iya Mama ngerti asal kamu tahu batasannya aja, jangan sampai buat menantu Mama kecapekan, titik. Berat loh jadi seorang Ibu muda tuh," peringat Mama Rita.


"Nah gitu dong," jawaban Mama Rita puas dengan tersenyum. Namun tiba-tiba.


"Stt.... a duh.... Mas.... Ma... aduh," terdengar rintihan Aulia sembari memegangi perutnya.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Arka dan Mama Rita serempak.


"Ma, Auli kesakitan," adu Arka pada sang Mama sembari mengelus perut serta pinggang sang istri dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Udah mau lahiran apa cuma kontraksi Sayang?" Tanya Mama Rita tak mempedulikan pertanyaan sang putra.


"Gak tahu Ma, mungkin cuma kontraksi, sekarang udah gak sakit kayak tadi lagi," lirih Aulia menjawab.


"Udah enakan Yang?" Tanya Arka yang dijaeab anggukan oleh sang istri.


"Kita masuk aja ya, biar kamu bisa istirahat," ajaknya lagi. Sementara Mama Rita baru mematikan kran yang tadi ditinggalnya begitu saja saat mendengar rintihan sang menantu.


"Iya masuk aja Sayang, dibuat istirahat, nanti kalau kontraksinya udah sering baru kita ke rumah sakit," sahut Mama Rita berjalan ke arah Aulia dan Aka duduk.


"Kamu harus dampingi terus Ar, diingat-ingat jarak kontraksinya, kalau udah sering segera panggil Mama ya," lanjut Mama Rita.


"Iya Ma, ya udah Arka bawa masuk dulu ya Aulinya," jawab Arka.


"Ayo Sayang, biar Mas gendong aja ya," lanjut Arka pada sang istri.


"Berat Masn nanti kalau malah jatuh gmn?" Tanya Aulia khawatir.


"Engga kamu gak berat kok, ayo," jawabnya sembari bersiap menggendong sang istri. Sedangkan Aulia hanya bisa pasrah dan mengalungkan tangannya di leher sang suami.

__ADS_1


Melihat sang putra sudah membawa masuk istrinya. Mama Rita berinisiatif membereskan semua tugas-tugas Arka, lalu diantarkan ke kamarnya agar bisa dilanjutkan di kamar sembari menunggu sang istri istirahat. Sejak kehamilan Aulia yang berusia 4 bulan dan sudah mulai membesar. Kini kedua calin orang tua baru itu sementara menghuni kamar tamu di lantai bawah.


__ADS_2