
Hallo Readers yang selalu semangat.... maaf yaa kali ini aku telat banget buat upnya. Masih sibuk jadi baru sempet buat up lagi. Semoga readersku suka dengan ceritanya. Ini cerita pertamaku jadi maaf kalau alurnya masih belum jelas, trus penulisannya juga belum rapi. Dengan semua saran dan dukungan kalian semoga aku bisa belajar lagi buat bikin cerita yang lebih baik dari cerita ini. Semangat semua readers juga sesama penulis NOVELTOON. Terimakasih buat dukungan kalian.
SELAMAT MEMBACA
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya setelah Sholat subuh sendirian di kamarnya Aulia memilih diam di kamar. Dia masih merasakan sedih karena kakaknya yang tiba-tiba harus berangkat ke ibukota gara-gara mendadak ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Tak sesuai dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya.
Beberapa saat setelah itu akhirnya Aulia memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi. Lebih baik aku mandi saja habis itu baru turun ke bawah bantu bunda masak, pasti perasaanku akan lebih baik, begitulah kiranya yang dipikiran gadis itu.
Setelah menyelesaikan ritual paginya di kamar mandi dan sedikit memoleskan pelembab di wajah mungilnya dan juga memakai lipbalm agar bibirnya terlihat lebih segar, tak lupa juga gadis itu memakai body lotion untuk melindungi kulitnya dari cahaya matahari. Akhirnya Aulia segera bergegas keluar dari kamarnya untuk menuju dapur.
Begitu sampai di dapur ternyata dapur dalam keadaan sepi, tapi di meja makan sepertinya telah tersedia menu sarapan yang entah apa karena masih tertutup oleh tudung saji. Bahkan gadis itu enggan untuk sekedar membuka dan melihat isi dibalik tudung saji itu.
Tanpa pikir panjang gadis itupun berlalu meninggalkan dapur. Lalu berjalan menuju ke kamar kedua orangtuanya. Tapi baru melangkah sampai ruang keluarga gadis itu telah mendapatkan Arka sedang duduk sambil serius menatap ponselnya. Melihat keberadaan tunangannya yang duduk sendirian pun membuat Aulia segera menanyakan keberadaan kedua orang tuannya.
"Pagi kak, ayah sama bunda masih di kamar ya kak?" Sapaan gadis itu dilanjut dengan mempertanyakan keberadaan orangtuanya.
"Pagi Sayang, mungkin, kakak juga ga tahu, dari tadi kakak sendirian" jawab laki-laki yang kini telah menjadi tunangannya itu.
"Oh, yaudah Auli ke kamar Bunda dulu ya kak" pamitnya seraya melangkahkan kakinya ke kamar orangtuanya yang letaknya bersebelahan dengan ruang keluarga itu. Sementara Arka, laki-laki itu hanya menjawab dengan anggukan kepalanya kemudian fokus kembali ke arah benda pipih yang ada dalam genggamannya yang tak lain adalah ponselnya.
Tok... tok... tok...
"Bunda... Ayah...." panggil Aulia sambil mengetuk pintu kamar di depannya.
Tok... tok... tok...
"Buuuun.... Bundaaa"
"Ayaaah.... Yaaah"
"Apa Bunda sama Ayah udah pergi ya?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
Ga mungkin juga kalau mereka belum bangun, Pikirnya. Kemudian Aulia kembali melangkahkan kakinya ke arah ruang keluarga. Arka yang mendengar panggilan dan ketokan pintu Aulia di kamar calon mertuanya tapi tak mendapat respon dari orang yang di dalam kamarpun akhirnya berdiri hendak melangkahkan kakinya menyusul Aulia. Tapi belum juga melangkah Arka mengurungkan niatnya karena telah melihat Aulia terlebih dahulu menghampirinya.
"Gimana, Bunda sama Ayah ada?" Tanyanya setelah Aulia sampai di hadapannya.
Aulia menggelengkan kepalanya.
"Ga tahu kak, tapi ga ada jawaban dari dalam, apa mungkin mereka pergi ya?" Jawaban Aulia sambil bertanya meskipun dia tahu tak akan mendapatkan jawaban yang pasti.
"Mungkin, coba tanya bibi" usul Arka yang diangguki gadis itu, kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah belakang rumah, karena biasanya jam segini bi Karti sedang menjemur pakaian.
Arka tak tinggal diam. Laki-laki itupun mengikuti kemana langkah gadis di depannya. Dan benar saja perkiraan Aulia bahwa bibi sedang menjemur pakaian.
"Bi, Bunda sama Ayah kemana ya? Kok Auli ketok pintu kamarnya sama Auli panggil-panggil tapi ga ada sahutan dari dalam." Tanya Aulia saat berada di dekat bi Karti.
"Eh, non Auli, kaget bibi Non, iya Bapak sama Ibu keluar Non" jawab wanita paruh baya itu sambil memegang dadanya karena kaget dengan suara putri dari majikannya yang tiba-tiba.
"Maaf bi, udah kagetin bibi" jawab Aulia tak enak hati.
"Gapapa Non, kan Non juga ga sengaja" jawabnya dengan senyuman.
"Bibi tahu ga kemana mereka perginya?" Lanjut gadis itu masih mempertanyakan keberadaan kedua orangtuanya.
"Kalo bapak katanya ada kerjaan Non, tapi kalo Ibu, katanya membantu temannya bikin kue mau ada acara, tapi bibi ga tanya dimananya Non" jawabnya menjelaskan.
"oya, bibi hampir lupa. Kata Ibu semalam lupa belum bilang sama Non jadi pesen sama bibi, nanti Ibu pulangnya paling sore kalau ga ya malam, gitu Non " lanjutnya setelah mengingat pesan Bunda Risa.
"Masa mereka semua lupa sih" batin Aulia sedih. Rasanya ingin menangis tapi ia tahan karena disitu ada Arka yang menurutnya Arka tak tahu menahu soal apa yang telah dilupakan oleh keluarganya.
"Oh gitu ya bi, yaudah bi, makasih ya" jawab Aulia lesu.
"Sama-sama Non, eem itu Non tadi Ibu sempet masak nasi goreng buat sarapan Non sama den Arka" kata bi Karti mengingat pesan majikannya soal sarapan untuk putri juga calon menantunya.
__ADS_1
Aulia cuma menghela nafasnya lalu berjalan masuk ke rumah, seolah tak perduli soal sarapan. Yang dia pikirkan sekarang kenapa semua keluarganya pergi di hari yang telah ditunggu-tunggunya. Padahal tadinya gadis itu sudah merasa bahagia di hari spesialnya kali ini, karena semua keluarganya berkumpul. Tapi ternyata malah kebalikannya yang terjadi. Semua sibuk dengan urusan masing-masing.
"Iya bi, yaudah Arka sama Auli masuk dulu bi, silahkan di lanjut pekerjaan bibi, maaf mengganggu" kerena Aulia tak merespon ucapan wanita paruh baya itu. Maka Arka berinisiatif mewakili menjawabnya. Lalu menyusul Aulia yang telah mendahuluinya melangkahkan kaki memasuki rumahnya yang kini terasa sepi.
"Sayang sarapan dulu yuk" ajaknya begitu telah mensejajarkan langkahnya dengan gadis mungil yang tak lain adalah tunangannya.
"Yaudah yuk" akhirnya dengan tanpa semangat Aulia menerima ajakan Arka untuk sarapan. Yah setidaknya masih ada seseorang yang menemaninya kali ini. Menurutnya meskipun laki-laki yang kini bersamanya itu tak tahu menahu hal yang membuatnya resah.
Akhirnya mereka berdua pun sarapan dalam diam. Setelah menyalesaikan sarapannya Arka pun membuka suara.
"Sayang nanti malam ada acara dengan relasi papa yang harus kakak hadiri, kata mama kakak harus ngajakin Auli, kamu mau kan temenin kakak?"
"Emang acara apa kak? Kenapa harus sama Auli?" Tanyanya.
Arkapun mengedikkan bahunya. "Gak tahu, kata mama kita sekarang ke rumah mama, nanti berangkatnya dari sana" jawabnya kemudian.
"Tapi Auli malu kak, lagian Auli ga tahu mesti pakai baju apa" jawabnya ragu.
"Ga usah malu, harus dibiasain dong, nanti kalau kakak udah full kerja pasti akan ada acara semacamnya yang harus kita hadiri" jawabnya memberi pengertian kepada gadis yang tengah duduk disampingnya dengan tatapan seolah sedang memikirkan sesuatu yang membebaninya.
"Soal gaun udah diurus sama mama, makanya kita berangkat dari sana" lanjutnya lagi.
"Yaudah Auli ijin Ayah sama Bunda dulu ya kak" katanya tanpa menunggu persetujuan Arka, gadis itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Lalu sibuk menghubungi satu persatu orangtuanya. Namun nampaknya tak sesuai harapan karena tak satupun panggilan itu tersambung.
"Ga aktif ga" katanya kemudian.
"Nanti aja dicoba lagi, sekarang kita berangkat aja, takutnya mama lama nungguin" sahut Arka.
"Ok, Auli ganti baju dulu kak" jawabnya kemudian berjalan menuju kamarnya. Begitupun dengan Arka, laki-laki itu mengikuti Aulia untuk menuju ke kamarnya sendiri. Entah apa yang akan diambil, mungkin dompet atau kontak mobilnya.
Di dalam kamar, setelah berganti pakaian, kini Aulia nampak sibuk menyiapkan pakaian yang akan dibawanya buat persiapan kalau-kalau nanti menginap di rumah calon mertuanya. Tak banyak yang dibawanya karena gadis itu hanya memakai travell bag yang berukuran kecil.
Setelah selesai berkemas Aulia pun keluar dari kamarnya. Sesampainya di luar kamar ternyata Arka telah menunggunya. Tak perlu diminta laki-laki itu segera mengambil alih untuk membawa travell bag yang di bawa Aulia.
Kemudian merekapun berjalan bersama menuruni anak tangga. Berniat hendak ke belakang rumah untuk mencari bi Karti, tapi niatnya terurungkan saat melihat wanita yang telah bekerja di rumahnya sejak kakaknya masih bayi itu berjalan memasuki dapur.
Akhirnya Arka dan Aulia pun berangkat ke rumah mamanya yang berjarak 35 menit dengan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Sesampainya di rumah, mama Rita menyambut mereka.
"Assalamualaikum" salam Arka dan Aulia begitu sampai di depan pintu rumah yang sudah terbuka lebar.
"Waalaikumsalam" jawab mama Rita yang kala itu sudah menunggu duduk di ruang tamu pun berdiri menyambut keduanya.
"Mentang-mentang udah resmi tunangan lama banget nginepnya Ar" goda mama Rita pada putra semata wayangnya.
"Bilang aja kalau mama kangen sama Ar, iya kan?" Jawab Arka sembari memeluk sang mama.
"Hallo cantik, gimana kabar kamu Sayang?" Sapanya sambil bergantian cipika cipiki lalu memeluk calon menantunya.
"Hallo ma, Alhamdulillah Auli sehat ma, mama juga kan?" Jawabnya sekaligus berbalik tanya.
"Alhamdulillah mama sehat Sayang, ayo masuk" ajaknya.
Kemudian mereka bertiga masuk menuju ke ruang keluarga lalu duduk di sana.
"Kok sepi, Papa mana ma?" Tanya Arka setelah pandangannya menyapu sekeliling rumah namun tak mendapati Papanya.
"Ada kerjaan sama Ayahmu" jawab Bunda singkat
"Oh" jawab Arka yang tak kalah singkatnya.
"Oiya sayang nanti kamu temani kak Arka buat ke pesta relasi Papa ya" kata Mama Rita menatap wajah Aulia.
"Kak Arka udah cerita ke Auli soal ini kan?" Lanjutnya.
"Iya ma, tadi kak Arka udah bilang ke Auli kok" jawab gadis itu.
__ADS_1
"Emang acara apa sih ma kok harus sama Auli?" Tanyanya kemudian.
"Ulang tahun putrinya Sayang" jawab Mana Rita.
"Brarti kita harus cari kado dulu dong kak" kata Aulia sambil menatap Arka.
"Ga usah Sayaang, kakak udah minta Mama buat siapin kadonya ko" jawab Arka sambil tersenyum. Mendengar jawaban Arka kemudian Aulia menoleh ke arah mama Rita. Dan tanpa ditanya mama Rita seolah tahu maksud tatapan calon menantunya itu. Kemudian mama Rita tersenyum lalu menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan putranya.
"Iya udah mama siapain, kalian tenang aja ya"
Tak terasa hari sudah siang. Terdengar suara Adzan di masjid berkumandang dengan jelas, karena rumah Arka memang letaknya tak jauh dari masjid komplek yang mereka tinggali. Kemudian mereka Sholat berjamaah. Setelah itu mereka makan siang bersama.
Saat ini Arka, Aulia dan juga mama Rita telah selesai makan siang. Mama Rita memutuskan untuk istirahat di kamarnya. Mama Rita juga menyuruh Aulia dan Arka untuk beristirahat juga. Dan merekapun menurutinya.
"Sayang mama mau istirahat di kamar, kalian juga lebih baik istirahat, soalnya nanti pasti acaranya sampai malam" kata mama Rita sebelum masuk ke kamarnya.
"Oiya Ar, ajak Aulia ke kamarnya ya" lanjutnya.
"Iya mama Sayang" jawab Arka sambil senyum.
"Mama istirahat dulu ya Sayang" pamitnya kemudian.
"Iya ma" jawab Arka juga Aulia kompak.
"Ayo Yang, mendingan kita bobo dulu, takutnya tar malam malah ngantuk lagi" ajak Arka yang diangguki oleh Aulia.
Kemudian mereka berdua berjalan ke lantai atas. Lalu menuju ke kamar yang akan ditempati Aulia saat menginap di rumah papa Tara. Sama seperti Arka saat di rumah Ayah Restu dia juga punya kamar sendiri ketika nginap.
Sesampainya di lantai 2 mereka pun berpisah, Aulia memasuki kamarnya begitupun dengan Arka.
"Met bobo siang Sayang, jangan lupa mimpiin kakak ya" goda Arka sebelum mereka berpisah untuk masuk ke kamar masing-masing.
"Met bobo siang juga kak, ehm ga janji ya buat mimpinya" kata Aulia bisa menimpali godaan tunangannya itu.
Akhirnya mereka pun istirahat di kamar masing-masing sambil menunggu waktunya tiba untuk datang ke acara pesta ulang tahun seorang putri relasi papa Tara.
Akhirnya malam pun tiba, setelah Sholat magrib semua nampak bersiap diri di kamar masing-masing. Tapi setelah mama Rita selesai beliau langsung menuju ke kamar Aulia untuk melihat kalau-kalau gadis itu membutuhkan bantuannya.
Saat ini Aulia pun bersiap-siap di kamarnya. Setelah memakai gaun yang telah disiapkan oleh calon ibu mertuanya. Kini Aulia nampak sedang bermake up.
Belum selesai dengan aktifitasnya, gadis itu menoleh ke arah pintu saat seseorang membuka pintu kamarnya yang memang dibiarkan terbuka sedikit, sehingga tak perlu mengetuk pintu dulu untuk masuk. Kemudian gadis itu tersenyum melihat siapa yang membuka pintu dan memintanya masuk ke kamarnya.
"mama, masuk ma" ucap Aulia saat mendapati mama Rita mambuka pintu kamarnya.
"kamu udah siap Sayang?" tanya bunda Rita sambil berjalan mendekati Aulia yang masih duduk di meja rias di dalam kamarnya.
"belum selesai ma, ni masih pakai lipstik dulu" jawab gadis itu sambil mendongakkan wajahnya untuk melihat mama Rita yang sedang berdiri di belakangnya dan menatapnya melalui pantulan cermin di depannya.
"Gimana ma make up Auli, keliatan tua ga?" tanyanya kemudian karena mendapat tatapan sang camer membuatnya salting alias salah tingkah.
"Cantik, ga kelihatan tua kok sesuai dengan usia kamu Sayang" jawab Mama Rita sambil memegang bahu Aulia. Aulia pun tersenyum mendapat pujian dari camernya.
"Auli udah selesai ma" kata Aulia saat dirasa persiapannya benar-benar sudah selesai.
"Ok, yuk kita turun, Papa sama kak Arka udah nungguin kita di bawah" ajak mama Rita.
Kemudian mereka berjalan keluar kamar. Menghampiri Papa Tara juga Arka Yang sudah menunggu mereka di ruang tamu. Keduanya berjalan dengan berdampingan menuruni anak tangga. Penampilan keduanya benar-benar serasi layaknya ibu dan anak. Membuat yang melihat mengira bahwa mereka memang ibu dengan putri kandungnya.
\=\=\=\=\=
Bagaimana penampilan Aulia dan Arka apa juga akan serasi seperti penampilan mama Rita dan Aulia?
Kira-kira siapa yang ulang tahun ya?
Tunggu cerita selanjutnya yaa.
__ADS_1
○●●●○
Sesuai janjiku kemarin sekarang upnya lebih banyak yaa. Makasih buat dukungan like , rate, vote ataupun Tip dari kalian. Jangan lupa klik favorit supaya kalian tak ketinggalan cerita selanjutnya.