KOMITMEN CINTA dalam PERJODOHAN

KOMITMEN CINTA dalam PERJODOHAN
Eps.20. Pamit


__ADS_3

Setelah terjadi sedikit drama tadi siang, kini malam pun telah tiba. Setelah melaksanakan Sholat Isya berjamaah mereka sekarang berada di ruang makan. Tentunya saat ini mereka sedang makan malam bersama.


Setelah menikmati makan malam mereka pun pindah ke ruang keluarga. Seperti biasanya rutinitas yang satu ini selalu mereka lakukan meski sekedar untuk ngobrol ringan ataupun bercanda ria.


"Jadinya kakak mau berangkat kapan?" Tanya Aulia memecah keheningan.


"Besuk pagi dek, eem maafin kakak ya dek" ucap Adrian.


"Tiba-tiba Kakak ada pekerjaan" lanjutnya.


"Gapapa kak, itukan udah jadi tanggung jawab kakak" jawab Aulia. Meskipun masih kecewa gadis itu berusaha menutupinya.


"Makasi ya Sayang, Auli memang adik kakak yang pangertian" kata Adrian sambil mendekatkan diri pada Adiknya lalu memeluk tubuh mungil itu.


"Udah dong kak jangan kaya gini, kan Auli jadi sedih" ucap Aulia di dalam pelukan kakaknya.


"Tuh kaan Auli nangis, kakak siih" ucapnya lagi saat airmatanya tiba-tiba mengalir.


"Dah ga boleh cengeng, udah mau jadi istri juga masih cengeng" kata Adrian sambil melepaskan pelukannya pada Aulia, lalu menghapus airmata adiknya.


"Apaan sih, masih lama juga" jawab gadis itu.


"Sabar dek, ga lama kok, apa mau dimajukan nikahnya pas liburan kenaikan kelas nanti ?" Goda Adrian menaik turunkan alisnya.


"Engga engga enak aja, masih sekolah udah suruh nikah" protesnya sambil menggerak-gerakkan telapak tangan ke kanan kiri.


"Ya kali udah pengen" lagi-lagi Adrian menggoda adiknya.


"Kakak kali yang pengen..." sahutnya.


"Kakak ma udah nikah, ya ga Yang" jawab Adrian sambil minta dukungan istrinya yang hanya dibalas anggukan oleh wanita yang tengah mengandung itu.


"Buuun kakak ni" mencoba mengadu kepada sang Bunda.


"Udah-udah kalian ini ga bisa apa akur sebentar?" Tanya Bunda yang sedari tadi geleng-geleng kepala dengan tingkah kedua anaknya.


"Lumayan bun nonton drama secara live" celetuk Arin yang juga heran dengan suaminya yang selalu berdebat seperti anak kecil tiap ketemu adiknya itu.


"Iya juga ya, drama kan ga jauh-jauh dari nangis-nangis" kata Ayah Restu.


"Setelah lihat ini semua dari tadi siang Kamu ga niat buat membatalkan pertunangan ini kan nak Arka?" Lanjut Ayah menggoda putrinya.


"Ayah apaan sih" protes Aulia

__ADS_1


"Alhamulillah enggak Yah" jawab Arka tersenyum sambil melirik tunangannya.


"Pertanyaan ayah gitu amat sih yah" celetuk Adrian.


"Tau tu Ayah" sambutan dari Aulia setuju dengan sang kakak.


"Kalau sampe Arka batalin yang ada putri Ayah ini bakalan nangis 7 hari 7 malam Yah, ya ga Bun?" Lanjut laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu meminta dukungan sang Bunda.


"Enak aja, ya engga lah kakak ma lebay" protes Aulia.


"Yakin?" Sahut Adrian.


"Yakinlah, lagian kak Arka juga ga bakal batalin kok, ya kan Yang?" Sewot Aulia lalu minta dukungan sang tunangan.


"Iya Sayang, Auli tenang aja ya" jawab Arka lembut.


"Cie cie yang dapat dukungan calon suami" kata Adrian dengan tangannya meraih kedua pipi adiknya lalu menekan pelan hingga bibir mungil gadis itu mengerucut lucu.


"Ka kak le pas in" rengek Aulia dengan suara tak jelas karena bibirnya monyong gara-gara pipinya belum juga dilepas oleh Adrian.


"Buun Yah kakak Nii" adu Aulia pada kedua orangtuanya setelah pipinya di lepas sang kakak sehingga bisa berbicara dengan jelas lagi.


"Dasar tukang ngadu" celetuk Adrian.


"Iya ya Yah, ga ada bedanya mana yang kakak mana yang adik, sama-sama kaya anak kecil" sahut Arin tertawa.


"Yang..." belum juga Adrian selesai dengan protesnya kepada sang istri tapi telah dipotong oleh Bunda.


"Ga usah protes kak, istri kamu bener juga" sahut Bunda


"Udah malam sebaiknya kalian istirahat, besuk kalian mau berangkat pagi kan?"Lanjut bunda.


"Iya Bun, yaudah kami ke kamar duluan ya semua" ucap Adrian lalu berdiri menggandeng tangan istrinya.


Kemudian keduanya berjalan menuju kamar tidur mereka. Tak lama dari itu Aulia dan Arka juga ikutan pamit tidur.


"Yah Bun Auli sama kak Arka juga mau tidur ya" pamit Aulia.


"Iya Sayang , jangan lupa berdo'a ya, nice dream" kata Bunda lalu mencium kening sang putri.


" iya Bun, good night" jawab Aulia membalas mencium pipi kedua orang tuanya.


Lalu Aulia juga Arka pun berjalan menuju kamar masing-masing yang berada di lantai atas. Begitu juga dengan Ayah Bunda, keduanya pun akhirnya beranjak dari duduknya menuju ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Hingga keesokan harinya setelah sarapan bersama Adrian juga sang istripun berpamitan kepada kedua orang tua juga adik kesayangannya.


"Yah, Bun Adrian berangkat dulu ya, jaga kesehatan kalian" kata Adrian sambil bergantian memeluk kedua orangtuanya. Begitupun dengan sang istri melakukan hal yang sama dengan suaminya.


Kemudian setelah berpamitan kepada orang tuanya sekarang giliran berpamitan dengan adik kecilnya. Ya walaupun Aulia telah bertunangan tapi dimata Adrian gadis itu tetaplah adik kecilnya yang selalu merengek jika meminta sesuatu kepadanya.


"Dek, kakak berangkat dulu ya, kakak titip Ayah Bunda" pamit Adrian kemudian memeluk adik kecilnya itu. Yang hanya dibalas anggukan oleh sang adik.


"Udah jangan nangis dong, nanti juga kakak pasti pulang lagi" ucap laki-laki itu.


"Ga boleh cengeng gini dong, malu sama kak Arka tu" lanjutnya lagi yang lagi-lagi dibalas anggukan oleh sang adik.


"Kakak hati-hati ya, cepet pulang" rengek gadis itu disela isakan tangisnya.


"Iya Sayang, Auli jaga diri baik-baik ya" pesannya lagi untuk adiknya.


"Ar, kakak pamit dulu ya, titip Auli , yolong jaga dia" lanjut laki-laki beristri itu kepada calon iparnya.


"InsyaAllah kak, kakak hati-hati di jalan, jangan lupa kabari kalau udah sampai" jawab Arka menjabat tangan calon iparnya itu lalu keduanya saling menepuk bahu satu sama lain.


"Dek, Kak Arin pulang dulu ya, Auli ga boleh sedih-sedih terus" pamit Arin pada sang adik ipar.


"Ga boleh cengeng lagi ya, kan udah tungangan masa masih cengeng sih, malu tahu" lanjutnya lagi berusaha menghibur sang adik.


"Iya kak, kak Rin hati-hati yaa, jaga dede bayinya" jawab Aulia sambil mengelus perut buncit kakaknya.


Lalu menunduk sekarang kepala gadis itu tepat berada di depan perut buncit kakak iparnya.


"Dede bayi, baik-baik di perut ya, sampai nanti lagi, muach" kata Aulia mengelus perut kakak iparnya lalu menciumnya.


"Udah kak, jangan lupa kabari begitu kakak sampai ya" lanjutnya lagi.


"Iya, yaudah kakak pergi dulu ya" pamit Arin lalu mencium kedua pipi Aulia.


"Assalamualaikum semua" pamit keduanya


"Wa'alaikum salam, hati-hati" jawab semua kompak.


Setelah mobil yang dikendarai oleh Adrian telah menhilang dari pandangan mereka akhirnya keluarga itu masuk ke dalam rumah.


○●●●○

__ADS_1


Tak terasa udah 20 episode aja nih. Untuk episode ini cukup segini dulu ya, semoga episode depan bisa lebih banyak lagi dan juga lebih menarik. Makasih buat like, rate, komen, juga Vote ataupun Koin dari kalian semua para readers🙏


__ADS_2