
Melihat sang putra sudah membawa masuk istrinya. Mama Rita berinisiatif membereskan semua tugas-tugas Arka, lalu diantarkan ke kamarnya agar bisa dilanjutkan di kamar sembari menunggu sang istri istirahat. Sejak kehamilan Aulia yang berusia 4 bulan dan sudah mulai membesar. Kini kedua calin orang tua baru itu sementara menghuni kamar tamu di lantai bawah.
"Nak, ini tugas kuliahmu Mama taroh di meja ya, nanti kamu cek lagi, tadi Mama adal beresin aja biar gampang bawa masuknya," ucap Mama Rita saat mau masuk ke kamar yang anak yang pintunya dibiarkan terbuka.
"Oh iya Ma, makasih ya udah dibantuin,"jawab Arka yang masih sibuk mengelus perut sang istri yang sempat sakit lagi saat hendak ditinggal sang suami mengambil tugas kuliahnya. Sepertinya si calon baby gak mau jauh dari Papanya.
"Kenapa Sayang? Kontraksi lagi?" Tanya Mama Rita mendekat ke tempat tidur.
"Tadi sempet kenceng sebentar Ma," jawab Aulua lirih.
"Iya kayaknya si dedek ngambek Oma, soalnya mau di tinggal Papa ambil tugas keluar tadi," Arka menimpali sembari senyum lalu mencium perut buncit sang istri.
"Gak jadi ditinggal Nak, itu tugasnya Papa sudah Oma bawain kok, cucunya Oma baik-baik ya di dalam ya, sebentar lagi kita ketemu Sayang, nanti jangan sakiti Mama ya kalau udah mau keluar," ucap Mama Rita ikutan mengelus perut buncit sang menantu dari sebelah ranjang yang berseberangan dengan Arka yang juga ikut duduk disamping sang istri.
"Iya Oma, do'ain nanti kalau udah mau lahir dedek sama Mama sehat-sehat dan lahirnya lancar ya Oma,"Sahut Arka menirukan suara anak kecil.
"Aamiin," jawab Aulia serta Mama Rita bersamaan lalu ketiganya tersenyum bahagia. Karena sebentar lagi anggota keluarga mereka akan bertambahn sehingga rumah akan terasa lebih hidup dengan tangisan bayi nantinya.
"Ya sudah, Mama tinggal ya, Sayang, buat istirahat ya, ingat lo kalau ada apa apa panggil Mama, kalau gak di dapur, ruang keluarga paling Mama di kamar, teriak aja pasti Mama dengar," pesan Mama Rita sebelum keluar dari kamar.
"Iya Ma, makasih ya," jawab Arka dan Aulia bersamaan.
"Iya Sayang," jawab Mama Rita mengulas senyum lalu keluar dari kamar sang putra.
__ADS_1
***
Malam pun tiba. Setelah makan malam bersama dengan kedua orang tuanya. Arka mengajak sang istri untuk segera beristirahat. Mengingat kondisi sang istri yang terlihat begitu kelelahan. Apalagi seharian ini setelah mengalami kontraksi. Aulia merasakan perutnya kram. Namun, dia selalu menolak setiap sang suami serta mertuanya mengajaknya untuk periksa ke dokter. Karena bukan hanya saat ini bumil itu merasakan kram diperutnya ketika dia merasakan kelelahan.
Akhirnya, semua pun menuruti keinginan bumil itu dengan syarat harus mau beristirahat di kamar dan didampingi oleh sang suami dan kalau merasakan sesuatu yang tidak nyaman segera bilang dan ke rumah sakit. Dan Aulia pun menurut saja, asal tidak ke rumah sakit sekarang ini.
Karena tak mau berdebat dengan sang suami. Aulia pun menuruti keinginan sang suami untuk segera beristirahat di kamar. Dan saat tengah malam saat semuanya terlelap, Aulia merasakan perutnya sakit, dan beberapa kali kontraksi. Sebenarnya dia tak tega membangunkan sang suami. Tapi karena takut terjadi apa-apa dan tak mau membuat sang suami kecewa. Akhirnya Aulia pun membangunkan suaminya.
"Mas, bangun pwrut Auli sakit," Aulia berusaha membangunkan Arka sembari menepuk nepuk lengan sang suami.
"Ehm, kenapa Yang? Perut kamu sakit lagi?" Tak perlu waktu yang lama dengan segera Arka terbangun dari tidurnya.
"Kontraksinya makin sering Mas, kayaknya udah mau lahir dedeknya," jawab Aulia.
"Ya udah, tunggu bentar ya Yang, Mas mau bangunin Mama dulu," ucap Arka sembari beranjak setelah mendapat anggukan kepala dari sang istri.
"Sayang kamu masih kuat kan? Tanya Mama Rita kepada sang menantu.
"Iya Ma," jawab Aulia pelan.
"Kamu bawa istrimu keluar dulu Ar, biar Papa yang siapkan mobilnya, Mama masukkan dulu tas keperluan Aulia dan dedek bayinya," ucap Mama Rita tenang agar sang putra juga tidak panik. Toh saat ini sang menantu masih sanggup bertahan pikirnya. Apalagi kalau panik yang ada malah tidak bisa berfikir jernih. Bisa bisa barang yang harus dibawa malah tertinggal semua.
"Iya Ma," dengan segera Arka mendekati sang istri.
__ADS_1
"Sayang kamu juga ganti daster dulu ya, lihat dastermu udah basah," ucap Arka saat melihat baju sang istri basah lalu dengan segera mengambil daster dari lemari pakaian sang istri.
"Iya Mas," jawab Aulia pasrah juga bersyukur karena memang sudah tidak nyaman dengan dasternya yang sudah basah oleh keringatnya.
"Nak, kalau udah siap, bawa istrimu ke mobil ya, Papa udah siapin mobilnya. Sekarang Mama mau keluar dulu," ucap Mama Rita.
"Iya Ma," jawa Arka singkat sembari membantu sang istri berganti daster agar lebih nyaman. Kemudian segera memapah sang istri keluar untuk segera oe rumah sakit.
Setelah semuanya masuk ke mobil pun Papa Tara segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit Ibu dan Anak tempat Aulia biasa periksa kandungannya. Tak lupa Mama Rita mengabari sang besan bahwa Aulia akan segera melahirkan.
Sementara di kursi belakang, Arka nampak menenangkan sang istri yang sebentar sebentar merintih kesakitan saat mengalami kontraksi. Dengan cara mengelus elus perut juga punggung sang istri.
Sesampainya di rumah sakit, Aulia segera di bawa oleh tim dokter ke ruang pemeriksaan setelah pembukaannya lengkap maka segera di bawa ke ruang persalinan diikuti oleh sang suami dan kedua mertuanya. Sementara yang boleh masuk ke ruang persalinan hanya sang suami dan yang lain menunggu di luar.
"Pembukaannya sudah lengkap ya bunda, dedeknya udah mau lahir nih," ucap dokter itu dengan ramah.
"Iya dokter," jawab Aulia.
"Bismillah Yang, Mas yakin kamu bisa Sayang," ucap Arka menyemangati sang istri.
"Iya Mas, bantu do'a ya," ucap Aulia ditengah sakitnya tetap tersenyum kepada sang suami.
"Dimulai ya bunda, siap?" ajak sang dokter.
__ADS_1
"Siap dok," dengan semangat Aulia menjawab meskipun tak dapat dipungkiri rasa sakit yang dirasakannya namun semua kalah dengan rasa yang sudah tak sabar lagi ingin segera bertemu dengan sang buah hati.
"Baiklah bunda, ikuti aba aba dari saya ya bun, jangan mengejan dulu sebelum saya suruh ya bunda," ucap sang dokter kemudian lanjut dengan memberi aba aba kapan saatnya Aulia harus tarik nafas dan kapan saatnya mengejan. Hingga akhirnya terdengar suara tangis bayi yang menggema di ruang perasalinan.