
Di hari pertamanya bekerja di caffe Arka, Aulia nampak semangat sekali. Karena sifat ramah gadis itu, Aulia cepat akrab dengan Diana yang menjadi kasir.
Selain dengan Diana, Aulia ternyata juga cepat akrab dan dengan mudah berbaur dengan karyawan yang lain. Karena di setiap ada kesempatan, di sela-sela kesibukan caffe. Gadis itu mencoba mengakrabkan diri dengan karyawan lain.
Tak terasa hari demi hari berlalu dengan cepat. Hari libur sekolah pun telah usai. Saat ini di kelas baru yaitu kelas 2. Aulia masih satu kelas bersama dengan ketiga sahabatnya.
Sedangkan Arka sekarang sudah kelas 3 gak sampai setahun lagi selesai sudah laki-laki itu menyandang gelar seorang siswa. Dengan demikian bertambah juga kesibukannya dalam menjalani peran sebagai seorang siswa di satu tahun terakhir ini.
Saat ini jam istirahat pun tiba, Aulia masih di dalam kelas, karena menunggu Arka untuk menjemputnya kemudian istirahat di taman untuk makan siang. Sejak Aulia mengetahui betapa besar tanggung jawab Arka. Gadis itu memutuskan untuk selalu membawa bekal buat makan siang.
"Sendirian Sayang?" Tanya Arka begitu masuk kelas Aulia yang nampak sudah sepi, hanya ada beberapa temannya yang memang tidak pergi ke kantin atau pun keluar kelas.
"Yang lain mana?" Lanjut laki-laki itu setelah melihat ke seluruh kelas namun tak mendapati satupun sahabat kekasih hatinya itu.
"Iya kak, udah pada ke kantin," jawab Aulia sembari memasukkan novel yang dibacanya selama menunggu Arka ke dalam laci meja.
"Yaudah makan yuk," ajak Arka yang mengambil bekal yang sudah disiapkan Aulia di atas mejanya.
"Ayo," jawab Aulia kemudian sambil membawa botol minum, mengikuti Arka yang sudah berjalan duluan dengan tas kotak bekal di tangan kanannya.
Seperti yang kebanyakan siswa lain ketahui. Saat Aulia dan Arka berjalan beriringan menuju ke taman pun justru nampak seperti kakak adik yang saling menyayangi. Keduanya nampak akur dan saling menjaga.
Begitu juga dengan Sita yang melihat Aulia dan Arka dari kejauhan. Gadis yang pernah menaruh rasa kepada Arka itupun sempat iri saat melihat kedekatan Aulia dan Arka.
"Enak banget sih jadi Aulia, punya kakak yang sayang banget sama dia," lirih Sita berkata lebih seperti orang menggerutu namun masih terdengar oleh kedua sahabatnya.
"Iya ya, enak banget punya kakak perhatian kaya gitu," sambung Dewi yang juga tahunya kalau hubungan antara Aulia dan Arka adalah kakak adik.
"Jadi pengen punya kakak deh," Mega pun menimpali celotehan kedua sahabatnya.
__ADS_1
Di sebelah meja ketiga orang yang sedang membicarakan Aulia dan Arka itu. Duduklah ketiga Sahabat Aulia yang tak lain adalah Ninda, Sari juga Mita. Mereka tersenyum saat samar-samar mendengar ucapan ketiga orang di meja sebelahnya. Ternyata Sita juga kedua sahabatnya itu masih mengira bahwa Aulia dan Arka seorang adik kakak.
Sementara Aulia dan Arka. Kedua pasangan yang sedang di bicarakan di salah satu meja di kantin sekolah. Kini telah duduk santai di taman sekolah sambil menyantap makan siang mereka.
"Kamu gapapa Yang, kalau gak makan bareng sahabatmu di kantin?" Tanya Arka tiba-tiba membuat gadis di hadapannya itu seketika menghentikan makan lalu melihat ke arahnya.
"Enggak, kenapa kakak tanya itu?" Jawaban Aulia heran dengan Arka.
"Ya cuma mau tanya aja, kakak ga mau kalau kamu ga bisa menikmati masa SMA kamu dengan baik Yang," jawaban Arka membuat gadis di depannya tersenyum merasa tersanjung.
"Harusnya kan kamu sekarang di kantin bareng sama sahabatmu, bukannya di sini sama kakak," ucap Arka sendu.
"Kakak kok ngomongnya gitu sih?" Ucap Aulia sedih mendengar ucapan Arka baru saja.
"Kalau bukan gara-gara Auli, kakak juga ga harus kerja keras kaya sekarang," lanjut gadis itu membuat Arka merasa bersalah karena ucapannya tadi.
"Gak kok Sayang, bukan gara-gara Auli kakak kerja, tapi emang dari dulu kakak udah kerja, Auli udah tahu sendiri kan? Jadi jangan merasa bersalah gitu ya,"ucap Arka membuat gadis di depannya itu mengangguk.
"Makasih ya Sayang, udah mau jadi bagian dari hidup kakak, kamu sumber kebahagian kakak, kakak merasa bahagia ada kamu," ucap Arka mengenggam tangan Aulia yang ada di atas meja bulat di kursi taman sekolah. Masih di tempat sepasang remaja itu menikmati makan siang tadi.
"Iya kak, Aulia juga bahagia punya kakak, makasih kakak udah mau berjuang demi Auli, Aulia Sayang kakak" ucap gadis itu tanpa terasa mengalir buliran air bening dari sudut matanya.
"Loh kok malah jadi nangis sih," ucap Arka menyadari air mata Aulia menetes dengan tiba-tiba.
"Auli cengeng ya kak? Tapi ini air mata bahagia kok kak," ucap gadis itu mencoba menahan air matanya dengan tersenyum.
"Dasar kamu, ga sedih ga bahagia ada saja air matanya," ucap Arka terkekeh. Membuat keduanya tertawa membuat semua beban yang mengganjal di benak masing-masing seolah menguap begitu saja.
Setelah pengakuan masing-masing tentang merasa tak enak saling membebani tadi ternyata bisa membuat perasaan keduanya jadi lebih lega. Aulia jadi lebih tenang karena karena sudah merasa bukan jadi beban sang suami. Begitu pun dengan Arka, ternyata sang istri menikmati hidup yang dijalaninya. Juga tak merasa tertekan dan masih bisa merada menikmati masa-masa SMA. Masa-masa remaja dengan baik.
__ADS_1
"Bentar lagi bel masuk, kakak antar ke kalas yuk," ajak Arka menggandeng tangan Aulia dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menenteng tas kotak makan mereka.
"Ih kak, ga usah gandengan ya, ga enak sama yang lain," ucap Aulia malu, kepalanya pun menoleh ke kana ke kiri memastikan tak ada yang melihatnya.
"Gak enak apa malu?" Goda Arka mencubit hidung mungil Aulia dengan manja.
"Sama aja kak, udah ayo, nantu keburu bel masuk," ucap Aulia yang berjalan mendahului Arka.
"Dasar putri kecil, tunggu Sayang," teriak Arka membuat Aulia menghentikan langkah kakinya lalu ke arah Arka dengan melempar tatapan tajam seolah berkata bisa diam ga?.
Namun Arka hanya bisa tersenyum melihat tingkah Aulia yang malah terlihat lebih cocok menjadi adiknya dari pada sebagai pasangannya.
"Udah ga usah ngambek, makin jelek tahu," ucap Arka setelah sampai di samping gadis itu berdiri. Arka pun terkekeh melihat muka gadisnya yang di tekuk.
"Habis kakak nyebelin sih, sama kaya yang lain, Auli kan udah gede bukan anak kecil lagi, masak selalu aja dipanggil putri kecil, Auli kan malu kalau ada yang dengar kak !" Protes Aulia yang ternyata meskipun manja, dia malu juga kalau di panggil putri kecil di depan teman sekolahnya. Kecuali para sahabatnya.
"Iya deh maafin kakak, tapi jangan ngambek ditu ya," ucap Arka menyatukan kedua tangannya di depan dada seperti sikap memohon.
"Iya Auli ga ngambek, tapi janji ga boleh diulang ya," ucap Aulia tersenyum merasa menang.
"Iya Sayaaang," ucap Arka kemudian keduanya kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kelas.
"Kakak langsung ya, bentar lagi udah mau bel, sana masuk kelas," pamit Arka sambil menenyerahkan tas kotak bekal yang dibawanya kepada Aulia.
"Iya kak, Auli masuk ya, " jawab gadis itu kemudain masuk ke dalam kelas.
Benar saja baru juga Aulia memulai ngobtol dengan para sahabtanya. Bel masuk pun berbunyi. Tandanya jam pelajaran selanjutnya di mulai.
○●●●○
__ADS_1
Bersambung......