KOMITMEN CINTA dalam PERJODOHAN

KOMITMEN CINTA dalam PERJODOHAN
Eps.79. Signal


__ADS_3

Tak terasa setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, rombongan makrab dari SMA Kebangsaan pun telah sampai di tujuan. Yaitu di salah satu bumi perkemahan yang ada di puncak. Dengan antusianya semua turun dari bus masing-masing namun tetap tertib sesuai dengan arahan yang telah di berikan oleh panitia.


Begitu semua telah turun dari bus, mereka berkumpul untuk memastikan bahwa tak ada satupun anggota yang kurang ataupun tertinggal. Sesuai dengan arahan saat berkumpul, murid laki-laki segera mendirikan tenda sesuai dengan kelas masing-masing yang mana tenda para siswi tentu saja berpisah dengan tenda para siswa. Sedangkan murid perempuan sibuk memasak bahan makanan yang sudah di bawa dari rumah sesuai tugas masing-masing. Dan tentunya juga menyiapkan tempat untuk makan siang mereka bersama.


Karena kekompakan mereka pemasangan tenda berjalan dengan lancar dan lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan yaitu paling lama 1 jam tenda sudah harus siap untuk digunakan. Mengingat akan langsung dilanjutkan dengan acara yang lainnya setelah Sholat Dzuhur nanti. Tak lama dari itu, tepatnya jam 11.30 para siswi telah selesai memasak juga menyiapkan untuk makan bersama yang di tata di sebuah tikar yang di bentangkan. Kemudian semua murid di minta untuk antri untuk mengambil jatah makan. Ada beberapa yang bertugas mengambilkan makan agar mereka tidak berebut dan bisa kebagian secara merata.


Akhirnya acara makan dan juga beribadah pun selesai dilakukan. Setelah selesai, semua murid berkumpul di tengah lapangan karena akan ada pengumuman acara yang akan di adakan mulai dari sekarang hingga besuk minggu sore pulang kembali ke rumah. Nampak semua menyimak dengan seksama. Bahkan juga terjadi sesi tanya jawab bagi yang belum paham. Dan saat ini semua sibuk dengan persiapan untuk acara api unggun nanti malam.


Hingga saatnya malam pun tiba. Aulia baru saja menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dari sejak magrib tadi pikiran gadis itu selalu resah. Sari sebagai sahabat yang sesama anggota PMR ternyata memperhatikan sikap Aulia dari tadi.


"Ul, kamu kenapa sih? Aku perhatiin dari tadi kamu kelihatannya gelisah?" Tanya Sari saat keduanya sama-sama sedang melipat mukena yang baru saja digunakan untuk Sholat Isya.


"Apa ada yang mengganggu fikiranmu?" Lanjut Sari karena Aulia hanya merespon dengan senyuman.


"Aku cuma kangen sama kakek Sar, gak tahu kenapa tiba-tiba perasaanku gak enak," jawab Aulia sendu.


"Sebaiknya kamu telpon ke rumah aja, biar kamu bisa tenang,"Sari memberikan sarannya.


"Aku tadi udah mencobanya, tapi ternyata di sini gak ada signal," jawab Aulia yang semakin lesu.


"Coba nanti lihat hp ku ada signal atau ga? Nanti kalau ada kamu bisa memakainya," Saripun mencoba menenangkan sahabatnya itu, dalam hatinya pun berharap tak akan mengecewakan sahabatnya dengan adanya signal pada ponselnya.


Keduanya pun menuju ke arah di mana Sari menyimpan tas selempangnya. Dengan segera mengambil ponsel lalu mengeceknya.


"Maaf Ul, ternyata sama, hp ku pun gak ada signalnya," ucap Sari sendu sambil menunjukkan ponselnya pada Aulia.


"Gimana kalau kita tanya Ninda sama Mita, siapa tahu hp mereka ada signalnya," Sari pun memberi ide pada sahabatnya itu yang hanya diangguki oleh Aulia.


"Kak, Kami ke tenda panitia dulu ya, ada sesuatu hal, " pamit Sari pada temannya yang lebih senior.


"Ok santai aja, lagian kita juga belum ada pasien, ha ha," jawab seniornya dengan bercanda.

__ADS_1


"Ha ha betul juga ya, semoga aja gak ada pasiennya sampai kita balik nanti," jawab Sari yang diaminkan oleh kesepuluh anggota PMR yang masih santai di tendanya. Kemudian Aulia juga Sari keluar tenda untuk mencari kedua sahabatnya.


"Kalian mau kemana?" Tanya Arka yang hendak ke tenda PMR namun berpapasan dengan Aulia dan Sari.


"Mau ke tenda panitia kak, mau cari Ninda sama Mita," jawab Sari.


"Kebetulan kakak ke sini mau cari kalian," ucap Arka.


"Emang ada apa kak?" Tanya Aulia khawatir.


"Itu acara udah mau dimulai tapi, tapi kalian belum ada yang kumpul," jawab Arka.


"Oh Auli kira ada apa,"


"Kak, ada signal ga?" Tanya Aulia tiba-tiba.


"Maksudnya?" Tanya Arka mengerutkan keningnya.


"Hp kakak, Auli mau telpon kakek tapi gak ada signal," lanjut Aulia yang mengerti kebingungan Arka.


"Ada tapi kayaknya ilang-ilang gini, nih coba aja semoga bisa" jawab Arka menyerahkan ponselnya pada Aulia.


"Gapapa kak, Auli coba dulu aja," jawab Aulia lalu mencoba menghubungi nomor sang kakek.


"Kenapa Yang?" Tanya Arka yang melihat wajah cemas Aulia.


"Gak diangkat," jawab Aulia lesu.


"Gak usah khawatir Yang, mungkin mereka masih makan malam atau ngobrol di ruang keluarga," jawab Arka mencoba berpikiran positif. Meskipun tak dipungkiri perasaannya dari tadi juga gelisah karena terus saja teringat pada sang kakek.


"Iya kak," jawab Aulia.

__ADS_1


"Udah coba telpon mama belum Yang," lanjutnya.


"Belum, ya udah Auli coba dulu kak," jawabnya lalu mencoba menghubungi sang mama.


"Arka, dicariin kemana-mana juga, buka acara dulu tuh, udah pada siap semua," ucap Dewa begitu menemukan Arka.


"Kamu gapapa kan Yang kalau kakak tinggal," bukannya menjawab Arka justru bertanya kepada gadisnya.


"Iya kak, gapapa kok, kan masih ada Sari," jawab Aulia yang masih mencoba menghubungi mama Rita namun belum juga diangkat.


"Ya udah kakak ke sana dulu ya," pamit Arka.


"Iya kak," jawab Aulia.


"Sar, titip ya,"ucap Arka menatap Sari.


"Tenang kak, ada Sari pasti aman," jawab Sari hingga akhirnya Arka meninggalkan kedua gadis itu dalam keadaan tak tenang. Dan di ikuti Dewa si belakangnya.


"Gimana Ul? Bisa ga?" Tanya Sari saat melihat raut muka sahabatnya semakin cemas.


"Gak diangkat Sar, aku makin khawatir kalau terjadi sesuatu sama kakek," jawab Aulia penuh kekhawatiaran.


"Telpon kakek ga diangkat, telpon mama juga gak diangkat," lanjutnya bergumam tapi masih bisa di dengar Sari.


"Positif tingking aja Ul, semoga benar yang dikatakan kak Arka tadi kalau mereka lagi makan malam atau ngobrol di ruang keluarga seperti biasanya," ucap Sari mencoba menghibur Aulia.


"Semoga aja Sar, makasih ya," jawab Aulia mencoba tersenyum.


"Oh iya, kenapa gak coba hubungi om Tara aja, kan om Tara sering tuh pegang hp," Saran dari Sari.


"Iya juga ya, kenapa jadi ga kefikiran sih," ucap Aulia kemudian segera mencoba menghubungi sang papa.

__ADS_1


"Gak diangkat Sar," ucap Aulia lesu.


"Coba sekali lagi Ul" jawab Sari yang dijawab anggukan oleh Aulia lalu mencoba menghubungi papa Tara lagi.


__ADS_2