
"Entahlah kak, sebenarnya aku bukan ragu, tapi takut, takut kalau ternyata Aulia belum ada oerasaan apapun padaku, sehingga setelah aku mengatakan perasaanku aku takut membuatnya tertekan dan merasa dituntut untuk segera membalas cintaku," jawab Arka sungguh-sungguh bisa mengeluarkan unek-uneknya yang dipendam selama ini. Ya baru kali ini Arka bisa senyaman ini curhat dengan orang lain. Apalagi curhat tentang isi hafinya dengan kakak iparnya sendiri, kakak dari istrinya. Wanita yang dibicarakan saat ini.
"Kakak suka kamu bisa jujur sama kakak, dan terima kasih karena kamu begitu tulus mencintai Auli, kakak do'akan semoga kamu segera menemukan waktu yang pas untuk mengungkapkan perasaanmu terhadap adik kecilku yang manja itu," ucap Adrian tulus sembari tersenyum saat mengucapkan kata manja.
"Gak perlu berterima kasih kak, jujur saja entah kenapa aku sudah menyukai Auli sejak aku di kasih tahu kakek soal perjodohan ini. Bahkan aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama saat pertama kali bertemu setelah remaja. Walau bagaimanapun aku sudah bisa mengingat pertemuan kami, meskipun saat itu kami masih sama-sama kecil," ucap Arka sembari tersenyum simpul mengingat wajah Auli kecil sesuai ingatannya.
"Kakak ingatkan saat aku akan pulang bagaiman Auli memangis dan memelukku erat. Tak mengizinkan aku pulang," lanjut Arka.
"Ya, kakak ingat, setelah kamu bilang kamu akan kembali membawa kuda untuk menjemputnya dan menikah seperti dalam cerita film Barby yang kalian tonton, baru Auli melepaskan pelukannya," jawab Adrian menerawang mengingat kejadian yang menurutnya lucu.
"Iya kak, padahal waktu itu aku juga gak tahu ap artinya menikah, setahuku menikah itu pesta trus naik kuda berdua dengan Auli mengelilingi istana," jawab Arka yang ikut membayangkan masa kecilnya bersama Aulia.
"Dan akhirnya kalian benar-benar menikah," ucap Adrian.
"Iya kak, dan aku yang paling bahagia di sini, dan entahlah dengan Auli, semoga saja dia juga bahagia seperti aku kak," ucap Arka sendu.
"Kakak yakin Auli juga bahagia, dan kalian akan bahagia bersama selamanya," hibur Adrian dengan yakin. Karena dia tahu jika adiknya itu juga sudah ada perasaan dengan suaminya.
"Aamiin," jawa Arka mengaminkan ucapan kakak iparnya.
Saat Arka hendak menyauti lagi perkataan sang kakak. Lebih dulu getaran ponsel di saku celana Adria membuatnya menahan Arka agar tak berbicara dulu.
"Bentar Ar, sepertinya ada yang telpon kakak," ucap Adrian tiba-tiba memotong Arka yang baru saja membuka mulut hendak mengatakan seauatu.
"Hallo Yah, Assalamualaikum," sapa Adrian saat menerima telpon yang ternyata dari Ayah Restu.
"Waalaikumsalam nak," jawab Ayah Restu yang tentunya hanya Adrian sendiri yang mendengarnya.
"Ada apa Yah?" Tanya Adrian. Seketika Arka menajamkan pendengarannya meskipun sama saja dia tak akan mendengar jawaban dari Ayh mertuanya.
__ADS_1
"Kalian sudah sampai mana nak?" Tanya ayah, terdengar dari suaranya seperti ada sesuatu dan juga Adrian mendengar suara orang menangis. Tak salah lagi jangan-jangan terjadi sesuatu pikir Adrian. Arka di belakang yang hanya bisa melihat ekspresi sang kakak ipar hanya bisa menebak-nebak dan menggelengkan kepala nya sendiri berharap tebakannya salah.
"Kita sampai mana ini pak? Masih lama gak sampainya?" Tanya Adrian pada pak Tono. Karena tak memperhatikan jalanan jadi Adrian tak tahu sekarang sudah sampai dimana.
"Sekitar 1 jam urang kita sudah sampai rumah mas," jawab pak Tono sekilas menoleh ke arah Adrian. Yang dibalas anggukan oleh Adrian.
"Kata pak Tono sekitar satu jam kami sampai rumah Yah," jawab Adrian.
"Baiklah kalian langsung ke rumah saja tak perlu ke rumah sakit," ucap Ayah Restu.
"Kenapa Yah?" Tanya Adrian penasaran.
"Nak, Kakek... kakek sudah pergi nak," ucap ayah Restu dengan suara yang tercekat. Seolah sulit untuk mengucapkan kata-kata itu.
"Apa maksud Ayah?" Tanya Adrian setengah berbisik berharap Arka tak mendengar ucapannya. Tapi nyatanya harapannya keliru. Justru Arka malah semakin curiga telah terjadi sesuatu dengan sang kakek. Apalagi melihat ekspresi sang kakak ipar yang berubah drastis. Meskipun hanya dari kaca spion di mobil bagian tengah tapi terlihat jelsa ekspresi Adrian berubah dan dengan sengaja mengurangi volume suaranya semakin nembuat Arka berfikir negatif. Meskipun hatinya terus saja menolak fikiran itu.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun" gumam Adrian karena tak mau Arka mendengar sebelum dia memberi tahunya sendiri dengan hati-hati. Yang kemudian malah termenung bingung memikirkan cara menyampaikan pada adik iparnya itu.
"Nak," panggil Ayah saat Adrian tak meresponnya setelah terdengar gumaman Adrian mengucap Innalillahi wainnailaihi rojiun.
"Eh, iya Yah," jawab Adrian.
"Apa yang harus Adri lakukan Yah?" Tanya Adrian hati-hati.
"Sampaikan pada Arka dengan hati-hati nak, kalau perlu kalian turun dulu biar Auli tak mendengar ucapanmu, lebih baik adikmu tahu nanti setelah di rumah," ucap Ayah menyarankan pada putra sulungnya.
"Auli lagi tidur Yah," ucap Adrian memberi thau sang Ayah.
"Baguslah, lebih baik segera sampaikan pada Arka, dia berhak tahu nak," ucap Ayah Restu.
__ADS_1
"Ya sudah Ayah tutup dulu telponnya, Assalamualaikum," ucap Ayah sebelun menutup sambungan telponnya.
"Iya Yah, Waalaikumsalam," jawab Adrian.
"Ada apa kak?" Tanya Arka begitu Adrian selesai bertelpon.
"Auli masih tidur Ar?" Bukannya menjawab rasa penasaran adik iparnya, Adrian justru mengajukan pertanyaan lain yang membuat Arka mendengus kesal tapi tak urung menjawab jua pertanyaan sang kakak ipar.
"Iya masih kak," jawab Arka.
"Ya sudah," jawab Adrian singkat. Laki-laki itu dengan cepat memutar badannya menghadap ke depan lagi setelah mendapat jawaban sang adik ipar. Dia bingung harus bagaimana cara menyampaikan kabar duka ini kepada adik iparnya itu.
"Kak," panggil Arka ragu.
"Hemmm," jawab Adrian dengan deheman.
"Apapun itu Ar siap mendengarnya kak," ucapan Arka yang seolah bisa menebak berita yang baru saja disampaikan oleh Ayah Restu membuat Adrian kembali memutar badannya untuk melihat Arka.
"Maafkan kakak Ar," lirih Adrian menatap Arka.
"Tadi Ayah telpon mengabari kalau kakek meninggal, maaf Ar, kakak harus menyampaikan ini," ucap Adrian merasa tak enak hati pada adik iparnya.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun" Arka hanya mampu mengucapkan kalimat itu. Dalam hatinya terasa campur aduk. Bayangan sang kakek saat dirinya dan Aulia pamit untuk berangkat ke puncak berputar-putar di kepalanya. Tak ada yang menduga bahwa pesan-pesan yang disampaikan sang kakek terhadapnya adalah pesan terakhir kakek tercintanya.
Air mata Arka luruh begitu saja. Sesaat dia terhanyut dalam lamunan tentang kenangan bersama sang kakek hingga remaja yang telah menjadi suami itu merasakan pergerakan di pangkuannya. Seketika fikirannya yang melayang bersama kenangan sang kakek terhentak kaget dan kembali ke alam sadarnya. Pergerakan dari Aulia yang nampak gelisah dalam tidurnya, serta suara gadisnya mengigau itu membuatnya tersadar dan khawatir.
○●●●○
Bersambung.....
__ADS_1