KOMITMEN CINTA dalam PERJODOHAN

KOMITMEN CINTA dalam PERJODOHAN
Eps.120. Gagal


__ADS_3

"Gimana? Mau bantuin Mas melanjutkan misinya?" Tanya Arka yang membuat pipi Aulia merona seketika begitupun detak jantungnya yang sudah tak terkendali lagi. Apalagi posisi mereka yang begitu dekat membuatnya tak bisa berkutik.


"Kok diem Sayang," ucap Arka yang semakin mendekatkan wajahnya. Jemarinya pun telah menyentuh pipi sang istri yang telah merona sejak tadi.


"Eh," ucap Aulia terkaget dengan aksi sang suami.


"Mau ya Sayang, lagian sebentar lagi kamu udah mau lulus," lanjut Arka yang semakin membuat sang istri semakin tegang.


"Tapi Mas, ehpm...," belum selesai bicara bibir mungil gadis yang sudah berstatus sebagai istri itu langsung dibungkan oleh sang suami dengan bibirnya. Awalnya hanya menempel namun kemudian menjadi lebih dari sekedar nempel.


Begitu dirasa sang istri kesulitan bernafas, Arka segera melepaskan pagutannya. Menatap lekat manik mata sang istri yang berada dekat di bawahnya.


"Gimana Sayang?" Tanya Arka meminta persetujuan sang istri. Dengan perasaan tak karuan gadis itu pun menganggukkan kepalanya. Entah sadar atau tidak hal itu dianggap oleh Arka sebagai jawaban kalau sang istri menyetujuinya.


Lagi Arka mendekatkan bibirnya pada bibir sang istri. Baru menempel.


Tok tok tok! Suara ketukan pintu mengacaukan semuanya. Arka memdengus kesal. Sementara Aulia, gadis itu terhentak kaget menyadari apa yang akan terjadi. Huh lega pikirnya, karena merasa belum siap dengan apa yang akan terjadi beberapa detik yang lalu. Sekelebat bayangan lewat, gadis itu teringat saat ia mengangguk memberi jawaban atas pertanyaan sang suami beberapa menit yang lalu. Malu rasanya, bahkan sekarang pipinya terasa panas. Sudah bisa dipastikan pasti pipinya saat ini merona.


Tok tok tok


"Arka, Aulia," terdengar suara sang Mama di luar kamar.


"Iya Ma, sebentar," jawab Arka masih belum beranjak dari posisi semula. Masih di samping sang istri namun begitu dekat.


"Sebantar ya Sayang,cup," ucap Arka mencium sekilasa bibir mungil sang istri lalu beranjak berdiri menuju ke pintu.


"Ada apa Ma?" Tanyanya begitu pintu telah di buka dan mendapati sang Mama masih setia menunggunya.


"Papa mau bicara sama kamu Sayang, sekarang ya, sudah di tunggu di ruang kerja Papa," ucap Mama Rita pada sang putra.


"Iya Ma, bentar ya, Ar pamit Auli dulu,"jawab Arka.


"Iya, jangan lama-lama ya," ucap Mama Rita kemudian berlalu meninggalkan sang putra.


"Iya Ma," jawab Arka lalu menutup pintu kamar dan mendekati sang istri yang masih menunggunya di tempat tidur.


"Ada apa Mas?" Tanya Aulia begitu sang suami mendekat.


"Kata Mama ada yang mau Papa bicarakan sama Mas," jawab Arka duduk di samping sang istri yang sudah duduk bersandarkan kapala tempat tidur.


"Sayang, maafin Mas ya," lanjutnya menggantung.

__ADS_1


"Maaf untuk apa Mas?" Tanya Aulia bingung.


"Misi kita gagal," jawab Arka teelihat sekali raut wajahnya kecewa.


"Papa udah nungguin di ruang kerja," lanjutnya memelas.


"Iya Mas, yang sabar ya, masih ada banyak waktu kok," jawab Aulia tersenyum.


"Ya udah sana temuin Papa dulu, jangan biarkan Papa terlalu lama menunggu, gak enak Mas," lanjut Aulia.


"Iya, ya udah Mas tinggal ya, kamu bobo aja duluan gak usah nungguin Mas," ucap Arka kemudian mencium kening sang istri.


"Good night Sayang," lanjutnya tak rela begitu saja Arka kembali mengecup sekilas bibir sang istri kemudian beranjak dari duduknya untuk segera menuju ke ruang kerja sang Papa.


"Good night Mas," jawab Aulia jawab Aulia tersenyum.


"Alhamdulillah aku masih selamat tanpa harus menolak," gumam Aulia setelah sang suami keluar dari kamar dan menutup kembali pintu kamar mereka.


"Tapi kasihan juga Mas Arka kelihatan banget kecewanya, ah ya sudah lah yang penting bukan karena aku tolak, lebih baik sekarang aku bobo aja, sebelum dia kembali," lanjut Aulia masih bergumam sembari menarik selimut untuk menutupi badannnya sampai ke leher. Tak lama Aulia pun terlelap dalam mimpi indahnya.


Sementara Arka di ruang kerja sang Papa.


Tok tok. Belum sempat sang Papa menjawab terdwngar ketukan pintu dari luar.


"Masuk aja Ma," ucap sang Papa yang tahu kalau itu sang istri yang tadi pamit ke dapur mau membuat minum untuk mereka.


"Diminun kopinya Pa," ucap Mama Rita.


"Makasih Ma," jawab Papa Tara tersenyum.


"Kamu coklat panas aja ya Sayang," ucap sang Mama sembari meletakkan secangkir coklat panas di depan sang putra.


"Iya, makasih Ma," jawab Arka tersenyum.


Setelah meletakkan minuman di depan kedua pria kesayangannya Mama Rita pun duduk di samping sang putra. Karena saat ini Papa Tara duduk si single sofa.


"Gak usah tegang Nak, Papa bukan mau marahin kamu," ucap sang Papa yang melihat raut muka putranya begitu tegang seperti mau di sidang saja.


"Iya Pa, sebenarnya ada apa Pa?" Arka mengulangi pertanyaannya tadi.


"Begini Nak, ini soal masa depan rumah tangga kalian," ucap Papa Tara menjeda kalimatnya. Namun Arka hanya diam sembari memperhatikan sang Papa, masih menunggu sang Papa melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Bukan maksud Papa mau ikut campur urusan rumah tangga kalian, tapi sebagai orang tua Papa sama Mama hanya ingin yang terbaik buat kalian," ucap Papa Tara masih muter-muter.


"Sebaiknya kalian bicarakan berdua soal momongan, maksud Papa, apakah kalian akan menunda atau tidak, Tapi saran Papa dan Mama sebaiknya jangan ditunda, jadi sedikasihnya saja yang penting jangan ditunda," ucap Papa langsung ke pokok permasalahan.


"Iya Sayang, kalian harus mulai membicarakan hal ini, mengingat kalian masih muda, pasti masih ingin menikmati masa muda kalian tanpa gangguan anak, tapi Mama harap kalian sudah siap jika memang kalian akan diberi rejeki secepatnya," sambung Mama Rita.


"Iya Ma Pa, kalian gak usah khawatir, kami sudah membicarakan masalah ini kok, dan kami siap kalau memang kami akan diberi rejeki momongan secepatnya, tapi kalaupun belum ya memang kita harus sabar," jawab Arka tenang.


"Baguslah kalau begitu, Papa bangga sama kalian, semoga kalian diberikan yang terbaik oleh Allah," ucap Papa Tara mendo'akan.


"Aamiin," jawab Mama Rita bersamaan dengan Arka.


"Ya sudah Papa sama Mama cuma mau bahas ini saja, tapi gak enak kalau ada istrimu, takutnya dia tertejan dan merasa kami menuntutnya untuk segera hamil," ucap Mama Rita.


"Kalau nanti ditanya istrimu, kamu jawab saja Papa membicarakan soal kerjaan, jangan buat istrimu memikirkan hal ini Sayang, biarkan dia menikmati masa mudanya meskipun tak bisa sebebas mereka yang belum menikah," lanjut Mama Rita.


"Iya Ma Pa, Arka mengerti, selama ini juga Arka tak pernah mengekangnya, tapi justru dia sendiri yang tahu batasan-batasannya dalam bergaul, sepertinya Bunda dan Ayah sudah menasihatinya sebelum kami menikah," jawab Arka tersenyum membuat kedua orang tuanya merasa lega.


"Jangan lupa segera jadikan dia istrimu seutuhnya Nak, paling gak ya setelah resepsi lah, jangan nunggu lama-lama" goda Papa Tara pada sang putra.


"Ish Papa, gara-gara Mama panggil diauruh ke sini, jadinya Arka gagal tadi, ups," ucap Arka secepatnya menutup mulutnya karena keceplosan.


"Lih kok Mama sih, Mama kan cuma di mintai tolong sama Papa Ar," ucap Mama tak terima.


"Ha ha sudah-sudah sana kamu kembali ke kamar, dilanjut lagi yang tadi, ha ha," ucap Papa Tara terkekeh melihat ekspresi sang putra sang salah tingkah setelah keceplosan.


"Papa apaan sih, udah ah, Arka mau ke kamar," ucap Arka segera berdiri.


"Udah gak sabar tuh Ma, ha ha," goda Papa Tara masih terkekeh.


"Udah Pa, jangan digodain anaknya, nanti ngambek gak mau bikinin kita cucu lo," ucap Mama Rita yang ternyata ikut menggoda sang putra yang pipinya sudah memerah menahan malu.


"Ish Mama sama aja sama Papa, kirain mau belain," ucap Arka kemudian keluar dari ruang kerja sang Papa. Yang diiringi gelak tawa kedua orang tuanya.


○●●●○


Bersambung.....


⚘⚘⚘⚘⚘⚘


@rahmahpratiwi85

__ADS_1


__ADS_2