KOMITMEN CINTA dalam PERJODOHAN

KOMITMEN CINTA dalam PERJODOHAN
Eps.86. Firasat Aulia


__ADS_3

"Innalillahi wainnailaihi rojiun" Arka hanya mampu mengucapkan kalimat itu. Dalam hatinya terasa campur aduk. Bayangan sang kakek saat dirinya dan Aulia pamit untuk berangkat ke puncak berputar-putar di kepalanya. Tak ada yang menduga bahwa pesan-pesan yang disampaikan sang kakek terhadapnya adalah pesan terakhir kakek tercintanya.


Air mata Arka luruh begitu saja. Sesaat dia terhanyut dalam lamunan tentang kenangan bersama sang kakek hingga remaja yang telah menjadi suami itu merasakan pergerakan di pangkuannya. Seketika fikirannya yang melayang bersama kenangan sang kakek terhentak kaget dan kembali ke alam sadarnya. Pergerakan dari Aulia yang nampak gelisah dalam tidurnya, serta igauan gadisnya itu membuatnya tersadar dan khawatir.


"Jangan pergi kek."


"Auli mohon kek."


"Tolong."


"Jangan." Mendengar Aulia mengigau membuat Arka tersadar dari lamunannya dan seketika panik.


"Sayang, bangun, Sayang ini kakak, bangun Yang," ucap Arka dengan suara bergetar mencoba membangunkan sang istri.


"Dek, dek, bangun dek, bangun ini kak Adri," Adrian yang mendengar Aulia mengigau serta suara Arka yang tiba-tiba panik pun langsnung berbalik dan ikut menenangkan sang adik.


Bahkan pak Tono tanpa diminta pun mencoba mencari tempat untuk berhenti. Dan setelah mendapat tempat yang aman mobil pun berhenti. Kemudian dengan segera pak Tono membuka jendela mobil agar udara segar dapat masuk.


"Oles pakai ini mas," ucap pak Tono setelah mengambil minyak kayu putih dan menyerahkan pada Adrian.


"Makasih pak," jawab Adrian kemudian mencoba mengoleskan pada kening Aulia dan menempelkan ujung boto minyak kayu putih yang sudah dibuka tutupnya ke depan hidung Aulia.


"Sayang kakak mohon bangunlah," ucap Arka menepuk-nepuk lembut pipi Aulia.


"Kakeeeek," jerit Aulia yang kemudian gadis itu tersadar dari mimpi buruknya hingga terbawa nangis. Dengan nafas terengah-engah Aulia langsung bangun dan memeluk Arka.


"Kak kakek kak, kakeeek," ucap Aulia dalam pelukan Arka dengan suara yang sudah serak.


"Sayang tenang, istigfar Sayang, sebentar lagi kita sampai rumah," ucap Arka mencoba menenangkan sang istri dengan mengelus lembut punggung gadisnya.

__ADS_1


"Kakek kak," lagi-lagi hanya kata kakek kakek terus yang keluar dari bibir gadis itu.


"Dek minum dulu ya," ucap Arka sembari membelai lemut kepala sang adik dan memegang satu botol air mineral lalu menyerahkan kepada Arka.


"Minum dulu ya Sayang," sambung Arka sembari melepaskan pelukan sang istri. Kemudian mengambil air mineral dari tangan Adrian lalu membantu Aulia untuk minum.


"Udah," lirih Aulia setelah meminum sedikit air mineral.


"Istigfar ya Sayang," lanjut Arka mengelus lembut punggung Aulia setelah mengembalikan botol air mineral pada Adrian.


"Astagfirullahhaladzim," ucap Aulia sembari menghela nafas perlahan.


"Udah tenang dek?" Tanya Adrian yang diangguki oleh Aulia.


"Kak, Pulang," rengek Aulia menatap sang suami.


"Iya Sayang, sebentar lagi kita sampai," ucap Arka.


"Baik mas," ucap pak Tono dengan lembut yang merasakan aura berduka yang sangat mencekam di dalam mobil yang mereka kendarai. Pak Tono kembali menutup jendela kaca pada mobil kemudian menjalankan mobilnga membelah jalanan yang sudah mulai sepi. Karena memang sudah tengah malam.


Adrian diam-diam memberi kabar kepada Ayah Restu tentang mimpi buruk Aulia. Bukan bermaksud membuat khawatir orang rumah. Tapi maksud Adrian adalah agar kedua orang tuanya itu bisa mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan buruk yang akan terjadi pada Aulia setelah mereka sampai di rumah.


Di sepanjang jalan Arka terus mendekap sang istri. Mencoba memberikan kenyamanan. Mengucapkan kata-kata penenang agar gadisnya itu tak hayut dalam lamunannya yang bisa membuatnya bersedih lagi.


Bahkan Arka sendiri menutupi keterpurukannya sepeninggal kakek tercintanya. Kalau dia lemah, siapa yang akan menguatkan istrinya. Arka sadar hubungan antara istri dengan kakeknya bukan hanya sekedar cucu menantu. Melainkan Aulia sudah seperti cucu kandung kakek Wisnu sendiri. Bahkan sejak kecil menurut Aulia, kakek Wisnu adalah kakek satu-satunya yang dimilikinya. Karena kedua kakek nenek dari orang tua Aulia sudah meninggal jauh sebelum gadis itu lahir di dunia.


"Kakek kak, Auli gak mau ditinggal kakek," litih Aulia dalam dekapan sang suami.


"Sabar Sayang, lebih baik kita do'akan yang terbaik buat kakek ya," bujuk Arka yang belum berani mengatakan terus terang pada sang istri.

__ADS_1


Bahkan setelah bertanya tanpa suara pada kakak iparnya pun kakak iparnya itu menggelengkan kepala. Sebagai jawaban untuk tidak mengatakan dulu melihat kondisi Aulia saat ini. Akhirnya Arka pun menuruti saja. Meakipun dalam benaknya ada ketakutan lebih akan reaksi sang istri saat sampai di rumah nanti.


"Kak, Auli takut," lirih gadis itu semakin mengeratkan pelukan pada suaminya.


"Tenang Sayang, ada kakak di sini Yang, jangan takut ya, ceritalah sama kakak tadi Auli mimpi apa, hmm?" Lembut Arka mencoba bertanya aka mimpi buruk yang mengganggu tidur sang istri.


"Ka kek kak...," ucap Aulia terbata-bata.


"Kakek kenapa Sayang?" Tanya Arka sembari menyibakkan rambut Aulia yang menutupi muka gadis itu. Aulia pun merwgangkan pelukannya dan menatap Arka. Arka pun memberikan senyumannya agar gadisnya itu bisa nyaman bercerita.


"Tadi Auli di taman sama kakek, hik hik... terus tiba-tiba kakek bilang mau pergi, hik hik, pas Auli tinggal noleh sebentar ternyata kakek udah hilang kak, hik hik kakek ninggalin Auli kak, Auli panggil-panggil tapi kakeknya gak ada, hik hik huwaaa," meskipun terisak-isak Aulia berusaha menceritakan pada Arka, bahkan Adrian pun juga menoleh ikut menyimak cerita Aulia. Tapi setelah cerita justru gadis itu makin menangis.


Begitupun pak Tono, tanpa terasa air matanya menentes namun dengan segera dihapus. Karena menyadari saat ini dirinya sedang mengendarai dan tak mau membahayakan cucu-cucu dari kakek Wisnu yang telah berbaik hati memperkerjakan dirinya sekaligus istrinya. Bahkan anaknya pun di bantu biaya sekolahnya oleh kakek Wisnu.


"Sayang tenang ya, istigfar Yang," ucap Arka pada sang istri yang kembali dalam dekapannya.


"Dek, istigfar dek, kasihan kakek kalau kamu gini terus," ucap Adrian mencoba menengkan adiknya.


"Astagfirullah haladzim," ucap Aulia tersengal-sengal akibat isakan tangisnya.


"Sabar Yang, semua akan baik-baik saja," ucap Arka.


"Tapi firasat Auli kalau kakek gak baik-baik saja kak, hik hik," jawab Auli ditengah isakannya.


"Sabar dek, tenangin hati kamu ya," bujuk Adrian dari tempat duduknya.


"Tapi kak, kakak ingat kan, dulu Auli pernah mimpi buruk soal kakek, waktu itu lama sekali kakek gak pernah berkunjung ke rumah kita, tapi setiap Auli tanya pasti kalian bilang kalau kakek sedang sibuk, tapi kenyataannya kakek sedang sakit, dan kalian menyembunyikannya dari Auli, hik hik," jawab Aulia mengingat kejadian bertahun-tahun lalu saat dirinya masih kecil.


○●●●○

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2