
Tak terasa jam begitu cepat berlalu hingga saatnya jam pelajaran terakhir pun berakhir. Begitu memdengar bel jam pulang semua kelas nampak gaduh, heboh karena merasa senang juga lega jam palajaran yang berakhir dan menyisakan lelah. Setelah guru yang mengajar keluar kelas semua murid pun berbondong-bondong meninggalkan kelas. Bahkan di depan pintu tak jarang ada yang berebut untuk lebih dulu keluar.
Sama hal nya dengan yang lain, kini Aulia juga ketiga sahabatnya pun segera keluqr kelas. Karena kebetulan Ninda dan Mita menjadi anggota OSIS juga Sari yang menjadi anggota PMR yang terpilih segera menyiapkan diri hendak mengikuti rapat yang diadakan sore ini. Namun sebelumnya Aulia mengajak ketiga sahabatnya itu untuk mengambil kue yang dibuatnya tadi pagi di dalam mobil Arka.
Setelah mengambil kue itu, keempat gadis itu segera menuju ke ruang OSIS karena tak mau terlambat dan membuat yang lain menunggunya.
"Assalamualaikum," keempat gadis itu dengan kompaknya mengucap salam begitu sampai di depan pintu ruang OSIS.
"Waalaikumsalam," jawab yang sudah ada di dalam ruangan sambil menoleh ke arah keempat gadis yang tak lain adalah Aulia dan sahabatnya.
"Maaf kak, kami telat,"ucap Aulia mewakili sahabatnya.
"Belum dimulai kok, jadi belum telat," jawab Dewa yang kebetulan duduk di dekat pintu karena tempat duduk yang biasanya di samping Arka akan dipakai oleh Aulia sebagai ketua PMR.
"Udah Yang gak usah sungkan gitu, langsung taroh diatas meja aja kuenya, trus kamu duduk di sini" ucap Arka kemudian saat menyadari bahwa gadisnya itu terlihat bingung sambik menunjuk kursi kosong disebelahnya.
"Iya kak," jawab Aulia kemudian meletakkan kue yang dibawanya di atas meja kemudian di susul oleh ketiga sahabatnya yang masing-masing juga membantu membawakan kue bikinan Aulia dan juga satu dus air mineral kemasan gelas.
"Aku tahu kalian pasti lapar, itu kalian makan dulu kuenya sebelum kita mulai rapat kali ini," ucap Arka mempersilakan teman-temannya untuk menikmati kuenya.
"Santai aja gays, kuenya gak beracun kok," ucap Dewa memulai mengambil satu potong kemudian menggeser kepada Vitria yang duduk di sebelahnya yang ikut mengambil satu potong dan melanjutkan menggeser agar teman yang lainnya pun mengambil.
"Makasih Ar, kamu emang pengertian."
"Wah lumayan buat ganjal perut nih."
"Kayaknya enak deh kuenya."
"Cukup gak kuenya buat semua?"
Celetukan dari teman-temannya membuat Arka tersenyum.
"Jangan berebut oi." Ucap salah satu yang belum mengambil.
"Santai aja kebagian semua kok."
"Gak usah sewot, tadi aja jaim giliran sekarang takut gak kebagian, haha" cibir Dewa pada temannya.
__ADS_1
Nampak semua sudah mengambil lalu memakan kue dan tak lupa juga minum air mineral. Begitu pun dengan Arka dan Aulia. Bahkan masih ada beberapa potong kue yang masih tersisa di tempatnya. Setelah selesai mengganjal perut mereka dengan kue. Nampak raut muka semangat dari semua yang hadir.
"Itu masih ada loh kalau ada yang mau nambah," ucap Arka.
"Tino tuh, tadi takut gak kebagian," celetuk Dewa.
"Bilang aja kamu juga mau Wa," ucap Tino sambil mengambil satu potong lagi yang membuat teman-temannya terkekeh.
"Kalau aku ma gampang kapan-kapan bisa minta dibikinin sama Auli, ya kan dek?" Ucap Dewa meminta persetujuan Aulia.
"Iya kak," jawab Aulia.
"Enak aja, gak gak boleh, suruh tu Vitria yang bikin," ucap Arka tak menyetujui pendapat Dewa.
"Ya ampun Ar, pelit banget sih!" Protes Dewa.
"Bukan pelit ya, tapi aku gak mau Auli kecapekan," kata Arka.
"Dasar bucin, iya udah nanti aku aja yang bikinin beib, tar aku minta diajarin Auli, mau kan dek?"ucap Vitria.
"Sama aja ujung-ujungnya Auli yang bikin, kamu aja goreng telur gosong," cibir Arka membuat yang lain terkekeh mendengarnya membuat Vitria berdecak kesal.
"Udah beib, gak usah didengerin si Arka, besuk kalau mau kue lagi kita ke toko bunda aja ya, pasti rasanya sama," ucap Dewa menghibur kekasihnya.
"Enak aja, mau ngapain ke toko bunda, jangan bilang mau malak bunda," sewot Arka heran melihat kedua sahabatnya itu yang selalu mengambil kesempatan.
"Stop kok kalian jadi kaya anak kecil gini sih, lihat tuh yang lain pada nungguin, kalau gak jadi rapat mending pulang aja, gak penting banget sih," ucap Vitria melerai pertengkaran gak berfaedah antara kekasih dengan sahabatnya itu.
"Ya maaf," lirih kedua pria itu kompak.
"Ehm bentar tadi Dewa bilang kuenya yang bikin Aulia, bener ya?" Tanya Tino setelah memakan kue yang ketiga.
"Iya yang bikin saya kak, gak enak ya?" Tanya Aulia takut kalau kue bikinannya kali ini memang gak enak.
"Bukan bukan gak enak, enak banget malah," ucap Tino.
"Gak percaya sama aku ya? Kalau gak percaya aku ambil lagi deh buat bukti kalau enak," lanjut Tino yang hendak mengambil lagi. Tapi langsung di tarik sama temannya.
__ADS_1
"Enak sih enak Ton, tapi masak iya kamu mau habisin 4 potong sih," celetuk Rama yang menggeser tempat kue saat Toni hendak mengambil lagi. Dan ucapannya sontak membuat semua mata memandang ke arah Toni kemudian kompak mereka menertawakan saat melihat elspresi Toni yang malu malu tapi malu maluin juga. Karena dengan tubuhnya yang cungkring tapi perutnya bisa menampung makanan banyak.
"Apa? Toni udah makan 3 dong?" Tanya temannya yang lain.
"He he iya, habis enak sih," ucap Toni cengengesan malu ketahuan diam-diam makan saat terjadi perdebatan tak berfaedah antara Arka dan Dewa tadi.
"Ya udah gapapa Ton, nanti kalau gak ada yang makan lagi sisanya kamu bawa pulang aja," ucap Arka.
"Dengan senang hati Ar,he he," jawab Toni masih cengengesan.
"Yakin tuh kue kamu yang bikin dek?" Tanya salah satu anggota OSIS yang ternyata teman sekelas Arka.
"Iya kak," jawab Aulia mengangguk.
"Kok aku gak yakin ya, soalnya rasanya tuh sama banget sama toko kue langgananku," jawab gadis itu yang ternyata bernama Nina.
"Toko kue langganan kakak "Bunda Cake & Bakery" bukan?" Tanya Aulia memastikan.
"Iya, kok kok kamu tahu?" Tanya Nina yang masih penasaran.
"Udah bilang aja kamu beli di toko itu, susah amat sih," sewot Sita sebel saat menyadari ternyata Aulia dan Arka bukanlah kakak adik melainkan pasangan kekasih setelah mendengar ucapan Dewa tadi dan juga dia langsung bisik-bisik mencari tahu dari teman yang lain.
"Sewot amat sih gak tahu apa-apa juga,"celetuk Vitria yang tak suka mendengar ucapan Sita.
"Asal kamu tahu aja ya, Aulia itu bukan beli, justru dia yang buat kue di toko kue itu, orang itu toko milik bundanya Auli,"Ucap Vitria bangga.
"Oh jadi bunda tuh bundanya kamu ya dik, pantesan mirip banget, trus aku juga kaya ngerasa gak asing pas liat kamu," ucap Nina.
"Iya kak, aku anaknya bunda," jawab Aulia sambil tersenyum. Sementara Sita makin menatap Aulia dengan tatapan tak suka.
"Ya udah Ar, dimulai aja," ucap Dewa meminta Arka untuk segera memulai acaranya.
"Ok siap," ucap Arka mengacungkam jempolnya. Lalu mengucap salam untuk membuka acara yang di langsung dijawab serentak oleh semua yang hadir.
"Ya udah maaf atas kejadian tadi, saya jadi mengulur jam pulang teman-teman semua, baiklah sekarang kita mulai saja rapat kali ini buat membahas soal makrab yang akan diadakan hari sabtu besuk....." Ucap Arka panjang lebar mulai membahas soal makrab dan juga sesekali ada beberapa usulan juga ide-ide dari teman-temannya yang ditampung dan akan di putuskan juga usulan mana yang dipakai dan tidak sesuai kesepakatan bersama.
Hingga tak terasa jam setengah lima sore hari pun tiba. Karena keputusan rapat sudah final. Arka segera menutup rapat kali ini dan membubarkan seluruh anggota yang hadir. Dan tak lupa juga ternyata kue yang dibawa oleh Aulia pun masih sisa beberapa potong. Sesuai ucapan Arka tadi bahwa kue otu bisa di bawa pulang oleh Toni. Dengan semangat, Toni segera memasukkan kue itu ke dalam plastik lalu di bawanya pulang. Tak lupa Toni mengucapkan terima kasih pada Aulia dan juga Arka.
__ADS_1
○●●●○
Bersambung.....