
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Saat ini tepat hari sabtu pagi. Hari dimana Aulia juga Arka harus pergi mengikuti acara Makrab yang diadakan oleh sekolah yang ditujukan untuk siswa dan sisiwi baru SMA Kebangsaan. Sementara Aulia harus ikut karena dia yang bertanggung ja2ab s3bagai PMR. Sementara Arka, sudah jelas sebagai ketua OSIS sudah kewajibannya untuk ikut serta dalam acara yang tanggung jawabnya di bebankan di pundaknya.
Saat ini nampak keduanya sedang sibuk mengecek isi tas masing-masing dengan melihat pada catatan di buku kecil milik Aulia. Karena Aulia sudah mencatat semua kebutuhannya sebelum mereka semalam melakukan packing, sehingga mereka tinggal mengeceknya saja takuynya kalau ada barang yang terlewat. Namun sepertinya semua aman, tak ada satu barang oun yang tertinggal.
"Siap Yang?" Tanya Arka saat keduanya selesai mengecek isi tas mereka.
"Siap kak," jawab gadis itu semangat sambil mengangguk.
"Turun yuk kita sarapan dulu, tas kamu tinggal aja nanti kakak yang ambil lagi," ajak Arka.
"Gapapa kak Auli bawa sendiri aja tasnya," jawab Aulia meyakinkan.
"Sayang, nurut ya!" Ucap Arka tak mau ada penolakan.
"Iya baik kak, Aulia bawa yang ini aja," jawab gadis itu sambil memakai tas selempangnya juga membawa tas jinjing berisi beberapa snack juga minuman dalam botol.
"Nah gitu dong," ucao Arka tersenyum sambil mengusap-isap rambut gadisnya, lebih tepatnya mengacak-acak yang membuat si empunya ramput segera protes.
"Kak rambut aku berantakan, kebiasaan deh!" Protes Aulia kemudian kembali merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat ulah Arka.
"Tetap cantik kok biarpun berantakan juga," ucap Arka berlalu meninggalkan gadis itu dengan muka yang sudah merona mendapat pujian dari sang kekasih hati.
"Ish kebiasaan deh," dengusnya kemudian menyusul Arka keluar kamar.
Begitu sampai di bawah, Aulia segera menuju mobil dimana Arka pun sedang ada di sana untuk memasukkan tas ransel miliknya tadi. Setelahnya ia lebih memilih memanasi mesin mobil seklai sebelum ke kamar lagi buat mengambil tas ransel milik istrinya.
"Yang kamu tunggu sini dulu ya, kakak mau ambil tas kamu ke kamar," pinta Arka pada Aulia yang di jawab dengan anggukan oleh gadisnya itu.
Tak lama Arka pun keluar dengan membawa tas ransel. Lalu mematikan mesin mobil kemudian mengajak gadisnya untuk segera sarapan.
"Sarapan dulu yuk," ajaknya yang diangguki oleh Aulia.
"Pagi ma, pa," sapa Aulia juga Arka yang mendapati kedua orang tuanya telah menunggu di meja makan.
__ADS_1
"Ma, maaf ya Auli gak bisa bantu mama masak tadi,"ucap Aulia menyesali.
"Gapapa Sayang, udah di bantu sama bik Yah kok mama tadi, ucap mama Rita menenangkan menantunya itu.
"Oh iya, mama hampir lupa," ucap mama Rita sambil menepuk keningnya, lalu berdiri menuju ke dapur.
"Sayang, ini ada titipan dari bunda," ucap mama Rita begitu keluar dari dapur dengan membawa tas dengan label toko kue sang bunda.
"Kue ya ma?" Tanya Aulia.
"Iya, kue kesukaan kamu sama kak Arka,"ucap mama Rita lagi.
"Trus bundanya mana ma? Kok gak nungguin Auli sih?" tanya Aulia sedih.
"Bunda emang gak ke sini Sayang, tadi pak Tono yang ambil kuenya ke rumah," jawab mama Rita.
"Kok bunda gak ke sini sih, kan tqhu kalau hari ini Auli mau pergi beberapa hari," ucap gadis itu lesu. Papa Tara yang melihatnya ikutan sedih. Sedangkan mama Rita tak tahu harus bicara apa lagi untuk menghibur menantunya yang tiba-tiba sensitif.
"Sayang udah dong sedihnya, kan kemarin kita udah ke rumah bunda," ucap Arka mencoba menghibur Aulia.
"Iya bunda gak ke sini aja kamu udah sedih, gimana bunda ke sini, pasti nantimalah bikin kamu mewek Yang," ucap Arka bingung harus berkata apalagi yang sontak mendapat tatapan tajam dari sang mama.
"Udah ya, besuk begitu kalian pulang dari puncak, kalian kan bisa nginap di rumah bunda beberapa hari," ucap mama Rita yang berpikir pasti Aulia akan senang jika dia menginap di rumah orang tuanya.
"Bener ma, Auli boleh menginap di rumah ayah bunda?" Tanya Aulia semangat. Karrna kalau tak mengingat masih harus packing sebenarnya semalam dia ingin sekali menginap di rumah orang tuanya saat memberi tahu kalau mulai hari ini dia dan Arka akan ada acara sekolah dan harus menginap.
"Boleh dong Sayang, masak gak boleh sih," ucapmama Rita yang membuata gadis itu langsung memeluknya.
"Eh pagi-pagi kok ada yang peluk-pelukan sih, sini kakek juga mau di peluk," ucap kakek yang baru saja datang bergabung untuk sarapan bersama.
Segera kedua wanita yang sedang berpelukan itupun melepaskan pelukannya lalu melihat sang kakek yang menghampiri keduanya. Tanpa pikir panjang kedua wanita beda usia itupun merentangkan tangannya untuk menyambut sang kakek ke dalam pelukan mereka. Setelah mereka berpelukan cukup lama, kemudian kembali ke meja masing-masing untuk segera sarapan bersama.
Setelah selesai sarapan Aulia dan Arka pun segera pamit berangkat. Karena tak mereka tak mau terlambat sampai di sekolah, karena harus menyiapkan beberapa keperluan saat mereka di puncak. Apalagi Aulia yang bertugas bertanggung jawab untuk kebutuhan obat-obatan untuk berjaga-jaga jika nanti ada yang sakit ataupun terluka.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan mama Rita dan papa Tara, kini giliran kedua pasangan remaja itu berpamitan dengan sang kakek.
"Kek, Auli sama kakak pergi dulu ya," pamit Aulia menjabat tangan sang kakek lalu mencium ounggung tangan yang sudah keriput karena usia itu.
"Kakek pasti akan sangat merindukanmu Nak, dan pasti rasanya akan merasa kesepian tak ada kalian di rumah," ucap kakek memeluk cucu menantu kesayangannya itu.
"Kan masih ada mama sama papa kek," jawab Aulia mencoba menghibur sang kakek yang nampak tak rela melepasnya pergi meskipun untuk urusan sekolah dan juga hanya beberapa hari saja.
"Beda Sayang, dulu mama mu sering pergi menemani papamu kalau ada pekerjaan di luar kota, tapi rasanya gak seberat ini melepas kepergiannya," ucap kakek melepas pelukan dengan menantu dan cucu menantunya itu. Kemudian menatap Aulia lekat-lekat.
"Kakek Sayang sama kamu nak, kamu cucu gadis kakek satu-satunya," ucap kakek membelai lembut rambut Aulia.
"Auli juga Sayang kakek," jawab Aulia tersenyum manis saat mengucapkan kata itu.
"Udah ya kek melow-melownya, nanti kami telat lagi," ucap Arka menyudahi aksi melow antara sang kakek dengan istrinya itu.
"Kamu itu, masak sama kakek sendiri cemburu sih," ucap kakek mencoba melucu yang membuat semua terkekeh mendengarnya.
"Kek, kami berangkat dulu ya, kakek sehat-sehat di rumah ya, tunggu kami pulang," pamit Arka pada sang kakek yang juga langsung di sambut dengan pelukan hangat dari sang kakek.
"Pasti kakek akan menunggu kalian pulang, kakek tidak akan pergi kemana-mana sebelun melihat kalian pulang" jawab kakek.
"Ar, kakek titip Auli ya nak, jaga dia, bahagiakan dia, jangan pernah sekalipun membuatnya memangis, jangan buat dia kecewa, cintai dia setulus kamu mencintai kakekmu ini," ucap kakek menunjuk dirinya sendiri saat menyebut kata kakekmu ini.
"Iya kek, Ar janji akan selalu melaksanakan pesan kakek," jawab Arka
"Terima kasih nak, rukun-rukunlah kalian seperti mama papa juga ayah bunda kalian," lanjut kakek.
"Ya sudah kalian berangkatlah, kakek do'akan kalian selamat sampai nanti pulang kita bisa bertemu lagi," ucap kakek lagi lagi memeluk kedua cucunya secara bersamaan.
"Iya kek" jawab keduanya membalas peluka sang kakek.
Mama Rita dan papa Tara sampai tak tega melihat aksi sang papi hingga membuat mereka ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh sang papi. Bahkan mama Rita sampai meneteskan air mata. Entah perasaan apa ini. Kedua orang tua itu juga tak tahu. Ada sedikit rasa takut yang hinggap di hatinya. Namun segera mereka tepis perasaan itu. Kemudian keduanya mencoba tersenyum untuk melepas kepergian sang putra serta menantunya. Meskipun jauh di lubuk hatinya berat.
__ADS_1
○●●●○
Bersambung.....