KOMITMEN CINTA dalam PERJODOHAN

KOMITMEN CINTA dalam PERJODOHAN
Eps.89. Rindu Senyum Aulia


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa sudah 40 hari setelah kakek Wisnu meninggal.


Kemarin seluruh keluarga besar pergi ke makam sang Kakek. Dan tadi malam diadakam tahlilan untuk memperingati 40 hari meninggalnya sang Kakek.


Bahkan serah terima jabatan Arka sebagai ketua OSIS pun telah di laksanakan satu minggu yang lalu. Karena saat ini siswa kelas tiga harus mulai fokus untuk menghadapi UN jadi semua siswa kelas tiga sudah di bebas tugaskan dari segalam macam aktivitas selain belajar mengajar bahkan termasuk juga sudah bebas untuk tak mengikuti ekstrakulikuler.


Pagi ini seluruh keluarga Wijaya sedang sarapan bersama, berbeda dengan dulu sewaktu kakek masih ada, akhir-akhir ini setelah sepeninggal sang Kakek terasa ada yang kurang. Tapi mereka pun tak boleh terpuruk dan harus bisa segera bangkit agar suasana rumah kembali ceria seperti dulu lagi.


Setelah sarapan selesai, satu persatu anggota keluarga mulai meninggalkan meja makan. Di mulai dari Aulia yang dengan segera jembali ke kamar untuk mengambil tas yang memang sengaja di tinggal agar punya alasan untuk meninggalkan meja makan terlebih dulu.


"Ma, Pa, Kak, Auli udah selesai sarapan, Auli mau ambil tas dulu di kamar ya," pamit gadis itu.


"Tapi Sayang, kamu baru sarapan sedikit lo, memangnya gak mau nambah?" Tanya Mama Rita yang akhir-akhir ini memperhatikan bahwa selera makan menantunya itu menurun.


"Auli udah kenyang kok Ma," jawab gadis itu dengan tersenyum agar tak melukai perasaan sang Mama mertua karena telah menolak untuk menambah porsi sarapannya.


"Yasudah gapapa kalau sudah kenyang," jawab Mama Rita pun dengan tersenyum. Merasa maklum dengan kondisi sang menantu kesayangan.


"Tolong ambilin tas kakak juga ya Yang, tadi kakak juga belum bawa tasnya," ucap Arka.


"Sekarang kakak mau panasi mobil dulu," lanjutnya.


"Iya kak," jawab Aulia kemudian berlalu meninggalkan meja makan.


"Mama gak tega lihat Auli yang sekarang, Mama kangen senyum Aulia yang dulu" gumam Mama Rita yang masih bisa di dengar oleh Papa Tara dan Arka.


"Iya Ma, Papa juga rindu seyum Aulia yang dulu, senyum gadis kecil kita Ma," jawab Papa Tara lesu.


"Oh iya Ar, sebaiknya kamu fikirkan cara agar Auli bisa terhibur, ajak jalan-jalan atau kemana gitu," lanjut sang Papa.

__ADS_1


"Ar udah ajak jalan tapi Auli yang gak mau Pa,Ma," jawab Arka.


"Bahkan Ar ajak nginap di rumah bunda pun dia juga gak mau, katanya kasihan Mama harus sendirian di rumah, Ar harus gimana lagi Pa,Ma?" Tanya Arka setelah menceritakan semua rencananya yang ditolak oleh kekasih hatinya itu.


"Gimana kalau suruh kerja di caffe aja Ar, bilang aja Caffe lagi butuh tenaga, tapi kamu gak bisa karena harus fokus belajar, gimana menurut Papa?" Tanya Mama meminta pendapat.


"Iya bener apa yang dibilang Mama mu Ar, Papa yak8n kalau alasannya itu Auli pasti mau," jawab Papa mendukung ide sang istri.


"Iya juga ya Pa,Ma, dengan sibuk di caffe pasti nanti lama-lama Auli bisa lupain kesedihannya, kenapa Ar gak kefikiran ya," jawab Ar.


"Ya sudah nanti kamu pelan-pelan bilang sama Auli,"semoga saja dia mau.


"Yaudah Ma, Pa, Ar ke depan dulu mau panasi mobil, bentar lagi pasti Auli turun," ucap Arka yang langsung ngacir tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya.


"Kasihan Arka ya Pa, pasti dia juga terpukul dengab kejadian ini, tapi dia harus menunjukkan sisi tegarnya di depan istrinya," ucap Mama Rita setengah berbisik kepada sang suami berharap kalau tidak terdengar oleh siapapun kecuali sang suami.


"Kalau difikir-fikir pernikahan mereka tu gak masuk akal, lucu, aneh, tapi kok kenyataan ya Pa,"jawab Mama Rita tersenyum geli sendiri mengingat putra semata wayangnya yang masih berstatus pelajar sudah menikah dan sah menjadi seorang suami dari pitri sahabatnya sendiri.


"Ya sudahlah Ma, yang penting mereka bahagia,"ucap Papa Tara.


"Ngomong-ngomong Papa juga mau berangkat dulu Ma," sambung Papa Tara.


"Baiklah Pa," jawab Mama Rita singkat.


"Ya ampun Arka kok gak masuk lagi sih, gak kasihan apa Auli keberatan bawain tas dia," celoteh Mama Rita begitu melihat Aulia berjalan menuruni anak tangga.


"Sini biar Mama bantu Sayang," lanjutnya.


"Gak usah Ma, gak berat kok," jawab Aulia sembari tersenyun mendengar ocehan sang Mama mertua yang memaki Arka.

__ADS_1


"Gak berat apanya kamu aja jalannya sampai terseok-seok gitu," ucapa Mama Rita.


"Udah-udah biar adil biar Papa yang bawa tas Arka, mama bawa Tas Papa," sela Papa Tara sembari meraih tas Arka dari tangan Aulia.


"Udah ayo kita keluar, sebelum yang di luar marah-marah ngamuk gak jelas karena kita kelamaan di dalam, ha ha," ucap Papa Tara yang berusaha membuat guyonan namun ternyata garing.


"Kok pada diem gak ada yang ketawa, garing apa ya leluconku, eheem yasudah lah yang penting udah usaha," bathin Papa Tara yang malah membuatnya tertawa geli sendiri karena dicuekin oleh sang istri dan menantu.


"Papa kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Mama Rita yang memergoki yang suami tersenyum sendiri.


"Siapa yamg tersenyum, Mama salah lihat kali," jawab Papa Tara tak mau mengakui.


"Ih masih gak mau ngaku lagi," sewot Mama Rita.


" Pa, Ma, kami berangkat dulu ya," pamit Arka yang menghentikan Papa Tara yang mau menjawab ucapan sang istri. Kemudian menyalami dan mencium ounggung tangan kedua orang tuanya bergantian, begitupun dengan Aulia.


"Iya nak, kalian hati-hati ya, ini juga Papa mau berangkat," jawab Papa Rita.


"Ma, Papa juga langsung berangkat aja ya," pamit Papa Tara pada Mama Rita mencoba mengindari kekepoan sang istri soal senyumannya yang tiba-tiba dan kepergok oleh sang istri tadi.


"Iya Pa, Papa hati-hati juga ya," jawab Mama Rita menyalami dan mencium punggung tangan sang suami. Lalu Papa Tara mencium kening Mama Rita kemudian berlalu masuk mobil dan meninggalkan kediaman Wijaya untuk bekerja. Menyusul Arka yang sudah mendahuluinya meninggalkan rumah.


"Eh Pa..., ih pasti menghindari pertanyaan Mama tadi tu si Papa, makanya buru-bruru berangkat,awas aja nanti sore Mama tagih jawabannya," gurutu Mama Rita karena panggilannya terhadap sang Papa sudah tak di dengar begitu sang suami meninggalkan rumah, saat Mama Rita teringat sang suami yang sedang senyum-senyum sendiri tadi.


"Ah sudah lah mending Mama masuk aja," ucapnya kemudian masuk ke dalam rumah.


○●●●○


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2