
Pikiran laki-laki itu kacau hingga tak mampu untuk bertanya pada gadisnya. Arka hanya semakin mempercepat langkah kakinya dan menarik Aulia yang tangannya masih dalam genggamannya.
Begitu sampai di depan ICU. Arka segera melepaskan genggaman tangannya pada gadisnya kemudian menghambur ke arah sang mama.
"Ar, kakek hiks hiks" ucap mama Rita ditengah isak tangisnya mencoba memberi tahu putra semata wayangnya.
Arka mencoba tegar di depan sang mama. Tanpa perlu diminta Arka pun segera memeluk sang mama untuk menenangkan wanita yang telah melahirkannya itu. Meskipun mama Rita hanya seorang menantu tapi kasih sayangnya kepada kakek Wisnu sudah seperti kepada ayah kandungnya sendiri.
"Kakek kenapa ma, pa?" Tanya Arka tanpa melepas pelukannya pada sang mama yang masih saja menangis.
"Papa juga ga tahu Ar, kemungkinan Kakek terkena serangan jantung, sekarang dokter sedang merawatnya" jawab papa Tara yang juga berusaha tegar dihadapan istri dan putranya.
"Kita do'akan kakek ya, semoga cepat membaik dan sehat seperti semula" lanjut Papa Tara.
"Iya Pa, Ar pasti do'akan kakek, Ar Sayang kakek Pa" ucap Arka tanpa terasa bulir bening mengalir dari sudut matanya.
Laki-laki itu tak kuasa menahan kesedihannya. Kedekatannya dengan sang kakek mempengaruhi emosionalnya. Membuat laki-laki itu tak mampu menahan air matanya yang tanpa permisi mengalir begitu saja.
"Kenapa papa tak mengabari Ar?" Tanyanya kemudian setelah mengingat bahwa dia tahu hal ini baru beberapa menit yang lalu.
"Bunda udah kabari Auli nak, bunda juga yang minta supaya jangan kasih tahu kamu dulu sebelum sampai rumah sakit, bunda ga mau kamu ga bisa konsen nyetir" bukan sang papa yang menjawab melainkan bunda Risa lah yang mejawab, mencoba mmberi pengertian pada calon mantunya itu.
"Oh, makasih bun" jawab Arka singkat.
Kemudian menatap lekat sang kekasih hati bermaksud ingin mengucapkan terimakasih. Karena Arka tahu bagaimana perjuangan kekasihnya itu menahan tangis supaya laki-lakinya tak menaruh curiga pada Aulia.
__ADS_1
Gadis itu membalas tatapan Arka dengan senyuman seolah tahu apa yang ingin diucapkan oleh Arka. Kemudian Arka memberi kode dengan matanya meminta gadisnya mendekat. Tanpa berkata apapun Aulia segera mendekat. Kini keduanya duduk bersebalahan saling menggenggam tangan satu sama lain.
Begitupun dengan kedua pasang orang tua mereka. Seolah tak mau kalah mereka pun menggenggam tangan pasangan masing-masing. Mereka berdo'a dalam hati untuk kesembuhan sang kakek. Kakek yang sangat berjasa dengan hubungan dua keluarga semakin erat. Ya keluarga yang sedang menunggunya dengan cemas dan hanya mampu.
Tak lama pintu ruangan dimana kakek dirawat pun terbuka muncul seorang dokter dari ruangan ICU. Tanpa dikomando seluruh keluarga menghambur mendekati sang dokter.
"Bagaimana kondisi papi saya dok?" Tanya papa Tara begitu berada di depan sang dokter.
"Saya bisa jelaskan di ruangan saya, saya minta salah satu keluarga yang bertanggung jawab bisa ikut" ucap dokter itu membuat mama Rita lemas dan hendak terjatuh. Untung saja papa Tara dengan sigap menangkap istrinya. Kemudian menuntun istrinya untuk duduk di kursi yang tadi mereka duduki selama menunggu kakek.
"Ar, jaga mama ya, papa mau ke ruangan dokter dulu" ucap papa Tara tanpa menjawab pertanyaan dokter tadi. Tanpa menunggu jawaban putranya. Kemudian papa Tara mengikuti kemana langkah dokter yang merawat kakek Wisnu.
"Iya pa" Arka tetap menjawab meskipun sang papa sudah berlalu pergi mengikuti sang dokter.
Tanpa diminta pun kini bunda Risa sudah duduk disebelah kiti mama Rita dan menyandarkan kepalanya di bahunya. Tangan kirinya menggenggam tangan sahabat sekaligus calon besannya itu. Sementara tangan kanannya mengelus-elus kepalanya.
Dengan perlakuan keluarganya yang begitu sabar dan menenangkan. Kini keadaan mama Rita sudah semakin tenang dan sudah bisa mengontrol emosinya. Kelima orang yang masih di tempat yang sama itu masih menunggu kedatangan papa Tara yang berada di ruang dokter.
Di saat keadaan sunyi terdengar suara getar dari ponsel ayah Restu. Tanpa menunggu lama ayah Restu mengambil ponsel di saku jas yang diletakkan disandaran kursi. Nampak sebuah panggilan. Sebelum menganggkat ayah Restu agak menjauh dari keluarga. Setelah selesai berbicang dengan seseorang melalui benda pipihnya itu. Ayah segera kembali ke tampat semula.
"Ar, ayah ke kantor dulu ya, Kak Adrian telpon ayah, katanya ada sedikit masalah di kantor" pamit ayah setengah berbisik supaya tidak terdengar oleh mama Rita.
"Iya yah, hati-hati, kalau butuh Arka ayah langsung telpon aja ya" jawab Arka pada calon ayah mertuanya itu.
"Iya, kalau ada apa-apa jangan lupa kabari ayah ya" pesan ayah Restu sebelum berpamitan kepada ketiga wanita yang masih saling berpegangan tangan memberi kekuatan.
__ADS_1
"Bun, Rit, Aul, ayah ke kantor dulu ya, ada yang harus ayah selesaikan" pamit ayah pada ketiga wanita itu yang dijawab anggukan ketiganya.
"Ayah hati-hati ya, jangan lupa hp nya dibawa terus"jawab bunda sambil menyalami suaminya.
"Iya bun" jawab ayah singkat.
"Sayang, ayah titip bunda sama mama mu ya, kalau ada apa-apa segera kabari ayah" ucap ayah sambil mengusap kepala putri kecilnya.
"Iya yah, ayah hati-hati ya" jawab Aulia setelah mencium punggung tangan sang ayah.
Tak lama setelah kepergian ayah Restu. Nampak papa Tara berjalan menghampiri keempat orang yang masih duduk di tempat yang sama. Keempat orang itu tak lain adalah Aulia, Arka, bunda Risa juga mama Rita.
"Gimana kakek pa?" Tanya Arka yang sudah tak sabar ingin mendengar kondisi sang kakek tanpa menunggu sang papa untuk duduk terlebih dulu.
"Kakek serangan jantung" jawab papa Tara lirih.
"Selama ini papi baik-baik saja dan tak pernah mengeluh ada yang sakit, kenapa tiba-tiba papi kena serangan jantung?"jawab mama Rita heran. Karena selama ini mama selalu memperhatikan kesehatan mertuanya.
"Mungkin karena kecapekan juga banyak pikiran yang jadi penyebabnya Ma, kata dokter kelelahan dan banyak pikiran juga bisa jadi penyebabnya" terang papa Tara.
"Lalu kondisi kakek sekarang gimana Pa?" Tanya Arka
"Kakek masih belum sadar dan masih di ruang ICU, kalau mau jenguk harus ijin suster jaga dulu dan harus satu-satu ga boleh ramai-ramai, itupun harus pakai baju steril dari rumah sakit" penjelasan papa Tara.
"Baiklah pa, boleh ga kalau Ar dulu yang jenguk kakek?" Arka meminta ijin pada sang papa.
__ADS_1
○●●●○
Bersambung....