KOMITMEN CINTA dalam PERJODOHAN

KOMITMEN CINTA dalam PERJODOHAN
Eps.88. Pemakaman sang Kakek


__ADS_3

Setelah Aulia dan Arka meminum teh yangvtelah diauguhkan oleh bik Yah, Ayah dan Bunda pun berusaha menasihati agar keduanya bisa lebih tegar dan menerima kenyataan mengenai kakek mereka. Kini Aulia dan Arka pun bisa sedikit menenangkan diri dan berusaha menerima dan ikhlas bahwa sang kakek telah pergi untuk selamanya.


Tak lama dari itu terdengar suara ambulan yang sudah bisa dipastikan kalau ambulan itulah yang mengantarkan jenasah sang kakek ke rumah. Tanpa dikomando seluruh keluarga pun menghambur keluar rumah untuk menyambut jenasah sang kakek. Ayah Restu, Adrian dan Arka segera mendekat ke pintu belakang ambulan dan bersiap membantu mengangkat jenasah sang kakek untuk di bawa masuk ke dalam ruang tamu yang sudah di kosongkan kursinya.


Jenasah pun telah di semayamkan di sebuah dipan kecil untuk jenasah yang diletakkan di tengah ruang tamu. Begitu melihat sang kakek yang terbujur kaku di depannya, tiba-tiba Aulia pingsan. Kalau saja tak segera di tangkap oleh Bunda Risa dan Mama Rita yang berada di sampingnya mungkin gadis itu sudah terjatuh ke lantai.


"Astagfirullah," jerit sang Bunda dan Mama bersamaan saat reflek menangkap Aulia yang tiba-tiba pingsan. Mendengar teriakan kedua wanita itu membuat semua yang ada di itupun langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Yaaang," reflek Arka yang berada di dekat jenasah sang kakek berlari untuk membantu kedua wanita yang dihormatinya itu saat melihat kekasih hatinya tak sadarkan diri.


"Biar Ar bawa ke kamar Ma, Bun," ucap Arka tanpa menunggu persetujuan dari keduanya.


"Hati-hati nak," hanya itu yang mampu terucap oleh Bunda Risa yang mengikuti Arka di belakangnya. Dan juga diikuti oleh Mama Rita.


Setelah sampai di kamarnya, dengan hati-hati Arka segera meletakkan gadisnya itu di atas kasur. Setelah itu dengan begitu khawatirnya, Arka segera mengusap-usap tangan juga kening Aulia secara bergantian. Begitu juga dengan sang Bunda dan Mama. Mereka seperti tak bisa berfikir lalu melakukan hal sama yang dilakukan oleh Arka. Kedua Ibu itu menggosok kaki Aulia.


"Gosok pakai ini Ar, di hidungnya juga," ucap kak Arin yang menyusual masuk ke kamar Arka dan Aulia setelah mengambil minyak kayu putih milik Aura di kamar tamu yang ditempatinya. Sedangkan Bik Yah yang datang bersmaan dengannya hanya meletakkan teh hangat di atas nakas lalu keluar.


"Gini, di gosok begini sama di tempel gini biar kehirup," ucap kak Arin sembari mempraktikkan menyadari kebingungan Arka ditengah kepanikannya melihat kekaksih hatinya tak sadarkan diri.


"Oh iya Ma, di bawah ada teman mama, tadi papa Tara meminta Arin buat bilang ke Mama,"ucap Kak Arin kepada mertua adik iparnya itu.


"Baiklah Mama turun sekarang, kamu temani Mama ya Rin, biar Bunda sama Arka yang jaga Auli" ucap Mama Rita diangguki oleh Arin dan juga Bunda Risa.


"Yang, bangun Yang, tolong jangan bikin kakak khawatir,"ucap Arka yang tanpa disadari menetes bulir bening di sudut matanya.


"Bangun Yang, katanya Auli mau temani kakek, tapi kenapa malah di sini, bangun Yang, bangun," lanjutnya sembari menghapus bulir bening yang semakin deras mengalirnya.


"Sabar nak, kamu harus kuat," ucap Bunda Risa.


"Tapi Auli Bun, Ar gak mau kalau sampai Auli kenapa-napa," jawab Arka.

__ADS_1


"Auli gak akan kenapa-napa, dia cuma pingsan, percayalah, sebentar lagi juga pasti siuman," ucap Bubda mengusap lembut bahu menantunya itu.


"Turunkah nak, biar bunda yang di sini temani Auli,"lanjutnya karena Arka bisa lemah kalau harus terus-terusan khawatir akan kondisi Aulia.


"Gak Bun, Ar mau di sini sampai Auli sadar," jawabnya.


"Kaaak," lirih suara Aulia memanggilnya ketika tersadar.


"Sayang, kamu udah sadar," ucap Arka dengan senyuman lega.


"Kenapa Auli di sini kak?," lanjut gadis itu.


"Auli mau nungguin kakek kak," lanjutnya lagi.


"Minum dulu Sayaang," ucap Bunda Risa sembari mengambil teh hangat yang diantar oleh bik Yah bersamaan dengan kak Arin yang mengantar minyak kayu putih. Begitu Aulia mengangguk Arka langsung membantu gadisnnya untuk duduk bersandar di sandaran tempat tidur mereka. Lalu membantu Aulia minum.


"Auli mau nungguin Kakek ya Kak,"pintanya setelah selesai menghabiskan setengah gelas teh hangat.


"Tapi maunya sekarang," rengeknya.


"Tapi janji harus kuat ya Sayang, gak boleh pingsan lagi ya," ucap Bunda Risa.


"Iya Bun,"jawabnya sembari mengangguk.


"Emang udah kuat jalan Yang?" Tanya Arka dengan khawatirnya.


"Udah kak," jawab Aulia tersenyum mencoba meyakinkan Arka.


"Auli mohon Kak, karena ini yang terakhir kalinya kita bisa temani Kakek, Kak," rengeknya.


"Ya sudah, tapi habiskan dulu minumnya ya," bujuk Arka yang diangguki Aulia.

__ADS_1


"Ingat pesan Bunda ya, di bawah gak boleh pingsan lagi, lebih baik bacakan do'a buat kakek," nasihat Bunda yang langsung diangguki oleh Aulia.


"Iya Bun," jawabnya.


Akhirnya Bunda Risa serta Arka menyetujui keinginan Aulia untuk menemani sang kakek untuk yang terakhir kalinya di rumah ini. Sebagai bukti dari baktinya yang terakhir pada sang kakek.


Bahkan Aulia tidak mau kembali ke kamar untuk beristirahat. Kalau bukan karena di paksa oleh Arka supaya tidur di kamar meskipun sebentar sehingga besuknya bisa mengantar sang kakek ke peristirahatan yang terakhir. Akhirnya Aulia pun menuruti keinginan suaminya karena diancam tidak diizinkan ikut ke pemakaman sang Kakek.


\=\=\=\=\=


Pagi harinya seluruh keluarga besar sudah berkumpul semua. Karena Kakek Wisnu akan dimakamkan pukul 10 .00 pagi. Bahkan para pelayat pun hilir mudik bergantian, mulai dari tetangga, sahabat, kenalan juga rekan bisnis Wijaya Grup. Banyak juga pelayat yang masih menunggu di rumah duka karena mereka ingin ikut serta mengantarkan pendiri Wijaya Grup yangbterkenal ramah kepada seluruh karyawan juga relasinya. Bahkan kepada orang yang tak di kenal pun.


Sebelum di bawa ke tempat oeristirahatan yang terakhir, terlebih dulu jenasah sang Kakek di bawa ke masjid untuk di Sholatkan. Setelah dari Masjid, kemudian langsung di bawa ke pamakaman.


Prosesi pemakaman Kakek Wisnu pun akhirnya selesai, satu persatu pelayat meninggalkan tempat peristirahatan terakhir sang Kakek. Menyisakan keluarga inti yang seolah enggan meninggalkan sang kakek sendirian. Mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing. Entah mengenang sang Lakek atau bahkan khusuk mendo'akan sang Kakek. Hingga terdengar suara Ayah Restu yang mengajak mereka untuk pulang.


"Sudah siang, sebaiknya kita semua pulang, sebentar lagi juga adzan Dzuhur," ucap Ayah Restu memecahkan keheningan.


"Kita harus istirahat, nanti malam masih ada acara tahlil buat mendo'akan kakek," lanjutnya saat tak ada satupun yang merespon.


"Bener yang dikatakan ayahnya Auli Rit, ajak mas Tara pulang,"sambung Bunda Risa.


"Apa kalian gak kasihan sama anak-anak," lanjut Bunda Risa.


"Iya, kamu bener Ris," jawab mama Rita.


"Arka, ajak Auli pulang nak," lanjut mama Rita meminta Arka untuk mengajak Aulia pulang.


Akhirnya seluruh keluarga pun beranjak untuk kembali ke rumah. Ya walaupun berat tapi mereka harus bisa ikhlas agar Almarhum sang Kakek bisa tenang.


○●●●○

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2