
Sesuai permintaan sang papi. Papa Tara pun menghubungi om Haris, orang kepercayaan kakek Wisnu yang sudah lama bekerja dengan kakek. Bahkan dulu biaya sehari-hari juga sekolah hingga kuliahnya pun kakek Wisnu lah yang membiayainya. Hingga saat menikah pun kakek Wisnu yang merayakannya. Karena memang saat bertemu dengan kakek Wisnu dia hidup sebatang kara. Tak punya keluarga satu pun.
Selain menjadi orang kepercayaan kakek Wisnu. Pak Haris yang notabennya adalah seorang pengacara juga mengabdikan diri menjadi pengacara keluarga Wijaya. Karena berkat bantuan dari kakek Wisnu Pak Haris berhasil menjadi seorang pengacara yang sukses di usianya yang masih muda. Maka dari itu tak segan dia pun mau mengabdi kepada kakek Wisnu. Orang yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri bahkan mengijinkannya memanggil dengan sebutan papi seperti papa Tara yang anak kandungnya sendiri. Bahkan papa Tara pun juga menganggapnya sebagai adik sendiri.
Setelah mendapat panggilan dari orang yang sangat berjasa dalam hidupnya untuk segera datang ke rumah sakit. Om Haris pun segera datang. Bahkan sebelum kakek Wisnu terbangun dari istirahatnya. Mungkin kakek dari Arka itu sangat kelelahan karena tadi begitu tersadar dari tidur panjangnya langsung membahas soal keinginannya untuk segera menikahkan cucu tersayang satu-satunya.
Saat ini papa Tara sedang menjelaskan sedikit tentang keinginan sang papi supaya nanti papinya tak perlu menjelaskan panjang lebar keinginannya kepada om Haris. Tanpa menunggu kakek memerintahkan secara langsung. Mengingat waktu yang dimiliki hanya hari ini. Om Haris yang sudah mengerti keinginan kakek Wisnu pun segera menghubungi anak buahnya agar segera melaksanakan semua persiapan pernikahan cucu kakek Wisnu yaitu Arka dengan Aulia.
Om Haris ijin untuk keluar ruangan agar pembicaraannya tak mengganggu istirahat kakek. Setelah beberapa menit diluar berbicara dengan anak buahnya melalui telephon. Om Haris kembali masuk ke dalam ruang rawat kakek.
"Gimana?" Tanya papa Tara begitu om Haris mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Aman mas, untuk acara besuk anak buah saya sudah mulai mengurusnya, sementara untuk keamanan Arka dan Aulia sudah sesuai dengan permintaan mas tadi" ucap om Haris tegas dan yakin kalau semua akan berjalan dengan lancar.
"Bagus, saya percayakan hal ini sama kamu" ucap papa Tara sambil menepuk bahu om Haris. Orang yang sudah dianggapnya seperti adik.
"Kamu mau menunggu papi bangun apa masih ada urusan lain?" Tanya papa Tara kemudian.
"Saya akan menunggu disini dulu, nanti kalau papi terbangun tanpa bertemu saya pasti mas yang kena semprot" ucap om Haris yang membuat keduanya tertawa.
Ya hanya berdua karena sejak papa Tara selesai menghubungi om Haris. Anggota keluarga yang lain pergi ke kantin untuk makan siang. Meskipun agak terlambat karena kondisi kakek tadi yang sempat membuat semuanya tegang.
Tak lama dari itu terdengar suara pintu dibuka dan suara salam dari Aulia dan Arka. Keduanya pun masuk bersamaan dengan jawaban salam oleh papa Tara dan om Haris.
"Sudah lama om?" Tanya Arka sambil menyalami tangan om Haris.
"Belum, tapi cukup untuk ngobrol panjang lebar sama papa kamu" jawab om Haris yang membuat keempat orang itu tertawa.
"Sayang ini om Haris, anak angkat kakek, jadi adiknya papa, kamu baru ketemu sekali saat pertunangan kalian, jadi wajar kalau Auli belum paham" Papa Tara berusaha mengingatkan Aulia yang nampak asing dengan laki-laki yang duduk disampingnya yang tak lain adalah Om Haris.
"Auli om, maaf kalau Aulia ga ingat sama om" sambil memperkenalkan diri Aulia menjabat tangan om Haris lalu mencium punggung tangan laki-laki yang lebih muda dari ayah juga papanya.
"Gapapa namanya juga baru ketemu sekali, itupun dalam keadaan ramai seperti itu, yang penting jangan sampai lupa wajah Arka aja, ya kan Ar?" Goda om Haris membuat wajah Aulia memerah.
__ADS_1
"Jangan gitu dong Om, kasihan kan calon istri Ar, tuh mukanya udah merah gitu" ini lagi bukannya membela malah Arka ikutan menggoda. Membuat gadis cantik yang sebentar lagi akan jadi istrinya itu malu dan menundukkan kepalanya.
"Sudah-sudah kalian ini" ucap papa Tara yang sudah kasian dengan calon mantunya.
"Kenapa kalia cuma berdua yang lain mana?" Tanya papa Tara mencoba mengalihkan pembicaraan agar kedua laki-laki veda usia di dekatnya itu tak lagi mepancarkan aksi untuk menggoda Aulia.
"Oh iya Ar lupa bilang pa, Om Bayu sama tante Ira tadi lamgsung pulang pa, tadi Aldo telpon katanya Vania nyariin mamanya"
"Trus kalau ayah tadi langsung ke kantor, soalnya harus ada yang diurus karena besuk belum tentu bisa ke kantor, sedangkan bunda pulang sekalian diantar ayah" penjelasan Arka panjang lebar.
"La trus mama kamu dimana?" Tanya papa Tara karena merasa bahwa putranya itu belum membahas soal mama Rita.
"Oh iya lupa, mama masih nungguin pesanan makan buat papa, soalnya mama bilang supaya Ar sama Auli duluan, yaudah Auli duluan aja." Jawab Arka santai.
"Iya pa, tadi Auli juga udah mau temani mama, tapi kata mama ga usah, maaf pa" jawab Auli tak enak hati setelah melihat raut muka khawatir dari papa Tara.
"Gapapa Sayang, kalian ga salah kok, mungkin mama kalian udah ngerasa baikan setelah kakek sadar" jawab papa Tara mencoba menghibur Aulia juga dirinya sendiri yang sangat khawatir dengan istri tercintanya.
"Apa perlu Ar susul mama pa?" Tanya Arka ikuta khawatir juga.
"Mama kok lama sih, bikin khawatir papa aja sih" ucap papa Tara sambil memdekati sang istri yang juga sedang berjalan mendekat ke sofa tempat duduk ya tadi.
"Maaf pa, soalnya antri, nih mama beli ini buat papa sama Haris" jawab mama santai tak merasa sedang dikhawatirkan.
"Iya sini mama duduk sini" sambil menarik tangan mama untuk duduk di sampingnya. Dan melatakkan makanan itu di atas meja.
"Ini piring sama sendoknya pa" ucap Aulia yang baru mendekat dari mengambil alat makan untuk papa Tarajuga om Haris, sejak kedatangan mama tadi.
"Makasih Sayang" jawab papa Tara mengambil piring juga sendok yang diletakkan di meja oleh Aulia.
"Cepat makan Ris nanti keburu dingin" ucapa mama Rita papa adik angkat suaminya itu.
"Iya mba, makasih" jawabnya sambil mengambil piring dan sendok yang tersisa karena memang Aulia cuma mengambilkan untuk dua orang saja.
__ADS_1
"Gimana kabar Silvi sama Maura? Lama kalian ga ke rumah lo Ris" Tanya mama Rita.
"Mereka sehat mba, maaf aku sibuk jadi ga bisa antar mereka ke rumah" jawab om Haris.
"Kan bisa sebelum kamu kerja antar mereka ke rumah, ya ga pa?" Ucap mama minta dukungan sang suami.
"Kayak ga kenal Haris aja ma, mana mau dia kalau istrinya keluar rumah tanpa dia" ucap papa Tara.
"Eh aku begitu juga gara-gara nyontoh kamu lo mas kalau mas lupa" mendengar pembelaan om Haris semua malah tertawa.
"Kamu sudah di sini Ris?" Tanya kakek yang terbangun karena mendengar suara tertawa anal cucunya.
"Iya pi, maaf pi, kalau kami membangunkan papi" mendekati sang kakek kemudian mencium punggung tangan dang kakek.
"Sudahlah, Kau sendiri? Mana cucu papi yang centil?" Tanya papi sambil melihat ke arah sofa. Tapi tak menemukan yang dicari.
"Gak ikut Pi, tapi InsyaAllah Haris ajak mereka ke sini" jawabnya sambil duduk di kursi dekat brangkar kakek.
"Mas mu sudah menjelaskan kenapa papi panggil?"
"Sudah Pi, anak buah Haris sudah mengurusnya, tapi belum mengabari sudah beres belumnya"jawab om Haris detail sebelum ditanya lagi soal hasilnya.
"Yasudah kita tunggu kabar dari mereka" ucap kakek sambil melihat ke arah sofa.
"Kamu lagi makan? Sudah sana habiskan dulu, surah Arka dan Auli yang temani papi di sini" lanjut kakek begitu melihat ada makanan di meja tepat di depan om Haris duduk tadi.
"Iya pi, Haris ke sana dulu ya pi" pamit om Haris.
Kemudian tanpa diminta lagi Arka mengajak Aulia mendekati sang kakek.
"Ayo Yang" ajaknya sambil menjulutkan tangannya supaya gadisnya itu mau menggandeng tangannya.
"Iya kak, ma, pa, Auli ke kakek dl ya"menerima tangan Arka lalu pamit pada sang mama papa.
__ADS_1
○●●●○
Bersambung......