KOMITMEN CINTA dalam PERJODOHAN

KOMITMEN CINTA dalam PERJODOHAN
Eps.42. Permintaan Kakek


__ADS_3

Hallo readers🙋‍♀️.


Maaf atas keterlambatan up datenya🙏


SELAMAT MEMBACA📖


☆☆☆☆☆


Sesaat setelah kakek sudah sadar.


"Arka" panggilan kakek yang terdengar masih sangat lemah.


"Iya kek" jawab Arka sambil memegang tangan kanan kakek.


"Kakek mau minta sesuatu dari kamu nak, apa kamu mau mengabulkan keinginan kakek?" Tanya Kakek sambil menatap sayu sang cucu.


"InsyaAllah akan Arka usahakan Kek, memangnya kakek mau minta apa sama Arka?" Arka masih tetap memegang tangan sang kakek. Bahkan dengan lemah kakek pun membalas menggenggam tangan Arka.


"Panggilkan Auli dulu" ucap kakek melihat papa Tara.


Tanpa dijelaskan lagi papa Tara sudah tahu maksud dari papinya itu.


"Auli, sini nak, dipanggil kakek" panggil papa Tara.


"Iya pa" jawabnya singkat kemudian mendekat ke arah sang kakek yang masih berbaring lemah.


"Ada apa kek" Tanya gadis itu begitu sampai di dekat sang kakek. Kini gadis itu berdiri di samping kanan Arka.


"Kalian berdua mau memenuhi permintaan kakek kan nak?" Tanya kakek sambil memegang tangan kedua remaja itu dan menyatukannya. Keduanya pun saling berpandangan bingung.


"Kakek ga tahu umur kakek sampai kapan. Siapa tahu ini permintaan terakhir kakek" ucapan kakek membuat takut semua yang ada di ruangan itu. Termasuk yang masih setia duduk di sofa.


Tanpa pikir panjang Ayah Restu dan Bunda Risa pun mendekat.


"Maksud kakek apa?" Tanya Arka seolah mewakili semua yang ada di situ.

__ADS_1


"Iya maksud papi apa?" Ucap mama Rita yang sudah tak bisa mengontrol air matanya.


"Kalian bilang dulu mau kabulkan keinginan kakek" kekeh pria tua itu pada pendiriannya.


"Kalau masuk akal InsyaAllah kami kabulkan Pi" kali ini papa Tara yang menjawab.


"Baiklah, kakek minta nikahkan Arka dan Auli secepatnya" pinta kakek yang membuat semua terkejut.


"Tapi mereka masih sekolah Om" jawab ayah Restu.


"Iya kalau mereka menikah bagaimana dengan sekolahnya Pi?" Papa Tara menimpali.


"Mereka tetap sekolah, Orang kakek yang akan mengurus semuanya" jawab kakek sudah final.


Sudah tak ada lagi yang bisa membantah kalau kakek sudah bilang orang kakek yang akan mengurus. Semua pun terdiam sibuk menyelami pikiran masing-masing. Hingga suara kakek menyadarkan semua dari lamunan masing-masing.


"Kakek takut kalau kejadian dulu akan terulang lagi pada cucuku" tiba-tiba suara kakek memecah keheningan ruangan.


"Maksud papi apa?" Tanya papa Tara yang belum mengerti maksud sang papi.


"Akhir-akhir ini Arka diikuti seorang wanita" kakek menghentikan sejenak perkataannya dan melihat ekspresi anak cucunya.


"Kalian tahu siapa yang mengikuti Arka?" Semua bingung saling melirik seolah saling bertanya apa pertanyaan ini perlu dijawab atau tidak. Tapi mereka tetap diam saat mendengar kakek melanjutkan lagi perkataannya.


"Gadis itu bernama Sita, ya Sita Winata" lanjut kakek menekan suaranya saat menyebut nama lengkap Sita yang membuat papa Tara, mama Rita, ayah Restu dan bunda Risa terkejut.


"Winata?" Ucap keempatnya seolah dikomando.


Sementara Arka dan Aulia hanya bisa saling pandang. Keduanya bertanya-tanya dalam hati dengan situasi saat ini. Bagaimana bisa kakeknya tahu perihal itu. Padahal dia hanya bercerita pada sang mama dan sepakat untuk tidak bercerita dengan orang lain termasuk kepada papa dan kakek. Ah sudahlah pikir Arka tak mau pusing memikirkan darimana sang kakek tahu.


Apalagi saat para orang tua pun seolah terkejut ketika mendengar nama yang disebutkan sang kakek. Hal itu membuat Arka semakin penasaran ada apa sebenarnya. Apa yang disembunyikan oleh para orang tua. Kenapa dia sama sekali tak tahu menahu.


"Iya Winata" ucap kakek menyakinkan keempatnya.


"Apa maksud om Winata..." tanya ayah Restu terbata dan menggantung ucapannya.

__ADS_1


"Iya seperti yang kalian tahu" jawab kakek tanpa menunggu kelanjutan pertanyaan ayah Restu.


"Ar, apa benar orang yang kamu ceritain sama mama itu benar bernama Sita Winata?" Tanya mama Rita pada putranya. Membuat sang suami kaget ternyata sang istri sudah tahu akan hal ini tapi kenapa tak pernah bercerita.


"Iya benar ma, dia teman satu kelas Ar, sebenarnya ada apa ini ma? Kenapa semua terkejut saat mendengar nama itu" Karena penasaran Arka menjawab pertanyaan sang mama dengan berbalik memberi pertanyaan.


"Ehm... itu... anu.." jawab mama Rita terbata-bata sambil menatap suaminya seolah minta bantuan kepada sang suami.


"Ehm nanti ada saatnya kami menceritakannya kepada kalian berdua tapi tidak untuk sekarang, papa harap kalian mengerti" mengerti kebingungan sang istri papa Tara pun memberi pengertian pada Arka dan Aulia sambil melihat ke arah keduanya secara bergantian.


"Iya pa kami ngerti" jawab keduanya serempak meskipun masih ada rasa yang mengganjal di hati keduanya.


"Lalu bagaimana dengan permintaan kakek? Apa kalian juga akan mengerti dan mau mengabulkannya?" Sela kakek karena sudah tidak sabar mendengar jawaban ya dari semuanya khususnya dari Arka dan Aulia.


"Kami ikut gimana baiknya saja kek" sambil memegang tangan Aulia, Arka menjawab seperti itu. Karena dia juga bingung mau menjawab apa. Sementara keduanya tidak diberi waktu untuk berdiskusi. Meskipun ini masalah masa depan keduanya.


"Gimana nak Restu?" Ayah Restu pun juga bingung mendapat pertanyaan itu dari kakek.


"Restu juga gimana baiknya saja om, asalkan Auli masih bisa melanjutkan sekolah dan cita-citanya" sambil mengelus kepala putri tercintanya ayah Restu mau tak mau pun mengikuti keinginan pria tua yang sangat dihormatinya itu.


Aulia merasa terharu dengan jawaban ayah tercintanya yang masih memikirkan pendidikan dan cita-citanya. Gadis itu menggenggam tangan kiri ayahnya yang sempat mengelus kepalanya tadi.


"Om pastikan Auli masih bisa sekolah bahkan kuliah sesuai cita-citanya" dengan senang kakek meyakinkan semuanya.


"Kalau kalian sudah setuju, Arka dan Auli akan nikah besuk, untuk kalian cukup mempersiapkan diri saja, sedangkan yang lainnya biar nanti Haris yang mengurusnya" putusan kakek yang sudah tidak bisa diganggu gugat.


"Sudah kakek mau tidur, capek" menutup kesempatan bagi siapapun yang mau protes dengan alasan yang bisa dimaklumi.


"oh iya kakek hampir lupa, Tara kamu hubungi Haris, bilang sama dia disuruh kakek ke sini" perintah kakek sebelum akhirnya memejamkan matanya.


Dan tak butuh waktu lama akhirnya kakek pun terlelap dalam tidurnya. Terdengar dari dengkuran halus. Mama Rita pun membenahi selimut kakek menutupi tubuh tua itu agar tak kedinginan.


Akhirnya semua kembali duduk di sofa bergabung dengan sepupu papa Tara yang dari tadi hanya bisa diam dan menyimak obrolan tanpa berani bersuara.


Sesuai permintaan sang papi. Papa Tara pun menghubungi pak Haris, orang kepercayaan kakek Wisnu yang sudah lama bekerja dengan kakek. Bahkan dulu biaya sehari-hari juga sekolah hingga kuliahnya pun kakek Wisnu lah yang membiayainya. Hingga menikah pun kakek Wisnu yang merayakannya. Karena memang saat bertemu dengan kakek Wisnu dia sebatang kara. Tak punya keluarga satu pun.

__ADS_1


○●●●○


Besambung...


__ADS_2