
"Baiklah kalau begitu, kalau kamu ingin mengusirku itu tidak apa-apa. tapi kenapa kamu tiba-tiba berubah seperti ini, Apakah kamu sudah mendapatkan pria yang lebih baik dariku?" tanya Satria kepada Mirasti.
"Kenapa aku harus mengatakan semuanya padamu. Aku mau Bersama siapapun atau aku bersama dengan pria seperti apapun itu adalah urusanku, kamu tidak ada hak untuk mengatakan apapun padaku." jawab Mirasti yang benar-benar sudah tidak ingin mempertahankan pernikahan itu.
"Baiklah kalau begitu aku juga tidak ingin di sini bersamamu atau hidup bersamamu. aku ingin lihat Bagaimana kamu akan bertahan di sini tanpa aku." ucap Satria.
"Aku akan berdiri sendiri, aku akan mengambil anakku kembali. aku tidak peduli kamu mau atau tidak Aku akan memperjuangkan sesuatu yang seharusnya menjadi milikku, aku tidak akan membiarkanmu terus-menerus menganggapku seperti wanita bodoh." Mirasti yang sudah mengambil keputusan untuk membuat kehidupan Satria hancur.
Sebuah keputusan yang harus diambil oleh Mirasti, seperti yang dikatakan Safira semua ada benarnya. untuk apa mempertahankan seorang pria yang tidak mau bersama kita, lebih baik hidup bahagia dengan semua cerita yang indah daripada hidup bersama seorang pria yang tidak pernah mencintai kita.
Siang itu Mirasti sudah memikirkan mengenai semua jalan hidupnya, dia sudah mengusir suaminya sedangkan Satria yang mendapatkan perlakuan seperti itu tentu saja pria itu sangat terkejut luar biasa. hampir 18 tahun Mirasti selalu menuruti apa yang dia katakan, namun sekarang terlihat Wanita itu sudah tidak ingin lagi hidup dengan seorang pria yang tidak pernah memberikan dia kenyamanan sama sekali.
"Safira, Apakah hari ini kita bisa bertemu? aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Mirasti yang sudah menelpon Safira.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggumu di rumah atau di mana?" tanya Safira.
"Bagaimana kalau kita ketemu di sebuah tempat, sekalian ajak salah satu menantumu. Aku ingin berbincang-bincang dengan mereka." pinta Mirasti.
"Baiklah kalau begitu, kita ketemuan di pusat perbelanjaan saja kita sambil makan-makan dan bersenang-senang, bagaimana?" tanya Safira.
"Baiklah kalau begitu." jawab Mirasti.
Sore itu mirasti dan Safira bertemu di pusat perbelanjaan, Aisyah dan Indah nampak bergelayut manja bersama dengan ibu mertuanya.
"Ya ampun, kalian ini kenapa sih buat mama malu aja." ucap Safira sambil menatap 2 menantunya tersebut.
"Mama ini bagaimana sih, apa Mama tidak lihat para pria itu menatap kita loh Ma." jawab Indah.
"Kamu aja yang kepedean, Indah. masa mereka punya mata kok nggak boleh melihat." jawab Safira sambil tersenyum dengan kata-kata yang diucapkan oleh menantunya tersebut.
"Ya bukannya PD, mama lihat deh pria itu pria tua itu menatap Mama seolah Mama itu makanan enak loh." ucap Indah yang membuat Safira malah melotot kepada menantunya.
"Iya Indah, Kenapa sih kamu PD banget. kamu kira kita itu model apa, Mama ini udah tua loh masak Kamu ucapin seperti itu. kalau Papa mendengar bisa-bisa kepalanya keluar asap." ucap Aisyah yang membuat Safira malah tertawa.
"Papamu tidak mungkin keluar asap yang keluar itu api, kepalanya itu langsung terbakar." jawab Safira yang membuat kedua menantunya malah tertawa.
__ADS_1
"Kemarin aku bertemu seorang pria muda loh, ma." ucap Indah.
"Kamu jangan main-main, Indah." Safira yang menunjukkan ketidaksukaannya.
"Kenapa sih Ma, aku tuh belum selesai bicara loh kok mama sudah nyolot seperti itu." jawab Indah.
"Lalu?" tanya Aisyah.
"Bagaimana kalau kita jodohkan aja Sheila sama pria itu, ma. seorang pria tampan yang mungkin seumuran dengan kita." ucap Indah.
"Mama tidak mau main jodoh-jodohan, Indah, Aisyah. biarkan mereka mencari kehidupan mereka sendiri-sendiri, kalau mama menjodohkan tapi mereka tidak mau dan mereka menikah secara terpaksa. maka itu akan menimbulkan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan." jawab Safira yang membuat kedua menantunya itu menganggukkan kepalanya.
"Tapi kenapa Mama sama Papa mau sama kita, kita ini anak orang miskin loh Ma?" tanya Indah.
"Iya Ma, kenapa Mama tidak mencarikan Mas Yufan sama Mas Ivan jodoh yang lebih baik?" tanya Aisyah yang sedikit menyelidik.
"Kekayaan tidak melahirkan kebahagiaan, perasaan saling memiliki saling menghormati dan saling mengerti satu sama lain itulah kunci kebahagiaan. kekayaan belum tentu memberikan kita kebahagiaan, kalau tidak memiliki landasan seperti yang mama katakan tadi." ucap Safira yang membuat Aisyah dan Indah menganggukkan kepalanya.
"Nyonya, Safira!!" seru Mirasti yang memanggil Safira dan yang lain.
"Iya." Safira yang melambaikan tangan kemudian berjalan mendekati mirasti siang itu akhirnya kedua wanita berumur itu membicarakan sesuatu yang begitu luar biasa.
"Sheila, Kamu sedang apa?" tanya teman Sheila yang bernama Nadia.
"Aku sedang membeli beberapa buku, Nadia. kamu tahu kan aku harus mengambil beberapa buku ini untuk ujian masuk universitas." jawab Sheila.
"Kamu jadi masuk ke universitas itu?" tanya Nadia.
"Tentu saja, lagi pula aku ingin menyaingi kedua Kakakku itu. aku ingin menjadi seorang pembisnis wanita." jawab Sheila.
"Kenapa sih kamu ingin sekali menjadi pembisnis wanita, kan masih banyak pekerjaan yang lain yang bisa kamu lakukan?" tanya Nadia.
"Tidak, aku ingin menjadi seorang pembisnis. Kamu tahu kan pembisnis itu adalah pekerjaan yang benar-benar aku impikan." jawab Sheila.
"Lalu, bagaimana dengan papa dan mamamu. apa mereka setuju?" tanya Nadia.
__ADS_1
"Papa sama Mama tentu saja setuju, Mereka bilang semuanya itu terserah padaku. lagi pula aku ingin menjadi pembisnis yang sangat handal menyaingi papaku." jawab Sheila yang kemudian membayar di kasir dan keluar dari toko buku.
Kedua Gadis itu berbincang dengan begitu heboh, tak berselang lama seorang pria tiba-tiba menabrak Sheila bahkan pria itu tidak berniat meminta maaf kepada gadis muda itu.
BRUKK...,
Sheila yang terjatuh karena ditabrak seorang pria yang berjalan tanpa melihat arah, wanita itu berdiri, menatap pria yang sudah melalui dirinya tersebut. tanpa ada permintaan maaf bahkan pria itu seolah tidak melihat.
"Kamu tidak apa-apa, Sheila?" tanya Nadia.
"Ya ampun, itu orang punya mata nggak sih, apa dia itu buta." ucap Sheila yang kemudian berdiri sembari membersihkan pakaiannya kemudian berjalan dengan cepat untuk mendekati pria yang tadi menabraknya itu.
"Halo mister!" teriak Sheila sembari memukul punggung sang pria. seorang pria berpakaian kerja dengan memakai jas hitam serta memakai kacamata hitam.
"Iya ada apa Ya?" tanya si pria yang kemudian memutar tubuhnya dan menatap Sheila.
"Tuan, Apakah kamu mempunyai mata atau tidak?" tanya Sheila.
"Maksudmu?" tanya si pria.
"Kamu kalau berjalan itu lihatlah kanan dan kiri ya, tuan. Kamu berjalan dengan begitu tergesa-gesa kemudian menabrak orang kamu itu punya mata nggak sih?" tanya Sheila yang sedikit marah karena tiba-tiba dia ditabrak oleh seseorang.
"Maaf ya nona, aku tidak bermaksud untuk menabrakmu." ucap si pria.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
__ADS_1
- I love you uncle Bastian
- Terlempar ke dimensi kerajaan