
"Khemm...," Gunawan yang berdehem seolah dia mengisyaratkan kalau memanggil nama Safira. "Apa dia Bos yang kamu katakan beberapa waktu yang lalu?" tanya Gunawan kepada Safira.
"Siapa Tuan?" tanya Safira.
"Tentu saja pria yang tiba-tiba di sini itu." jawab Gunawan.
"Oh.., Pak Satria ya?" tanya Safira yang membuat Gunawan menganggukkan kepalanya.
"Benar, dia adalah Bos baru di tempat kerja saya." jawab Safira.
Entah kenapa Gunawan benar-benar merasakan sesuatu yang aneh, dia merasakan ada api yang membara di dadanya.
"Lalu, apa yang dia lakukan di sini?" tanya Gunawan.
"Ya Mana saya tahu, Tuan. lagi pula Memangnya saya harus mencari tahu kepada bos saya? saya ini hanyalah karyawan bukan istri atau kekasihnya." jawab Safira.
Mendengar kata kekasih ataupun istri tentu saja Gunawan sedikit tersindir. "Oh Ya, sementara ini kamu panggil aku seperti tadi ya." ucap Gunawan.
"Memanggil Seperti apa, Tuan?" tanya Safira yang mencoba untuk meyakinkan telinganya.
"Seperti tadi Kamu memanggilku, biar dia nggak curiga." jawab Gunawan.
Safira menganggukkan kepalanya, Sebenarnya dia benar-benar canggung saat memanggil Gunawan dengan panggilan Mas. "Baiklah kalau begitu, Tuan." ucap Safira.
"Coba diulangi lagi, kok kamu manggil seperti itu lagi. kalau pria itu mendengarnya nanti dia tahu sesuatu mengenai hal ini." cibir Gunawan.
"Iya Mas." ucap Safira yang membuat Gunawan sedikit tersenyum dalam hati.
"Baguslah kalau begitu, yang aku lihat kalau pria itu mempunyai motif tersembunyi. Jika dia ke sini hanya ingin mendekati wanita ini maka akan kupastikan pria ini tidak akan bisa." ucap Gunawan yang kemudian membawa barang-barang yang ada di dalam mobil.
Saat mereka masuk suara canda tawa sudah terdengar di sana, si kembar nampak sedang berbincang-bincang bahkan tertawa lepas dengan Satria. "Oh ya tuan, apa Tuan tidak mau kembali ke tempat Tuan?" tanya Safira yang merasa tidak enak karena bosnya ada di villa Gunawan.
"Baiklah kalau begitu, Safira. Aku mau kembali sebentar ke tempatku, nanti sore kalau bisa kamu berkunjung ke villa ku ya. karena di sana Aku cuma berdua dengan orang kepercayaanku itu." ucap Satria
Safira terlihat menganggukkan kepalanya, Gunawan yang melihat hal itu tentu saja kedua bola matanya langsung melotot. "Kalau kami masih punya waktu kami akan berkunjung ke tempat Anda, tuan Satria tapi karena rumah ini sudah lama tidak dihuni, jadi Saya dan istri saya mau beres-beres sebentar, benar kan sayang." ucap Gunawan.
Safira menoleh, wanita itu kemudian menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalau begitu Kami boleh main ke tempat paman Satria, papa?" tanya si kembar kepada Gunawan.
"Tidak boleh." jawab Gunawan yang kemudian masuk ke kamarnya.
"Oh ya Safira, Aku pulang dulu ya." ucap Gunawan yang seolah dia berpamitan kepada kekasihnya.
"Baik Pak, terima kasih karena sudah berkunjung." jawab Safira yang kemudian menatap kepergian Satria.
Setelah pria itu pergi terlihat Safira menatap nyalang ke villa yang sekarang dia tempati,
"Tumben sekali sih hari ini pria itu mengajakku kemari, biasanya kalau dia mau kemana-mana pasti dia nggak bakal ngajak aku. tapi akhir-akhir ini sikapnya Kok aneh banget ya." ucap Safira dalam hati yang kemudian membersihkan kamarnya bersama si kembar.
Satria yang sudah keluar dari villa Gunawan nampak pria itu berjalan ke villa tempatnya, tatapan mata Gunawan nampak menatap villa seorang pengusaha sama sepertinya. "Aku pasti akan merebutmu dari pria itu." ucap Satria yang kemudian masuk ke dalam villa miliknya.
"Papa, Papa ayo kita jalan-jalan!!" seru si kembar.
"Mau jalan-jalan ke mana?" tanya Gunawan kepada si kembar.
"Ayo kita jalan-jalan di sekitar sawah itu, Pa. kita main di sungai yuk!" teriak si kembar yang membuat Gunawan seolah mempunyai sebuah rencana seperti yang dikatakan oleh Andira.
"Gunawan sedikit tidak menyukai jawaban yang dikatakan oleh Safira, sesaat kemudian terlihat ponsel Gunawan sudah berdering pria itu menatap ponselnya.
"Telepon dari siapa, Pa? tanya si kembar kepada papanya.
"Dari Tante Andira." jawab Gunawan yang kemudian pergi ke suatu tempat untuk menjawab telepon dari Andira.
Sesaat kemudian terlihat Gunawan menjawab panggilan dari Andira. "Iya ada apa." ucap Gunawan.
"Bagaimana, kamu sekarang ada di mana?" tanya Andira kepada Gunawan.
"Kamu ini kepo sekali sih, Memangnya kenapa?" tanya Gunawan.
"Cepat katakan Sekarang kamu ada di mana?" tanya Andira kembali.
"Aku ada di villa, ada di puncak." jawab Gunawan.
"Lalu, apa kamu sudah melakukan semua yang aku katakan kemarin?" tanya Andira kembali.
__ADS_1
"Sudah-sudah, hentikan dulu. kamu ini tanya terus kapan aku menjawabnya." Gunawan yang terlihat mulai membicarakan sesuatu kepada Andira. pria itu menceritakan mengenai kejadian tadi ketika Satria datang ke tempatnya.
"Tuh kan, aku sudah bilang pasti wanita sebaik Safira itu akan banyak yang mengejarnya. buktinya mantan suaminya aja tetap mengejar dia, sekarang Bosnya. nggak mungkin kalau pria itu ke sana secara kebetulan, pasti ada sesuatu yang dia rencanakan." ucapan Dira.
"Apa kamu yakin?" tanya Gunawan balik.
"Pikir aja secara logika, kamu ini kan pria. kalau kamu seorang pria menyukai seorang wanita Apa yang kamu lakukan?" tanya Andira yang membuat Gunawan menganggukkan kepalanya.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Gunawan kepada Andira.
"Ya kamu harus membuat istrimu itu mempunyai perasaan padamu, Kamu harus menunjukkan perhatianmu jangan kamu malah menunjukkan gengsi sama sikap dinginmu itu. wanita Mana yang mau di acuhkan seperti yang kamu lakukan itu. kalau aku wanita yang menikahimu pasti kamu akan ku lempar kamu ke jurang." umpat Andira kepada Gunawan.
"Kalau aku mempunyai istri sepertimu bisa-bisa Aku akan pergi tanpa kembali." jawab Gunawan yang membuat Andira tertawa terbahak-bahak.
Terlihat dua orang itu terus membicarakan sesuatu, sesaat kemudian ternyata si kembar sudah mendengar apa yang dikatakan oleh bapaknya. walaupun mereka tidak sepenuhnya mengerti apa yang dikatakan oleh bibi dan papanya, namun mereka tahu kalau papanya Itu kebingungan untuk mencari perhatian Mama mereka.
"Bagaimana kalau kita bantu papa?" tanya Yufan.
"Tentu kalau kita bantu Papa, pasti Papa senang." jawab Ivan.
"Papa kan orangnya menyebalkan, kalau bicara sama mama aja seperti itu. bagaimana kalau kita memberikan pelajaran dulu sama papa biar Papa kapok, setelah itu Papa bisa merasakan perasaan mama." ucap Yufan yang membuat Ivan menganggukkan kepalanya.
Terlihat dua bocah kembar itu ingin membantu papanya, tapi malah mereka sendiri ingin memberikan pelajaran terlebih dahulu kepada ayah mereka. karena terkadang si kembar sangat jengkel dengan sikap ayahnya yang selalu bersikap acuh kepada mamanya.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian
__ADS_1