
SEPULUH TAHUN KEMUDIAN
"Mas!" panggil Safira.
"Ya sayang." jawab seorang pria yang masih terlihat gagah walaupun usianya sudah 65 tahun.
seorang pria yang terlihat rambutnya sudah mulai beruban, tubuhnya memang masih terlihat kuat. langkah kakinya juga masih berjalan begitu gagah kedua bola matanya menatap cucu-cucunya yang berlarian ke sana kemari. beberapa sudah dewasa bahkan sudah sekolah dasar dan SMP.
*Yufan dan Indah mempunya dua putra dan satu putri.
*Ivan dan Aisyah mempunyai dua putri dan kembar putra.
*Sheila dan Reno mempunyai anak kembar putra.
*Raihan dan Asyifa mempunyai anak putra dan putri.
PRANGG...
suara vas bunga yang pecah.
"Ya Allah?!" seru Safira.
suara teriakan canda tawa kebisingan bahkan suara pertengkaran membuat rumah besar milik sepasang suami istri itu benar-benar begitu hidup. begitu banyak cucu-cucu mereka sudah mulai besar, Safira dan Gunawan nampak tertawa bahagia saat melihat kebahagiaan yang ada di mata anak menantu dan cucu-cucunya.
"Kehidupan memberikan kita sebuah amanah yang begitu luar biasa ya, Mas." ucap Safira Iya sayang. Allah memberikan kita sebuah kepercayaan, memberikan kita kebahagiaan juga memberikan kita sesuatu yang sangat luar biasa." ucap Safira yang bersandar di dada sang suami.
Wanita itu terasa begitu bahagia dengan semua kebahagiaan yang diberikan oleh sang pencipta kepadanya.
"Semuanya begitu indah ya, sayang?" tanya Gunawan.
"Iya Mas semuanya begitu indah, semuanya benar-benar begitu nyata bahkan semuanya begitu membuatku menjadi seorang istri dan ibu yang sangat sempurna." jawab Safira.
"Kamu adalah ibu yang sangat sempurna, istri dan wanita yang sempurna." jawab Gunawan yang kemudian memeluk sang istri.
Di sofa panjang berwarna putih itu sepasang suami istri itu menatap anak menantu dan cucu mereka yang sedang berkumpul. sekitar berapa menit kemudian suara bel pintu mulai berbunyi.
CEKLEK..
pintu rumah besar itu terbuka, begitu banyak orang datang ke tempat itu Rudi bersama istri dan anak-anaknya anak buah Safira bersama dengan anak-anaknya juga teman-teman Safira yang ada di Toko swalayan dahulu.
Hari ini adalah hari jadi pernikahan Safira dan Gunawan yang ke 32 tahun.
DOR...
DOR...
__ADS_1
"Happy anniversary!!!" seru semua orang.
"Terima kasih." jawab Safira dan Gunawan.
Hari ini adalah hari pesta yang begitu bahagia anak-anak kecil yang dulu begitu lucu sekarang sudah mulai dewasa waktu akan berjalan begitu cepat kehidupan sepasang suami istri itu nampak begitu bahagia.
"Selamat ya mam, papa!" seru anak menantu Safira dan Gunawan.
"Terima kasih ya karena kalian semua selalu memberikan Papa dan Mama kejutan ucap Safira tentu saja dong Ma Mama dan Papa adalah orang-orang yang sangat spesial bagi kamu jawab anak dan menantu Shafira dan Gunawan kebahagiaan terpancar air mata kebahagiaan itu begitu berarti buat sepasang suami istri tersebut.
LIMA TAHUN KEMUDIAN
"Usia semakin bertambah dengan semua perjalanan hidup yang sudah mereka lalui, perjalanan hidup yang dijalani oleh Safira dan Gunawan benar-benar begitu berarti.
"Sayang." Panggil Safira yang menatap suaminya habis menunaikan sholat bersamanya.
"Ada apa?" tanya Gunawan yang tersenyum sembari memandang istrinya.
"Mas, aku tadi malam bermimpi sesuatu." ucap Safira.
"Kamu mimpi apa." jawab Gunawan yang mengulurkan tangannya agar sang istri mendekat. mereka masih memakai pakaian sholat dan duduk bersama memandang sajadah yang ada di depan mereka.
"Tadi malam aku bermimpi ada sebuah cahaya yang menunggu kita Mas." ucap Safira .
"Mungkin Allah ingin memberikan kita petunjuk, sayang." jawab Gunawan.
"Aku selalu berdoa kepada Allah jika Allah mengambil ku terlebih dahulu, Aku ingin Allah menjagamu. tapi jika kamu diambil terlebih dahulu aku berdoa kepada Allah agar dia segera mengambilku. Aku tidak akan mampu bertahan tanpamu, kita sudah menjalani hidup selama puluhan tahun. kita sudah menjalankan amanat Allah untuk membesarkan dan mendidik anak-anak kita, kita sudah menjalankan anugerah yang diberikan oleh Allah. jika Allah mengambil ku terlebih dahulu, maka aku akan menunggumu." jawab Gunawan.
"Dalam mimpiku atau dalam bangunku, ketika aku menatapmu aku selalu berdoa kepada Tuhan jika kau diambil terlebih dahulu Aku ingin mendampingi mu dalam satu kehidupan. menjalankan hidup bersama dalam rumah tangga, Aku ingin Ketika Tuhan mengambil nyawa kita bersama dalam pusaran kedamaian yang terakhir. satu liang lahat bersama dan kita akan berjalan bersama menuju kearibahan ilahi." jawab Safira sembari meneteskan air matanya.
"Kalau begitu mari kita berdoa kepada Tuhan agar dia mendengarkan doa kita, aku akan selalu bersamamu dalam hidup ataupun dalam kematian." Gunawan yang kemudian memeluk sang istri dengan begitu berat.
"Umur mereka memang sudah tidak mudah lagi, kehidupan Sudah mereka jalani selama puluhan tahun. anak-anak yang masih kecil itu sekarang sudah tumbuh dewasa mereka sudah mempunyai keturunan yang juga sudah dewasa bahkan ada yang sudah menikah dan memiliki anak.
Sekarang Gunawan dan Safira sudah menjadi kakek dan nenek buyut. beberapa jam kemudian pagi sudah menampakkan sinar mentarinya, Gunawan dan Safira sudah berada di ruang makan bersama anak-anak Raihan dan Asyifa bahkan putri dari Raihan juga sudah mempunyai anak.
"Papa, Mama." panggil Raihan dan Asyifa.
"Ada apa." jawab jawab Safira dan Gunawan.
"Apa Papa dan Mama baik-baik saja?" tanya Asyifa.
"Tentu saja sayang, mama baik-baik saja." jawab Safira.
"Papa baik-baik saja?" tanya Raihan.
__ADS_1
"Tentu saja Raihan, Memangnya ada apa?" tanya Gunawan yang membuat Raihan nampak tersenyum.
"Hari ini kan hari Minggu Pa, sebentar lagi keluarga besar kita akan berkumpul, nanti kita main sama cucuku sama cucu Abang, sama Mbak Sheila ya." minta Raihan.
"Papa ini sudah tua, Raihan. mamamu juga sudah tua, kami berdua ini sudah menjadi nenek buyut dan kakek buyut. masak kami harus disuruh mengejar cucumu sih." canda Gunawan yang membuat Raihan dan Asyifa tersenyum.
Sekitar 30 menit kemudian keluarga besar itu tumpah ruah, dari dua orang berkembang menjadi empat kemudian berkembang menjadi 11 bahkan sekarang sudah berkembang lagi menjadi 27 orang. rumah Gunawan benar-benar begitu meriah seperti kondangan pesta hajatan.
"Kakek buyut, nenek buyut!!" teriak cicit Safira dan Gunawan.
"Sini kakek buyut benar-benar sangat rindu." jawab Safira dan Gunawan.
Suara canda tawa yang ada di tempat itu benar-benar begitu luar biasa, senyum yang terukir di bibir Safira membuat Gunawan begitu bahagia.
"Aku benar-benar ikhlas, Mas." ucap Safira sembari meletakkan kepalanya di dada sang suami.
"Mas juga sudah ikhlas dengan kehidupan ini." jawab Gunawan yang kemudian tersenyum melihat anak menantu cucu serta cucu menantu dan cicitnya."Allahuakbar lailahaillallahhu Akbar." sambung Safira dan Gunawan.
"Papa, Mama ayo kita berfoto minta Ivan dan Ivan tak ada jawaban yang keluar dari mulut sepasang suami istri itu. mata yang tertutup dan senyum yang begitu mengembang. Seketika Yufan yang melihat papa dan Mamanya seperti itu mereka berdua langsung tersentak, diperiksa denyut di tangan. sepasang suami istri itu nafas sudah tidak berhembus, nadi yang sudah tidak berdenyut.
"Papa, mama!!" teriak Yufan dan Ivan ketika mengetahui kedua orang tuanya sudah tidak bersama Mereka lagi.
Kehidupan benar-benar memberikan sebuah pelajaran.
"Ada apa mas?" tanya Indah dan Aisyah.
"Papa dan Mama, Papa dan Mama sudah meninggalkan kita!!" teriak Yufan dan Ivan yang membuat Sheila dan yang lain langsung berteriak.
Tak ada kata namun senyum yang ditunjukkan oleh sepasang suami istri itu menunjukkan sebuah kebahagiaan yang sungguh luar biasa. kisah cinta yang begitu indah perjalanan yang begitu panjang hingga membuat jalan cinta itu begitu bermakna, rasa dan cinta kasih dan sayang untuk saling melengkapi.
** TAMAT **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatanmu
- Gairah cinta isteri muda
- One night stand with mister William
- Gairah terlarang
- Isteri bayaran tuan Presdir
__ADS_1
- Aku mencintai isteri yang ku benci