
Setelah Ivan memutuskan untuk berpisah dengan Zaskia, Entah mengapa perasaannya sedikit merasakan kelegaan yang sangat besar Ivan tidak akan membiarkan dirinya seperti orang bodoh, seperti yang dikatakan oleh teman-temannya. Cinta memang sangat luar biasa, namun jika cinta itu membuat orang lain seperti sesuatu tanpa jiwa maka itu bukanlah namanya cinta. itu hanyalah sebuah obsesi untuk memiliki seseorang karena fisiknya semata.
Setelah menurunkan Zaskia dan mencari taksi, Ivan kembali dengan perasaan yang benar-benar begitu lega. terlihat Ivan sendiri sudah merasa terbebas dari semua belenggu yang selama ini dibuat oleh Zaskia, sekitar 5 menit kemudian Ivan sudah berada di rumahnya. pria itu menatap rumah yang begitu luar biasa dan memberikan cinta kepadanya.
"Di mana wanita itu, bang?" tanya Sheila kepada kakaknya.
"Tenggelam di laut." jawab Ivan sembari tersenyum dan mengacak rambut Sheila.
"Yang bener bang? beneran dia tenggelam di laut?" tanya Sheila.
"Beneran." jawab Ivan yang kemudian menunjukkan rasa yang begitu bahagia tanpa ada tekanan yang selalu membuatnya merasakan sesuatu yang tidak bisa membuatnya bernafas.
Seketika Sheila membelalakkan matanya, Remaja tersebut tersenyum begitu bahagia. "Yes..,yes.., yes. akhirnya bang Ivan putus juga dari wanita ular kobra itu. dengan begitu aku bisa menjodohkan bang Ivan dengan seorang wanita." ucap Sheila yang terlihat begitu antusias dengan kabar yang diberikan oleh Ivan.
"Apa yang kamu pikirkan, Sheila?" tanya Yufan yang berdiri dari tadi di belakang tubuh Sheila.
"Kelihatannya bang Ivan sudah putus dari wanita ular kobra itu, bang." ucap Sheila.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Yufan.
"Barusan bang Ivan bilang sendiri kok, Katanya dia sudah menenggelamkan wanita itu di laut." jawab Sheila.
"Beneran?" tanya Yufan.
"Iya bang." jawab Ivan.
"Hahaha.., akhirnya wanita ular kobra itu pergi juga. aku benar-benar sangat sesak saat melihat wajahnya, kalau bukan karena Ivan Mungkin aku akan melempar dia ke jurang." ucap Yufan.
"Jurang mana bang?" tanya Sheila.
"Ke jurang mana ya, Memangnya Indonesia jurang mana yang paling curam?" tanya Yufan yang membuat Sheila malah tertawa terbahak-bahak.
"Ayo kita makan di luar bang, ajak Mbak Indah Mbak Aisyah sama si gembul. kita makan untuk perayaan putusnya mereka." jawab Sheila.
"Gila kamu, tapi bagus juga. biar aku telepon Indah sama Sheila, Setelah itu kamu langsung siap-siap ajak Raihan untuk segera berganti pakaian. Oke!" seru Yufan yang kemudian menelepon Indah untuk mengajak Aisyah jalan-jalan.
__ADS_1
Sedangkan Yufan sendiri tidak mungkin mengajak Ivan karena dia bingung dengan alasan apa mereka keluar, suara canda tawa kedua orang itu ternyata didengar oleh Gunawan dan Aisyah. kedua orang tua itu hanya bisa memasrahkan Apapun keputusan anak-anaknya.
"Aku mau ke kamar Ivan dulu ya, Mas." ucap Safira.
"Iya, masuklah. Mas mau buat minuman dingin dulu." jawab Gunawan yang membuat Safira sedikit menatap sang suami.
"Tumben minum es Mas?" tanya Safira.
"Tubuhku sedang panas, sayang. aku mau minum dingin dingin." jawab Gunawan sambil tersenyum. padahal di dalam hati Gunawan akhirnya putranya itu bisa terlepas dari jerat ular kobra yang selalu membuat Ivan tidak bisa mengambil keputusan dengan bijaksana.
"Alhamdulillah ya Allah, bukannya hati saya busuk ya Allah. tapi ini adalah keputusan yang baik, bukannya hati saya buruk Ya Allah. tapi ini adalah sesuatu yang benar-benar begitu luar biasa, jika sampai Putra saya tetap bersama wanita itu bisa-bisa Putra saya menjadi keset di luar pintu rumah." guman Gunawan sembari menggelengkan kepalanya dan menggerak-gerakkan tangannya. seolah dia itu Mbah dukun. langkah kaki Gunawan berjalan ke dapur sedangkan Safira berjalan ke kamar Ivan.
TOK...
TOK...
TOK...
suara pintu kamar Ivan diketok oleh seseorang. Ivan yang berada di kamarnya nampak sedang melihat beberapa tugas perusahaan yang masih belum dia kerjakan.
"Masuk!!" seru Ivan.
Safira memasuki kamar putranya itu, wanita itu melangkahkan kakinya ke meja kerja Ivan yang ada di kamarnya.
"Kamu sedang mengerjakan apa, Ivan?" tanya Safira kepada putranya.
"Mengerjakan beberapa proyek yang harus Ivan lihat, Ma." jawab Ivan.
"Ada waktu Sebentar, tidak?" tanya Safira.
"Iya ma, Memangnya ada apa?" tanya Ivan kepada sang mama. kemudian terlihat Ivan menetap mamanya dengan tatapan mata yang begitu menunjukkan sebuah pertanyaan yang begitu besar.
"Apa benar yang mama dengar kalau kamu sudah putus dengan Zaskia, sayang?" tanya Safira kepada Ivan.
Kata-kata yang diucapkan wanita itu diatur sedemikian rupa agar Ivan tidak tersinggung dengan kata-katanya. Ivan terlihat menatap nafasnya, sesaat kemudian pria itu memegang kedua tangan mamanya.
__ADS_1
"Maafkan aku ma, maaf atas semua kebodohan yang sudah aku lakukan, Maafkan aku jika Wanita itu sudah melukai Mama membuat Mama terluka dan selalu menyakiti hati Mama." ucap Ivan.
"Memangnya ada apa, apa yang membuatmu putus darinya, Ivan?" tanya Safira.
Ivan sedikit terdiam dengan pertanyaan dari mamanya tersebut. Namun keputusannya ini adalah keputusan yang sangat benar, dia tidak ingin terus-menerus menjadi pria bodoh karena semua yang dilakukan oleh Zaskia kepadanya.
"Apakah mama marah padaku?" tanya Ivan kepada Safira.
"Mama tidak marah, Apakah mama cuma bertanya Apakah benar kalau kamu sudah berpisah dari wanita itu, Ivan?" tanya Safira kembali.
"Iya Ma, aku sudah putus dengan Zaskia." jawab Ivan.
"Memangnya kenapa kalian putus? Apakah ada sesuatu yang membuatmu ingin berpisah darinya?" tanya Safira kepada putranya.
Terlihat Ivan menatap mamanya kemudian memegang kedua tangannya kembali. "Ini yang terbaik, ma. ini yang terbaik bagi kami berdua, aku sudah berusaha keras untuk membuatnya mengerti bagaimana keadaan kami berdua. tidak pernah sekalipun dia berusaha untuk menerimaku apa adanya, tidak pernah sekalipun dia berusaha untuk memahamiku. aku memang mencintainya, Ma. tapi aku tidak ingin cintaku ini buta dengan semua obsesi yang aku miliki, aku ingin Rumah tanggaku berjalan bahagia. aku ingin mempunyai seorang wanita yang mencintaiku dengan tulus apa adanya, bukan karena semua yang aku miliki bukan karena status yang kita pegang sekarang ini." jawab Ivan.
"Lalu, apakah Zaskia menerimanya?" tanya Safira.
"Aku tidak tahu, Ma. tapi aku tidak ingin hubungan kami seperti air dan minyak yang tidak akan pernah bersatu." jawab Ivan.
"Jangan pernah menyakiti seorang wanita, Ivan. karena kesakitan seorang wanita adalah luka yang teramat besar. Jangan pernah kamu mempermainkannya karena seorang wanita yang terluka tidak akan bisa sembuh hanya dalam sekejap mata." jawab Safira.
Setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Safira, Ivan mengerti dengan semua yang dia lakukan. terlihat pria itu benar-benar tahu bagaimana dan apa yang harus dia lakukan.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
__ADS_1
- I love you uncle Bastian
- Terlempar ke dimensi kerajaan