
Kabar mengenai kehamilan Indah membuat keluarga besar Gunawan dan Safira begitu bahagia.
Satu minggu kemudian
Sheila keluar dari kamarnya menuju dapur. " Mbok!" panggil Sheila.
"Ada apa mbak," jawab salah satu pembantu.
Sekitar lima menit kemudian Raihan datang dari kamarnya berjalan menuju dapurnya. "Mbak." panggil Raihan.
"Ada apa?" tanya Sheila.
"Lagi masak apa mbak?" tanya Raihan.
"Buat nasi uduk." jawab Sheila.
"Mau dong mbak." pinta Raihan yang sudah membawa piring.
"Ambil sendiri." jawab Sheila yang kemudian duduk dan membawa nasi.
Lima menit kemudian datanglah Yufan yang sedang membawa beberapa berkas, pria itu sedang bersama isterinya.
"Lagi makan apa?" tanya Yufan.
"Nasi uduk bang." jawab Raihan.
Yufan yang akan pergi ke tempat sang ayah terlihat menatap dua adiknya sedang makan dengan begitu lahapnya. pria itu langsung mengambil piring dan langsung duduk.
"Mau apa mas?" tanya Indah.
"Mau makan." jawab Yufan yang langsung makan tanpa permisi sana Sekali.
Sheila dan Raihan menatap kakaknya yang sedang makan dengan begitu lahapnya. "Lihatlah, ada orang makan tanpa permisi sama kita. Memangnya makanan itu turun dari langit apa." cibir Sheila yang terlihat menatap kakaknya yang sedang makan dengan begitu lahapnya.
Indah langsung duduk sembari menatap suaminya yang sedang makan tanpa permisi sama sekali. "Amit-amit jabang bayi, jangan sampai anakku itu seperti ayahnya. Lihatlah dia makan makanan orang tanpa permisi seperti itu, kayak orang nggak punya dosa sama sekali." Indah yang sedang menatap suaminya makan dengan begitu lahap dan tanpa permisi sama sekali.
"Mbak Indah nggak mau makan?" tanya Sheila sembari menawarkan makanan kepada kakak iparnya.
"Mbak sudah kenyang."jawab Indah.
"Kok sudah kenyang sih, mbak. Memangnya Mbak Indah sudah makan?" tanya Sheila.
"Lihat abangmu aja mbak Indah sudah kenyang." jawab Indah sambil menatap suaminya yang makan begitu lahap tanpa menatap kanan dan kiri. pria itu benar-benar seperti pria yang kelaparan Entah berapa hari Dia tidak makan.
"Memangnya yang ngidam siapa sih, Mbak?" tanya Sheila.
"kalau dilihat dari kondisinya Kamu pasti bisa menjawabnya, Sheila." jawab Indah sambil menatap suaminya.
__ADS_1
"Kalau dilihat sih memang mbak, Lihatlah abangku begitu rakus hingga membuatku ingin muntah." ucap Sheila sembari menatap Yufan yang makan dengan begitu lahapnya. dia tidak melihat kanan kiri bahkan pria itu tidak menghiraukan orang-orang yang sedang membicarakan dirinya. dia menganggap orang-orang yang ada di sekitarnya seperti tembok kalau tidak pasti makhluk tak kasat mata.
Setelah berbicara dengan begitu panjang lebar, akhirnya Sheila harus pergi bekerja.
"Oh ya Mbak, kalau begitu aku berangkat dulu ya." pamit Sheila kepada kakak iparnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Indah.
"Ada pekerjaan Mbak, aku kan sudah bilang kalau aku sekarang sudah bekerja di salah satu hotel bersama temanku, Nadia." jawab Sheila yang kemudian berpamitan kepada Indah dan kakaknya.
"Hati-hati!" seru Yufan.
Sheila berangkat dengan menggunakan sepeda motor matic, dia menjemput Nadia terlebih dahulu.
Lima menit kemudian
CITTTTTT...
"Sudah lama nunggu, ya?" tanya Sheila.
"Barusan."
"Ok, kita berangkat."
Sheila melajukan motornya.
Sudah lima hari Sheila dan Nadia bekerja di salah satu hotel bintang lima.
"Wah, kelihatannya ada banyak tamu." ucap Sheila sambil membuka helmnya.
"Wah.., kelihatannya mereka tamu dari luar negeri." Nadia nampak menatap sekitar 10 orang yang masuk ke dalam hotel ini.
"Ada rombongan apa ya, Kok kelihatannya ada tamu spesial." Sheila yang mencoba untuk mencari tahu tamu yang masuk ke hotel.
"Sudah sudah, lebih baik kita masuk nanti pak bos mencari kita, nanti malah dia memberi kita hukuman membersihkan toilet lagi." Nadia yang langsung menarik tangan Sheila dan membawanya masuk ke dalam tempat pekerjaannya.
Saat berada di ruangan ganti dengan segera Sheila dan Nadia pergi ke salah satu ruangan untuk membersihkan kamar tersebut.
CEKLEK...
Seorang pria masuk ke kamar tempat Nadia dan Sheila berada, kedua wanita itu sedang membersihkan kamar tersebut. mereka harus segera selesai dalam 5 menit namun sebelum 5 menit datang seorang pria tua memasuki ruangan tersebut sembari menatap tajam ke arah Sheila dan Nadia.
Pria tua itu mengerutkan keningnya, memainkan bibirnya dengan salah satu jarinya. terlihat sekali dari raut wajahnya Kalau pria yang masuk ke ruangan itu adalah pria mesum tidak tahu diri.
"Ternyata ada dua wanita cantik di ruangan ini, aku tidak salah masuk ke sini." ucap salah satu tamu yang dengan lancangnya masuk ke ruangan yang belum selesai dibersihkan namun dia sudah masuk ke dalam kamar tersebut.
CEKLEK..
__ADS_1
suara pintu kamar hotel yang ditutup. saat mendengar suara itu Sheila dan Nadia langsung menoleh, mereka berdua sangat terkejut ketika mereka melihat seorang pria tua sedang menatap mereka dengan senyum genit, bahkan tatapan mata itu menunjukkan tatapan mata yang begitu mesum luar biasa.
Sheila dan Nadia menatap satu sama lain, mereka berdua terlihat sangat terkejut ketika melihat seorang pria tua yang mungkin usianya sekitar 50 tahun itu sudah berada di kamar yang sedang dibersihkan oleh dua gadis tersebut.
"Siapa pria itu, Sheila?" tanya Nadia
"Mana aku tahu." jawab Nadia.
"Kok dia menatap kita seperti itu, Mana aku tahu." jawab Sheila kembali.
Nadia menatap pria itu hingga membuat wanita itu merasa risih, bulu kuduknya seketika berdiri saat melihat tatapan mata yang begitu menjijikkan dari pria tua tersebut.
"Maaf tuan, Kami sedang membersihkan kamar tuan. sekitar 5 menit lagi kami sudah selesai kok." Sheila yang memberikan penjelasan kepada pria itu sambil membersihkan kamar dan mengajak Nadia keluar dari kamar itu.
Tak ada suara yang keluar dari mulut pria tua tersebut. Namun ketika dua gadis itu hendak keluar tiba-tiba saja pintu kamar hotel itu tidak bisa dibuka.
CEKLEK..
CEKLEK...
Beberapa kali pintu itu dibuka Namun dua gadis itu tidak bisa membukanya.
"Tuan, apakah Tuan mengunci pintu ini?" tanya Sheila.
"Memangnya kenapa aku harus menguncinya." jawab pria tua.
Nadia dan Sheila saling memandang satu sama lain, mereka berdua yakin kalau pria tua itu memiliki pemikiran jahat kepada mereka berdua.
"Lebih baik kita berhati-hati, aku yakin tua bau busuk ini mau melakukan sesuatu kepada kita." bisik Sheila di telinga Nadia.
"Kamu jangan menakutiku." guman Nadia yang masih didengar oleh Sheila.
"Kalau dia macam-macam akan kulipat dia menjadi dua." bisik Sheila kembali.
Si pria tua nampak melepaskan jas yang dia pakai, setelah itu dia melepas arloji dan duduk di atas ranjangnya. tatapan mata yang penuh dengan gairah saat melihat Sheila dan Nadia.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
__ADS_1
- I love you uncle Bastian
- Terlempar ke dimensi kerajaan