
** 6 bulan kemudian *
BRAKKK..
suara barang yang berjatuhan.
"Ada apa mas?" tanya Safira.
"Sayang bantu mas." pinta Gunawan.
"Ngapain mas ambil barang itu?" tanya Safira.
"Mau mas pakai." jawab Gunawan yang mengambil panci.
"Mas ini ngapain sih ambil panci itu?" tanya Safira yang terlihat mengambil panci besar juga alat pemanggang.
"Ini loh sayang, mas mau buat acara bakar-bakar bebek sama para pekerja." jawab Gunawan.
"Iya sih, kita kan habis panen, mas. kita sekalian tasyakuran." ucap Safira.
Gunawan benar-benar tidak akan pernah mengira kalau sekarang dia harus menjadi juragan sawah dan peternakan.
"Ya Allah mas, kok mas Jadi memberantakkan barang-barang yang ada di gudang sih." ucap Safira sembari memanyunkan bibirnya.
"Maaf sayang, habis mas terburu-buru sih." jawab Gunawan.
Walaupun kehidupan Gunawan tidak seperti dahulu bergelimang harta dengan kekayaan banyak dan semua fasilitas yang begitu luar biasa, hidup sederhana yang dijalani oleh Gunawan sebagai juragan peternakan dan sawah membuat pria itu benar-benar merasakan sesuatu yang sangat luar biasa. hidup sederhana namun bahagia tidak tertekan bahkan tidak harus memikirkan persaingan dunia bisnis yang begitu luar biasa, bahagia begitu sederhana. itulah yang selalu dikatakan oleh Safira yang membuat Gunawan baru menyadari kehidupannya yang sekarang.
"Mbak Fira, Mbak Fira!!" seru beberapa gadis tetangga.
"Ada apa." jawab Safira.
"Mbak, nanti ikut ke balai desa yuk!" seru para tetangga.
"Mau apa Ke balai desa?" tanya Safira.
"Di sana ada kegiatan memasak bareng loh, kita bisa icip-icip makanan di sana." ucap para tetangga yang membuat Safira langsung bersemangat.
"Ya udah kalau gitu, ayo kita berangkat sekarang!" seru Safira yang langsung meninggalkan sang suami.
"Mau kemana Sayang?!" seru Gunawan.
"Mau ke balai desa, Mas." jawab Safira.
__ADS_1
"Lalu, ini Siapa akan beresin?" tanya Gunawan.
"Ya kamu lah Mas, kamu yang memporak-porandakan kok nggak mau tanggung jawab." jawab Safira sambil tersenyum.
Terlihat Gunawan hanya bisa menggelengkan kepalanya, pria itu kemudian membawa beberapa barang yang akan dia pakai untuk memasak bersama para warga.
Gunawan benar-benar bahagia dengan kehidupannya yang sekarang, pria itu selalu bersyukur dengan semua yang sudah diberikan oleh sang istri. Gunawan menatap istrinya yang sudah pergi rumah sederhana yang sekarang dibangun dan diperluas oleh Gunawan untuk tempat tinggal Pak Madi dan Irfan.
"Mas Gunawan!" seru Irfan.
"Ada apa, Irfan." jawab Gunawan.
"Mas, ada beberapa orang yang nyari tuh." ucap Irfan.
"Siapa?" tanya Gunawan.
"Mereka adalah pesuruh dari perusahaan susu, katanya ada yang ingin dibicarakan." jawab Gunawan.
"Lalu, apalagi?" tanya Gunawan.
Pak Madi bilangnya mereka kewalahan karena permintaan bebek yang semakin banyak, apalagi buah-buahan kita itu mau panen. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Irfan yang benar-benar kebingungan. seorang bodyguard yang kerjaannya di dunia yang keras sekarang lebih memilih untuk mengikuti Gunawan dan Safira ke desa
"Ya kamu cari dulu gitu loh..," ucap Gunawan.
"Cari apaan." jawab Irfan.
Sudah 6 bulan lamanya Safira, Gunawan serta si kembar dan yang lain berada di desa tempat Safira. di sebuah tempat yang selalu membuat Safira mengenang kembali kehidupannya. Sesaat kemudian terlihat gadis centil dan bawel datang ke tempat Gunawan.
"Mas Irfan, Mas Irfan!" Panggil seorang gadis.
"Eh Delina, ada apa kamu ke sini?!" seru Gunawan yang melihat gadis muda yang selalu berusaha untuk mendekati Irfan.
"Ini loh mas Gunawan, aku ada perlu sama Mas Irfan." jawab Delina.
"Ya udah kalau gitu, Irfan kamu pergi aja sama Delina dulu. nanti kalau sudah ketemu sama bos-bos itu kamu bilang aja aku masih sibuk." ucap Gunawan.
"Memangnya ada apa sih Mas Gunawan?" tanya Delina.
"Ini lho Delina, aku bingung soalnya katanya peternakan bebek itu kewalahan sama bebek yang semakin banyak pesenannya." jawab Gunawan.
"Oh ya Mbak Fira ke mana?" tanya Delina.
"Dia lagi Ke balai desa, katanya ada penyuluhan apa gitu." jawab Gunawan.
__ADS_1
Kehidupan benar-benar memberikan suatu pembelajaran kepada semua orang, tidak selamanya kebahagiaan itu berasal dari gelimang harta bersama dan selalu memberikan cinta.
Sudah 6 bulan lamanya Satria masih belum menemukan keberadaan dari Safira, pria itu semakin frustasi entah apa yang membuat dirinya belum mendapatkan keberadaan Safira. Apakah ada sesuatu yang membuat wanita itu belum dia temukan.
BRAKK...
BRAKK...
BRAKK..
"Aaaaa!!!!"
suara teriakan yang begitu menggelegar terdengar di sebuah ruangan, Satria benar-benar sangat marah.
"Ini sudah 6 bulan mengapa kalian masih belum menemukan keberadaan wanita itu, aku membayar kalian bukan untuk bersenang-senang. aku membayar kalian untuk mendapatkan keberadaan wanita itu!!" seru Satria.
"Kami benar-benar tidak tahu di mana keberadaannya, Tuan. kami sudah mencari tahu di seluruh anak buah pria itu, tapi tidak ada satu karyawan pun yang mengetahui di mana keberadaannya." jawab anak buah Satria.
"Bodoh kalian benar-benar sangat bodoh!!" seru Satria.
"Maafkan kami, tuan." ucap anak buah Satria
"Aaaaa!!!!!" teriak Satria.
"Perusahaan itu sudah beralih tangan, dia sudah tidak mempunyai apapun. fasilitas yang ada di tempat ini juga sudah bukan miliknya lagi. Lalu ke mana dia pergi, dia sudah jatuh miskin tapi kenapa aku tidak bisa mencari keberadaannya." ucap Gunawan.
"Kami sudah mencari keberadaan pria itu di beberapa tempat, tuan. di beberapa tempat keluarganya kerabatnya dan teman-temannya. tapi kami belum mendapatkan keberadaan pria itu bahkan terlihat pria itu seperti menghilang." ucap anak buah Satria.
"karena hal itu kalian harus cari tahu di mana keberadaan wanita itu, aku menginginkan wanita itu aku tidak peduli dengan pria itu. Kalian cari tahu di mana keberadaan Safira, kalau perlu cari di tempat mantan suaminya!!" seru Satria.
Semua keadaan benar-benar begitu kacau, terlihat di tempat lain Rudi juga sudah bercerai dengan Putri. pria itu tidak ingin bersama dengan wanita yang tidak pernah memberikan dia kebahagiaan, Rudi sudah tahu mengenai kabar Gunawan sudah bangkrut. pria itu juga mencari keberadaan Mantan istrinya, Rudi yang tahu Di mana rumah keluarga almarhum sang istri Hal itu membuat Rudi yakin kalau Safira berada di rumah almarhum orang tuanya.
"Sudah 6 bulan Aku mencari Safira di mana pun, aku yakin wanita itu berada di rumah almarhum orang tuanya." ucap Rudi yang kemudian pergi dari apartemennya untuk mencari keberadaan Safira di rumah almarhum orang tuanya. Rudi sangat yakin kalau Safira tidak berada di sekitaran Jakarta berarti Safira berada di Jogja.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
__ADS_1
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian