
"Huff..," suara helaan nafas Sheila.
"Apabila kamu benar-benar yakin dengan kata-kata yang kamu ucapkan tadi, Sheila?" tanya Paman Ferdi.
"Kalau aku tidak yakin aku tidak akan mengatakannya kepada paman, aku saja bingung bagaimana paman yang hanya mengikuti kasus ini. aku yang menyelidikinya saja kepalaku sampai botak." canda Sheila yang membuat Paman Ferdi memakai koyok cabe di dahinya.
"Kepalaku sangat pusing, Sheila. Kamu pergilah dahulu Paman mau istirahat, kepala Paman benar-benar sangat pening mau pingsan tapi banyak kasus." Paman Ferdi yang terlihat merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di kantornya. pria itu benar-benar sangat bingung luar biasa, Baru kali ini dia mendapatkan kasus seperti ini nyatanya dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. semuanya benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling.
Sheila akhirnya bertemu dengan teman-teman Reno, wanita itu menceritakan mengenai kejanggalan pada kasus yang dia tangani.
"Oh ya Dicky, Bagaimana menurutmu dengan kasus ini?" Sheila yang terlihat mencari teman untuk berbagi pendapat.
"Kasus ini kasus yang lumayan gila juga ya, tunarungu dia bisa melihat namun tidak bisa berbicara dan mendengar, kalau dia membunuh itu masih masuk akal karena dia bisa melihat. sedangkan si tunanetra dia tidak bisa melihat Tapi dia bisa mendengar dan berbicara. Kalau dia mau membunuh sih itu agak bingung, waktu mau membunuh apa dia mau meraba dulu setelah itu bilang Tuan jangan bergerak aku mau membunuhmu." perkataan yang diucapkan oleh Dicky membuat Sheila menatap pria itu sambil melotot.
"Kamu memberiku saran atau mau berkelahi denganku?" Sheila yang mulai sedikit emosi.
"Ya tidak seperti itu juga kakak ipar, Coba kakak ipar pikir dengan jernih. tidak mungkin kan tunanetra bisa membunuh, kalau tunarungu kemungkinan bisa membunuh karena dia bisa melihat walaupun dia tidak bisa mendengar dan berbicara. tapi kalau si tunanetra ini membunuh itu harus kita selidiki, berarti dia mempunyai kemampuan khusus hingga membuat dia bisa melakukan hal itu." Dicky menjawab dengan semula semua pemikiran yang dia miliki.
Memang masuk akal karena yang dipikirkan Dicky itu sama dengan pemikiran yang ada di otak Sheila. terlihat Sheila menggaruk keningnya wanita itu menatap sebuah tempat dengan semua kebutuhan yang ada di tempat itu.
"Apa di sini ada arena untuk latihan tinju?" tanya Sheila yang kepalanya sudah pening l
"Ada, Memangnya ada apa kamu mencari arena pelatihan tinju?" Dicky mulai bingung dengan kata-kata yang diucapkan oleh Sheila.
"Tunjukkan di mana tempatnya, aku tadi membawa pakaian Aku mau ganti dulu." Sheila yang kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Sekitar 10 menit kemudian
__ADS_1
Seorang wanita keluar dari kamar mandi dengan pakaian serba hitam dan tangannya sudah dibungkus dengan sarung tinju.
"Bisa tolong antarkan aku ke tempat itu." pinta Sheila yang terlihat memperlihatkan sarung tangan yang sudah dia pakai.
"Ini wanita gila banget ya, Reno ini sebenarnya menemukan ini wanita di mana sih, kok absurd banget." guman Dicky dalam hati yang kemudian mengantar Sheila ke sebuah ruangan khusus untuk pelatihan tinju.
Teman-teman Reno memang selalu melatih tubuhnya di tempat itu, sesaat kemudian tanpa mengatakan apapun Sheila langsung mengeluarkan pikirannya yang begitu pening luar biasa, kedua tangannya mulai melakukan pergerakan, dengan begitu lincah Sheila meninju bantalan tinju tersebut dia ingin mengeluarkan segala kepenatan yang ada di otaknya. hanya seperti itulah Sheila bisa meringankan beban hati dan pikirannya selama ini.
TIGA PULUH MENIT KEMUDIAN
"Wow..," Dicky yang terpukau dengan Sheila.
"Oya, bisa minta tolong ikut aku ke tempat pembunuhan itu?" tanya Sheila kepada Dicky.
"Memangnya kamu mau apa ke sana?" otak Dicky mulai berpikir kembali.
"Tentu saja aku harus melakukan sesuatu, aku harus segera mendapatkan informasi mengenai kejadian waktu itu. jika benar ada argumen lain ataupun kasus ini adalah kasus jebakan, maka akan kubuat orang yang mempermainkan aku itu membusuk di penjara." Shela yang benar-benar kesal luar biasa ketika dirinya memikirkan apa yang sudah terjadi.
Sheila tidak mempunyai pikiran takut kepada teman-teman Reno yang mungkin saja akan berbuat jahat kepadanya. wanita itu bersikap begitu santai bahkan tatapan matanya menunjukkan tidak ada guratan ketakutan sama sekali.
"Wanita ini otaknya di mana ya, kita itu baru kenal tapi dia seperti mengenal kami semua. sudah lama dia tidak memperlihatkan ketakutannya, Bahkan dia tidak risih kepada kami." guman Dicky yang nampak melirik Sheila.
"Lurus aja, matanya Jangan lihat ke sana ke sini." ujar Sheila yang membuat Dicky langsung memalingkan wajahnya.
"Ini cewek pasti punya indra keenam, belum lihat cuma lirik aja udah tahu. bagaimana kalau lihat bisa dicongkel beneran kedua bola mataku ini." guman Dicky yang terlihat melajukan mobilnya.
Sekitar setengah jam kemudian mereka sudah sampai di tempat kejadian pembunuhan, di sebuah rumah milik konglomerat yang tiba-tiba terbunuh dan tersangkanya adalah dua orang berkebutuhan khusus.
__ADS_1
"Nona Sheila." salah satu pelayan yang mengenali Sheila.
"Bisakah aku masuk ke dalam, aku harus meyakinkan mengenai satu hal. jika aku tidak melakukannya kemungkinan pembunuh itu tidak akan bisa masuk penjara." ucap Sheila.
Seorang pria yang tidak lain adalah putra dari sang konglomerat keluar. "Aku minta padamu untuk tidak membantu dua pembunuh itu." pinta putra dari konglomerat.
"Tenang saja, Tuan. Aku tidak akan melakukannya Jika dia memang pembunuhnya. tapi bisakah aku meminta tolong padamu untuk melakukan sesuatu." minta Sheila.
Setelah masuk ke dalam rumah sang konglomerat dengan Putra konglomerat itu, Sheila mempunyai sebuah pemikiran yang begitu membingungkan. dia meminta putra dari konglomerat itu menceritakan mengenai dua pria itu dan bagaimana bisa mereka bekerja di tempat itu.
"Aku tidak tahu begitu banyak, tapi yang pasti Papa membawa mereka kemari untuk sesuatu. namun entah apa yang dipikirkan papa aku sempat mengatakan kalau pria buta itu tidak mungkin bekerja di sini. tapi Entahlah apa yang terjadi tapi papa ngotot. Kalau pria bisu itu memang bekerja di sini terlebih dahulu pria itu bekerja dengan begitu baik, aku menyukainya karena dia begitu sopan dia pelajari kerja dan dia mempunyai keluarga yang harus dia nafkahi." jawab Putra konglomerat.
"Apakah kamu tidak mempunyai hubungan khusus dengan pria bisu itu atau mungkin kamu mempunyai hubungan khusus dengan Putri atau keluarganya?" Shela yang tiba-tiba menanyakan hal itu.
Seketika Raut wajah Putra konglomerat seketika berubah total. "Apa maksudmu dengan mengatakan hal itu padaku?" Putra konglomerat yang sedikit tersinggung dengan kata-kata Sheila.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- I love you uncle Bastian
__ADS_1
-Terlempar ke dimensi kerajaan
-Isteri simpanan bos kejam