
"Bagaimana, Sheila?" tanya Paman Ferdi.
"Berkas-berkas ini boleh aku bawa pulang, tidak. Paman? tanya Sheila.
"Bawa aja kalau perlu kamu jadikan itu barang berhargamu." canda Paman Ferdi yang membuat Sheila mencibirkan bibirnya.
Sore itu akhirnya Sheila sudah berkemas-kemas untuk segera kembali ke rumah nya, ketika dia kembali ke ruangannya Sheila melihat ponselnya, ternyata di sana begitu banyak panggilan dari Reno.
"Sheila, Reno sudah menunggumu di luar." ucap Paman Ferdi.
"Iya paman." jawab Sheila yang kemudian mengambil tasnya.
Seorang pria menunggu wanita pujaan hatinya di luar firma milik Paman Ferdi, dengan begitu sabar Reno menunggu kekasih hatinya itu. pria itu menantinya hingga hampir satu jam lamanya. salah Ferdi sendiri kenapa dia tidak masuk ke dalam firma milik Paman Ferdi, malah dia berdiri di luar kantor Paman Ferdi hingga dilihat beberapa wanita menatapnya.
"Hai, cakep banget sih Bang." goda beberapa wanita.
"Maaf, aku sudah mempunyai calon istri. jadi aku tidak tertarik pada kalian." Reno yang langsung mengeluarkan kata-kata menyentak kepada para gadis yang menyapanya tadi.
"Tampan-tampan kok galak sih." canda dua gadis itu kembali.
Reno tidak menghiraukan para gadis yang dari tadi menyapanya, pria itu nampak menatap ponselnya kemudian menatap pintu kantor Paman Ferdi.
Sesaat kemudian muncullah seorang wanita yang memakai blazer hitam, Kensi berwarna krem dan celana hitam kesukaannya.
"Sudah lama Mas?" tanya Sheila.
"Barusan saja." jawab Reno yang berbohong.
"Kalau satu jam itu tidak mungkin barusan Mas, itu lama loh." canda Sheila yang membuat Ferdi tersenyum dengan wanita muda yang ada di depannya tersebut.
Ferdi membuka pintu mobil miliknya, pria itu mempersilahkan kekasih hatinya untuk masuk. sedikit cerita 6 bulan yang lalu Ferdi memutuskan untuk melamar Sheila dan wanita itu menerimanya, namun untuk pernikahan Sheila harus menunggu usianya genap 23 tahun. karena dia ingin di acara ulang tahunnya itu menjadi acara pernikahan nya.
"Kamu sudah makan, Mas?" tanya Sheila.
"Belum, Tadi mas langsung datang kemari untuk mengajak kamu makan bersama." jawab Reno dengan kata-kata yang begitu romantis.
"Ya sudah kalau begitu, kita harus segera pergi Mas. kalau tidak perut kita ini akan berteriak karena sangat kelaparan." ucap Sheila yang kemudian meminta Reno untuk segera pergi.
Reno dan Sheila terus bercanda gurau ketika mereka hendak pergi ke salah satu rumah makan, wajah Sheila benar-benar begitu ceria wanita itu selalu mendapatkan kebahagiaan ketika bersama Reno. walaupun Reno adalah pria yang sangat keras namun terhadap Sheila pria itu begitu lembut.
"Hati-hati Mas, nanti di sana ada tikungan tajam." ucap Sheila.
__ADS_1
"Siap Nyonya." jawab Reno.
Dunia terasa indah ketika kita bersama dengan seorang pria yang mencintai kita, suara canda tawa dan suara keindahan dunia itu terasa membuat siapapun menjadi lupa segalanya. ketika mereka berada di Sebuah Jalan yang agak sepi entah mengapa Reno dan Sheila merasa ada sesuatu yang benar-benar membuat mereka khawatir.
"Ada apa mas?" tanya Sheila.
"Entahlah, tiba-tiba saja jantungku berdebar begitu kencang." jawab Reno.
"Memangnya kamu mau ngapain Mas? kok sampai sebegitunya." canda Sheila yang membuat Reno kembali tersenyum.
Sekitar beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di salah satu rumah makan yang memang berada di tempat yang sedikit sepi, Reno memarkirkan mobilnya kemudian mematikan mobil itu.
CEKLEK..
Reno membuka pintu mobilnya kemudian dia berjalan memutar dan membuka pintu mobil untuk kekasihnya. Shela tersenyum begitu bahagia, dia keluar dari mobil sambil menatap Reno senyum yang ditunjukkan begitu indah. namun sesaat kemudian...
DOR...
DOR...
ZLEPP
tiba-tiba saja dua tembakan langsung terdengar, Sheila yang baru keluar pun menjadi sasaran tembakan itu. salah satu tangan Sela tertembak hingga membuat wanita itu langsung tersungkur.
Seketika Reno menoleh mencari Siapa orang yang sudah menembak Sheila, orang-orang yang ada di restoran itu nampak berhamburan keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa ini?!" para pelanggan restoran itu menatap seorang wanita muda yang tangannya terluka.
Seketika Reno langsung memasukkan Sheila ke dalam mobil dan membawanya ke restoran. "Ada apa ini." ucap Reno.
Sheila tidak mengeluarkan sepatah kata pun, wanita itu nampak memegang erat tangannya yang tertembak. salah satu tangan Reno langsung mengambil ponselnya, pria itu menelpon Gunawan untuk memberitahukan mengenai kejadian ini.
15 menit kemudian mereka sampai di sebuah rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari tempat itu.
Reno langsung menggendong Sheila dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
"Dokter, dokter!" seru Reno dengan sangat kencang. pria itu benar-benar sangat ketakutan luar biasa, dia tidak pernah memikirkan mengenai kejadian hari ini.
"Ada apa Tuan?" tanya salah satu perawat.
"Tolong, tolong calon istriku!" seru Reno yang benar-benar kebingungan.
__ADS_1
Di tempat lain Gunawan yang mendapatkan kabar dari Reno tentu saja pria itu bersama sang istri langsung bergegas ke rumah sakit.
"Rumah sakit mana Pa?" tanya Safira.
"Aku belum tahu ma, tadi Reno cuma bilang akan membawanya ke rumah sakit." jawab Gunawan.
"Telepon lagi pa, kok papa nggak peka banget sih!!" teriak Safira dengan suara yang begitu keras.
Gunawan yang mendengar teriakan istrinya, seketika pria itu menelpon Reno dan mencari tahu di mana keberadaan dia dan putrinya. 30 menit kemudian akhirnya Safira Dan Gunawan sudah berada di rumah sakit yang tadi dikatakan oleh Reno, sepasang suami istri itu berlari dengan sangat kencang mereka benar-benar tidak akan pernah mengira akan mendapatkan kejadian seperti ini. dia benar-benar sangat syok, dia tidak akan pernah mengira kalau suami putrinya akan mengalami penembakan.
"Reno!" seru Gunawan.
"Paman." jawab Reno.
"Bagaimana kondisi, Sheila?" tanya Gunawan.
"Sheila berada di ruang operasi, Paman. kemungkinan besar dia langsung di operasi untuk mengambil peluru yang tertembak di lengannya." jawab Reno.
"Bagaimana bisa terjadi Reno?" tanya Gunawan yang mulai murka.
"Aku tidak tahu Paman, waktu kami mau masuk ke restoran tiba-tiba ada suara tembakan dan satu tembakan itu sudah mengenai Sheila." jawab Reno.
Seketika kedua kaki Safira langsung lemas setelah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Reno. Bagaimana tidak, terkadang Safira selalu memberikan pengertian kepada putrinya untuk tidak menjadi seorang pengacara. begitu banyak musuh yang dia hadapi, begitu banyak orang yang membencinya.
"Aku tidak ingin kehilangan putriku, Mas." ucap Sheila.
"Tenanglah Sayang, tenang." Gunawan yang mencoba untuk menenangkan istrinya.
"Bagaimana aku bisa tenang Mas, aku kan sudah bilang jangan Jadi pengacara. Jangan Jadi pengacara." ucap Safira sembari menangis tersedu-sedu.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
__ADS_1
- I love you uncle Bastian
- Terlempar ke dimensi kerajaan