
Akhirnya Safira dibawa oleh Gunawan ke salah satu rumah sakit yang ada di dekat tempat kejadian, luka Safira benar-benar sangat parah. wanita itu sudah tidak sadarkan diri dengan kondisi yang benar-benar sangat mengenaskan.
Setelah mengantar Safira ke rumah sakit terlihat Gunawan pergi ke tempat kerja wanita itu, dia ingin memberitahukan mengenai kejadian kecelakaan yang menimpa salah satu karyawan Toko swalayan. Bu Esti dan Amel yang mendengar mengenai kecelakaan itu tentu saja dia benar-benar sangat terkejut, ketiga wanita itu segera pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Safira.
"Bagaimana kondisinya, Tuan?" tanya Bu Esti kepada Gunawan.
"Saya kurang tahu Bu, karena dia belum sadar. kata dokter kondisinya benar-benar sangat kritis." jawab Gunawan.
Sesaat kemudian salah satu dokter yang ada di rumah sakit itu sudah datang menemui Gunawan.
"Bagaimana dokter?" tanya Gunawan.
"Wanita ini benar-benar mengalami kondisi yang sangat mengenaskan, jadi lukanya sangat parah dan dia belum sadarkan diri." jawab sang dokter.
Gunawan hanya menganggukkan kepalanya, pria itu terlihat menatap seorang wanita yang sudah ada di depannya. seorang wanita yang diakui oleh dua anak kembarnya sebagai ibu mereka.
"Apakah wanita ini tidak mempunyai suami?" tanya Gunawan kepada Bu Esti. padahal pria itu tahu kalau Safira mempunyai suami namun dia berpura-pura tidak tahu.
"Kalau suami dia punya, tapi aku tidak tahu bagaimana sikap suaminya itu saat melihat kondisinya seperti ini." jawab Amel dengan nada suara yang benar-benar sangat kesal.
Bu Esti mendekati dokter tersebut, dia mengatakan akan membayar biaya rumah sakit tempat Safira.
"Tidak usah Bu, saya yang akan membayar biaya rumah sakit ini. karena wanita itu akan bekerja dengan saya." jawab Bu Esti yang kemudian menatap pria yang ada di depannya.
Bu Esti tidak tahu apa yang dikatakan oleh Gunawan, namun ada sesuatu yang tidak diketahui Bu Esti. namun wanita itu yakin akan ada kebaikan yang terjadi di kehidupan Safira.
Satu minggu kemudian Safira baru sadar dari tidurnya, wanita itu menatap ruangan tempat dia berada. tubuhnya masih belum bisa digerakkan karena luka-luka Safira memang parah hingga membuat salah satu kakinya patah dan salah satu tangannya terluka parah.
Tatapan mata Safira menatap ruangan tempat dia berada, tangannya diinfus dengan mulut yang ditutupi dengan alat pernafasan. "Ternyata aku masih hidup." ucap Safira dalam hati.
Tak ada suara yang dikeluarkan oleh Safira, wanita itu menatap ruangan dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.
"Kamu sudah bangun, Nona?" tanya salah satu perawat yang kemudian memanggil dokter yang merawat Safira.
Tak berselang lama Gunawan dan dua putra kembarnya juga masuk ke tempat tersebut, dokter pria itu mulai memeriksa Safira. Dia menanyakan mengenai kondisinya, perasaannya dan menanyakan gerak tangannya. Safira menjawab semuanya dengan benar, Hal itu membuat dokter mengatakan kondisi Safira sudah lebih baik hanya tinggal luka-luka yang ada di tubuhnya.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun?" tanya Gunawan kepada Safira.
"Mama, Mama." panggil dua bocah kembar yang berada di samping Safira.
Tatapan mata Safira menatap dua bocah yang biasanya pergi ke Toko swalayan, hampir 1 tahun itu Safira selalu menemani bocah-bocah kecil yang selalu bersikap begitu manja padanya.
"Apakah kamu yang membawaku kemari?" tanya Safira kepada Gunawan.
"Tentu saja, memangnya siapa lagi." jawab Gunawan dengan nada bicara yang sedikit dingin.
Setelah menanyakan hal itu Safira langsung menutup mulutnya dengan rapat, keesokan hari ketika Safira sendirian ada dua tamu menyebalkan yang sudah datang ke kamar Safira.
"Bagaimana kondisimu, Sayang?!" seru Rudi yang sudah berada di kamar Safira.
Tatapan mata Safira menatap Rudi yang ada di depannya, seorang suami yang sudah menghianatinya, seorang pria yang begitu dia cintai namun sudah membohonginya Entah mengapa Safira langsung memalingkan wajahnya, menatap seorang pria yang sudah membuatnya menderita bahkan hampir bunuh diri tersebut.
"Sayang, kenapa kamu diam saja." ucap Rudi.
Safira tidak mengeluarkan sepatah kata pun, wanita itu menatap langit-langit kamar tempatnya berada.
"Kamu ini apa-apaan sih langsung motong perkataan orang aja!" bentak Rudi.
Mendengar perdebatan dua orang itu Safira tidak ingin menangis, dia tidak ingin bersedih dengan semua yang dilakukan oleh dua orang itu.
"Pergi dari sini!" bentak Rudi.
"Kenapa aku harus pergi, aku mau mengatakan pada wanita ini kalau sekarang kamu sudah menikahiku. walaupun pernikahan kita sirih tapi aku adalah istri keduamu, aku berhak atas dirimu." ucap Putri yang membuat Safira benar-benar tersentak.
DEG..
jantung Safira tersentak dengan ucapan Putri, namun Entah mengapa rasa sakit itu terasa hilang terhempas bersama tabrakan beberapa hari yang lalu. Tak ada kata yang dikeluarkan oleh Safira, namun wanita itu menatap Putri dan Rudi dengan tatapan mata yang begitu kosong.
"Siapa Kalian, kenapa kalian ada di sini?" tanya Safira kepada Rudi dan putri.
"Kedua orang itu langsung terdiam ketika Safira mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Ada apa denganmu, Sayang. kenapa kamu mengatakan hal itu?" tanya Rudi kepada istrinya.
"Aku tidak tahu apa yang kamu katakan, tapi Siapa Kalian. kenapa kalian masuk ke dalam kamar ini?" tanya Safira.
Walaupun wanita itu tidak benar-benar lupa akan pria yang ada di depannya, namun Safira lebih memilih untuk melupakan semua kenangan pahit itu.
"Kamu jangan bercanda, sayang!" seru Rudi.
"Siapa kamu dan Kenapa kamu memanggil aku dengan panggilan sayang?" tanya Safira.
Putri langsung menutup mulutnya, Memang karena kepala Safira di balut dengan perban yang lumayan tebal Hal itu membuat Putri mengira kalau Safira lupa dengan dia atau suaminya.
"Kenapa kamu mengatakan hal itu, kamu jangan bercanda." ucap Putri.
Sesaat kemudian seorang pria dan 2 bocah kembar itu masuk ke dalam kamar Safira. "Ada apa ini?" tanya Gunawan yang melihat dua makhluk yang ada di kamar Safira. tatapan matanya menatap seorang pria dan seorang wanita yang berada di kamar itu, dua orang itu adalah dua orang yang ada di foto yang dikirimkan oleh anak buahnya.
"Ternyata dia adalah suami dari wanita ini, seorang pria yang sudah menghianati istrinya." guman Gunawan dalam hati.
"Mama.., Mama." panggil dua bocah kembar yang kemudian mendekati Safira.
"Kenapa kamu memanggil istriku dengan panggilan mama!" seru Rudi yang tidak terima ada dua anak kecil yang memanggil Safira dengan panggilan mama.
"Pelan kan suaramu, ini di rumah sakit." ucap Gunawan yang kemudian menarik dua anaknya.
"Kenapa kamu berteriak begitu dengan anak-anakku, dasar pria tidak tahu diri!" seru Safira yang membuat orang-orang yang ada di tempat langsung menatap Safira dengan tatapan mata yang begitu kebingungan.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Janji di bawah rembulan
- Isteri kesayangan tuan besar
__ADS_1
- ku balas pengkhianatan mu