
"Apa maksudmu!" seru jaksa penuntut.
"Saya sudah mempunyai beberapa bukti mengenai dua orang yang sudah dituduh menjadi pembunuh tersebut." Sheila menatap pria yang menjadi rivalnya itu. usia mereka memang sangat berbeda jauh, namun dari segi otak Sheila benar-benar sangat luar biasa.
"Benarkah, sepertinya aku tidak akan percaya dengan kata-katamu itu, Nona pengacara." jawab jaksa penuntut.
Sheila benar-benar dihadapkan dengan emosi yang harus dia tahan untuk menyelamatkan dua orang tersebut, persidangan itu terjadi agak lambat, pengacara dan Sheila saling menyerang satu sama lain. perdebatan itu sangat panjang luar biasa hingga membuat persidangan itu akhirnya dihentikan dan akan dilanjutkan dua minggu lagi.
"Dasar brengsek, wanita muda ini benar-benar sangat hebat, bahkan kata-katanya seolah menyudutkan aku." guman lawan Sheila yang terlihat terus menatap kepergian Sheila.
Sesaat kemudian Sheila mendekati 2 pria yang katanya dituduh menjadi pembunuh tersebut. Sheila menatap pergerakan yang dilakukan pria tunanetra dan tunarungu tersebut.
"Entahlah, Apa yang harus saya lakukan." ucap Sheila.
Tak berselang lama keluarga dari dua pria itu mendekati Sheila dan meminta wanita itu untuk membantu keluarga mereka.
"Jika kalian mempunyai informasi sekecil apapun tolong kalian beri tahu aku, jika kalian tidak memberitahu aku maka aku tidak bisa membantu keluarga kalian. kalian paham kan?" Sheila yang memberi peringatan dan mencoba untuk membuat orang-orang itu mengerti.
Hanya bahasa isyarat yang bisa diungkapkan oleh salah satu pria itu, Sedangkan keluarganya nampak mereka mengangguk dan mengerti apa yang dikatakan oleh Sheila.
"Baiklah kalau begitu, biarkan mereka kembali masuk ke dalam sel penjara. kalian akan diantarkan oleh sopirku, Bagaimana?" tanya Sheila yang membuat beberapa orang tersebut langsung mengangguk.
Seorang pria tunarungu namun dia bisa melihat, satu pria tunanetra namun dia bisa mendengar. Sheila harus memikirkan untuk mencari cara berbicara dengan mereka semuanya Sheila harus meminta izin khusus kepada pengadilan untuk berbicara dengan dua pria tersebut.
Dua hari kemudian
Ruang tunggu Penjara
"Sepertinya aku harus meminta tolong kepada kalian mengenai permasalahan ini." Sheila yang ingin mendengar secara detail mengenai kasus pembunuhan yang dialami oleh dua orang tersebut.
Pria tunanetra mengatakan mengenai apa yang dia dengar di tempat itu, walaupun mereka dia tidak bisa melihat tapi dia bisa mendengarkan apa yang ada di tempat itu, pria itu menceritakan mengenai semua kejadian di tempat itu. Sheila mencoba untuk mengamati apa yang mereka katakan, wanita itu merekam seluruh pembicaraan dua orang itu, sedangkan tunarungu dia bisa melihat tapi dia tidak bisa mendengar dan berbicara. pria itu menggunakan bahasa isyarat sedangkan Sheila sendiri tidak terlalu paham hingga dia harus meminta bantuan kepada salah satu temannya.
Sheila mengamati dengan cermat apa yang dikatakan oleh pria itu, dia mengatakan melalui pergerakan. "Coba tanya kepada dia apakah dia melihat ada seseorang yang masuk ke rumah pria itu?" tanya Sheila.
__ADS_1
Teman Sheila melakukan pergerakan untuk menanyakan mengenai Apakah ada tamu sebelumnya atau ada sesuatu. pria tunarungu menceritakan segalanya dari gerak tangannya pria itu begitu ketakutan.
"Bagaimana, Sheila?" tanya teman Sheila.
"Kalian tahu di mana kalian biasanya bekerja dan kemana kalian waktu itu?" tanya Sheila.
Pria tunarungu mengatakan kalau dia berada di garasi mobil untuk membersihkan mobil, sedangkan pria tunanetra mengatakan kalau dia sedang berada di gudang karena disuruh majikannya untuk mengambil sesuatu.
"Apa yang majikanmu, minta? Apakah itu sesuatu yang sangat penting?" tanya Sheila.
"Aku tidak tahu, Mbak. tapi yang jelas aku hanya bisa mendengar Kalau di tempat itu pria itu membanting sesuatu." jawab Pria tunanetra.
Berbicara seperti itu malah membuat Sheila sedikit kebingungan, apa dan bagaimana jelas aja pria itu tidak tahu karena dia tidak bisa melihat.
"Ada apa, Sheila?" tanya teman Sheila.
"Kepalaku mulai pusing, aku mau minum kopi setelah berbicara dengan mereka." Sheila yang kemudian memijat pelipisnya.
Sesaat kemudian pria tunarungu mengatakan Kalau waktu itu dia mengambil sebuah kotak yang mau diambil untuk majikannya, tapi karena pria tunanetra mendekatinya hal itu membuatnya menaruh barang itu di suatu tempat.
"Apakah kamu memiliki kecurigaan, Sheila?" tanya teman Sheila.
"Tentu." jawab Sheila yang kemudian mengakhiri pembicaraan mereka.
Dengan segera Sheila langsung pergi dari tempat tersebut, kecurigaan Sheila semakin besar ketika dia harus melakukan sesuatu yang mungkin akan melukai hati seseorang. Sheila tidak kembali ke rumahnya, wanita itu ke tempat Paman Ferdi untuk membicarakan sesuatu.
RUMAH PAMAN FERDI
"Ada apa Sheila?" tanya Paman Ferdi.
"Paman tahu ada sesuatu yang membuatku curiga akan kebenaran mengenai kata-kata yang diucapkan oleh pria tunanetra." ucap Sheila.
"Maksudmu?" tanya Paman Ferdi.
__ADS_1
"Dari pergerakan yang di lakukan oleh pria tunarungu, dia selalu mengatakan kalau pria tunanetra terkadang melakukan sesuatu yang begitu aneh." jawab Sheila.
"Aneh Bagaimana?" Paman Ferdi yang ingin tahu lebih jelas dengan kata-kata yang diucapkan oleh Sheila.
"Pria itu bilang terkadang pria tunanetra itu melakukan sesuatu, Bahkan dia terlihat melakukan sesuatu seperti pria normal." Sheila yang kemudian menceritakan apa yang dikatakan oleh tunarungu.
Sheila berbicara dengan pria tunarungu terlebih dahulu sebelum dia berbicara dengan pria tunanetra.
"Apa kesimpulan mu?" tanya Paman Ferdi kepada Sheila.
"Apa kemungkinan besar kalau pria yang dipenjara dan pria yang melakukan pembunuhan itu adalah orang yang berbeda tapi wajah mereka sama?" tanya Sheila.
"Maksudmu itu apa, Sheila?" tanya Paman Ferdi yang sedikit kebingungan.
"Apa mungkin kalau pria tunarungu itu dijebak oleh seseorang yang mungkin wajahnya mirip dengan dia. Hal itu membuat pria tunarungu mengatakan kalau ada sesuatu yang aneh, bahkan ada sesuatu yang membuatnya berpikir kalau ada perbedaan pada suara mereka." jawab Sheila yang membuat Paman Ferdi langsung mengacak-ngacak rambutnya.
"Maksudmu pria tunanetra itu mempunyai kembaran, gitu?" Paman Ferdi yang mulai bingung.
"Kemungkinan besar begitu, paman. pria tunarungu itu selalu mengatakan kalau temannya itu pernah melakukan sesuatu yang membuatnya kebingungan. Dia berjalan seperti pria tidak buta bahkan dia melihat video di ponsel." ucap Sheila yang membuat Paman Ferdi yang ingin minum itu langsung tersedak luar biasa.
"UHUK-UHUK.., Bagaimana bisa orang buta melihat video. Kamu gila ya, Sheila. kamu membuat paman ini ikut gila." Paman Ferdi semakin mengacak-ngacak rambutnya.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- I love you uncle Bastian
__ADS_1
-Terlempar ke dimensi kerajaan
-Isteri simpanan bos kejam