
"Mana kartu tanda penduduknya?" pinta Safira .
Akhirnya pria itu memberikan kartu identitasnya,
"Gunawan Candra?" ucap Safira.
"Iya itu Namaku." jawab Gunawan.
"Jadi ini namamu ya?" tanya Safira.
"Tentu saja itu namaku." jawab Gunawan.
"Hei Tuan, kalau punya anak itu tolong diperhatikan. Jangan dibiarkan anak Pergi, giliran mencari kamu marah-marah kamu itu punya perasaan nggak sih, kalau kamu nggak punya perasaan ya nggak papa. tapi tolong jangan marah-marah saat anakmu itu makan, kalau kamu punya hati tolong tunggu di sini, tolong tunggu putramu ini makan sampai habis." cerocos Safira yang memarahi pria yang bernama Gunawan.
"Memangnya apa urusanmu? Kenapa kamu malah menceramahiku?" tanya Gunawan kepada Safira.
"Ya jelaslah aku menceramahimu, kalau kamu itu memang benar-benar ayahnya luangkan sedikit waktumu kek. sudah lama Bocah ini selalu ke tempatku, membeli makan atau apapun, Kamu ini sebenarnya ngapain sih? lalu bilang sana sama istrimu kalau punya anak itu harus diperhatikan, Jangan membiarkannya keluar lalu memarahinya." ucap Safira kembali.
Terlihat bocah kecil bernama Yufan itu terus memeluk Safira dengan begitu erat. "Mama takut." ucap Yufan.
"Tuh kan putramu ini takut, jangan-jangan kamu ini bukan bapaknya ya?!" seru Safira.
"Dia ini Putraku, Kalau kamu tidak percaya apa perlu kamu aku ajak pulang ke rumahku?!" bentak Gunawan.
"Idih, Ngapain juga aku ke rumahmu. Kamu kira aku ini pembantumu." jawab Safira yang kemudian bertanya kepada bocah kecil itu.
"Oh ya Sayang, Apa benar pria itu ayahmu?" tanya Safira sembari mengelus kepala Yufan.
Bocah kecil itu menganggukkan kepalanya namun Entah mengapa bocah kecil itu bersembunyi di belakang tubuh Safira.
"Kalau dia itu ayahmu Kenapa kamu takut?" tanya Safira.
Tak berselang lama ada seorang anak kecil yang wajahnya sangat persis dengan Yufan masuk ke swalayan.
"Anak kecil, Kenapa kamu di situ setiap hari! Kamu kerjaannya selalu kabur dari rumah, Apa kamu tidak mempunyai rumah?!" seru bocah kecil yang wajahnya mirip dengan Yufan.
"Lho.., kok ada dua sih." Safira yang kebingungan.
"Tentu saja kami ada dua, kami kan anak kembar." ucap kembaran Yufan.
"Sudahlah Yufan jangan teriak-teriak di sini, nanti dikira orang kita ini maling loh." ucap Gunawan.
Safira menatap dua bocah kecil yang ternyata kembar itu. "Lalu, kalau yang ke sini setiap hari Siapa?" tanya Safira yang mulai kebingungan.
__ADS_1
"Setiap hari kami ke sini, mama. setiap hari kami menemui Mama." jawab Yufan dan Ivan secara bersamaan.
Kepala Safira benar-benar sangat pusing, dua anak yang begitu kembar dengan suara yang hampir mirip. "Lebih baik aku pergi sebentar, kepalaku pusing." ucap Safira.
Setelah berbincanh-bincang kemudian terlihat Safira Dan dua temannya berdiri di sana.
"Loh kok ada dua, Fira. ini anak siapa?" tanya Lala kepada Safira.
"Itu bapaknya berdiri." jawab Safira sambil menunjuk ke arah Gunawan.
Tatapan mata Gunawan menatap wanita muda yang ada di depannya itu, walaupun suaranya Sedikit keras namun apa yang dikatakan oleh Yufan dan Ivan itu memang benar. seorang wanita yang begitu keibuan, begitu lembut bahkan wanita itu terlihat benar-benar menyayangi dua kembar itu dengan begitu tulus.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita pulang." pinta Gunawan kepada dua putranya.
"Tidak mau, kami mau pulang bersama mama." minta Yufan yang kemudian menarik tangan Safira.
"Ya gak boleh gitu dong, aku ini kan bukan mamamu, sayang. sana pulang nanti ibumu marah, masak tante dibilang ibunya. nanti Tante dihajar secara massal lho...," ucap Safira yang kemudian meminta dua bocah itu untuk pulang.
HUAAAAA.....
HUAAAAAA....
dua bocah kecil itu tiba-tiba menangis secara bersamaan, hal itu membuat membuat Safira kebingungan bersama teman-temannya. sesaat kemudian dua orang yang dipanggil oleh Gunawan diminta untuk menggendong dua bocah itu.
"Baik Tuan." jawab dua pria.
Setelah itu terlihat dua anak kecil itu dibawa dengan paksa, Hal itu membuat dua anak kecil itu meronta-ronta dengan begitu keras.
apa yang bisa dikatakan oleh Safira, karena ternyata bocah itu mempunyai orang tua, bahkan ternyata bocah itu mempunyai kembaran.
Langkah kaki Safira memasuki Toko swalayan kembali, sorot matanya melihat dua anak kembar yang sudah dibawa pergi.
"Ternyata anak kecil itu mempunyai kembaran ya..," ucap Lala.
"Iya, aku kira cuma satu nyatanya ada dua, pasti ibunya kebingungan." jawab Safira.
"Kalau aku punya anak kembar sih aku juga bingung." canda Lala.
Di tempat lain di dalam mobil si kembar terus merengek meminta Gunawan untuk membawa pulang.
"Papa, kenapa Mama nggak dibawa pulang?" tanya Yufan.
"Sayang, dia bukan mamamu." jawab Gunawan.
__ADS_1
"Dia mamaku, dia mamaku!!" teriak Ivan dengan suara keras.
"Diam jangan nakal, dia itu bukan mama kalian. jika aku membawanya pulang nanti keluarganya marah!" seru Gunawan.
"Nggak mau, bawa dia pulang pa!!" seru Yufan kembali.
"Ok, nanti papa bawakan Mama, kita pulang sekarang. kamu diam nggak boleh teriak-teriak seperti itu, nanti dikira kita ini anak orang gila, kalau kita dikira anak orang gila nanti mama bakal nggak mau ikut kita." ucap Ivan yang membuat Yufan langsung terdiam.
"Tuan." Panggil salah satu anak buah Gunawan.
"Iya." jawab Gunawan.
"Seperti yang tuan perintahkan kepada saya, Saya sudah menyelidiki mengenai masalah wanita itu." ucap anak buah Gunawan.
"Lalu, apa yang terjadi? siapa wanita itu?" tanya Gunawan kepada anak buahnya.
"Saya sudah menyelidiki mengenai wanita itu, Tuan. kelihatannya dia adalah seorang wanita yang sudah bersuami dan saya tahu di mana perusahaan suaminya." jawab anak buah Gunawan.
"Dia bekerja di mana?" tanya Gunawan.
"Dia bekerja di salah satu perusahaan otomotif, dia bekerja di bidang pemasaran jadi bisa dibilang dia manajer pemasaran." jawab anak buah Gunawan.
"Lalu, Apakah tidak ada yang lain?" tanya Gunawan yang membuat anak buahnya menceritakan mengenai pria itu.
"Desas-desus mengatakan kalau dia adalah seorang pria yang suka berselingkuh, bahkan yang saya dengar kalau pria itu mempunyai selingkuhan yang ada di perusahaannya." jawab anak buah Gunawan.
"Apakah wanita itu wanita baik-baik?" tanya Gunawan kepada anak buahnya.
"Dia adalah wanita baik-baik, Tuan. yang saya ketahui kalau wanita itu mempunyai prestasi yang baik, kecerdasan yang baik dan dia adalah wanita yang mempunyai kepribadian yang baik." jawab anak buah Gunawan.
Terlihat Gunawan menganggukkan kepalanya, setelah mendengar jawaban seperti itu tentu saja Gunawan meminta anak buahnya untuk memantau siapa sebenarnya suami Safira dan selingkuhannya tersebut.
"Sekarang kamu harus menyelidiki mengenai suami dari wanita itu dan ingat kamu juga harus menyelidiki mengenai selingkuhan pria itu. aku yakin kalau mereka masih ada hubungan yang tidak mungkin ditinggalkan." ucap Gunawan.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Janji di bawah rembulan
- Isteri kesayangan tuan besar
__ADS_1
- ku balas pengkhianatan mu