
RUANG PERSIDANGAN
Orang-orang yang ada di pengadilan sangat terkejut ketika melihat Sheila datang bersama suaminya, apalagi wanita itu masih memakai kebaya lengkap dengan riasan dan sanggul di kepalanya.
"Nona Sheila, Saya kira Anda tidak akan hadir." Pak hakim yang melihat bingung dengan kedatangan Sheila di pengadilan. karena hari ini yang dia ketahui wanita yang ada di pengadilan itu melakukan pernikahan.
"Terima kasih atas perhatiannya, Pak hakim. karena saya sudah menikah, akad nikahnya pagi-pagi buta sekali dan saya sudah di sini untuk menolong dua orang yang ada di sana." jawab Sheila sambil tersenyum kemudian memakai jas kebanggaannya.
"Baiklah kalau begitu, persidangan kita mulai." Pak hakim yang membuka persidangan.
Jaksa penuntut nampak berdiri di tengah ruang persidangan pria itu membenarkan jasnya kemudian mulai mengatakan dan melakukan pekerjaannya.
"Pak hakim yang terhormat, sebagai pengacara dari korban saya meminta hukuman seberat-beratnya kepada dua pelaku yang sudah membunuh tuan Akfar. Saya ingin dua pembunuh itu merasakan hukuman atas apa yang telah mereka lakukan, bukti-bukti Sudah saya berikan dan saya harap pengadilan memutuskan dengan bijaksana." jaksa penuntut yang terlihat berusaha untuk membuat para hakim untuk segera memberikan hukuman kepada dua pria itu.
"Apakah sudah, jaksa penuntut?" tanya Pak hakim.
"Sudah Pak hakim, semua bukti sudah ada di meja anda. beberapa saksi sudah mengatakan mengenai kebenarannya. Putra konglomerat juga sudah memberikan alibinya." ucap jaksa penuntut.
"Baiklah jasa penuntut, karena anda sudah selesai dengan semua yang harus anda lakukan. sekarang giliran saya." Sheila yang kemudian berdiri dan memberi hormat kepada Pak hakim.
"Silakan Nyonya Sheila." Pak hakim yang mempersilakan Sheila.
"Baiklah Pak hakim, Bolehkah saya memanggil Putra tuan Akbar?" tanya Sheila.
"Tentu saja boleh, silahkan." jawab Pak hakim.
Sesaat kemudian Putra konglomerat itu akhirnya duduk di kursi saksi.
"Baiklah tuan, bolehkah saya menanyakan sesuatu?" tanya Sheila.
"Tentu, silakan." jawab Putra konglomerat.
"Sebenarnya saya ingin mengatakan sesuatu mengenai apa yang anda lakukan waktu itu dan kenapa ada guratan luka di leher anda?" tanya Sheila yang secara tiba-tiba.
Karena Wanita itu sudah tahu dari pertama bertemu, Putra konglomerat tidak mempunyai luka di leher. namun pria itu memiliki luka di leher dan tanda di salah satu pelipisnya.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Putra konglomerat.
"Semenjak Kapan anda mempunyai luka di leher anda?" tanya Sheila yang kemudian mendekati Putra konglomerat.
"Luka ini barusan aku dapat, luka karena kemarahan akibat kehilangan papaku." jawab Putra konglomerat.
"Apakah anda yakin?" tanya Sheila.
"Kenapa kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan, untuk apa aku berbohong?" tanya Putra konglomerat yang terlihat tidak suka dengan kata-kata yang diucapkan oleh Sheila.
"Aku tidak menuduh Anda berbohong, tapi kenapa luka itu kelihatannya luka yang sudah lama." jawab Sheila yang membuat Putra konglomerat palsu itu gelagapan.
Perdebatan demi perdebatan semua dilakukan oleh Putra konglomerat,
"Saya tidak setuju dan saya tidak akan membiarkan Anda mencampuri urusan pribadi dari Putra tuan Akfar." jaksa penuntut yang langsung membela putra client nya.
"Saya mempunyai bukti kalau putra dari tuan Akfar tidak mempunyai luka di lehernya, bahkan pria itu tidak mempunyai tanda di wajahnya." Sheila menunjukkan beberapa foto dari Putra konglomerat.
"Itu adalah foto lama, Aku sengaja memberikan tanda di pelipisku karena aku melakukan operasi." sangkal Putra konglomerat KW.
"Tentu saja, kalau kamu tidak percaya tidak apa-apa tapi yang jelas aku akan menuntutmu dengan dua pembunuh itu. kalian semuanya akan masuk penjara!!" seru Putra konglomerat yang membuat Sheila nampak tersenyum.
"Oh ya, aku mempunyai sebuah hadiah untukmu." Sheila yang mendekatkan dirinya ke Putra konglomerat KW.
"Apa maksudmu?" tanya Putra konglomerat KW.
"Kelihatannya kamu penasaran banget ya, karena hari ini aku harus segera kembali ke tempat pernikahanku aku tidak akan menghabiskan waktu lama. Baiklah kalau begitu Mas, Bisakah kamu meminta Dicky untuk membawa orang itu." pinta Sheila.
"Tentu saja Sayang." jawab Reno yang kemudian menelpon Dicky untuk membawa seorang pria yang duduk di kursi roda.
BRAKKK..
pintu persidangan dibuka. Hal itu membuat orang-orang yang ada di ruangan itu seketika menoleh menatap seorang pria yang berada di kursi roda. ketika pria itu semakin mendekat semua orang yang ada di persidangan itu benar-benar terkejut luar biasa. seorang pria yang duduk di kursi roda, kedua kakinya mengalami luka yang sangat serius bahkan tubuhnya juga dipenuhi dengan luka.
"Siapa pria itu, jaksa Sheila. kenapa wajahnya sangat mirip dengan pria ini?" tanya Pak hakim yang terlihat benar-benar terkejut dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
"Dia adalah tuan Ryan, dia adalah putra dari sang miliarder yang sebenarnya. sedangkan pria yang berdiri diantara kita ini adalah pembunuh yang sebenarnya, dia menyiksa Tuan Ryan selama beberapa minggu dia membuat sebuah rencana yang sangat luar biasa dia menghabisi Tuan konglomerat dengan semua rencana yang sudah dia buat selama ini." jawab Sheila.
"Bohongz wanita ini Bohong. pria itu adalah penipu!!" teriak Sheila.
"Jika aku penipu kenapa kita tidak melakukan tes DNA, Ryan pernah melihatmu memainkan ponselnya bahkan kau dengan tegasnya mengajak dia berbicara seperti pria pada umumnya." jawab Sheila.
"Maksud anda dia adalah pembunuh dari tuan akfar?" tanya Pak hakim.
"Benar sekali Pak hakim, Saya sudah mempunyai bukti-bukti yang sangat konkret. bahkan tes DNA dan segala macam dari pria ini sudah ada di tangan saya, saya sudah memberikan kepada anda tadi. jadi silakan Tuan hakim mempelajari bukti-bukti yang sudah saya berikan." ucap Sheila dengan senyum sinis.
Sheila menatap Ryan dengan senyum yang begitu sinis. "Dasar wanita pembohon, kamu ingin menjebloskan aku ke penjara untuk menolong dua pria brengsek itu!!" teriak Ryan KW.
"Kenapa aku harus menolong mereka, jika mereka adalah orang yang bersalah, karena mereka orang yang tidak bersalah tentu aku akan menolong mereka. silakan Pak hakim menarik topeng yang sudah menempel di wajahnya itu." pinta Sheila yang membuat Ryan KW langsung kebingungan.
"Dasar wanita tidak tahu diri, berani sekali kamu menuduhku menjadi pembunuh. dia adalah papaku aku tidak mungkin melakukan hal itu!" sarkas Ryan KW.
"Tentu kalau dia papamu, tapi dia adalah teman yang sudah bekerja sama denganmu untuk merampok bank beberapa puluh tahun yang lalu." jawab Sheila yang kemudian mendekati Ryan KW.
Terlihat pria itu sangat kebingungan, dia harus mencari cara untuk melarikan diri dari tempat itu. dengan segera Ryan KW menarik Sheila dan menodongkan pistol di dahinya.
"Kamu akan membusuk di kuburan!!" seru Ryan KW yang terlihat menodongkan pistol ke arah Sheila. namun Sheila tidak akan membiarkan hal itu tentu saja dia akan melawan.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- I love you uncle Bastian
-Terlempar ke dimensi kerajaan
__ADS_1
-Isteri simpanan bos kejam