KU BALAS PENGKHIATANMU

KU BALAS PENGKHIATANMU
Ke puncak


__ADS_3

RUMAH KELUARGA GUNAWAN


"Ma!" panggil Sheila.


Safira yang hendak berjalan keluar dari rumahnya, Seketika wanita itu langsung menghentikan langkah kakinya ketika berada di ruang tamu. "Ada apa sih, Sheila?" tanya Safira sambil membawa beberapa tangkai bunga mawar.


"Ma, Sheila mau pergi ke puncak selama dua hari."


"Buat apa, lalu kamu apa sudah bilang sama Papa? Mama tidak mau kalau Papa ngamuk-ngamuk gara-gara Kamu pergi tanpa berpamitan." raut wajah Safira seketika berubah ketika putrinya berpamitan untuk pergi ke suatu tempat.


"Belum sih Ma, aku belum bilang sama Papa, tapi...," perkataan Sheila langsung terhenti ketika melihat pria yang sedang dia bicarakan sudah berada di depan pintu rumah.


Gunawan baru memasuki rumah dan melihat sang istri yang sedang berbicara dengan putrinya. "Ada apa Ma?" tanya Gunawan.


"Ini lho Pa, putrimu mau ke puncak selama dua hari. mau nginep di sana katanya."


"Mau apa kamu di sana, Sheila?" Gunawan langsung menghardik putrinya dengan begitu banyak pertanyaan.


"Kurang tahu Pa," jawab Sheila.


"Kok gitu sih ma?" Gunawan yang malah bertanya kepada Safira.


"Kok tanya sana aku, Pa. ya Papa tanya saja sama putrimu, kok tanya sama aku Memangnya aku yang nginep di sana." jawab Safira sembari menunjuk Sheila.


"Kamu mau ngapain nginep di sana, Sheila?"


"Itu loh, Pa. ada acara yang diadakan dari pihak hotel."


"Lalu, ngapain kamu di sana? kamu mau membuat Papa marah yang?" Gunawan yang mulai menunjukkan tanda-tanda kemarahan gadis manis dan Ayu yang begitu dia sayangi itu akan menginap dua malam di puncak bersama teman-temannya Oh tidak Gunawan tidak akan membiarkan hal itu.


"Nggak gitu juga sih Pa, Sheila kan cuma mau jalan-jalan sama temen-temen yang ada di hotel. di sana itu ada acara yang harus didatangi oleh kami semua," Sheila yang menjawab sambil memanyunkan bibirnya dia berharap ayahnya akan memberikan dia persetujuan.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan kamu cuma mencari alasan biar Papa nggak marah ya, lalu di mana tempat menginap itu? di daerah mana, puncak mana? Papa mau tau." seribu pertanyaan kembali dilayangkan oleh Gunawan kepada putrinya.


Sheila belum menjawab satu pria itu bertanya lagi, Sheila belum menjawab Gunawan terus bertanya lagi.


"Sudah belum, Pa?" Shela yang mulai kesal dengan papanya.


"Cepat katakan di mana kamu menginap, Papa mau tahu." selidik Gunawan yang tidak akan membiarkan putrinya keluar begitu saja.


"Kayaknya dekat sama vila kita yang ada di puncak deh, Pa. Kalau tidak salah sih." jawab Sheila dengan menunjukkan senyumnya.


Gunawan dan Safira saling memandang satu sama lain. "Biarin aja Pa, mereka menginap di sana. lagi pula putrimu itu kan sudah dewasa, masa kamu terus mengekangnya kalau dia menikah, bagaimana? Apa kamu mau mengikutinya ke mana-mana." Safira yang mencoba untuk memberikan penjelasan kepada Gunawan.


"Dia itu putriku loh Ma, kamu jangan lupa dia putriku satu-satunya yang lainnya pada terong semuanya. dia putriku yang tercinta mirip sama kamu lagi." jawaban yang diberikan oleh Gunawan membuat Safira memutar kedua bolanya dengan begitu jenggah. wanita itu kemudian menggaruk kepalanya kemudian menggerakkan tangannya tanda Sheila harus mendekatinya.


"Ada apa Ma?" tanya Sheila yang sudah berada di samping mamanya.


"Kamu persiapkan pakaian semuanya, nanti biar mama sama papa yang mengantarmu." akhirnya persetujuan dikeluarkan oleh Safira, wanita itu akan memberikan kesempatan kepada putrinya Untuk jauh dari orang tuanya selama 2 hari.


"Kamu kok gitu sih ma, kok kamu memperbolehkan putriku keluar sama teman-temannya. kamu mau berantem sama Papa ya." Gunawan yang sudah menunjukkan taringnya.


"Ayolah ma, kenapa sih Kok kamu marah. Papa kan cuma bercanda gitu aja kok marah, Mama tuh wanita paling cantik deh." rayu Gunawan yang kemudian memeluk sang istri.


"Pada tua nggak tahu diri banget sih..," guman Sheila yang masih didengar oleh Safira dan Gunawan.


"Masih kecil Jangan ikut campur, sana beres-beres mama sama Papa mau berunding sebentar." Gunawan yang mengusir putrinya sedangkan dia langsung menarik tangan sang istri untuk segera masuk ke kamar.


Yah seperti biasa lah ramuan-ramuan cinta sepasang suami istri jika mereka sedang berdebat, tentu saja salah satu dari pasangan itu harus memberikan rayuan maut agar pertengkaran mereka tidak terjadi.


Sore sudah tiba dan menunjukkan sinarnya saya sudah bergegas dengan semua barang-barang yang akan dibawa sedangkan Gunawan dan Safira secara diam-diam juga sudah bersiap-siap dengan semua yang akan mereka rencanakan.


HOTEL NUSANTARA

__ADS_1


Gunawan dan Safira mengantar putrinya ke hotel Nusantara tempat Sang Putri bekerja, terlihat pria itu melambaikan tangan dan segera bergegas pergi dari tempat keberadaan Sang Putri.


"Akhirnya kamu bisa pergi juga, Sheila?" tanya Nadia.


"Susah banget untuk memberikan penjelasan kepada papaku." jawab Sheila sambil mengangkat tas ranselnya.


"Lalu, kok kamu bisa pergi?" Nadia yang mulai penasaran.


"Untung saja Mama membantuku, jika tidak aku tidak akan boleh pergi. Papa itu ya tipe seorang pria yang sangat posesif dia benar-benar membuatku kesal jika harus berhadapan dengannya, dia selalu membuatku kesel luar biasa apalagi kalau aku bersama dengan seorang pria. Dia selalu bilang bla bla bla bla bla bla bla." Sheila terus menggerutu karena Papanya selalu tidak membiarkan dia melakukan apapun sesuai keinginannya.


Ya bagaimana tidak, tiga putra dan 1 Putri Hal itu membuat Gunawan itu mencintai Sheila dibanding ketiga putranya.


"Ya iyalah, di rumahmu itu kan cowok semuanya cuma kamu anak cewek, ya pastilah Papamu sayang banget sama kamu." Nadia yang menggoda Sheila hingga membuat wanita itu mendapatkan pukulan di lengannya.


Seorang pria terlihat menatap dua gadis yang dari tadi bercanda, Bahkan mereka berdua lupa kalau mereka harus segera masuk ke dalam mobil Kalau tidak mereka akan ditinggalkan.


"Kalian mau terus berbincang di sana atau kalian mau kami tinggal?!" seru Pak direktur yang membuat Sheila dan Nadia langsung berlari sekencang mungkin untuk segera naik bus.


"Cih.., dari tadi nyerocos terus, ngoceh terus Kalian itu lagi bicara apa sih? sampai ngak kelar-kelar dari tadi." Pak direktur yang terus menggerutu tidak karuan gara-gara Sheila dan Nadia terus berbicara panjang lebar tanpa melihat situasi.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- my little wife


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- Mawar hitam berduri

__ADS_1


- I love you uncle Bastian


- Terlempar ke dimensi kerajaan


__ADS_2