
Putri benar-benar tidak pernah mengira kalau dia akan bertemu dengan mertua dari mantan suaminya. "Jadi ini adalah mertua dari Mas Rudi, baguslah kalau begitu aku akan mendekati dia dan aku akan menghancurkan rumah tangga putrinya." ucap Putri yang sudah merencanakan sesuatu yang begitu kotor.
"Maafkan saya ya Bu, saya tidak tahu kalau Ibu ini adalah Bu lurah. habisnya ibu-ibu ini pada bawel banget sih." ucap Putri yang membuat Bu lurah sedikit menunjukkan senyumnya.
"Ya sudah kalau begitu, nanti tolong kamu serahkan KTP kamu ke Pak RT ya. biar nanti data kamu di bawa sama Pak RT, soalnya nggak enak kan kita itu adalah warga dan kamu adalah tetangga orang baru di desa ini. kalau ada apa-apa kami tidak tahu." ucap Bu lurah.
"Baik bu." jawab Putri.
Akhirnya Putri memutuskan untuk melakukan sesuatu, dia sudah memikirkan untuk mendekati Bu lurah dan akan membuat Rudi mendapatkan masalah. seketika rencana licik itu tergambar di otak Putri dengan semua kelicikannya, wanita itu memikirkan sebuah rencana luar biasa, sebuah kelicikan yang benar-benar membuat dirinya bisa disebut wanita iblis.
"Ya ampun.., aku benar-benar mendapatkan jalan yang sangat besar. Aku akan mendekati wanita tua ini dan aku akan menghancurkan rumah tangga Mas Rudi, enak aja dia bersenang-senang di sini sedangkan aku menderita di sana." ucap Putri yang kemudian berusaha untuk tersenyum di hadapan Bu lurah.
Para tetangga yang ada di sekitar tempat itu nampak mereka tidak menyukai sikap sinis dan sok kaya dari Putri.
Tatapan mata Putri menatap seorang pria yang berjalan dengan seorang wanita sembari menggandeng tangannya. Putri melihat Rudi yang sedang pergi ke sebuah tempat, terlihat pria itu begitu bahagia dengan semua kenangan pahit yang sudah dia kubur. putri adalah wanita gila dengan semua kenaifannya. Entahlah apa yang akan dilakukan oleh wanita itu ketika dia sudah mengetahui suaminya.
Mantan suaminya sudah menikah kembali, di tempat lain terlihat Gunawan dan Safira sedang bersama ke-3 anaknya ke undangan salah satu tetangga. terlihat mereka benar-benar tertawa begitu bahagia. "Kalian sudah bawa kadonya belum?" tanya Safira kepada si kembar.
"Sudah mama, kami sudah bawa kadonya. masak Mama nggak percaya sih." Jawab Ivan.
"Ya takut aja, Masa Kita diundang ke sunatan teman kalian. kalian tidak membawa kadonya bisa ditaruh di belakang pantat ini muka mama." canda Safira yang membuat si kembar langsung tersenyum.
Sheila gadis kecil yang selalu membuat keributan itu nampak bergelayutan di pelukan sang ayah, Safira melihat putrinya yang selalu bersikap seperti itu dia hanya tersenyum. memang si kembar tidak pernah cemburu dengan adiknya yang selalu bermanja kepada sang papa, karena bagi si kembar mamanya adalah prioritas utama.
Mama, apa Mama nanti mau ke tempat bu lurah lagi?" tanya Ivan.
"Memangnya kenapa." jawab Safira.
"Apa benar Mama dan Papa sudah menyetujui pembangunan sekolah baru itu?" tanya Yufan.
__ADS_1
"Bukan pembangunan sayang, kita hanya merehab bangunan yang sedikit rusak apalagi donatur kita itu dari kota. donaturnya orang berduit tebal lagi." ucap Safira.
"Andira Besok jadi ke sini?" tanya Gunawan.
"Jadi dong Mas, masa nggak ke sini. lalu yang bayarin orang gimana?" Jawab Safira sambil tersenyum.
"Licik banget sih menggunakan taktik seperti itu." ucap Gunawan.
"Ya kita itu harus belajar licik dong, Mas. biar kita tidak dibodohi terus menerus. lagi pula jika ada sekolah gratis untuk anak-anak biar para anak kecil yang terlantar itu memiliki pendidikan, Mas. kasihan mereka karena harus membanting tulang untuk mencari biaya sekolah. mereka harus bekerja keras hingga lupa sekolah karena tidak bisa membayar biaya sekolah mereka." ucap Safira .
"Aku senang karena kamu mempunyai jiwa yang sangat luar biasa, kalau mas dulu sih tidak akan pernah berpikiran seperti itu. prioritas mas kan cuma bekerja bekerja dan bekerja." ucap Gunawan yang membuat Safira melirik kedua putranya.
"Kalau dulu sih Papa nggak bakalan berbicara sama tetangga, Karena Mama tahu nggak, kalau dulu Papa itu sering ngomel-ngomel." terus sindir Ivan yang membuat Gunawan nampak tertawa.
"Hahaha..., Apa benar?" tanya Gunawan tanpa malu sama sekali.
"Jangan menghina papaku!!" seru Sheila yang terlihat berusaha untuk membela papanya.
"Abang berdua jahat, aku nggak suka!!" seru Sheila.
"Ya udah ambil aja papa, yang penting Mama sama kamu." jawab Yufan dan Ivan hingga membuat Sheila nampak memanyunkan bibirnya.
"Papa punya karet nggak?" tanya Safira.
"Buat apa ma." jawab Gunawan.
"Tuh bibirnya manyun gitu, diiket sama karet bisa loh pa." canda Safira yang membuat Sheila makin merengut tidak karuan.
"Aku nggak temenan sama Mama, aku ngambek." ucap Sheila.
__ADS_1
Suara canda tawa itu benar-benar terdengar begitu bahagia, Safira memeluk kedua putranya dengan begitu erat. "Lihatlah Putra Mama sudah dewasa, 4 tahun lagi pasti kalian udah menjadi pria luar biasa." ucap Safira.
"Mama tahu tidak, beberapa bulan lalu kami mendapatkan beasiswa prestasi lo ma." ucap Ivan.
"Benarkah? Lalu bagaimana?" tanya Safira.
"Tapi maaf ya Ma Jika mengecewakan Mama. karena beasiswa itu kami berikan kepada teman kami yang tidak mampu, kasihan banget loh ma dia itu anaknya pandai tapi dia tidak bisa mendapatkan beasiswa karena dia tidak mempunyai lingkungan yang bagus." ucap Ivan.
"Maksud kamu apa sih Yufan?" tanya Safira.
"Katanya sih menurut rumor dia itu anak di luar nikah ma, jadi sekolah tidak mau memberikan beasiswa itu. kasihan banget deh ma, setelah itu kami berdua memutuskan untuk memberikan beasiswa itu kepada dua teman kami." ucap Yufan dan Ivan sembari menundukkan kepalanya.
"Lalu, apa salahnya?" tanya Safira.
"Apa Mama tidak marah?" tanya si kembar.
"Buat apa marah, toh kalian sudah menunjukkan sikap Satria dan bijaksana kalian. walaupun kita tidak kaya raya kita masih mampu, kita masih bisa untuk membiayai diri kita sendiri. apa yang kalian katakan dan kalian lakukan itu adalah contoh yang baik, ada seseorang yang lebih membutuhkan daripada kalian. jika kalian merasa sudah cukup maka berikan apa yang kalian rasa berlebihan bagi kalian." ucap Safira yang membuat si kembar nampak tersenyum sembari memeluk Safira.
Sedangkan Gunawan terlihat pria itu begitu bahagia dengan semua sikap dan sifat istrinya itu. "Sudah-sudah, ayo kita masuk ini udah di depan kondangan malah nggak masuk-masuk." ucap Gunawan yang kemudian masuk ke dalam tempat pesta yang ada di desa tersebut. hari ini begitu banyak cerita begitu banyak kejadian.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
__ADS_1
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian