
"Kamu benar-benar sangat brengsek, Mas. kamu tertawa bahagia di tempat ini, aku merana dengan semua rasa sakit yang aku derita. Kamu benar-benar brengsek Mas, Kamu adalah pria brengsek." ucap Putri yang kemudian meninggalkan tempat Pak lurah.
Nampak wanita itu berjalan ke sebuah tempat yang sedikit jauh dari rumah Pak lurah, barusan dia mendapatkan rasa sakit ketika dia hendak ke pasar yang ada di dekat tempatnya. tatapan mata putri menatap kebahagiaan seorang yang begitu dia benci, dia melihat Safira bersama suami dan ketiga anaknya tertawa begitu lebar. wanita itu menghentikan langkah kakinya kemudian menatap Safira dengan tatapan mata yang benar-benar begitu membencinya.
"Aku baru keluar dari rasa sakit ku, malah aku melihat pemandangan seperti ini lagi. wanita ini benar-benar wanita brengsek Lihatlah dia tertawa begitu bahagia bersama keluarganya, Wanita itu sudah mempunyai anak lagi dengan suaminya sedangkan aku kehilangan anakku." ucap Putri yang menatap nyalang ke arah Safira dan keluarganya.
"Sayang, Mas belikan pete itu dong." pinta Gunawan.
"Oke Mas, aku belikan pete. Awas ya kalau kamu mau beli jengkol, kalau kamu mau beli jengkol masak sendiri aku nggak sudi masakin kamu jengkol!" jawab Safira yang kemudian menghentikan langkah kakinya di depan penjual pete besar.
"Mama...,Mama. aku belikan ikan besar itu dong." pinta Sheila.
"Mau dimasak apa, Sayang?" tanya Safira.
"Dibakar ma dibakar." jawab Sheila.
"Aku belikan ayam aja lah ma, ayam kampung yang utuh. nanti aku bakar sekalian sama Sheila." ucap Ivan.
"Ya nggak mau dong, bang. masak Sheila mau dibakar sama ayam, Sheila ini bukan ayam bakar bang!!" seru Sheila yang berjingkrak marah karena mau dibakar oleh abangnya.
Gunawan yang mendengar perdebatan kedua anaknya itu nampak hanya terdiam, dia menahan tawanya karena jika dia tertawa terbahak maka Putri kecilnya itu akan marah kepadanya.
"Maksud Abang itu Abang mau bakar ayam sekalian bakar ikan milik kamu, Sheila. bukan bakar kamu, Kok kamu gitu sih..," jawab Ivan yang membuat Yufan memukul pundak saudaranya tersebut.
"Kalau bicara itu ditata dulu, kalau bicara sama Putri permata Hati jiwa bergelora pemberani dan membakar hati itu harus hati-hati. kalau kamu bicaranya nggak hati-hati bisa-bisa Kamu kena bom atom, kalau kena bom atom bikin meledak." ucap Yufan yang membuat adiknya malah tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha..., aku suka namanya bang. aku suka namanya seperti judul sinetron!" seru Sheila yang membuat kedua abangnya malah tertawa terbahak-bahak.
"Sudah-sudah, bawa belanjaannya Mama nggak mau bawa, berat." ucap Safira.
"Lagian mama sih.., masa' satu pasar dibeli semuanya udah gitu nggak bawa kendaraan lagi. aku capek mah apa lagi ini nih bontelan yang bergelayut di punggungku." ucap Gunawan yang membuat Sheila menggigit pundak papanya.
__ADS_1
"Auhhh." rintih Gunawan.
"Papa jahat, papa jahat masak bilangin Sheila bontelan sih. Papa kira aku ini baju yang dikemas." ucap Sheila yang membuat Safira selalu tersenyum dengan kata-kata yang diucapkan oleh Putri kecilnya tersebut.
"Ya kalian harus tanggung jawab dong, masak minta ini itu dari sono ono Ono dan ini ini nggak mau bawa sih, Memangnya kalian itu nggak kasihan sama mama setiap hari bekerja tidak ada liburnya. setelah itu sekarang mau dijadikan tukang kulit angkut barang." ucap Safira yang membuat si kembar menghela nafasnya dengan begitu berat.
"Iya Ma maaf, salah kami sih minta beli ini itu dan yang lain. itu tuh papa juga masak satu pasar dibeli semuanya." sindir si kembar sembari melirik papanya.
"Iya deh Papa yang salah, lagian ngapain kita ke pasar sih? siapa sih yang mengajak kita ke pasar?" tanya Gunawan yang membuat anak dan istrinya menjawab secara bersahutan.
"Papa!!" seru Safira dan ketiga anaknya.
"Oh iya, Papa lupa." jawab Gunawan yang kemudian membawa begitu banyak belanjaan serta di punggungnya sudah menempel Sheila.
Kebahagiaan yang begitu sederhana namun menghasilkan sesuatu yang begitu indah, bahagiaan yang terlihat begitu menyakitkan bagi orang lain itulah yang sekarang dialami oleh Putri. terlihat wanita itu langsung meninggalkan tempat itu, hatinya begitu kesal jiwanya seperti terbakar setelah melihat kebahagiaan dua orang yang sudah menyakitinya. sebenarnya pikiran Putri itu terbalik dia sudah menyakiti Safira dan berselingkuh dengan suaminya, namun kehendak Allah sangat berbeda sekarang Safira mendapatkan sebuah kebahagiaan yang begitu luar biasa.
Beberapa jam kemudian Safira dan Gunawan sudah berada di sebuah bangunan tua yang sudah terbengkalai cukup lama.
"Bagaimana?" tanya Pak lurah.
"Dilanjutin atau tidak?" tanya Pak lurah lagi.
"Ya dilanjutin dong Pak, gimana sih Bapak ini. kita itu sudah bermusyawarah selama berhari-hari lho.., masa sekarang mau ditinggalin, ini semangatnya di mana!!" terlihat Bu lurah yang berbicara begitu cetar dan membahana.
"Iya, masa aku aja udah konfirmasi ke kota untuk mencari bantuan ini ono dan itu bla bla bla. sekarang malah mau dianggurin ini, bapak-bapak ini gimana sih." ucap Safira yang membuat para warga langsung bersemangat 45.
"Ayo bapak-bapak kita bersihkan tempat ini bersama-sama, jika kalian tidak mau Maka besok kalian tidak usah pulang ke rumah!!" seru ibu-ibu yang membuat para bapak-bapak langsung berhamburan.
Konsumsi sudah dipersiapkan oleh Safira, beberapa warung sudah diminta oleh Safira untuk membuatkan makanan bagi warga yang sudah melakukan gotong royong untuk pembersihan gedung kosong tersebut. gedung berlantai 4 luasnya begitu besar.
Sebenarnya dulu gedung itu hendak digunakan sebagai perkantoran salah seorang miliarder, tapi karena banyaknya kendala di sana hingga membuat sang miliarder langsung membatalkan dan meninggalkan tempat itu begitu saja.
__ADS_1
Gunawan meminta Andira untuk meminta surat kuasa bangunan tersebut, Gunawan takut jika suatu saat tiba-tiba menarik kembali tempat tersebut maka semua yang dilakukan oleh warga akan sia-sia saja. Hari itu seluruh warga benar-benar sangat antusias untuk melakukan renovasi gedung tersebut, Rudi Fenty, Bu lurah dan lain-lain orang sudah berada di sana. terlihat mereka benar-benar bersemangat mereka harus membuat desa mereka semakin maju. sekitar setengah hari seorang tamu datang dari kota dengan membawa mobil berwarna hitam.
TIN...
TIN...
suara klakson mobil ditekan berulang kali, nampak orang-orang melihat ke arah mobil tersebut. di dalam mobil keluarlah seorang wanita yang berpakaian begitu wow.., begitu bergaya dengan memakai kacamata hitam yang begitu luar biasa.
"Itu artis dari mana sih." ucap Safira.
"Artis dari Jakarta mungkin." jawab Gunawan.
"Iya, kacamatanya besar banget ya." ucap Fenty.
"Kalau itu bukan kacamata, itu tudung saji." jawab Gunawan.
"Tudung saji gundulmu itu apa!" bentak Bu lurah.
Langkah kaki wanita itu semakin mendekati Safira dan yang lain, sesaat kemudian wanita itu membuka kacamatanya hingga membuat Gunawan dan Safira langsung memutar kedua bola mata mereka. "Dasar kampret, wanita itu akhirnya datang juga." ucap Gunawan saat melihat Andira sudah berada di sana.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
__ADS_1
- I love you uncle Bastian
- Terlempar ke dimensi kerajaan